
Begitu pilu teriakan pemuda tersebut, Wu Yi Feng menggelepar, ia mencakar cakar wajahnya, memukul mukul kepala dan menjambak rambutnya hingga helai demi helai rambutnya rontok, tak berhenti sampai disitu, Wu Yi Feng juga memukul serta mencakar dada dan perutnya hingga sekujur tubuhnya dipenuhi oleh darah.
Anehnya ketika Wu Yi Feng meronta dan berguling guling ia tidak terjatuh kedalam kolam lava, padahal jalan setapak itu begitu sempitnya.
Siksaan yang diterima Wu Yi Feng seolah tidak pernah habis, dan hanya berhenti ketika ia sudah kehilangan kesadaran. Sekijur tubuh Wu Yi Feng kini terlihat sudah dipenuhi oleh luka dan darah, rambutnya bahkan tak tertata.
Baru sebulan lamanya Wu Yi Feng mengalami siksaan yang menghancurkan fisik dan mentalnya, tapi ia merasa bahwa ini sisaaan tersebut sudah berlangsung selama 1000 tahun.
Suatu hari, ketika Wu Yi Feng merasa bahwa ia sudah tidak kuat dengan siksaan yang ia alami ia memutuskan untuk, "lebih baik aku mati tenggelam dalam lava daripada harus menanggung siksa setiap harinya.." Batin Wu Yi Feng.
Sekali lagi keanehan terjadi disini, semakin Wu Yi Feng berjalan mendekat kearah lava, maka jalan tersebut menjadi makin lebar dan rasa sakit yang Wu Yi Feng terima makin menjadi jadi.
Seolah ingin menantang batas rasa sakitnya, Wu Yi Feng terus menggeliat dan bergerak meskipun harus merangkak. Pemuda tersebut berguling menjauhi dinding dan bergerak mendekati kolam lava.
Wu Yi Feng merasakan jika kepalanya mau pecah ketika ia memaksa terus maju, ia merangkak sedikit demi sedikit dan ketika jalan tersebut tak lagi memanjang, Wu Yi Feng melompat lalu kehilangan kesadarannya sedetik sebelum lava mulai menelan tubuhnya.
...****************...
"Tidaaaakkkkkkk....." Disebuah negeri nan jauh disana, seorang gadis yang berusia setahun lebih muda dari Wu Yi Feng terbangun dari tidurnya dengan keringat membasahi tubuh. Gadis yang sedang dalam masa pertumbuhan tersebut bermimpi buruk, dalam mimpinya ia melihat seorang pemuda yang kesakitan hingga akhirnya terjatuh di tengah kolam lava.
"Hahh.. Hahhh.." Napas gadis muda itu tersengal sengal, seolah olah baru saja berlari jauh. Gadis muda tersebut mulai mengingat kembali mimpinya hingga tak sadar air mata mulai membasahi selimut dan wajahnya yang cantik rupawan.
"Siapa sebenarnya kau??" Rintih gadis muda tersebut dengan suara parau khas orang yang baru bangun tidur.
"Kau bermimpi tentang pemuda itu lagi???" Sebuah suara berat membuyarkan lamunan gadis muda tersebut, terlihat siluet sosok laki - laki yang berdiri di ambang pintu.
"Iya ayah.." Jawab gadis tersebut.
"Kurasa kalian memang terkoneksi satu sama lain.." Jawab laki laki yang ternyata adalah ayah dari si gadis.
"Terkoneksi?? Jadi apakah ia juga memimpikanku??"
"Bisa jadi.."
"Tidak, itu tidak boleh terjadi.. Bagaimana jika ia melihatku berganti pakaian dalam mimpinya??"
"Apakah kau pernah melihat pemuda itu mandi dalam mimpimu??" Tanya balik sang ayah.
"Tentu tidak ayah.." Wajah si gadis bersemu merah karena menahan malu.
"Hahahaha.. Anak ayah ternyata sudah dewasa.." Sang ayah membelai puncak kepala anak gadisnya dengan lembut sebelum meninggalkannya sendirian.
...----------------...
Kembali ke Wu Yi Feng...
Pemuda itu terbangun di rerumputan, tidak ada lagi yang namanya lautan lava ataupun gunung berapi yang panas. Ia nampak berada di sebuah taman yang luas dengan beberapa pohon yang tumbuh menjulang keatas.
"Kalau tidak salah sebelum pingsan aku sempat melompat ke lautan lava.." Batin Wu Yi Feng.
Wu Yi Feng bangkit berdiri dan menuju ke sebuah danau kecil yang ada di dekatnya karena merasa tenggorokannya kering, namun ternyata air di danau tersebut tidak berwarna bening layaknya air pada umunya, melainkan berwarna putih susu.
"Air apa ini??" Batin Wu Yi Feng.
Karena sudah tidak minum air beberapa hari, Wu Yi Feng nekad mengambil air dari danau misterius tersebut. Ketika air susu itu membasahi tenggorokannya dan merasuk kedalam seluruh tubuhnya, dalam sekejap Wu Yi Feng merasakan ledakan energi yang cukup besar, bukan itu saja bahkan seluruh rasa sakit dan lemas yang tadi ia rasakan kini semuanya menghilang dan berganti dengan stamina yang meluap luap.
"LANCANGGGG...!!!"
BLAAAAMMMMMMMM...
Sebuah tamparan keras di pipi membuat Wu Yi Feng terdorong kebelakang dengan begitu hebatnya hingga menghancurkan beberapa pohon besar yang berada disana.
"Auchhh.." Wu Yi Feng mengusap pipinya yang kini terlihat kemerahan, bahkan darah keluar sedikit dari sudut bibirnya.
"Siapa yang mengijinkanmu untuk meminum air dari Telaga Keabadian???" Teriak sosok perempuan yang Wu Yi Feng sendiri belum melihat wujudnya.
"Telaga keabadian?? Maaf jika aku menyinggung anda, tadi tenggorokanku begitu kering karena itulah aku mengambil seteguk air di telaga tersebut.." Wu Yi Feng menunduk, meminta maaf.
Suasana disekitar sunyi seketika setelah Wu Yi Feng meminta maaf, hanya angin berhembus yang terasa membelah udara. Wu Yi Feng mulai berjalan sambil menoleh ke kanan dan kekiri, sampai saat ini ia belum mengerti dimanakah sebenarnya ia berada, tapi dimanapun ia kini yang pasti tempat ini bukanlah tempat sembarangan, itu karena Wu Yi Feng bisa merasakan tekanan udara yang begitu pekat hingga seolah olah ia ditekan oleh energi dari segala arah.
"Siapa kau??"
Wu Yi Feng berhenti berjalan ketika mendengar suara yang berasal dari belakangnya, Wu Yi Feng langsung menoleh dan melihat sosok perempuan yang luar biasa cantiknya.
Wajah cantik dan kulit putih bersih dengan gaun indah yang membalut tubuhnya, serta telinga runcing khas suku elf, hanya saja ada yang aneh dari sosok tersebut, tubuh indah itu terlihat transparan.
"Putri dari suku elf???" Gumam Wu Yi Feng.
"Turunkan pandanganmu..!!!" Ucap sosok perempuan di hadapan Wu Yi Feng.
"Maaf nona, bukan maksudku melecehkanmu.."
"Kau belum jawab pertanyaanku.."
"Namaku Wu Yi Feng, aku berasal da.."
"Cukup.. Berasal dari manapun kau bukanlah urusanku.." Sergah sosok perempuan tersebut sambil berlalu dari tempatnya semula.
"Nona, dimanakah ini?? Dan bagaimana aku bisa sampai ada disini??"
Perempuan misterius tersebut menatap tajam Wu Yi Feng sebelum berbalik dan mulai bercerita, "Ini adalah alam pengasingan, alam buangan..!!!" Perempuan itu tidak menyelesaikan kata - katanya, lalu menatap pasrah ke langit.