
Beberapa hari pun berlalu.. Li Xiao Yi, Wu Yi Feng, dan juga Li He Rong menjadi cukup dekat hingga ketiganya sering terlihat bercanda dan berlatih bersama.
Li Xiao Yi yang saat ini masih berada di ranah pendekar ahli tingkat awal adalah seorang gadis yang cantik, ceria dan menyenangkan dengan tinggi sekitar 170 cm dan kulit putih bersih membuatnya menjadi primadona di kota asal. Sedangkan Li He Rong yang kemampuannya masih di ranah pendekar tingkat satu adalah ABG usil yang senang menggoda kakak perempuannya.
Lahir dan besar di tengah - tengah keluarga pedagang yang kaya raya membuat keduanya tidak terlalu serius untuk mempelajari seni beladiri. Oleh sebab itulah yang membuat pencapaian ilmu mereka terasa seperti berjalan di tempat.
"Yi'er dimana kau melatih seni beladirimu??"
"Aku sudah bertahun tahun belajar di sekte teratai ungu, hanya saja karena kurang berbakat jadinya sampai saat ini masih termasuk dalam golongan murid luar.. Hehehe.."
"Sekte teratai ungu??"
"Hmm.. Kau pernah mendengarnya??"
"Tentu.. Bahkan sebelum bertemu kalian, aku sempat menolong dua orang gadis murid dari sekte teratai ungu."
"Benarkah?? Apa kau masih ingat siapa nama mereka??"
"Kalau tidak salah.. Xu Mei dan Qing Yi.."
"Xu Mei dan Qing Yi?? Entahlah, aku tidak kenal mereka.. Mungkin mereka adalah salah satu murid dalam karena kami para murid luar belum diperbolehkan untuk mengambil misi apapun." Terang Li Xiao Yi.
"Jika kau berada di sekte teratai ungu, lalu bagaimana dengan adikmu Li He Rong?"
"Rong'er?? Dia masuk ke sekte kecil.. Sekte lokal yang berada di kota kami.."
"Daritadi kau terus yang bertanya, sekarang gantian aku yang bertanya.."
"Bukankah kau sudah sering memimpikanku? Harusnya tidak ada yang perlu kau tanyakan lagi.." Ucap Wu Yi Feng sembari membakar daging miliknya sedangkan yang lain telah tertidur.
Malam ini memang giliran Wu Yi Feng untuk berjaga, beruntungnya pemuda itu Li Xiao Yi yang tidak bisa tidur ikut menemaninya berjaga.
Li Xiao Yi menggeleng, "Aku memang memimpikanmu, tapi di mimpiku yang terlihat hanya gambaran gambaranmu saja, sedang apa yang kau ucapkan sama sekali tidak terdengar olehku."
"Benarkah??"
"Hmm.. Karena itulah aku tidak tahu namamu juga nama ketiga teman seperguruanmu.. Juga nama gadis yang selalu menemanimu saat berada di dalam sekte.."
"Mereka adalah Bai Lang, Chau Li dan juga Wan Ming.. Sedangkan gadis itu adalah Wang Fei Lin.." Wu Yi Feng menjelaskan tentang segala hal, ada perasaan lega ketika bisa bercerita dan menghabiskan waktu bersama Li Xiao Yi.
"Aku jadi ingin bertemu dengan teman - temanmu.. Pasti seru.."
Wu Yi Feng tidak menjawab, pemuda itu hanya tersenyum kemudian menengadahkan kepala ke langit. Malam ini bulan bersinar dengan begitu terangnya, bintang - bintang juga berkelap kelip.
"Miya, bagaimana kabarmu disana?? Apakah kau merindukanku??" Bisik Wu Yi Feng di dalam hatinya.
"Hoaammm.. Nampaknya aku sudah mulai mengantuk, aku masuk dulu ke tenda.." Li Xiao Yi berpamitan, sedangkan Wu Yi Feng hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Jika kita mengikuti jalan setapak ini, maka kita akan sampai di kota Ludong sebelum senja datang." Terang Li Hao kepada seluruh anggota rombongan ketika mereka hendak berangkat keesokan paginya.
"Kita akan berpisah selepas kota Ludong, aku harap kalian bisa menjaga diri kalian baik - baik hingga sampai di ibukota kerajaan.." Wu Yi Feng kemudian menaiki kudanya, disusul oleh Li Xiao Yi di belakang.
****
Beberapa hari sebelumnya, terlihat seorang pemuda yang memakai pakaian prajurit menuju ke kota Ludong dengan mengendarai kuda.
Pemuda itu hanya menunjukkan lencana atau token sekilas kepada para prajurit penjaga gerbang kota Ludong sebelum akhirnya memacu kudanya ke arah sekte pedang langit berada.
Dengan tergesa gesa pemuda tersebut langsung menuju ke bagian penerimaan misi setelah sampai ke sekte pedang langit.
"Guru, maaf mengganggu waktunya sejenak.. Bisakah engkau menunjukkan kepadaku daftar murid yang melaksanankan misi satu hingga dua bulan belakangan ini.."
"Daftar murid yang menjalankan misi?? Untuk apa? Apakah kekaisaran sedang mencurigai sesuatu??"
"Kumohon guru, aku sedang dalam penyelidikan sebuah kasus pembantaian yang terjadi pada keluarga Huang.."
"Keluarga Huang? Bukankah mereka keluarga bangsawan utama yang menjadi salah satu penyangga kekaisaran Han??"
"Baiklah - baiklah, tunggu sebentar.. Akan kucari terlebih dahulu.."
"Ahhh, akhirnya ketemu juga.."
"Terima kasih guru, aku pinjam sebentar.." Wan Ming menerima gulungan yang berisi data murid - murid yang menjalankan misi kemudian mencari meja dan kursi lalu segera mengecek satu persatu daftarnya.
"Arah selatan.. Arah selatan.."
"Brengsek, tidak mungkin sekebetulan ini.."
Wan Ming bergegas pergi setelah mengetahui siapa murid yang mengambil misi ke arah selatan. Pemuda itu setengah berlari menuju ke arah penginapan murid dalam.
BRUUUAAAAKKKKK...
Wan Ming menendang salah satu pintu kamar hingga ambrol, pemuda yang ada di dalam kamar bahkan sampai melompat saking terkejutnya.
"Wan Ming apa yang kau lakuk..." Pemuda itu tidak bisa menyelesaikan kata katanya karena Wan Ming sudah mengacungkan mata pedangnya tepat ke leher.
"Kau gila..!!!"
"Kau lebih gila Chau Li..!!! Katakan padaku, apa yang kau lakukan hingga misi yang seharusnya berjalan hanya beberapa minggu bisa molor hingga berbulan bulan..!!!" Teriak Wan Ming yang sudah dikuasai oleh amarah.
"Apa urusannya misiku denganmu??" Chau Li balas berteriak, pemuda itu bahkan tidak menghindar ketika Wan Ming hendak menebas batang lehernya.
"Kau..."
"Lakukan..!!! Jika memang dengan memotong leherku membuatmu puas.."
"Ada apa ini??" Bai Lang yang mendengar keributan segera datang bersama Zhou mei Lan ke kamar Chau Li.
"Wan Ming apa yang kau lakukan??"
"Bukan urusanmu, diamlah.."
"Jadi begini sikapmu sekarang?? Tak kusangka.. Baru setahun tidak bertemu, kau sudah banyak berubah." Sindir Bai Lang.
"Sudah kubilang ini bukanlah urusanmu..!!!" Wan Ming mengarahkan mata pedangnya kearah Bai Lang, beruntung pemuda itu tanggap dan sigap dalam menghadapi serangan mendadak Wan Ming.
CLAAAAANNNNGGGGG...
Bai Lang menahan serangan Wan Ming menggunakan sarung pedangnya, "Ikuti aku jika ingin berkelahi.." Bai Lang membawa Wan Ming ke tengah taman. Keduanya segera bersiap dengan kuda - kuda nya masing - masing.
"Hiyaaaa..."
TRINNNGGGGGG...
TRAAAANNNGGGGGG...
Keduanya maju secara bersamaan, Bai Lang mencabut pedangnya secara cepat lalu melakukan sebuah serangan berputar secara mendadak. Wan Ming yang masih bisa menghindar kekiri langsung membalas, sedangkan Bai Lang yang sadar jika saat ini dirinya berada di jarak serang Wan Ming hanya bisa menyilangkan pedang untuk menahan serangan temannya tersebut.
"Kalian berdua HENTIKANNN...!!!"
Teriakan seorang gadis membuat keduanya berhenti bertarung, lalu dengan wajah dongkol Wan Ming bergegas pergi dari tempat itu, sedangkan Bai Lang tertunduk lesu.
"Kalian semua jelaskan padaku, ada apa sebenarnya..!!!" Wang Fei Lin mendekati Bai Lang, Zhou Mei Lan dan juga Chau Li.
"Tidak ada yang harus dijelaskan, ayo Zhou'er kita pergi dari sini.." Bai Lang yang masih dikuasai amarah menggandeng tangan Zhou Mei Lan lalu beranjak pergi.
"Kau.."
"Sudahlah, Fei Lin ikuti aku.. Akan aku ceritakan semuanya.." Chau Li memasuki kamarnya yang berantakan, kemudian diikuti oleh Wang Fei Lin di belakang.
Li Xiao Yi