
Dahulu kala ketika dunia masih dikuasai oleh iblis, siluman dan juga dewa. Dunia terbagi menjadi beberapa wilayah, dimana tiap - tiap wilayah dikendalikan dan dikuasai oleh salah satu makhluk.
Bagian barat dikuasai para dewa, timur dikuasai iblis, selatan dikuasai para Org, utara dikuasai oleh siluman dan tenggara dikuasai oleh peri. Mereka kerap bertemu dan bertempur di kawasan tengah, hingga bagian tersebut tak ubahnya seperti lembah tengkorak.
Para dewa yang mendapat tugas untuk mengembalikan keseimbangan dunia, kini mulai menjalin kerjasama dan bersekutu dengan bangsa Elf atau peri. Sedangkan Bangsa iblis seolah tak mau kalah, mereka menjalin kerjasama dengan para org dan juga bangsa siluman.
Diantara para dewa yang ada pada waktu itu, ada dua orang dewa yang paling menonjol dikarenakan kemampuan bela diri serta energi murni nya. Mereka adalah titisan Naga dan titisan Phoenix.
Keduanya memimpin pasukan dewa untuk melawan arogansi iblis, org dan siluman. Jika Dewa titisan naga menggunakan semua tipe elemen, maka dewa titisan phoenix hanya mengandalkan elemen api dan petir.
Kerjasama keduanya mampu memukul mundur bangsa iblis dan sekutunya, bahkan sang dewa phoenix mengasingkan mereka semua kedalam sebuah portal dimensi yang berbeda.
Ratusan tahun pun berlalu, para dewa kembali ke khayangan. Sedangkan elf atau peri menyembunyikan keberadaan mereka di dimensi berbeda, sampai akhirnya kehadiran Xun JeHa membuka tabir dunia peri.
Sebelum kembali ke khayangan, kedua dewa menulis sebuah kitab. Dimana didalamnya terdapat intisari seni beladiri milik mereka, dan di taruh di sebuah tempat tersembunyi. Kitab naga langit ditemukan oleh sang pendekar matahari dan disempurnakan, sedangkan kitab seni phoenix nirwana terkubur dan menghilang beribu ribu tahun lamanya, hingga akhirnya di temukan oleh Wu Yi Feng diantara tumpukkan kitab lama di perpustakaan sekte pedang langit.
Akhirnya setelah melewati ribuan tahun dan juga pergantian zaman, sekali lagi sang phoenix dan sang naga akan bertemu kembali dan menyelamatkan dunia dari cengkraman kegelapan.
Xun JeHa dengan kejeniusannya dan Wu Yi Feng dengan tubuh istimewanya, keduanya dibantu dengan lima pilar akan menghadapi sebuah bahaya yang belum pernah terjadi pada dunia ini sebelumnya.
Namun sejak dulu, yang namanya kejahatan itu jauh lebih licik daripada kebenaran. Mereka sanggup memakai seribu topeng wajah dan berbaur di masyarakat lalu berteriak dengan lantang bahwa mereka adalah sosok yang bersih dan baik.
"Sehebat apapun kau menguasai malam, pagi hari akan tetap datang." Unknown.
****
Di sebuah kota kecil yang asri, tepatnya di arah tenggara wilayah kekaisaran Song. Hiduplah sebuah keluarga pedagang yang cukup kaya raya, namun selalu rendah hati, suka menolong dan tidak sombong.
Li Hau, merupakan kepala keluarga. Beliau memiliki dua orang anak, satu putri dan satu putra. Si anak pertama bernama Li Xiao Yi, dan anak kedua bernama Li He Rong
Sang ayah Li Hau selalu menanamkan semangat kerja keras dan pantang menyerah, beliau juga melarang kedua anaknya untuk bersikap sombong. Karena didikan yang keras dari ayahnya itulah kedua anaknya tumbuh menjadi sosok - sosok yang rendah hati, ceria dan suka menolong.
Suatu hari, Li Hau mengajak kedua anaknya untuk melakukan perjalanan dagang ke wilayah kekaisaran Han. Perjalanan tersebut sangatlah panjang dan tak jarang juga mereka harus menghadapi para perampok serta siluman yang menghadang di tengah perjalanan.
Li Hau, Li Xiao Yi dan Li He Rong di kawal oleh setidaknya lima puluh pendekar terlatih yang mereka rekrut dari sekte - sekte di sekitar tempat mereka tinggal.
"Ayah, nampaknya sebentar lagi hujan akan turun. Bagaimana jika kita berteduh disana??" Seru Li Xiao Yi sambil menunjuk kearah sebuah kuil yang sepertinya sudah tak terurus.
"Kamu benar, baiklah semuanya malam ini kita beristirahat dulu disana..!!" Perintah Li Hau kepada para pengawalnya.
"Siap Tuan..!!!" Jawab para pengawal seraya mempercepat langkah kaki kuda mereka.
"Tuan, maaf jika mengganggu.. Namun malam ini kami juga ingin beristirahat disini.. Tuan boleh ikut bergabung jika mau.." Ucap Li Xiao Yi ketika mengetahui di dalam kuil ada seseorang yang telah terlebih dahulu tiba.
Sosok tersebut hanya mengangkat kepala sedikit, lalu kembali bermeditasi seolah olah tidak ada siapa - siapa disana.
"Sudah - sudah, eh kalian tolong jaga ketertiban.. Jangan sampai mengganggu beliau.." Seru Li Hau.
"Baik Tuan.."
Para pengawal kemudian segera membagi tugas, beberapa orang menjaga di depan kuil, sedangkan yang lainnya membersihkan lantai dan juga mengumpulkan kayu bakar sebagi sarana untuk memasak bekal.
Li Xiao Yi yang merasa agak kesal hanya bisa mengumpat dalam hati, karena ayahnya memberikan tatapan peringatan.
"Tidak mungkin dia tidak dengar, aku sudah mengeraskan suaraku tadi.." Jawab Li Xiao Yi sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahahaha.. Sudahlah, ada kalanya kita memang malas menjawab teguran dari orang lain." Jawab sang ayah yang ternyata ikut mendengarkan sedari tadi.
Para pengawal segera membakar daging dan ayam persediaan, sedangkan Li Xiao Yi duduk di pojok sembari membaca buku, sampai sebuah goncangan hebat membuatnya berteriak.
"Arrrrgghhhh..."
Sebuah gempa membuat seluruh bangunan kuil bergetar, Li Hau segera menarik keluar kedua anaknya dan tak lupa juga meneriaki sosok yang daritadi berdiam diri di ujung kuil.
"Tuan, ada gempa.. Segera keluar..!!" Teriak Li Hau.
BLAAAMMMMM...
Kuil itu pun runtuh tak lama setelah semua yang ada didalam berhasil keluar, Li Hau mengecek keadaan kedua anaknya hingga sebuah teriakan kesakitan memecah keheningan malam.
"Arrrrgggghhhhhh..."
Seekor siluman anjing berkepala tiga, bermata merah menyala dan berukuran lebih dari dua meter membelah tubuh salah satu pengawal Li Hau menjadi dua dan langsung menelannya dalam sekali gigit.
Li Xiao Yi sampai menutup mulut melihat kejadian tersebut, para pengawal yang lain segera membentuk formasi dan mengeluarkan senjata mereka.
"Kalian semua hati - hati.. Jangan memaksakan diri.." Ucap Li Hau sambil membawa kedua anaknya menjauh.
"Ayah, biarkan aku membantu para pengawal.." Seru Li He Rong.
"Tidak perlu, para pengawal pasti bisa mengatasi makhluk tersebut.."
"Tapi ayah? Aku sudah belajar ilmu beladiri..?!!" Bantah Li He Rong.
"Kalau begitu lindungi kakakmu.."
"Melindungi kakak?? Tingkatan ilmunya bahkan diatasku.. Buat apa aku melindunginya??" Li He Rong mendebat ayahnya.
"Cukup, kalian berdua menjauh dari sini..!!" Teriak Li Hau.
Para pengawal dibuat kewalahan karena ukuran siluman anjing yang sangat besar, kulit anjing tersebut juga sangat keras, hingga tebasan para pengawal sama sekali tidak memberikan luka kepada siluman tersebut.
Dengan lahapnya siluman anjing berkepala tiga memakan semua pengawal yang berada di jangkauannya hingga dalam waktu singkat saja jumlah pengawal yang tersisa hanya tinggal separuhnya.
"Ini buruk, mundur semuanya.."
Para pengawal mulai menjaga jarak, dan ketika siluman anjing berkepala tiga hendak menerjang salah satu pengawal, tiba - tiba sebuah bola api menghantam kepalanya dan membuatnya terdorong kebelakang dengan keras.
BOOOOOMMMMM...
Ledakan bola api membuat malam yang tadinya gelap menjadi lumayan terang untuk sepersekian detik, semua yang ada disana menoleh ke arah sumber bola api berasal, dimana telah berdiri sosok misterius dengan jubah panjang hitam yang menutupi sekujur tubuhnya.
"Tak kusangka kau mengejarku hingga kemari, wahai anjing penjaga neraka??" Ucap sosok misterius tersebut lirih, namun suaranya terdengar jelas di telinga semua yang ada disana.
Bye