The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Amarah



"Bagaimana keadaan kalian??" Chui Dal Po membantu kedua gadis itu untuk duduk, sedangkan Wu Yi Feng sibuk membakar daging guna mengganjal perut dan memulihkan stamina.


"Kau?? Terima kasih karena telah menyelamatkan kami sekali lagi.. Uhukk.."


"Itu, sebenarnya aku tidak pantas menerima ucapan terima kasih dari kalian karena.." Chui Dal Po merasa tidak sanggup untuk melanjutkan kata - katanya.


"Sudahlah, itu bukan kesalahanmu.. Kami bisa memulainya dari awal lagi.." Jawab salah satu dari kedua gadis tersebut sambil menggenggam erat tangan Chui Dal Po.


"Ngomong - ngomong kami belum memperkenalkan diri, namaku Xu Mei sedangkan dia adalah Qing Yi."


"Jangan banyak bergerak terlebih dahulu, sekarang cepat makan lalu ikuti kami.." Potong Wu Yi Feng yang datang sambil membawa beberapa tusuk daging bakar.


"Te.. Terima kasih.." Qing Yi dan Xu Mei menerima daging tusuk tersebut lalu segera memakannya, dilihat dari cara makannya terlihat sekali jika mereka berdua begitu kelaparan.


Karena tidak ingin mengganggu Wu Yi Feng menarik lengan Chui Dal Po lalu membawa pemuda itu agak menjauh dari Qing Yi dan juga Xu Mei.


"Ayo ikut aku, jangan dilihat terus.. Mereka butuh ruang untuk menyendiri.. Ini makanlah, kau juga butuh energi untuk menolong saudara Chau." Wu Yi Feng memberikan beberapa tusuk daging bakar sementara dirinya kembali duduk di bawah pohon dan bermeditasi.


Tak terasa malam hadir begitu cepatnya, Wu Yi Feng membuka mata dan melihat tiga orang sedang asyik mengobrol di dekat api unggun.


"Sudah waktunya, ayo berangkat.."


"Baiklah, kali ini kami akan membantu kalian.." Ucap Xu Mei.


"Tenang kak, aku sudah menceritakan semuanya kepada mereka.." Timpal Chui Dal Po.


"Baguslah kalau begitu.. Ayoooo.." Wu Yi Feng segera melesat membelah dinginnya malam, berempat mereka menuju ke lembah dimana disana berdiri sebuah sekte yang bernama sekte gagak hitam.


Setelah berlari kurang lebih satu jam, mereka akhirnya sampai di lembah tersebut. Chui Dal Po mencoba memeriksa situasi dengan cara naik ke atas pohon tertinggi yang ada disana. Kondisi malam itu begitu dingin, angin behembus cukup kencang dan butiran - butiran kecil air hujan mulai jatuh membasahi bumi.


Xu Mei dan juga Qing Yi merasa semakin ketakutan, dan hal itu jelas terlihat dari tubuh mereka yang gemetar. "Jangan khawatir, ada kakak Feng disini yang akan melindungi kita.." Ucap Chui Dal Po mencoba untuk menenangkan keduanya.


"Kenapa kau bisa seyakin itu padanya?"


"Tentu saja aku yakin, jika bajak laut saja bisa ia kalahkan.. Apalagi hanya sekumpulan pengecut..!!!" Seru Chui Dal Po dengan berapi api.


"Bajak laut? Jangan - jangan dia adalah pemuda yang sering dikatakan oleh ketua sekte???" Balas Qing Yi sambil mulai menatap punggung tegap Wu Yi Feng yang berjalan di depan mereka.


"Akhirnya kalian datang juga.." Ucap seorang pemuda yang berdiri menghadang mereka di tengah jalan.


"Kalian tahu, kami sudah bosan menunggu.."


"Itu benar, andai saja kalian telat semenit saja.. Aku pasti sudah mencincang saudara kalian..!!!"


Lebih dari sepuluh pemuda murid dari sekte gagak hitam mengepung mereka dari berbagai sisi, kedua gadis dari sekte teratai hitam menggandeng lengan Chui Dal Po di kanan dan kirinya dengan sangat erat sedangkan tubuh mereka berdua makin gemetar karena saking takutnya.


"Bawa kami ke tempat saudaraku, kemudian kita selesaikan semuanya disana.." Balas Wu Yi Feng dengan tenang.


"Baiklah, bagaimanapun juga kalian semua akan mati malam ini, jadi tidak masalah jika harus membunuh kalian dalam sekali tebas.." Seru salah satu pemuda dengan rasa percaya diri yang luar biasa.


Mereka berempat digiring ke pinggiran lembah, dimana disana terdapat sebuah jurang. Ditengah kabut yang makin pekat seiring dengan malam yang makin larut, secara samar - samar Wu Yi Feng melihat sosok manusia yang diikat di sebuah batu besar, sosok tersebut tidak memakai pakaian sehelai pun, nampak luka akibat goresan pedang, memar akibat pukulan dan cambukan cemeti.


Disana juga ia bisa melihat sosok laki - laki sedang bermeditasi di bawah pohon, sosok tersebut terlihat tenang namun Wu Yi Feng bisa merasakan hawa kegelapan pekat yang menyelimutinya.


Ketika Wu Yi Feng hendak mendekati sosok yang terikat di batu yang tidak lain adalah Chau Li, dua orang dengan pedang terangkat menghentikannya.


"Aku hanya ingin melihat keadaannya dari dekat.." Ucap Wu Yi Feng pelan, kedua pemuda tersebut melirik laki - laki yang sedang bermeditasi di bawah pohon, dan ketika laki - laki tersebut menganggukkan kepala, maka kedua pemuda ini pun menurunkan pedangnya serta membiarkan Wu Yi Feng untuk mendekati Chau Li.


"Saudara Chau, bagaimana keadaanmu??"


"Uhukkk.. Uhukkk.. hehehehe.. Aku pasti sudah hampir mati, bahkan kini aku seakan bisa mendengar suara saudara Feng.." Ucap Chau Li lirih dan terbata bata.


"Huffff.." Wu Yi Feng mencoba menata napasnya karena dorongan amarah yang saat ini hampir menguasai dirinya.


Dengan cepat Wu Yi Feng memberikan Chau Li sebutir kacang ajaib, lalu sambil menunggu reaksi kacang ajaib dalam menyembuhkan luka - luka Chau Li, Wu Yi Feng berbalik dan menatap semua orang yang ada di tempat itu, rupanya amarahnya sudah tidak bisa lagi ia bendung.


Mendapati sahabatnya terluka parah akibat menolong dua orang gadis dari tindakan yang tidak bermoral membuat darah pemuda itu mendidih, "Kalian melakukan kesalahan yang cukup fatal..!!! Sebaiknya kalian diam dan terima kematian kalian tanpa harus merasakan sakit..!!" Desis Wu Yi Feng.


"Saudara Chui, kedua gadis itu aku serahkan kepadamu..!!" Wu Yi Feng sudah terbakar amarah, hingga tanpa berbicara sepatah katapun ia mulai membantai tiga orang yang berada di dekatnya hanya dalam satu tarikan napas.


Ketiga pemuda murid dari sekte gagak hitam tersebut bahkan tidak sadar jika kepala mereka telah terpisah dari leher, hingga darah mulai mengucur deras dari bekas potongan leher.


"Tidaaaakkkkkkk.. Apa yang kau lakukan..???" Seorang murid mulai berteriak melihat ketiga rekannya ambruk, sedangkan Wu Yi Feng menyeringai lebar.


"Rupanya kalian membawa iblis kemari..!!!" Ucap sosok yang sedari tadi duduk bersila di bawah pohon. Sosok yang selama ini kita ketahui berkalung tasbih.


"Kakak, bunuh dia..!!!"


"Benar kak, hajar di.." Tidak sempat pemuda itu menyelesaikan kata - katanya ketika sebuah tinju menghancurkan kepalanya.


"Aku tidak menerima perintah dari cecunguk macam kalian.." Seru lelaki berkalung tasbih sambil membersihkan tangannya dari cipratan darah.


Murid - murid yang lain segera menutup mulut mereka dengan kedua tangan, mereka begitu trauma dan takut melihat teman mereka kehilangan nyawa dengan cara yang brutal seperti itu.