
Shen Liang memapah tubuh Wu Yi Feng agak menjauh dari sana, ia lalu membaringkan tubuh rekannya tersebut di sebuah pohon yang cukup rindang. Meskipun saat ini Wu Yi Feng telah lepas dari masa kritis, namun tetap saja tubuhnya masih sangat lemah, bahkan untuk membuka mata saja terasa begitu berat.
Shen Liang mencoba memperhatikan sosok misterius yang saat ini berdiri kurang lebih 100 meter di depannya, dengan indra perasanya yang sangat peka ia bisa mengetahui jika sosok didepannya bukanlah manusia biasa, sekujur tubuhnya dipenuhi energi yang menyilaukan namun memberikan rasa hangat.
"Siapapun kau, lebih baik menyingkir dari sini..!!! Aku tidak punya urusan denganmu.." Seru siluman kerbau tanduk api.
"Urusan denganku?? Tentu kau punya.." Jawab sosok misterius tersebut dengan tenang tapi tajam.
"Cihhh... Baiklah jika itu keinginanmu...!!! Aku akan mengirimmu sekalian untuk berjumpa dengan dewa neraka..." Ucapnya pongah.
"Dewa neraka?? Percayalah, aku sudah sering bertemu dengannya.. Kami bisa dikatakan teman baik.." Jawab sosok misterius tersebut dengan santainya.
"Hahahaha... Selera humormu rupanya cukup bagus juga.. Tapi waktumu sudah habis, sekarang terimalah ajalmu...!!!"
Siluman kerbau tanduk api maju dengan cepat sambil mengayun ayunkan senjata pusakanya, sedangkan sosok misterius itu mengelak seperti orang malas, benar - benar tidak ada gerakan yang terbuang percuma, bahkan jarak ia menghindar begitu tipis.
"Sampai kapan kau mau menghindar terus seperti itu??" Teriak siluman kerbau yang frustasi karena semua serangannya bisa dihindari dengan sempurna oleh lawannya.
"Aku mengantuk karena hembusan angin yang kau berikan.. Tak bisakah kau sedikit serius??" Ledek sosok tersebut.
"Ap.. Apa...?? Mati kau...!!!" Siluman kerbau tanduk api mengeluarkan segala kemampuannya, kali ini kecepatannya bertambah dengan signifikan, namun tetap saja lawannya terlihat begitu mudah menghindar.
"Cukup, aku sudah bosan..." Sosok misterius itu bergerak dengan begitu cepatnya hingga tidak ada yang menyangka jika ia sudah berada tepat dihadapan siluman kerbau tanduk api, lalu dengan cepat pula jari telunjuknya menyentuh kening siluman kerbau, dan detik berikutnya kepala itu telah berlubang menembus hingga kebelakang sebesar telunjuk.
Tak ada kilatan cahaya atau apapun, bahkan tak ada yang menyangka bahwa siluman kerbau bisa tewas hanya dengan jentikan jari saja.
Siluman gurita yang masih hidup hanya bisa mematung di tempat, tubuhnya bergetar hebat dan senjata pusakanya telah terjatuh dari genggaman. Bahkan merasakan aura dari sosok misterius tersebut saja sudah cukup membuat siluman gurita pucat pasi.
"Apakah kau mau menyusulnya ke neraka???" Ucap sosok misterius tersebut dengan tenangnya.
"Am... Ampun tuan, ampunilah hamba, hamba berjanji akan berubah dan menjadi siluman yang patuh dengan sang ratu..." Jawab siluman gurita sambil bersujud.
"Nasibmu aku serahkan pada sang ratu ular, hidup matimu akan ditentukan olehnya setelah dia sembuh..." Jawab sosok misterius.
"Tu.. Tuan pendekar elang emas.." Sayup - sayup terdengar suara sang ratu ular.
"Bagaimana keadaanmu??" Pendekar elang emas memapah tubuh ratu ular yang masih terlihat sangat lemah.
"Se.. Sekali lagi mohon maafkan hamba yang gagal menepati perjanjian kita.."
"Ini semua bukan kesalahanmu..." Jawab Xun JeHa sang pendekar elang emas sambil menoleh kearah Wu Yi Feng yang juga telah berdiri dengan bantuan Shen Liang, pemuda itu sudah nampak baik - baik saja, padahal beberapa saat yang lalu sudah berada diambang kematian.
"Maaf tuan, bagaimana dengan para siluman di luar??" Tanya Shen Liang.
"Mereka semua sudah aku atasi sebelum aku kesini..." Jawab Xun JeHa.
"Ada kepentingan apa yang membuat tuan pendekar elang emas kemari??" Tanya sang ratu ular begitu mereka semua telah berada di aula yang kini telah hancur di banyak bagian.
"Sejujurnya aku tidak ada urusan apa - apa, hanya firasatku mengatakan ada kejadian yang buruk akan terjadi, makanya aku mengecek kemari..." Jelas Xun JeHa, sementara disisi lain, Wu Yi Feng menatap Xun JeHa dengan tatapan penuh kekaguman.
Kejadian hari ini telah membuka mata Wu Yi Feng bahwa latihannya selama ini masihlah belum cukup, melihat sendiri bagaimana mudahnya Xun JeHa mengalahkan lawannya membuat motivasi pemuda tersebut kini menjadi berlipat ganda.
"Nampaknya latihanku selama ini masih terlalu ringan..." Batin Wu Yi Feng sambil menatap Xun JeHa yang sedang berbincang dengan sang ratu ular.
"Saudara Feng bagaimana kondisimu??" Tanya Shen Liang.
"Sudah tidak apa - apa, kau tidak perlu khawatir.." Jawab Wu Yi Feng.
"Syukurlah jika begitu..." Shen Liang ikut duduk di samping Wu Yi Feng, mereka berdua sedang memperhatikan ratu ular dan JeHa berdiskusi.
"Baiklah tuan, hamba tidak akan lupa dengan nasehat anda.. Dan juga terima kasih karena sudah membantu kami hari ini. Hutang budi ini akan selalu hamba ingat.." Ucap sang ratu ular dengan menundukkan wajahnya sebagai tanda hormat.
"Jika sudah tidak ada urusan lagi, saya akan pergi dari sini bersama kedua pemuda tersebut..." Balas Xun JeHa.
"Tuan, tolong berikan ini kepada mereka berdua..." Ratu siluman ular memberikan dua cincin ruang kepada Xun JeHa.
"Hmm.. Baiklah.. Aku pamit terlebih dahulu.."
"Kalian berdua ikut denganku.." Seru Xun JeHa sambil berjalan santai.
"Baik tuan.." Jawab Shen Liang dan juga Wu Yi Feng secara bersamaan.
Ketiganya berjalan sampai di ujung istana, disana Xun JeHa membuat sebuah portal dan ketiganya memasuki portal tersebut dimana portal tersebut membawa ketiganya ke tengah hutan.
"Tuan, satu pertanyaan sebelum kita berpisah.."
"Katakan..."
"Sekeras apa latihan yang anda jalani..??" Tanya Wu Yi Feng.
"Sangat keras, sehingga membayangkannya pun kau tak kan sanggup.." Tutur Xun jeHa.
"Terimalah, ini adalah hadiah yang diberikan oleh ratu siluman ular kepada kalian.." Xun JeHa memberikan masing - masing cincin ruang kepada mereka.
Xun JeHa segera menghilang begitu mereka berdua mengambil cincin ruang tersebut, sang pendekar legenda tertelan portal. Wu Yi Feng yang enggan memeriksa isi dari cincin ruang pemberian sang ratu langsung memasukannya ke dalam cincin penyimpanannya.
Mereka berdua menyusuri hutan selama kurang lebih tiga jam, matahari masih berada tepat di ubun - ubun ketika keduanya keluar dari hutan dan melihat Bai Lang sudah menunggu beserta kuda - kuda mereka.
"Jika satu jam lagi kalian tidak muncul, aku pasti akan meninggalkan kalian.." Seru Bai Lang dengan wajah tersenyum gembira.
"Dimana yang lainnya??" Tanya Shen Liang.
"Mereka sudah terlebih dahulu pergi tadi pagi.." Jawab Bai Lang sambil memacu kudanya.
Ketiganya kemudian berkuda dengan kecepatan tinggi kearah utara, waktu yang sudah mepet membuat mereka terus memacu kudanya seharian tanpa beristirahat sama sekali.