
Pertarungan sengit langsung terjadi, tak sedikit peserta yang meregang nyawa diawal waktu. Wu Yi Feng dengan tim nya mencoba mencuri bendera sebanyak mungkin meskipun kadang kala juga harus menghabisi nyawa saingannya.
Hingga ketika tinggal tersisa dua tim, boss Huang menghentikan pertandingan tersebut dan memberikan selamat karena mereka yang tersisa telah diterima sebagai penjaga di keluarga besar Lee.
Wu Yi Feng memperhatikan boss Huang dari belakang, terasa sekali aura kegelapan menyelimutinya. Wu Yi Feng menyimpan pedangnya dan mengikuti rekan - rekannya menuju ke dalam kompleks rumah keluarga Lee.
"Hei kau yang disana, ikut denganku.." Seru boss Huang sambil menunjuk ke arah Wu Yi Feng.
"Baik Tuan.." Wu Yi Feng bangkit dan mulai mengikuti boss Huang dari belakang.
"Ada tugas pertama untukmu, kamu akan bergabung dengan lima orang lainnya. Tugasmu adalah membunuh rombongan dagang dari keluarga Bao." Ucap boss Huang.
"Keluarga Bao??" Wu Yi Feng mengerutkan dahinya.
"Ya keluarga Bao, apakah kau orang luar?"
"Benar tuan, hamba datang dari desa yang jauh dari sini.." Jawab Wu Yi Feng.
"Pantas kau tidak tahu, keluarga Bao adalah keluarga terbesar kedua di kota Nan Feng dan rival utama dari keluarga Lee." Jelas boss Huang.
"Putra utama keluarga Bao saat ini sedang melakukan perjalanan dagang kekota lain, dan menurut mata - mata yang telah kami sebar, rombongan mereka saat ini sudah dalam perjalanan pulang." Terang boss Huang dihadapan lima orang termasuk Wu Yi Feng.
"Pergilah kalian, bawakan kepadaku kepala putra utama keluarga Bao..!!!" Seru boss Huang sambil memberikan lima kantung yang berisi puluhan keping emas.
"Siap Tuan..!!!" Kelima orang suruhan segera melesat pergi dengan menunggang kuda.
Wu Yi Feng yang termasuk salah satu dari lima orang suruhan tersebut membelah dinginnya angin diatas kudanya, berlima mereka menerobos pekatnya malam.
"Tolong ceritakan padaku tentang keluarga Bao.." Ucap Wu Yi Feng lirih kepada pelayan kedai, ketika mereka berlima berhenti untuk menyantap hidangan di pagi buta.
"Keluarga Bao dari kota Nan Feng??" Tanya balik si pelayan.
"Benar.."
"Ahh.. Setahuku mereka adalah keluarga yang cukup terpandang dan dermawan, mereka sering sekali membantu para penduduk yang kekurangan. Bahkan putra pertama mereka sangat gemar berkecimpung di kegiatan amal." Tutur si pelayan dengan bersemangat.
"Apakah semua perkataanmu jujur?"
"Tentu saja tuan muda, untuk apa aku berbohong kepadamu???"
"Baiklah, terimalah ini.. Dan terima kasih.." Wu Yi Feng memberikan pelayan tersebut sekeping uang emas.
"Ini.. Ini terlalu banyak tuan muda.."
"Sudahlah, itu untukmu, bukan untuk membayar makanan kami.." Wu Yi Feng bangkit berdiri dan keluar dari kedai, pemuda itu kemudian bermeditasi di bawah sebuah pohon yang rindang.
"Wei - wei.. Dimana kau?" Seru Wu Yi Feng di dalam dimensi cincin ruang.
"Aku disini tuan..." Xiao Wei melompat ke arah Wu Yi Feng dengan muka cemberut.
"Kau tumbuh semakin dewasa.. Apakah kau sudah selesai menyerap mustika siluman 1000 tahun??"
"Sudah lama aku selesai bermeditasi, aku sempat ragu jangan - jangan tuan lupa jika aku ada disini.." Ucap Xiao Wei dengan nada ketus.
"Benarkah?? Lalu mengapa baru datang sekarang??"
"Aku butuh bantuanmu.."
"Katakanlah tuan, aku akan dengan senang hati membantu.."
Wu Yi Feng kemudian menjelaskan kepada Xiao Wei tentang rencananya, ia mengelus puncak kepala Xiao Wei dan tersenyum sebelum akhirnya kembali ke dunia nyata.
Ketika Wu Yi Feng membuka matanya, keempat rekannya baru selesai makan dan sedang berjalan menuju kearahnya.
"Ayo kita segera berangkat, hari sudah makin siang.." Ucap salah satu dari mereka.
Wu Yi Feng bergegas menaiki kudanya, begitu juga dengan keempat rekannya. Tak lama kemudian keliamanya telah pergi jauh dari tempat tersebut.
Kelima kuda mereka mulai melambat begitu sampai di tepi hutan, tidak jauh di depan ada seseorang yang kelihatannya sedang menunggu.
Saat sedang menunggu, Wu Yi Feng teringat akan salah satu jenderal kerajaan Song. Jenderal Bao Zheng, apakah mungkin beliau adalah salah satu anggota dari keluarga besar Bao??
Wu Yi Feng menggaruk kepalanya yang terasa pening, pemuda itu bersandar kesebuah pohon besar ketika seorang lelaki mendekat.
"Rombongan dagang keluarga Bao akan melintasi jalan ini besok pagi, mereka dilindungi oleh sepuluh pendekar kelas satu dan dua orang dari suku Elf." Tutur lelaki yang merupakan telik sandi yang disewa oleh keluarga Lee.
Kehadiran suku Elf dalam rombongan keluarga Lee membuat Wu Yi Feng sedikit tenang, setidaknya keempat rekannya tidak akan mudah mengalahkan mereka.
Lelaki yang menjadi telik sandi tersebut segera berlalu dari tempat itu begitu selesai memberikan informasi, Wu Yi Feng menutup matanya dan berbicara dengan Xiao Weu melalui kontak batin. "Wei Wei, keluarlah dan habisi lelaki yang sedang berjalan menuju utara.. Lelaki tersebut memakai pakaian berwarna hijau gelap."
"Baiklah Tuan.." Xiao Wei berubah menjadi bulatan cahaya yang sangat kecil dan meluncur keluar dari dalam cincin penyimpanan Wu Yi Feng.
"Tampaknya hari ini kita akan menginap disini, kalian segera buat tenda dan api unggun..!!!" Seru salah seorang diantara mereka.
"Baiklah.." Jawab yang lain sambil mulai memasang tenda, sedangkan Wu Yi Feng sibuk memungut ranting serta kayu untuk dijadikan api unggun.
Tidak terlalu jauh dari tempat mereka bermalam, lelaki yang menjadi telik sandi bagi keluarga Lee sedang bersenandung gembira. Ia sangat senang karena info yang ia berikan membuatnya mendapatkan sekantung uang emas.
"Hahahaha.. Aku akan berfoya - foya dengan uang ini..!!!" Ucapnya sambil melempar lemparkan kantung uangnya dan menangkapnya kembali.
Saat sedang asyik berjalan, tiba - tiba saja matanya menatap seorang gadis yang juga sedang berjalan berlawanan arah dengan dirinya. Gadis tersebut begitu cantik dengan kulit putih mulus dan body yang proporsional.
Jarak gadis tersebut dengan dia lumayan dekat, lelaki setengah baya itu merapikan pakaiannya dan berhenti berjalan, ia menatap gadis tersebut dari atas sampai bawah tanpa berkedip.
"Nona.. Kalau boleh aku tahu sebenarnya anda mau kemana? Apakah kau tidak tahu jika didaerah sekitar sini sangat berbahaya, apalagi untuk seorang gadis secantik anda.." Goda lelaki tersebut.
"Benarkah yang tuan katakan?? Hamba sebenarnya ingin mengunjungi orang tua hamba yang berada di kampung sebelah.." Ucap gadis cantik tersebut dengan suara yang lemah lembut.
"Jika berkenan, ijinkan saya menemani nona.."
"Saya takut merepotkan tuan.."
"Ohh tenang saja, aku sama sekali tidak merasa repot.."
"Baiklah kalau begitu, mari tuan.." Gadis cantik itu berjalan dengan pelan, sedangkan si lelaki telik sandi mengiringinya di samping, mereka nampak berbicara sepanjang perjalanan, bahkan sesekali terlihat sang gadis menutup mulutnya menahan tawa.