
"Kumpulkan semua ketua sekte di tempat biasanya, ada yang harus aku jelaskan, penting..!!!" Ucap Huang Litao kepada beberapa orang pembawa berita yang segera melesat pergi.
Pria itu merebahkan tubuhnya di sebuah kursi, menarik napas panjang dan menutup matanya. Dulu ia berpikir bahwa setelah ia membantu sang pangeran mendapatkan tahta, maka ia akan bisa lebih menikmati hidup. Siapa sangka ia malah diperlakukan layaknya anjing suruhan.
"Tuan, ada masalah apa? Kenapa wajahmu terlihat begitu gelisah dan kusut??" Bisik sosok wanita cantik dari belakang.
Wanita tersebut memijat pundak Huang Litao hingga membuat pria paruh baya tersebut sedikit tenang, namun siapa sangka pijitan tersebut malah membuat birahinya bangkit.
Tanpa menunggu lama, Huang Litao berdiri dan menciumi wanita tersebut dengan rakus, lalu tangannya merobek baju wanita itu hingga menampakkan kulit putih mulus yang selama ini terbungkus rapat dan tersembunyu di balik baju.
Dengan cekatan Huang Litao memapah wanitanya ke ranjang dan menindihnya lalu menghujani tubuh wanita tersebut dengan ciuman penuh nafsu.
Secepat kilat Huang Litao menelanjangi wanitanya dan lanjut menciumi setiap jengkal tubuh putih mulus tersebut hingga suara ******* mulai terdengar di dalam kamar.
Huang Litao bangun terlebih dahulu keesokan paginya, ia memandangi wanita disampingnya yang masih tertidur karena kelelahan. Ada semburat senyum kepuasan di wajah pria paruh baya tersebut, amarahnya seakan lenyap bersamaan dengan pelepasannya kemarin malam, entah berapa kali ia menghempaskan wanita tersebut dalam kenikmatan.
Huang Litao bergegas mandi dan membersihkan diri karena rencananya hari ini ia akan menemui beberapa orang ketua sekte untuk membahas masalah pemberontakan yang kian hari kian mengkhawatirkan.
Kembali ke Wu Yi Feng dan Bai Lang, keduanya baru bertemu dengan sebuah kota kecil ketika malam telah menjelang. Beruntung bagi mereka, penjaga gerbang kota ini tidak begitu mempersulit, hingga keduanya bisa memasuki kota setelah menunjukkan token murid sekte pedang langit.
"Saudara Feng, seharian kita memacu kuda tanpa henti.. Lebih baik kita cari kedai makan terlebih dahulu sebelum mencari penginapan, bagaimana menurutmu?" Ucap Bai Lang.
"Aku setuju, lagipula kuda - kuda kita juga butuh makan dan istirahat." Sahut Wu Yi Feng.
Keduanya lalu menuju ke sebuah kedai makan sederhana yang ada di sepanjang jalanan kota, setelah menyerahkan kedua kuda mereka untuk diurus kepada pelayan, mereka segera mengambil tempat dan memesan beberapa menu.
"Tuan - tuan mohon menunggu sebentar, menu yang kalian pesan akan segera kami antar.." Ucap sang pelayan sambil membersihkan meja.
Bai Lang menjawab dengan anggukan, sementara Wu Yi Feng hanya diam dan duduk di tempatnya. Pemuda itu memperhatikan sekitarnya, kedai makanan ini termasuk ramai untuk ukurannya yang kecil.
Sekitar 15 menit kemudian, pesanan mereka pun datang, keduanya segera menikmati hidangan yang telah tersedia sebelum sebuah teriakan menghentikan aktifitas mereka.
"Pak tua Wu, keluar kau..!!! Bayar semua hutang - hutangmu..!!!" Teriak seorang pria yang menenteng golok, pria bercodet di wajah tersebut masuk ke kedai dengan beberapa temannya.
Teriakan pria itu membuat semua pengunjung kedai menatap kearahnya, tak terkecuali Bai Lang dan Wu Yi Feng. "Haruskah kalian datang ketika aku sedang menikmati makananku??" Gerutu Bai Lang yang seolah kehilangan nafsu makannya.
BRAAAAKKKKK....
Kawanan penagih hutang tersebut menghancurkan beberapa bangku dan meja kosong di dekat mereka, membuat beberapa pengunjung ketakutan hingga pergi dari kedai dan meninggalkan Wu Yi Feng serta Bai Lang sendirian di kedai.
"Rupanya ada bocah yang tidak mengerti keadaan??" Seru salah seorang kawanan penagih hutang sambil melirik kearah Wu Yi Feng dan Bai Lang.
"Kami hanya ingin mengisi perut setelah seharian berkuda.. Kita punya urusan masing - masing, lebih baik tidak saling mengganggu.." Jawab Bai Lang.
"Hahahahaha.. Bocah bau kencur ingin menceramahiku.."
Namun suara gelak tawa mereka mendadak hilangketika mereka menyadari bahwa hawa ruangan mendadak terasa begitu dingin, bukan itu saja, badan mereka mendadak gemetar dan terasa begitu berat padahal tak ada sesuatu apapun disana.
"Sekumpulan lalat hendak melawan seekor naga... Siapa sesungguhnya yang tidak tahu diri..??" Ucap Wu Yi Feng sembari berdiri dan berjalan pelan kearah mereka dengan pandangan yang mengerikan.
"Si.. Sihir apa yang kau gunakan..??"
"Tanyakan hal itu pada dewa penjaga neraka..!!!"
SLAAASSSSSHHHHHH...
Wu Yi Feng memenggal kepala beberapa orang diantara mereka sebelum akhirnya menghilangkan efek dari aura raja naga langit.
Kawanan penagih hutang yang rata - rata berkemampuan pendekar tingkat 3 dan 2 hanya bisa ternganga sebelum akhirnya lari terbirit birit.
"Tuan muda, terima kasih sudah menolong kami.." Ucap sosok lelaki tua yang tiba - tiba saja muncul dari sebuah ruangan.
"Kalau boleh tahu, siapa mereka? Apakah benar anda memiliki hutang kepada mereka??" Tanya Bai Lang.
"Mereka adalah sekumpulan pendekar suruhan tuan Huang.."
"Huang?? Huang Litao??" Potong Wu Yi Feng.
"Bukan, Tuan Huang yang ini namanya Huang Fei.. Beliau adalah Tuan tanah dan orang paling kaya di kota ini, kalian pasti pengelana yang datang dari jauh hingga tidak mengenal beliau.." Jelas Tuan Wu.
"Lebih baik kalian segera pergi, karena Tuan Huang pasti akan melakukan pembalasan dendam atas pembunuhan yang telah kalian lakukan terhadap anak buahnya.. Apalagi kami dengar bahwa tangan kanan Tuan Huang adalah seorang pendekar yang sangat hebat." Ucap salah seorang pelayan, mencoba untuk memperingatkan.
"Sayangnya kami bukanlah seseorang yang akan lari dari masalah.. Bukan begitu saudara Feng??" Cletuk Bai Lang.
"Tuan, bisa tolong jelaskan mengenai Huang Fei sang tuan tanah??" Ucap Wu Yi Feng kepada pak tua Wu, alih - alih menjawab pernyataan dari Bai Lang.
"Tuan Huang Fei adalah kepala dari keluarga besar Huang, beliau adalah pemilik lebih dari setengah tanah yang ada di kota ini, kekayaan beliau banyak, pengaruh beliau pun juga begitu kuat hingga walikota tak mampu berbuat apa - apa dihadapannya."
"Pengaruh keluarga Huang bahkan sampai ke kota dan desa - desa sebelah, mereka semua sangat menghormati keluarga besar Huang, bahkan para pejabat daerah tidak ada yang berani menyentuhnya..."
"Saya dan juga sebagian besar penduduk kota ini sebenarnya sudah lama tidak memiliki hutang, namun besarnya bunga yang keluarga Huang bebankan, membuat kami seakan akan selalu terlilit hutang.." Jelas pak tua Wu sambil terisak air mata.
"Jika memang begitu, lalu kenapa anda tidak pergi saja dari kota ini dan memulai usaha yang baru di tempat lain??" Tanya Bai Lang yang merasa penasaran.
"Kami ingin sekali pergi dari sini, tapi para pendekar suruhan keluarga Huang akan mengejar dan membantai siapapun yang berani pergi dari kota ini tanpa seijin mereka."
"KALIAN BERDUA YANG ADA DI DALAM, LEBIH BAIK KELUAR DAN MENYERAH..!!! ATAU KAMI AKAN MENEROBOS DAN MEMBUNUH SIAPAPUN YANG ADA DI SANA..." Teriak seseorang dari luar kedai saat pak tua Wu sedang asyik bercerita.