
Wu Yi Feng sedang melamun, nampaknya sudah saatnya ia melakukan latihan yang selama ini sudah ia rencanakan. Apalagi pasukan iblis juga sudah mulai menampakkan eksistensinya, gabungan antara persekutuan darah dan pasukan iblis jelas bukanlah gabungan yang bisa dihadapi Wu Yi Feng dengan kemampuannya saat ini.
"Wei Wei, mulai saat ini apapun yang terjadi jangan pernah jauh dariku..!!!" Tegas Wu Yi Feng sebelum dirinya membuat sebuah formasi yang menghubungkan dunianya dengan dunia para siluman.
WHUUUUUSSSSSSS...
Sebuah lingkaran portal muncul, keduanya melangkah dan menghilang dalam waktu sekejap. Kini mereka telah berpindah ke dimensi siluman yang dipimpin oleh ratu ular.
"Tuan, dimensi apakah ini? Kenapa aku merasa hawa siluman disini begitu pekat?" Tanya Xiao Wei ketika keduanya mulai berjalan menyusuri jalan setapak.
"Tentu saja hawa siluman disini sangat pekat karena ini adalah alamnya para siluman.." Jawab Wu Yi Feng.
"Benarkah???" Xiao Wei tersenyum gembira, gadis cantik itu menoleh kekanan dan kekiri, seolah ingin merekam semua dalam ingatannya.
"Lalu kita ada urusan apa kemari tuan?"
"Aku ingin pergi ke suatu tempat yang telah dijanjikan oleh sang ratu.."
"Suatu tempat??"
"Hmm..."
"Kalau begitu biarkan aku menemanimu tuan.."
"Tempat yang aku tuju kali ini sangat berbahaya, kau akan menungguku di istana ratu.."
"Tidak mau, aku ingin ikut.." Xiao Wei memasang wajah cemberut, membuat Wu Yi Feng tersenyum.
"Sebel.."
Setelah beberapa saat berjalan akhirnya keduanya sampai di sebuah kota, kota tersebut tidak berubah banyak. Setidaknya Wu Yi Feng masih cukup mengenal seluk beluk kota tersebut, diujung kota berdiri sebuah kastil yang cukup megah dimana sang ratu siluman tinggal.
Para warga kota yang kesemuanya adalah siluman sempat memandangi Wu Yi Feng dan juga Xiao Wei ketika keduanya melintas, hingga beberapa penjaga pun mulai menghadang.
"Hei siapa kalian? Apakah kalian berdua siluman pendatang??" Tanya salah satu penjaga yang wajahnya mirip babi dengan bersenjata tombak lengkap dengan baju perangnya.
"Aku adalah tamu dari yang mulia ratu siluman ular.." Jawab Wu Yi Feng seraya mengeluarkan sebuah token berwarna ungu keemasan.
Token tersebut diberikan oleh sang ratu beserta emas dan juga batuan berharga lain yang tersimpan di cincin ruang dimana selain Wu Yi Feng, Shen Liang juga menerimanya.
Para penjaga yang paham akan arti dari token ungu keemasan yang berarti "Tamu Agung" segera berlutut dan meminta maaf.
"Maafkan hamba tuan.. Hamba tidak mengetahui jika anda adalah rekan dari sang ratu.."
"Sudahlah, berdirilah dan antar aku menemui sang ratu..!!" Jawab Wu Yi Feng.
"Siap laksanakan..!!!" Beberapa prajurit segera berjalan serempak menuju ke istana sang ratu beserta Wu Yi Feng dan juga Xiao Wei.
Sementara itu di kompleks istana Kekaisaran Song, nampak ratusan prajurit sedang berbenah. Mereka merapikan dan membersihkan semua tempat karena beberapa hari lagi, utusan dari kekaisaran Han akan datang kemari.
Statue atau relief tentang perjuangan pendekar elang emas membasmi sepuluh iblis bersaudara yang berada di salah satu kompleks kekaisaran Song mulai dipugar kembali, taman - taman disekitar juga mulai di tata ulang dan diperindah.
"Akhirnya kau kembali kemari, apa ada yang bisa aku bantu tuan muda??" Ucap sang ratu ular.
"Ratu, seingatku dulu kau pernah berkata bahwa di alam siluman ada sebuah tempat yang begitu berbahaya bahkan terlarang." Balas Wu Yi Feng.
"Itu.. Lupakanlah tuan, tempat itu bukanlah sesuatu yang bisa dijelajahi sesuka hati.."
"Apakah kau bisa membawaku kesana??" Tegas Wu Yi Feng, kali ini mereka berdua saling menatap, ratu siluman bisa melihat tidak ada keraguan sedikitpun di hati pemuda tersebut.
"Rupanya kau memang mirip sekali dengannya.." Sang ratu tersenyum getir.
"Jangan lupakan aku, aku juga ingin ikut kesana.." Xiao Wei mengangkat tangannya tinggi - tinggi.
"Wei Wei tunggulah aku disini, jangan kemana - mana.."
"Tidak mau..!!! Baru saja tuan mengatakan bahwa kita tidak boleh berjauhan, dan sekarang tuan ingin meninggalkanku disini??" Xiao Wei mengatakan semua isi hatinya dengan nada sedih.
"Maafkan aku, tapi jalan yang akan aku lalui tidaklah mudah..."
"Biarkan dia ikut, aku ingin lihat sampai dimana nyalinya.." Ucap sang ratu dengan senyum tipis dibibirnya.
"Baiklah, kalau begitu ayo antar kami kesana.." Wu Yi Feng mendesak sang ratu.
"Berpeganglah kepadaku, aku akan membuat portal kesana.." Wu Yi Feng dan juga Xiao Wei masing - masing memegang pundak sang ratu, dan dalam sekejap ketiganya menghilang ditelan kegelapan.
Dalam sekejap ketiganya telah sampai di puncak gunung, tepatnya di tepi kawah gunung berapi yang begitu panas, bahkan kencanganya angin yang berhembus sama sekali tidak membuat udara di sekitar menjadi sejuk.
"Inilah tempatnya, kami menamakannya Puncak Neraka, dan jika kau bisa melihat yang ada di bawah sana, dekat dengan pijaran lava, itulah Pintu Neraka..!!!" Ratu menunjuk sesuatu yang berada jauh di dasar kawah.
"Bagaimana? Apakah kau akan tetap pergi??" Tanya sang ratu.
"Aku tidak, aku akan menemani sang ratu kembali ke istana.. Hehehe.." Xiao Wei berkata dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu, ratu tolong jaga Wei Wei selama aku pergi.." Wu Yi Feng menatap Xiao Wei dan tersenyum puas.
"Tuan tolong pikirkan lagi, ada banyak tempat untuk berlatih selain disini.." Ucap Xiao Wei putus asa.
"Sampai jumpa.." Wu Yi Feng melompat, alih alih terbang pemuda itu terjun ke kawah gunung berapi dengan posisi kepala terlebih dahulu.
"Tuaaaaannnnnnn..." Xiao Wei berteriak dan hendak terjun untuk menyelamatkan Wu Yi Feng tapi tindakannya dicegah oleh sang ratu.
"Mereka berdua ( Xun JeHa dan Wu Yi Feng ) benar - benar gila, tapi aku suka..!!!" Sang ratu mencengkram lengan Xiao Wei dan dalam sekejap saja kegelapan kembali menelan keduanya lalu membawa mereka kembali ke istana.
*****
Di suatu tempat, di padang gurun yang kesemuanya diselimuti oleh es nampak seorang pemuda yang sedang berjalan menggunakan tongkat dimana selain berfungsi sebagai mata tapi juga sebagai kaki ketiganya.
Salju yang setebal lutut membuat pemuda tersebut sedikit kesulitan berjalan, angin yang berhembus kencang makin membuat suhu udara di sekitar bertambah dingin, namun semua rintangan tersebut sama sekali tidak menyurutkan tekad sang pemuda.