
Wu Yi Feng terus memacu kudanya keluar masuk hutan, desa dan juga kota - kota kecil. Ia melepas semua atribut sekte pedang langit yang menempel di tubuhnya karena memang merasa petualangannya kali ini tidak berhubungan sama sekali dengan sekte.
Hampir sebulan sudah Wu Yi Feng berjalan tak tentu arah, pemuda itu masih belum menentukan sikap akan kemana setelah memutuskan untuk berpetualang. Sebenarnya ia sudah memiliki sebuah rencana, namun ia sendiri belum yakin akan rencananya tersebut.
Hingga pada suatu hari, ketika sedang melewati sebuah hutan di kaki bukit yang cukup rimbun di perbatasan antara kekaisaran Han dan Song ia mendengar suara meminta tolong dari kejauhan.
Dengan cepat Wu Yi Feng segera melesat menuju ke sumberl suara tersebut berasal, suara minta tolong tersebut ternyata berasal dari rombongan keluarga pedagang yang sedang melintasi jalan setapak di hutan itu dan disergap oleh para perampok.
Sayangnya Wu Yi Feng sedikit terlambat karena begitu ia sampai disana, para perampok telah membunuh hampir seluruh rombongan pedagang dan hanya menyisakan satu bocah laki - laki berusia sekitar 9 tahunan.
"Jangan mendekat..!!! Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan.. Pergi dari sini.. Pergiiiiii...!!!" Dengan membawa pisau yang terhunus, anak kecil tersebut berteriak hingga suaranya parau, meskipun sekujur badannya gemetar namun sorot matanya tidak memperlihatkan ketakutan sedikitpun.
"Hahahaha.. Memangnya kamu bisa apa??? Kau hanya akan jadi penyakit di kemudian hari jika dibiarkan hidup, biarkan aku membunuhmu.. Aku janji akan melakukannya dengan cepat hingga kau tidak akan merasakan sakit sama sekali..." Ucap salah satu kawanan perampok.
"Kau benar saudaraku, lebih baik melenyapkan saksi... Hahahaha..." Timpal yang lainnya.
"Kalian bukan manusia...!!!" Teriak anak kecil tersebut sebelum ia menerjang maju.
PLAAAAKKKKK...
Sebuah tamparan keras membuat tubuh mungil anak laki - laki itu terhempas ke tanah, pisau yang ia genggam dengan erat juga telah terlepas dan tak tahu kemana jatuhnya.
Anak kecil itu memegangi pipinya yang memerah, sedangkan dari sudut bibirnya yang mungil darah mulai mengalir keluar, meskipun sekujur tubuhnya penuh luka tapi anak kecil itu tetap memaksa untuk berdiri, hingga salah satu dari kawanan perampok bergerak menuju kearahnya sambil menghunuskan pedang.
Anak kecil itu menutup mata tepat ketika pedang perampok hendak di ayunkan, tapi ternyata serangan yang ia nantikan itu tidak pernah datang. Dengan rasa takut ia membuka sebelah matanya secara perlahan dan melihat ada sosok laki - laki dihadapannya, laki - laki misterius itu menahan pedang milik kawanan perampok hanya dengan dua jarinya.
"Saat berhadapan dengan musuh, entah kamu kuat atau lemah. Jangan pernah tunjukan ketakutan, kalau kamu percaya dengan dirimu sendiri maka tidak ada hal yang mustahil.." Ucap laki - laki misterius tersebut, sambil menoleh sedikit kearah bocah laki - laki yang kini menatapnya tanpa berkedip.
BLAAAARRRRRR...
Tubuh salah satu kawanan perampok terdorong dengan sangat keras kebelakang ketika laki - laki misterius itu menempelkan tangannya ke dada lawannya.
"Cihhh.. Siapa kau?? Kenapa ikut campur urusan kami??"
"Aku hanya merasa kalian sangat pengecut karena mengeroyok bocah yang bahkan tidak bisa membela dirinya.." Ucap laki - laki misterius yang tak lain adalah Wu Yi Feng.
"Kami mau apa itu juga bukan urusanmu, lebih baik pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran.."
"Bahkan kau masih bisa bercanda ketika maut sudah mengintai.." Wu Yi Feng memberikan senyuman sinis, membuat kawanan perampok tersulut emosinya.
"Cukup bicaranya, saudaraku semua mari kita kirim orang ini bertemu dengan raja neraka..!!!" Seru salah seorang perampok, yang langsung diamini oleh yang lainnya.
"Hei... Tutuplah matamu jika tidak ingin melihat sesuatu yang mengerikan.." Wu Yi Feng menoleh kearah bocah kecil di belakangnya.
"Hajar dia paman...!!!"
"Aku bukan pamanmu..!!!" Wu Yi Feng mengalirkan Qi di kedua kepalan tangannya, lalu merubah Qi tersebut menjadi api yang membara dan es yang sangat dingin.
"Teknik Naga, Tapak Es Abadi..."
"Teknik Naga, Pukulan Api..."
BLAAAAMMMM..
BOOOOMMMMM...
Dalam waktu singkat saja, dari lima belas orang kawanan perampok tidak ada satupun yang selamat, semua tewas dengan mengenaskan di tangan Wu Yi Feng.
"Siapa namamu dan dimana rumahmu??" Tanya Wu Yi Feng setelah menguburkan tubuh ayah dan ibu bocah laki laki tersebut serta semua korban perampok lainnya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu.. Ayoo.." Wu Yi Feng bangkit dan berjalan, tapi Xiao Chen masih terduduk di depan pusara kedua orang tuanya, Wu Yi Feng akhirnya memutuskan untuk memberi waktu sejenak bagi Xiao Chen.
"Kenapa paman menolongku??" Tanyanya ketika mereka sedang berjalan menyusuri hutan.
"Karena aku juga pernah berada di posisimu.." Jawab Wu Yi Feng.
"Benarkah??"
"Hmm.."
"Apakah keluargamu adalah seorang pedagang??"
"Benar, ayah dan ibu adalah seorang yang giat dalam bekerja.. Kami sedang dalam perjalan pulang setelah mengirimkan barang dagangan ke sebuah kota di perbatasan kekaisaran Song." Jawabnya dengan polos.
"Lalu, apakah kau masih memiliki saudara??"
"Punya, aku adalah anak kedua.. Aku punya seorang kakak perempuan.. Namanya Xiao Hu, kalau aku tidak salah kakakku seumuran dengan paman.."
"Ternyata kau banyak omong juga.." Jawab Wu Yi Feng sambil menatap tajam kearah Xiao Chen.
"Karena kalau aku diam saja, maka aku pasti akan teringat dengan ayah dan ibu.." Jawab Xiao Chen.
"Hari ini kita bermalam disekitar sini saja, jika perhitunganku benar maka besok sore kita sudah akan keluar dari hutan ini.." Ucap Wu Yi Feng sambil mengambil sesuatu di dalam cincin ruangnya.
Wu Yi Feng mengambil sebuah kain sebagai alas tidur untuknya dan Xiao Chen, setelah membuat api unggun dan makan malam keduanya tertidur dengan pulas hingga sinar matahari menerpa wajah mereka.
"Apa yang kau lakukan??" Seru Wu Yi Feng ketika Xiao Chen memberikan hormat kepadanya.
"Paman, ajari aku seni beladiri.. Kumohon.."
"Lupakan.. Bangkitlah, ayo kita lanjutkan perjalanan.." Jawab Wu Yi Feng sembari bangkit dan merapikan semuanya sebelum meneruskan perjalannya kembali.
"Kumohon paman...!!!" Teriak Xiao Chen masih dalam posisi sujud.
"Berdirilah, atau aku akan meninggalkanmu disini sendirian.."
"Kumohon paman, saat ini hanya tinggal kakak yang aku miliki.. Aku ingin melindunginya.."
"Baiklah, aku akan mengajarimu dasar - dasar seni beladiri.. Tapi aku peringatkan padamu sebelumnya, latihan bersamaku sangatlah berat..!!!"
"Terima kasih guru.. Murid pasti akan bertahan.."
"Jangan panggil aku guru.."
"Tidak mau, kau adalah guruku.."
"Terserah..." Wu Yi Feng berjalan, disusul kemudian oleh Xiao Chen di belakang.
****
Hai, sudah lama ya g up.. Sebenarnya kemarin ada sedikit kecelakaan.. Hape yang telah menemani saya selama kurang lebih 3th, rusak karena jatuh dari motor.. Mau dibetulin tapi kata kang servisnya harga membetulkan lebih mahal ketimbang barunya. Maklum hape tipe lama, mau beli pengganti juga terbentur dana, alhasil meski nunggu gajian sebelum akhirnya bisa membeli lagi (seken tapi lumayan lah bisa buat nulis.)
Kalau ada yag tanya, kenapa kagak nulis pake laptop, jawabnya adalah karena saya tipe orang yang justru kagak bisa nulis kalo dijadwal. Karena inspirasi itu datang mendadak. Kadang lagi boker eh inspirasi lewat, kadang lagi ngelamun eh pengen nulis. Kagak mungkin juga ane bawa laptop ke Kamar kecil kan.
Dah gitu aja sih, intine ane minta maap bgt.. Kagak ada niatan buat nunda Update.. Sekali lagi maap yee..🙏🙏🙏
Selamat Tahun Baru 1 Hijriyah buat kalian yang merayakan...