
Di suatu tempat, di padang gurun yang kesemuanya diselimuti oleh es terlihat seorang pemuda yang sedang berjalan menggunakan tongkat yang juga berfungsi selain sebagai mata tapi juga sebagai kaki ketiganya.
Salju yang setebal lutut membuat pemuda tersebut sedikit kesulitan berjalan, angin kencang yang berhembus makin membuat udara di sekitar bertambah dingin, tapi semua rintangan tersebut sama sekali tidak menyurutkan tekad sang pemuda.
"Gggrrrrrrrrr...."
Puluhan binatang buas berjenis serigala salju mendekat karena mencium bau daging, mereka mengurung pemuda tersebut, namun setelah lewat beberapa menit berlalu, para kawanan serigala tidak ada satupun yang berani untuk maju menyerang, mereka hanya mengeram tanpa ada pergerakan sedikitpun.
Bukan tanpa alasan kawanan serigala yang terkenal ganas tersebut tidak berani bergerak, atau lebih tepatnya mereka memang tidak bisa bergerak karena kuatnya pancaran aura dari sang pemuda begitu mengintimidasi mereka membuat tubuh mereka kaku dan berat untuk digerakkan.
Kawanan serigala salju segera berlari menjauh ketika si pemuda menarik kembali aura raja naga langit miliknya, si pemuda buta yang tak lain adalah Shen Liang hanya tersenyum tipis lalu mulai melanjutkan kembali perjalanannya.
Setelah kepergian Wu Yi Feng, Shen Liang seolah merasa bahwa dirinya juga masih sangat lemah. Oleh karena itu ia juga akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak Wu Yi Feng berkelana, dan melakukan pelatihan mandiri di dunia luar, hingga sebuah petunjuk tentang Orang Suci dari Utara membuatnya berjalan sejauh ini.
Jika Shen Liang menuju ke belahan bumi terdingin, maka saat ini Wu Yi Feng sedang menerjunkan dirinya ke sebuah tempat terpanas di bumi. Sebuah lautan kawah yang meluap luap, namun bukan itu sebenarnya tujuan utama Wu Yi Feng, melainkan sebuah retakan yang ada di ujung kawah.
Retakan tersebut tidak akan bisa diraih kecuali seseorang mendekati kawah lalu bermanuver di detik detik terakhir, sebuah retakan yang terkenal dikalangan bangsa siluman sebagai Pintu Neraka.
BRUAAAKKKKK..
Wu Yi Feng terjatuh setelah bermanuver, menikung dengan tajam dan menghindari jilatan serta pijaran lava yang menari nari dengan memanfaatkan bongkahan batu kecil yang mengapung di lautan lava. Wu Yi Feng berguling guling lalu kemudian terdiam sejenak menatap angkasa yang masih bisa terlihat dari tempatnya kini berada.
Wu Yi Feng bangkit berdiri dan mulai bergerak, sekali lagi ia menatap sekeliling sebelum berjalan memasuki retakan gelap di depannya. retakan tersebut memancarkan energi yang begitu besar dan pekat hingga membuat bulu kuduk Wu Yi Feng berdiri.
"Hufffff..."
Wu Yi Feng membuang napas kasar sebelum akhirnya memasukI retakan tersebut dengan mantap, dan meskipun diluar gelap namun ketika Wu Yi Feng sudah memasukinya, retakan yang dinamakan pintu neraka tersebut cukup terang.
Situasi di dalam retakan tidak berbeda jauh dengan di luar, lautan lava yang mendidih menutupi hampir keseluruhan area dan hanya menyisakan sedikit jalan setapak, dan jika ada yang berbeda itu adalah kepekatan energi, dimana saat ini Wu Yi Feng merasa sesak seperti dihimpit oleh suatu kekuatan besar yang tak terlihat, hal itu jugalah yang membuat pemuda tersebut berjalan secara perlahan.
Jalan setapak yang hanya berukuran lebar kurang lebih seperempat meter menempel dinding namun memiliki panjang yang entah berapa kilometer jauhnya. Jalan setapak itu terlihat begitu rapuh, membuat Wu Yi Feng harus berjalan pelan untuk menjaga keseimbangan dan juga kestabilan.
"Persiapkan dirimu, karena ketika kau mendekati dan memasuki pintu neraka maka seluruh kemampuanmu akan menghilang, menguap entah kemana. Kau akan diuji dengan kekuatan fisik dan juga mental..!!!"
Kata - kata dari sang ratu siluman ular kembali terngiang ngiang di pikirannya, saat ini Wu Yi Feng benar - benar tidak bisa menggunakan kemampuannya, Qi dan sebagainya, bahkan untuk mengakses cincin ruangnya pun ia tak sanggup.
Layaknya orang normal yang tidak pernah mempelajari ilmu beladiri, saat ini Wu Yi Feng hanya bisa mengandalkan kemampuan fisiknya semata.
Entah sudah seberapa jauh Wu Yi Feng berjalan, baju yang dipakainya juga telah basah kuyup oleh keringat, sedangkan tenggorokannya terasa begitu kering. Wu Yi Feng menoleh ke kanan dan kekiri untuk mencari sumber mata air karena semua persediaannya berada di dalam cincin ruang, namun disana tidak ada sama sekali sumber air kecuali lava yang mendidih di bawah.
Merasa tidak menemukan yang ia cari, Wu Yi Feng kembali melanjutkan berjalan. Setapak demi setapak ia melangkah hingga kakinya tak lagi kuat untuk digerakkan, pemuda itu terkapar di tepi kolam lava. Entah berapa lama Wu Yi Feng tertidur, ketika ia bangun keadaan tidak berubah, semua tetap seperti sebelumnya dan ia juga masih berada di jalan setapak yang memisahkan dirinya dengan kolam lava.
Wu Yi Feng berdiri dan menoleh kebelakang, retakan tempatnya masuk sudah tak terlihat lagi, namun anehnya ia selalu merasa bahwa ia berjalan di tempat.
"Apakah aku terkena semacam jurus ilusi??" Wu Yi Feng duduk kembali dan mengambil sikap meditasi, ia mulai mengatur napasnya dan menyerap energi yang terasa begitu pekat di tempat tersebut.
Akan tetapi, ketika energi itu mulai masuk kedalam tubuhnya dan berubah menjadi butiran - butiran energi yang sangat kecil, Wu Yi Feng merasakan rasa sakit yang tidak bisa ia tahan.
"ARRRRRGGGHHHHH..."
Wu Yi Feng reflek menjerit, ia merasa sekujur tubuhnya ditusuk oleh ribuan pedang panas, bukan itu saja Wu Yi Feng juga merasa bahwa setiap inchi tubuhnya dikuliti dan ditaburi oleh garam.
Begitu pilu teriakan pemuda tersebut, Wu Yi Feng menggelepar, ia mencakar cakar wajahnya, memukul mukul kepala dan menjambak rambutnya hingga helai demi helai rambutnya rontok, tak berhenti sampai disitu, Wu Yi Feng juga memukul serta mencakar dada dan perutnya hingga sekujur tubuhnya dipenuhi oleh darah.
Anehnya ketika Wu Yi Feng meronta dan berguling guling ia tidak terjatuh kedalam kolam lava, padahal jalan setapak itu sangat sempit.