The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Terlambat



Keempatnya mundur serentak, laki - laki yang berkalungkan tasbih maju secara perlahan sambil melepaskan hawa membunuh yang sangat kuat kearah Chau Li dan juga Chui Dal Po.


"Saudara Chui, aku akan berusaha mengulur waktu.. Kau tolong bawa kedua gadis ini pergi sejauh mungkin dari sini.." Bisik Chau Li.


"Jangan bercanda kak, jika malam ini aku meninggalkanmu.. Bagaimana aku akan menemui guru dan saudara yang lainnya kelak??" Sergah Chui Dal Po sambil membakar tenaga dalamnya untuk menetralisir tekanan hawa membunuh yang dilancarkan oleh lawannya.


"Kumohon percayalah padaku.."


"Diamlah..!!! Aku bukanlah pengecut yang takut akan kematian..!!!" Teriak Chui Dal Po.


"Aku tahu, karena itulah aku memohon kepadamu.." Chau Li tersenyum, sedangkan Chui Dal Po dalam dilema apakah harus tetap disini ataukah menuruti permintaan Chau Li.


"Sialll...!!!! Berjanjilah bahwa kau pasti akan selamat..!!!" Ucap Chui Dal Po sambil menarik kerah baju Chau Li.


"Bodoh, tentu saja aku pasti selamat.." Balas Chau Li.


"Tidak usah bertengkar, karena malam ini tidak ada yang akan meninggalkan tempat ini dengan hidup - hidup..!!!" Potong lelaki bertasbih yang kini sudah berada di dekat Chui Dal Po dan menghujamkan sebuah pukulan yang sangat keras dan cepat.


BLAAAAAMMMMMMMM....


Chui Dal Po menerima pukulan tersebut dengan kedua tangan yang tersilang, energi ledak dari pukulan tersebut bahkan sampai membuat Chui Dal Po terdorong jauh kebelakang.


"Uhukkkk..." Chui Dal Po memuntahkan seteguk darah kehitaman, sedangkan Chau Li segera menyerang lawannya secara beringas.


"Sekarang.. Pergiiii...!!!!" Teriak Chau Li.


Chui Dal Po segera merenggangkan kedua tangganya lalu memeluk kedua gadis tersebut dan melompat ke atap bangunan tersebut.


"Jangan harap bisa lari..!!!" Lelaki berkalung tasbih mengubah elemen angin menjadi seperti ring yang mempunyai tekanan dan ledakan sangat kuat kemudian melepaskannya kearah Chui Dal Po.


BLAAAAARRRRR...


BLAAAAARRRRRRR...


BLAAAAARRRRRRR....


"Lawanmu adalah aku.." Chau Li menerjang dengan jurus - jurus pedangnya yang sangat tajam, membuat lawannya kembali memfokuskan perhatiannya kepadanya dan mengabaikan Chui Dal Po beserta kedua gadis.


"Bertahanlah, aku akan segera kembali..!!!" Teriak Chui Dal Po di kegelapan malam.


"Kau membuat segalanya terasa sulit.. Baiklah aku akan memberikanmu sebuah pelajaran berharga.." Bisik laki - laki berkalung tasbih seraya menyeringai, saking lirihnya kata - kata yang laki - laki tersebut ucapkan hingga terdengar layaknya desisan ular.


"Majulah..!!!" Jawab Chau Li tak gentar.


DASSSSSHHHHHHHH...


Lelaki berkalung tasbih melompat, namun ketika ia berada di udara, tiba - tiba saja tubuhnya menghilang dan dalam sekejap sudah ada di belakang Chau Li.


"Apa kau tahu kenapa sekte kami dinamakan Gagak hitam??"


"Tidak tahu dan aku t-i-d-a-k m-a-u t-a-u..!!!" Chau Li menekankan kata demi kata sambil menyabetkan pedangnya yang bisa dihindari dengan mudah oleh lawannya.


BLAAAAAAMMMMMM...


Tubuh Chau Li terdorong jauh kebelakang setelah tinju ganda lawannya bersarang secara telak di dada dan perutnya.


"Hoeeekkkk..." Chau Li memuntahkan darah yang cukup banyak, pemuda tersebut memegangi dadanya yang kini terasa panas dan terbakar.


"Jangan banyak bergerak atau racun gagak hitam akan menghancurkan organ dalammu dengan cepat.." Seru laki - laki berkalung tasbih yang kini mulai mendekat kearah Chau Li secara perlahan.


"Persetan dengan racun gagak hitam atau apalah, selama aku masih bisa berdiri aku aka.."


BLEEETTTAAAAAKKKKK...


"Apa yang kau lakukan bodoh..?? Apa dimatamu aku terlihat sedang membutuhkan bantuan HAHHH??"


"Ma.. Maaf kak, hanya saja a.."


PLAAAAKKKKKK..


Laki - laki berkalung tasbih menampar adik tingkatnya dengan cukup keras hingga pipi adik tingkatnya memerah dan bibirnya robek.


"Maafkan kami kak.." Ketiga adik tingkat yang lainnya segera bersujud.


"Kalian semua, bawa dia.." Laki - laki berkalung tasbih berjalan keluar dari bangunan tua tersebut dengan muka masam.


Sementara itu Chui Dal Po sedang menyandarkan kedua gadis murid dari sekte teratai ungu di pohon besar yang berada di pinggiran hutan.


"Kalian akan aman disini, aku harus kembali dan membantu kakak Chau.." Ucap Chui Dal Po kepada kedua gadis tersebut.


"Tunggu, kumohon jangan tinggalkan kami disini sendirian.." Rengek salah satu gadis seraya menahan pergelangan tangan Chui Dal Po.


"Ta.. Tapi.."


"Kumohon.. Bagaimana jika ada binatang buas?"


"Kalian sudah meminum pil penawar, dalam beberapa jam kondisi kalian akan pulih seperti sedia kala."


"Kalau begitu tolong jaga kami selama kami bermeditasi.."


"A.. Apa?? Arrrggghhh.." Chui Dal Po menarik narik rambutnya karena frustasi dengan situasi yang saat ini ia alami.


Waktu berjalan terasa lambat, setidaknya bagi Chui Dal Po. Dihadapannya ada dua orang gadis yang sedang memulihkan diri namun di tempat lain rekan seperguruannya sedang bertaruh nyawa.


"Aku pergi dulu.." Ucap Chui Dal Po ketika menyadari salah satu dari kedua gadis itu mulai membuka matanya, yang mengartikan bahwa masa pemulihan tubuhnya telah selesai.


Chui Dal Po melesat membelah pekatnya dengan sangat cepat, hanya satu yang ia harapkan saat ini yaitu rekannya masih bisa bertahan. Meskipun dirinya sempat marah kepada Chau Li, tapi tidak sedikitpun terbersit dihatinya ingin melihat rekannya tersebut celaka.


"Bertahanlah sedikit lagi, kumohon..!!!" Gumam Chui Dal Po sambil berlari secepat mungkin.


"Kakak, kakakkk.. Dimana kau..??" Chui Dal Po berteriak dan menjelajah bangunan tua tersebut, tapi bangunan tersebut kosong.


Hingga akhirnya Chui Dal Po menyadari sebuah tulisan yang ada di dinding, sebuah pesan yang ditulis dengan darah.


"Sekte gagak hitam, lusa malam, bawa dua gadis tersebut atau kau akan menemukan rekan seperguruanmu tergantung di atas gerbang kota..!!!"


Sekujur tubuh Chui Dal Po gemetar karena amarah yang membuncah, lalu tanpa sadar tinjunya sudah memukul dinding tersebut hingga hancur lebur.


BLAAAAAMMMMM...


"Sekte gagak hitam, akan kubunuh kalian semua..!!!!" Teriaknya sambil memukul mukul lantai.


...----------------...


Tess...


Tesss...


Titik air yang jatuh dari dinding goa membasahi wajah Wu Yi Feng, entah sudah berapa lama pemuda itu tak sadarkan diri setelah berhasil mencabut pedang pusaka dari dinding goa.


Seperti diceritakan sebelumnya, Wu Yi Feng kehilangan kesadarannya karena kehabisan darah setelah puluhan pedang dan sebilah tombak menembus tubuhnya ketika pemuda tersebut sedang berusaha mencabut pedang pusaka yang menjadi kunci dari ruang jebakan yang ia masuki.


Andai saja kemampuan Wu Yi Feng baru di tahapan puncak pendekar raja, maka bisa dipastikan ia akan tewas karena kemampuan regenerasi tubuhnya tidak akan cukup cepat untuk menyelamatkan nyawanya. Namun kali ini Wu Yi Feng sudah berbeda, dirinya telah menjelma menjadi pemuda yang begitu hebat dan sudah mencapai puncak pendekar bumi hingga luka seperti ini tidak akan cukup untuk membunuhnya.