
Udara pagi yang sejuk di villa mewah yang terlihat begitu asri dikelilingi taman bunga dan pepohonan yang meneduhkan, nyatanya tidak mampu membuat perasaan Sall lega setelah mengungkapkan permohonan maaf pada sang pemilik villa. Sanchia, Papa Leonard dan Mama Annesya yang ikut menemani Sall pun hanya bisa berusaha menenangkan Sall, namun Sall masih saja terlihat memasang wajah sendunya.
Sepasang suami istri pemilik rumah yang terlihat sangat baik dan bijak itu sesungguhnya sudah memberikan maaf dengan senyuman yang sangat tulus, tapi Sall malah semakin merasa tidak enak hati. Om Hans yang memiliki wajah khas Inggris itu, sama sekali tidak menampakkan ekspresi benci, begitupun dengan Tante Citra yang terlihat sangat ramah dengan wajah khas Sunda-nya.
Memang selang 3 hari sejak pertemuan Sall dan Sanchia dengan Satya, Sall langsung mengungkapkan keinginannya untuk meminta maaf secara langsung pada orangtua Satya yaitu Om Hans dan Tante Citra. Tentu saja hal ini sangat didukung oleh Sanchia, dan juga Papa Leonard dan Mama Annesya. Bahkan Papa Leonard langsung menyampaikan niat baik Sall ini pada Om Hans, yang merupakan sahabat terbaiknya itu. Dan hal ini pun disambut baik oleh Om Hans dan Tante Citra yang memang sudah mendengar banyak tentang Sall yang nyatanya merupakan pribadi yang baik. Sehingga mereka begitu tidak sabar untuk bertemu langsung dengan Sall.
"Sall..Kenapa kamu seperti tidak senang mendengar perkataan kami, yang sudah lama memaafkan kamu. Papa dan Mama mertuamu sudah menjelaskan segalanya sejak lama, tentu Om dan Tante sudah tidak salah paham juga padamu."
"Apa Om dan Tante tidak berniat menghukum saya? Saya terima jika Om dan Tante mau menghukum saya dengan cara apapun."
"Sesungguhnya tidak pernah terbersit di pikiran kami untuk membalas atau memberimu hukuman. Apalagi kamu sudah menjadi suami Sanchia, yang sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Cukup buktikan kalau kamu bisa menjadi suami yang baik buat Sanchia, dan menantu yang baik untuk kedua mertuamu, hal itu sudah cukup untuk kami."
"Terima kasih Om.. Tante.. Karena sudah mau memaafkan saya. Saya sungguh menyesali perbuatan saya."
"Sudah, lupakan saja. Bernardo juga sudah meninggal lebih dari sebulan yang lalu. Kamu memang mengaktifkan chip untuk membuat dia tidak sadar saat kami berhasil menangkapnya, tapi beberapa luka saat penyerangan di mansion mertuamu dan penyakit bawaan yang dia derita membuat upaya pengobatan yang kami lakukan, akhirnya harus berhenti karena dia tidak bisa bertahan."
"Apa benar Bernardo sudah meninggal Om? Kenapa Papa tidak pernah mengatakannya padaku? Bahkan sudah beberapa bulan yang lalu." Sanchia yang terlihat lebih terkejut dari Sall langsung memberondong Om Hans dan Papa Leonard dengan pertanyaannya.
"Iya Sayang, Bernardo sudah meninggal. Maaf Papa tidak memberitahumu, karena saat itu kamu sedang berduka karena keguguran. Jadi Papa pikir, kabar tentang Bernardo akan Papa sampaikan jika memang sudah tepat waktunya, dan mungkin saat inilah waktu yang tepat."
Sall merangkul bahu Sanchia, menopang tubuh Sanchia yang mendadak lemas mengetahui kematian Bernardo. Kebenciannya pada Bernardo yang sudah membuat keluarganya berantakan, memanglah sudah mendarah daging. Namun terselip rasa iba di hati Sanchia, karena bagaimanapun juga, Bernardo pernah sangat menyayanginya dan menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Sanchia pun pernah menganggap Bernardo sebagai Ayahnya sendiri, sebelum akhirnya bertemu kembali dengan Papa Leonard dan mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang kejahatan Bernardo.
Obrolan yang cukup sedih tentang Bernardo, akhirnya berganti dengan topik yang lebih menyenangkan, setelah Tante Citra menghidangkan berbagai macam makanan khas Bandung dan makanan ringan untuk para tamunya. Sall yang sudah cukup familiar dengan beberapa makanan di atas meja, terlihat menelan salivanya karena tergiur dengan pemandangan dihadapannya.
"Sall sudah biasa ya melihat makanan-makanan ini? Tapi dicoba ya, masakan Tante dijamin enak lho."
"Iya Tante, terima kasih banyak. Semua makanannya memang terlihat enak."
"Ayo Sall, dimakan. Jangan hanya dilihat saja."
Perkataan Om Hans membuat Sall yang terlihat sedang melihat beberapa hidangan di meja, merasa malu karena dipergoki. Tentu saja hal ini membuat Sanchia, Papa Leonard, Mama Annesya dan Tante Citra tersenyum melihat tingkah Sall.
"Iya Om.. Terima kasih banyak untuk hidangannya."
Sanchia berinisiatif mengambilkan sepiring kecil "Awug" yang sudah menjadi target Sall sejak beberapa saat yang lalu. Memang Sall belum pernah mencoba makanan itu, namun penampakannya yang seperti piramid berwarna putih dengan lelehan gula merah, cukup menarik perhatiannya. Sall memasang senyum sumringahnya karena Sanchia begitu mengerti dengan pikirannya yang sudah sangat tergiur dengan makanan itu.
"Terima kasih Sweetheart." Sall segera menerima sepiring awug dari tangan Sanchia, dan menunggu Sanchia juga yang lainnya mengambil makanan sebelum menikmati hidangannya. Acara makan mereka pun terasa lebih hangat, karena diselingi dengan obrolan santai dan candaan.
Pandangan mata Sall tiba-tiba tertuju pada photo keluarga berukuran besar, dimana terlihat jelas Om Hans dan Tante Citra saat muda dengan ketiga anak mereka. Om Hans yang menyadari arah pandang Sall, tersenyum lalu menyimpan kembali piring di tangannya yang sudah kosong.
"Itu Om, Tante, dan ketiga anak kami, Satya Arya dan Lana. Arya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sementara Lana tinggal di Spanyol bersama Kendrick, suaminya. Untungnya Satya memutuskan untuk pindah ke Indonesia, meskipun dia tinggal di mansion bersama beberapa anak buahnya, dan masih sering bolak-balik ke Inggris untuk mengurusi perusahaannya yang sudah dipercayakan untuk dikelola orang-orang kepercayaannya."
"Lho, bukankah Satya sudah menikah dengan Sasa Om?" Sanchia seketika menyela pembicaraan Om Hans dan Sall, karena sedikit penasaran dengan kabar Satya. Sejujurnya Sall cukup terganggu dengan reaksi Sanchia ini.
"Belum Sanchia, pernikahan mereka diundur beberapa bulan, karena ada 2 novel Sasa yang sedang difilm-kan, dan shooting-nya dilakukan di beberapa negera di Eropa."
"Oh jadi begitu Om. Saya pikir Satya sudah menikah, sebulan setelah acara pertunangannya itu."
Sanchia mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti dengan apa yang dikatakan Om Hans, lain hal dengan Sall yang terlihat mengerutkan kening, mencurigai ekspresi istrinya saat mendengar penjelasan Om Hans.
"Oh iya Sall.. Sebenarnya aku cukup mengenal dekat Daddy-mu, baik sebagai pengusaha maupun ketua klan mafia."
"Benarkah Om?" Netra Sall membulat sempurna, menuntut penjelasan lebih dari Om Hans.
"Iya, kami boleh dibilang rekan bisnis yang baik." Mata Sall terlihat berbinar mendengar perkataan Om Hans.
"Wah aku benar-benar tidak menyangka Om."
"Iya Om juga tidak menyangka Sall."
Tiba-tiba obrolan seru itu seketika terhenti, saat seseorang datang dan menjadi pusat perhatian semua orang di ruang tamu itu.
"Apa-apaan ini? Bagaimana si brengs*k itu berani menginjakkan kakinya di rumah ini?"
Sall terlihat tenang memandang sang pemilik suara, namun berbeda dengan Satya yang kini justru terlihat mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya seraya menghunuskan tatapan tajam pada Sall yang begitu dibencinya setengah mati.
(Dua babang brewok, kalau berantem siapa yang menang ya,hihi..)
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Maaf banget karena baru sempat up..
Maaf buat Kakak Author kece kalau aku telat mampir & balas comment, nanti aku balas & mampir ya..🤗
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight