The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 119 Pertemuan



RUMAH SAKIT BR GROUP - BANDUNG, INDONESIA


Matahari sudah beranjak menuju peraduannya, saat Sall dan Sanchia tiba di Ruang VVIP Rumah Sakit BR Group milik Bryllian tempat Kevin dan Nieva dirawat. Perjalanan yang menghabiskan waktu hampir 20 jam dari London ke Jakarta dan lanjut ke Bandung itu, tidak membuat Sall dan Sanchia lelah dan ingin beristirahat, mereka langsung menuju Rumah Sakit untuk menjenguk dan memastikan keadaan Kevin dan Nieva.


Namun Papa Leonard dan Mama Annesya yang juga begitu khawatir dengan keadaan anak dan menantu mereka, justru diminta Sall pulang terlebih dahulu untuk beristirahat. Apalagi Mama Annesya sudah terlihat tidak enak badan sejak mereka mendarat di International Airport Soekarno-Hatta. Jadilah hanya Sall, Sanchia, Leroy, Leon dan beberapa orang pengawal yang pergi ke Rumah Sakit. Sementara Papa Leonard, Mama Annesya, Shawn, Shanaya, beberapa orang babysitter dan para pengawal, pulang menuju mansion Nieva dan Kevin.


Kevin dan Nieva tampak berbaring di tempat tidur yang bersebelahan. Tangan Kevin dibalut perban dan penyangga yang menopang tangan kanannya , sedangkan Nieva mengalami beberapa luka ringan di tangannya.


"Nieva, Kevin bagaimana hal ini bisa terjadi?"


Raut wajah sedih dan cemas ditunjukkan Sanchia, sesaat netranya melihat keadaan adik dan adik iparnya. Sementara Sall merangkul bahu Sanchia untuk menenangkannya.


"Saat pulang kontrol kondisi perut Nieva yang sering sakit dari Dokter kandungan, mobil kami hampir mengalami tabrakan dengan mobil lain. Airbag mengembang sempurna, tapi mobil kami menabrak pohon besar, karena aku menghindari tabrakan dengan mobil lain." Kevin menjelaskan dengan tangan kiri mengelus pelipis Nieva.


"Aku hanya mengalami luka ringan karena sesaat sebelum airbag mengembang, Kevin merangkul dan menahan bahuku agar tidak membentur jendela mobil. Saat mobil akan menabrak pohon, Kevin sengaja membiarkan bagian kanan mobil yang menabrak pohon, sehingga malah Kevin yang mengalami cedera." Selain sedih mendengar penjelasan Nieva, Sall dan Sanchia juga kagum dengan insting Kevin untuk melindungi Nieva.


"Terima kasih Kevin, kamu begitu melindungi adikku. Semoga kalian berdua segera sembuh ya." Perkataan tulus Sanchia justru ditanggapi kekehan Kevin.


"Hei, Nieva istriku Sanchia. Aku akan melindunginya dengan segenap jiwa ragaku." Tatapan Kevin yang beralih pada Nieva dengan penuh cinta, membuat hati Sanchia dan Sall menghangat. Cinta Kevin yang begitu besar pada Nieva membuat Sanchia tidak pernah menyesal merestui pernikahan Kevin dan Nieva dulu.


"Kamu memang suami yang hebat Kevin." Puji Sall dengan mengangkat jempolnya.


"Tapi tetap kamu suami yang paling hebat, Honey.." Pujian dengan ekspresi jujur di wajah Sanchia, membuat Sall gemas, sehingga mendaratkan ciuman di puncak kepala Sanchia.


"Ah kenapa kalian selalu membuat kami kalah romantis.." Keluh Kevin.


Tiba-tiba Nieva memiringkan dan sedikit mengangkat tubuhnya, lalu mendaratkan ciuman di bibir Kevin.


"Terima kasih suamiku yang paling hebat, yang selalu menjaga dan melindungiku dengan segenap jiwa dan ragamu. Betapa beruntungnya aku menjadi istrimu, Kevin Choi." Ungkap Nieva, lalu kembali mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Kevin.


"Ah so sweet.." Tawa kecil Kevin dan Nieva lepas mendengar komentar Sanchia, yang kini terlihat tersenyum bersama Sall.


"Hmm, Leon dan Leroy kemana ya, kenapa mereka belum juga masuk?" Sanchia baru menyadari kalau kedua sahabat mereka belum ikut masuk ke dalam kamar.


"Entahlah, mungkin ada urusan pekerjaan." Jawab Sall tidak terlalu khawatir, mengingat keduanya selalu sibuk dengan gadgetnya, karena harus membantu Sall mengurus pekerjaan dari jarak jauh.


"Oh iya, kalian bilang sempat hampir tabrakan, lalu mobil yang hampir tabrakan dengan kalian bagaimana? Menurut polisi bagaimana?" Tanya Sall ingin tahu.


"Kamu pasti akan terkejut, jika tahu siapa pengendara mobil yang hampir tabrakan dengan kami."


"Siapa?" Tanya Sall dan Sanchia bersamaan.


*************************


Di salah satu koridor yang menghadap ke arah Taman Rumah Sakit, Leroy terlihat sedang berbicara atau lebih tepatnya menerima omelan dari seorang perempuan berwajah campuran Eropa dan Asia. Perempuan itu terlihat duduk di atas kursi roda,  dengan perban membalut tangan, kaki dan pelipisnya.


"Kalau lari itu lihat-lihat, bagaimana kalau kursi rodaku jatuh ke dalam selokan itu, atau menabrak tempat sampah itu, sampai aku terjatuh." Perempuan itu terlihat kesal seraya menunjuk-nunjuk selokan dan tempat sampah yang berjarak beberapa meter darinya.


"Iya maaf, aku kan sudah bilang kalau aku sedang terburu-buru tadi. Aku antar ke ruanganmu ya." Bujuk Leroy dengan tulus.


Beberapa saat sebelumnya Leroy yang sedang terburu-buru mencari kamar rawat Kevin dan Nieva, menabrak perempuan itu, yang sedang duduk di atas kursi roda. Kursi roda perempuan itu sempat terdorong maju, namun Leroy berhasil menahan kursi roda itu agar tidak jatuh.


"Tidak, aku akan menunggu adikku. Aduh kemana sih Lean.." Bibir perempuan dihadapannya yang terlihat mengerucut karena kesal, membuat Leroy gemas. Leroy baru menyadari betapa cantiknya perempuan dihadapannya itu, sementara yang ditatap masih sibuk mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari keberadaan adiknya yang menghilang entah kemana.


Sementara di salah satu sudut koridor yang sepi, tampak seorang laki-laki mengungkung seorang perempuan, dan menahan tubuhnya hingga menempel ke dinding. Netra keduanya saling menatap dalam, namun binar bahagia tidak dapat ditutupi dari wajah keduanya.


Hati Leon menghangat, karena akhirnya kembali bertemu dengan Leandra, perempuan yang selama beberapa hari ini berhasil membuat hari-harinya berantakan. Tanpa Leon tahu, sesungguhnya Leandra pun merasakan hal yang sama seperti Leon. Terasa ada yang berbeda dengan hati dan hari-harinya, sejak pertemuannya dengan Leon.


"Akhirnya kita bertemu lagi Janice.." Bibir Leandra masih bungkam, tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Leon, laki-laki yang dirindukannya selama beberapa hari ini. Tangan kanan Leon mengelus lembut pelipis, pipi hingga leher Leandra, membuat tubuh Leandra seketika menegang karena perlakuan Leon.


"Tuhan sudah mentakdirkan kita bertemu lagi Janice.. Bahkan di suatu tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Kini aku semakin yakin, kalau kamu adalah takdirku, Janice.." Sesaat kemudian Leon mendaratkan ciuman lembut di bibir Leandra, yang ternyata langsung menyambut tautan bibir Leon dengan penuh kerinduan.


***********************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight