The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 43 Aku menemukanmu..



Sall mengemudikan helicopter dengan raut wajah yang relatif tenang, meskipun bagi Leon yang bertindak sebagai co-pilot di sebelah Sall, ekspresi itu menyembunyikan emosi yang sangat kuat. Sall menyimpan kemarahannya saat ini, mungkin untuk dia luapkan saat tiba di tempat yang mereka tuju.



Sall begitu tidak sabar untuk segera menjejakan kakinya di mansion yang mulai terlihat dari atas. Dan tidak sampai 5 menit kemudian, Sall mendaratkan helicopternya di helipad yang terdapat di mansion milik Alrico itu, diikuti 2 helicopter yang ditumpangi Kevin, Leroy dan 4 anak buah Sall yang paling terlatih.


Kali ini, helicopter yang dikemudikan Sall bukanlah sejenis Stealth Helicopter yang senyap dan tanpa suara, tapi Sall sengaja mengemudikan helicopter yang canggih namun mengeluarkan suara yang cukup berisik. Karena Sall ingin menyerang Alrico secara personal dan terang-terangan. Sall juga ingin memberitahukan keberadaannya pada Sanchia, yang pasti bisa mendengar suara tiga helicopter yang datang menjemputnya saat ini.


Sall, Kevin, Leon, Leroy dan 4 orang anak buah Sall yang berjalan menuju pintu utama mansion, langsung dihadang sekitar 30 orang penjaga berpakaian serba hitam. Kemungkinan semua orang itu adalah anak buah Alrico, namun Sall dan yang lainnya sama sekali tidak gentar, meskipun mereka kalah jumlah. Karena Sall memang berniat menantang Alrico menyelesaikan masalah mereka berdua saja, tanpa menumpahkan darah orang-orang di sekitar mereka.


"Panggil Alrico, katakan Sall datang berkunjung." Sarkas Sall dengan raut wajah datarnya.


Laki-laki yang berdiri paling tengah dan terlihat seperti Pemimpin dari orang-orang yang menghadang Sall, masih berdiri menantang Sall dan tidak berniat mengikuti perintah Sall sama sekali. Sampai tiba-tiba terdengar teriakan dari seseorang yang begitu dirindukan oleh Sall.


"Honey.."


Air mata Sanchia tampak sudah luruh tanpa bisa ditahan, membuat tatapan Sall berubah sendu merasakan sedih melihat keadaan istrinya yang terlihat tidak baik-baik saja.


'Sweetheart.. Aku benar-benar merindukanmu.' Batin Sall seraya menatap haru ke arah Sanchia.


Sanchia terlihat akan menuruni anak tangga untuk menghampiri Sall, namun Alrico yang datang dari koridor sebelah kanan Sanchia, segera menahan tangan Sanchia dengan erat. Tentu saja Sall yang melihatnya, langsung emosi. Segera diambilnya pistol dari balik pakaiannya dan diarahkan tepat ke dahi laki-laki yang berdiri tepat di depannya.


"Minggir, jangan halangi kami masuk!"


Laki-laki itu terlihat berusaha menutupi rasa takut oleh aura membunuh Sall, namun tubuhnya dan anak buahnya sama sekali tidak bergerak, dan tetap menghalangi Sall untuk masuk.


"Biarkan mereka masuk!"


Instruksi dari Alrico segera membuat laki-laki itu dan seluruh anak buah Alrico menyingkir dan memberikan jalan bagi Sall, Kevin, Leon, Leroy dan juga 4 anak buah Sall untuk masuk.


"Cukup, berdirilah disana!"


Alrico membuat langkah Sall dan yang lainnya terhenti, saat memasuki aula mansion. Diikuti anak buah Alrico yang bergerak mengepung Sall dan yang lainnya dalam lingkaran yang besar, sedangkan Alrico masih berada di lantai 2 seraya menahan tangan Sanchia. Sall menahan emosi yang sejak tadi sudah naik ke ubun-ubunnya, terlebih genggaman tangan Alrico, masih bertahan di tangan Sanchia, meskipun istrinya itu terlihat terus berusaha melepaskan diri dengan tenaga yang terlihat lemah.


Ingin sekali Sall naik menghampiri Sanchia dan langsung memeluk istrinya, tapi Sall tidak ingin Alrico bertindak nekad, sehingga bisa mengancam keselamatan istrinya juga bayi dalam kandungan Sanchia, jika memang mimpi Sall benar adanya.


"Alrico, serahkan istriku!"


"Selamanya aku tidak akan melepaskan Sanchia padamu. Aku yakin bisa membahagiakannya lebih daripada kamu."


"Cih.. Apa kamu sedang berusaha membohongi diri kamu sendiri? Kamu tahu jelas siapa yang bisa membahagiakan istriku, kamu justru menyakiti dan menyiksa fisik dan hatinya. Bahkan kamu tidak bisa mengurusnya dengan baik, sampai istriku terlihat begitu sedih, pucat, lemah dan tidak sehat."


Alrico merasa hatinya begitu sakit mendengar apa yang dikatakan Sall padanya, karena memang itulah kenyataannya.


"Untuk pertama dan terakhir kalinya, aku memintamu mengembalikan istriku kepadaku. Itupun jika kamu mengakui kebenaran dari apa yang aku ucapkan barusan. Hanya laki-laki sejati yang tidak akan menyakiti perempuan."


"Jangan banyak bicara, pergilah selagi aku bersikap baik."


"Tentu, tapi jika kamu membiarkanku membawa istriku."


"Ini urusan antara kamu dan aku. Tidak perlu melibatkan semua orang. Obsesi bodohmu, membuat semua orang kerepotan. Apa dengan melakukan semua ini, perasaan Sanchia bisa berubah? Tentu kamu tahu jawabannya, dan aku yakin jawabannya tidak akan pernah berubah, selamanya."


Deg..


Hati Alrico bagai dihantam batu berkali-kali, sehingga membuat genggaman tangannya di tangan Sanchia perlahan melemah. Sanchia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan segera menghempaskan tangan Alrico, sehingga terlepas.


Sanchia berjalan menuruni anak tangga sebelum Alrico sadar dari keterkejutannya. Tentu saja apa yang dilakukan Sanchia ini, membuat Sall, Alrico, Kevin, Leon dan Leroy khawatir. Terlebih langkah Sanchia yang terlihat lemas tak bertenaga, membuat langkahnya sedikit tersendat dan terseok-seok.


Sall menerobos pertahanan anak buah Alrico, yang kali ini tidak terlalu kuat menahannya. Bergegas menjemput Sanchia yang dia khawatirkan. Tersisa beberapa anak tangga yang harus Sall lewati untuk dapat memeluk Sanchia kembali, namun tiba-tiba Sanchia lemas dan hendak terjatuh karena tidak sadarkan diri. Beruntung Sall langsung melewati beberapa anak tangga sekaligus dengan langkah besarnya, sehingga Sall bisa menahan dan memeluk tubuh Sanchia.


"Bangun, Sweetheart.. Tolong bangunlah!"


Alrico masih terkesiap dengan apa yang dilihatnya, hatinya bagai diremas dan dicabik-cabik. Pemandangan yang begitu menyesakan, melihat seseorang yang dicintainya berada dalam pelukan laki-laki lain. Dan Alrico sadar, kalau dia sudah menyakiti Sanchia selama ini.


Di dalam hati kecilnya, tentu Alrico tidak rela kehilangan Sanchia. Tapi usahanya selama sebulan ini juga tidak membuahkan hasil. Bahkan kebersamaannya bersama Sanchia selama bertahun-tahun, hanyalah sebagai sahabat baik saja.


'Mungkin sekaranglah saatnya aku harus menyerah.' Batin Alrico.


Alrico berbalik, hendak melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya, namun langkah kakinya tertahan oleh teriakan Sall yang membuat hatinya semakin sakit.


"Aku akan membawa Sanchia pergi, berhentilah mencintainya. Karena sebentar lagi kamu akan mempunyai keponakan. Sanchia mungkin sedang hamil, dan aku yakin firasatku benar."


Tentu saja bukan hanya Alrico yang terkejut dengan perkataan Sall ini, namun juga Kevin, Leon, Leroy, dan semua orang di ruangan itu. Seolah tidak peduli dengan keterkejutan semua orang, Sall segera menggendong Sanchia menuruni anak tangga dan melewati semua orang hendak keluar dari mansion. Kevin, Leon, Leroy dan 4 orang anak buah Sall segera menyusul langkah Sall menuju helipad tempat helicopter mereka berada. Sementara Alrico terlihat membalikan badannya dan berjalan menuju kamar pribadinya.


'Bisakah aku melupakanmu Chia? Aku bahkan tidak sanggup jauh darimu selama ini. Aku tidak bisa, Chia.."


*************************


Image Source : Instagram Toni Mahfud


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight