
Semburat warna jingga langit Bali, menjadi pemandangan yang tidak rela Sanchia lewatkan di hari terakhirnya di Bali. Berbaring di atas pool lounger chair yang terletak di pinggir kolam renang private dengan berbalut bathrobe, menjadi pilihannya setelah lelah berenang selama beberapa jam. Tentunya ditemani minuman segar dan beberapa hidangan yang disediakan oleh para pelayan.
Sanchia juga sebenarnya sedang berusaha menghilangkan kebosanan, karena seharian ini Shawn dan Shanaya memilih bermain watersport bersama dengan beberapa orang pengawal. Sedangkan Sall tidak bisa menemaninya karena disibukkan dengan urusan perusahaan yang sudah seminggu ini dia tinggal.
Besok Sanchia bersama sang suami, anak-anak dan seluruh keluarganya akan segera berangkat menuju Bandung untuk melanjutkan liburan mereka. Selama seminggu ini, liburan Sall dan Sanchia di Bali terasa sangat menyenangkan. Terlebih bukan hanya keluarga besarnya yang ikut berlibur, melainkan ada sahabat-sahabat mereka yang menambah serunya suasana liburan panjang kali ini.
Sall dan Sanchia sungguh bersyukur dan bahagia sekali bisa menikmati waktu bersama keluarga dan sahabat-sahabat mereka setelah sekian lama. Namun sayangnya, Bryllian, Zivara dan si kembar Bradley dan Briley harus segera kembali ke Inggris. Begitupun dengan Brandon, Sharon dan putra mereka Zeroun yang harus segera kembali ke Pulau Jeju, Korea Selatan.
Saat Sanchia masih asyik menikmati pemandangan dihadapannya, terdengar suara yang mengejutkan sekaligus mengalihkan atensinya seketika.
Byur...
Tampak Sall sudah berada di dalam kolam renang, setelah sebelumnya melompat dengan gaya kerennya. Tubuh atletis yang meliuk-liuk di atas kolam renang, tampak berkilauan diterpa sinar matahari senja, membuat Sanchia semakin mengembangkan senyum manisnya.
Setelah berenang lebih dari 10 menit, Sall naik ke tepi kolam renang mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya yang basah. Dikenakannya bathrobe yang terletak di atas rak, sebelum akhirnya merebahkan dirinya di atas pool lounger chair tepat disebelah Sanchia. Sang Istri menyodorkan segelas juice strawberry yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan, yang ternyata dipesan Sall sebelumnya.
"Minumlah Honey.." Sall segera menyedot dan menyeruput juice strawberry yang ada di tangan Sanchia sampai tersisa setengahnya.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai Honey?'
"Sudah Sweetheart. Maaf ya aku begitu sibuk seharian ini, kamu pasti bosan sendirian. Terlebih anak-anak tidak ada di mansion." Jemari Sall membelai lembut rambut Sanchia, seraya memandangi wajah istrinya yang terlihat sangat cantik itu.
"Tidak apa, aku paham, pasti kamu punya banyak pekerjaan yang menumpuk. Kalau masih belum selesai, aku tidak apa kok ditinggal sendirian." Jawab Sanchia yang langsung dibalas pelukan erat Sall.
"Jangan membuatku semakin merasa bersalah Sweetheart, aku sudah berjanji akan menikmati liburan panjang ini bersamamu tanpa disibukkan dengan masalah pekerjaan. Tapi baru beberapa hari saja, aku sudah beberapa kali melanggar janjiku sendiri. Maaf ya Sweetheart." Kecupan lembut di kening Sanchia mengakhiri perkataan Sall yang penuh penyesalan.
"Honey, aku sangat mengerti kesibukanmu, aku bukan istri yang egois. Beberapa project-mu bahkan belum rampung, aku yang mendesign bisa beristirahat, tapi kamu tidak bisa kan. Aku tidak akan menuntut kamu untuk selalu menemaniku dan melupakan pekerjaanmu, aku bisa melakukan hal lain selama kamu bekerja. Kamu pun bisa memintaku untuk membantumu saat bekerja, jika memang aku bisa melakukannya." Senyum tampan Sall mengembang sempurna mendengar perkataan Sanchia yang selalu menenangkan hatinya.
"Aku tetap merasa bersalah Sweetheart, karena selama beberapa tahun ini kita begitu sibuk dengan banyak project. Aku ingin mengajakmu berlibur ke negara-negara yang ingin kamu kunjungi." Ujar Sall yang disambut binar bahagia di wajah Sanchia.
"Aku senang sekali mendengarnya, tapi bukankah selama beberapa tahun ini, kita seringkali menangani project bersama dan melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. Aku menganggapnya bagian dari liburan kita Honey. Kita dan anak-anak sudah mengelilingi Eropa dan Amerika, bahkan beberapa negara di Afrika."
"Iya kamu benar Sweetheart, tapi kegiatannya lebih banyak bekerja dibanding bersantai. Untuk liburan kita selanjutnya, kamu mau kemana Sweetheart?" Tanya Sall dengan mimik serius.
"Jika kamu setuju, aku ingin mengunjungi negara-negara di Asia, terutama negara-negara di Timur Tengah Honey." Netra Sall tiba-tiba berbinar mendengar perkataan Sanchia, membuat Sanchia sedikit mengerutkan kening akan reaksi suaminya itu.
"Aku tidak menyangka, kita memiliki keinginan yang sama Sweetheart. Aku sudah mengunjungi beberapa negara di Timur Tengah sebelum kita menikah. Tapi aku ingin mengulang keseruan liburanku itu bersamamu dan anak-anak."
"Baiklah, deal ya.. Liburan kita berikutnya, kita akan mengunjungi negara-negara di Timur Tengah." Sanchia menyodorkan jari kelingkingnya tepat dihadapan Sall.
"Deal Sweetheart." Sambut Sall dengan menyilangkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik Sanchia. Keduanya saling tersenyum dan dengan gerakan perlahan, Sall mengungkung tubuh Sanchia yang kini berada dibawahnya.
Cup..
Lembutnya bibir Sall mulai ****** bibir ranum Sanchia, kedua tangan Sanchia pun sudah melingkar di leher Sall yang kini semakin gencar menyesap benda kenyal favoritnya.
Namun tiba-tiba teriakan seseorang menghentikan kegiatan pasangan suami istri itu, yang kini terlihat begitu terkejut dan sedikit kesal.
"Tuaaaan.. Apakah anda ada disini?" Seorang laki-laki yang Sall ketahui sebagai salah satu anak buah Arthur, tampak berlari terburu-buru menghampiri Sall dan Sanchia dengan nafas terengah-engah. Beruntung pengawal itu tidak sempat melihat adegan dewasa yang sempat dilakukan oleh Sall dan Sanchia sebelumnya, dan pengawal itupun tidak menyadari ekspresi kesal di wajah Sall saat ini.
"Maafkan saya Tuan, sudah mengganggu waktu anda berdua. Tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan."
"Ada apa?" Sall bertanya dengan tidak sabar, masih kesal karena keasyikannya terganggu. Sanchia segera mengelus lembut lengan Sall, agar Sall tidak meluapkan kekesalannya pada pengawal itu.
"Tuan muda Shawn terluka." Tanpa menunggu penjelasan sang pengawal, Sall dan Sanchia segera turun dari pool lounger chair dan bergegas menuju kamar ganti untuk berganti baju, lalu segera menuju kamar Shawn tanpa membuang waktu.
*************************
Shawn tampak berbaring di atas tempat tidur berukuran king size dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Pelipisnya terlihat dibalut perban putih, bahkan tangannya pun mengalami beberapa luka dan memar yang cukup parah, sehingga dokter memerlukan waktu yang sedikit lama untuk membalut luka-luka Shawn.
Papa Leonard, Kevin, Nieva, Keiva dan Arthur pun terlihat berdiri mengelilingi tempat tidur Shawn dengan raut wajah yang begitu khawatir. Sesekali mereka menenangkan Shanaya yang menangis semakin keras, setiap kali Shawn meringis kesakitan saat diobati. Sesaat setelah dokter selesai menjalankan tugasnya dan keluar dari kamar Shawn, tangis Shanaya kembali pecah, setelah sempat mereda.
"Semua salah Shanaya, Maafkan Shanaya Kak Shawn." Tangis Shanaya semakin kencang, membuat Shawn yang sempat menutup matanya karena kelelahan, mendadak membuka matanya kembali.
Gelengan kepala dan juga senyum tipis Shawn sedikit meredakan tangis Shanaya. Punggung tangan Shawn yang bebas luka, diraih Shanaya perlahan, lalu ditempelkannya ke pipi chubby-nya.
"Seandainya aku tidak meminta Kak Shawn untuk menemaniku ke toilet, Kak Shawn pasti tidak akan terluka seperti ini." Tidak ada jawaban sedikitpun dari mulut Shawn, karena tubuhnya seolah tidak bertenaga, berbalut rasa sakit yang luar biasa. Terlebih untuk ukuran anak berusia 5 tahun, rasa sakitnya pastilah tidak mudah ditolerir, membuat Shanaya dan semua orang dewasa disekitarnya semakin khawatir dan sedih.
Setelah mendengar penuturan Shanaya sebelumnya, pandangan Sall beralih pada Arthur yang kini memandangnya dengan raut sedikit ketakutan.
"Arthur, apa kamu bisa menjelaskan hal ini?" Tanya Sall dengan nada bicara dingin dan mengintimidasi.
"Maafkan kelalaian saya Tuan, saat itu Tuan Shawn dan Nona Shanaya sedang makan di restaurant setelah lelah bermain watersport. Tiba-tiba Nona Shanaya ingin ke toilet, namun ingin diantar oleh Tuan Shawn saja. Tuan Shawn pun meminta saya untuk memesankan beberapa makanan untuk dibawa pulang, jadi saya tidak ikut menemani Tuan Shawn dan Nona Shanaya ke toilet."
"Apa kamu tidak bisa menugaskan beberapa pengawal yang bersamamu untuk mengawal Shawn dan Shanaya ke toilet?" Penjelasan Arthur tampak sia-sia, karena kini Sall terlihat menuntut jawaban atas kelalaiannya.
"Maafkan saya Tuan, saya benar-benar lalai." Merasa sadar akan kelalaiannya dan tidak ada gunanya membela diri, Arthur memilih meminta maaf dan mengakui kesalahannya yang sudah membuat Tuan Muda-nya terluka.
Rahang Sall tampak mengeras, bahkan Sall mulai bergerak mendekati Arthur yang sedikit menundukkan kepalanya karena merasa takut dan bersalah. Kevin menahan tangan Sall agar tidak sampai mendekati Arthur, lebih tepatnya mencegah tinju Sall mendarat di wajah Arthur.
"Katakan siapa orang-orang yang sudah berani menyakiti Putraku? Apa kamu sudah menangkap pelakunya?" Emosi sudah menguasai pikiran Sall, bahkan Sanchia sudah bergerak mendekati Sall, mencegah suaminya semakin meluapkan emosinya terhadap Arthur.
"Sudah Tuan, kami menangkap 4 orang preman yang sepertinya termasuk ke dalam jaringan perdagangan anak. Kami sudah menyerahkan mereka semua kepada pihak keamanan restaurant dan juga pihak yang berwajib." Jawaban Arthur sepertinya tidak memuaskan Sall, bahkan Sall menarik kerah kemeja Arthur sekuat tenaga.
"Beraninya kamu menyerahkan mereka ke pihak yang berwajib, seharusnya kamu bawa mereka kesini, dan biarkan aku sendiri yang menghabisi mereka." Sanchia dan Kevin berusaha menenangkan Sall agar melepas cengkeraman tangannya dari kerah kemeja Arthur, namun usaha Sanchia dan Kevin tidaklah membuahkan hasil. Sall masih saja keras mencengkeram kerah kemeja Arthur, sampai leher Arthur mulai sedikit tercekik.
"Ada.. seorang anak kecil.. yang berusaha menghentikan usaha penculikan Tuan Shawn dan Nona Shanaya.." Ujar Arthur dengan suara terbata-bata, seraya menahan sakit di lehernya.
"Siapa dia?" Tanya Sall setelah melepas cengkeraman tangannya dari Arthur.
"Namanya Drake, Tuan.. Seorang anak yatim piatu berusia 10 tahun, yang menurut pengelola restaurant sering bekerja membantu di restaurant mereka." Penjelasan Arthur segera ditanggapi Sall dengan raut penasaran.
"Dimana anak itu sekarang?"
"Ada di kamar tamu, Tuan.. Luka-lukanya juga sedang diobati oleh dokter yang berbeda. Menurut keterangan anak itu, dia dan Tuan Shawn berkali-kali melawan para penculik, sehingga luka yang mereka dapat begitu banyak." Arthur tidak berani menatap netra Sall, karena menyadari kemarahan yang begitu kuat dari Big Boss-nya itu.
"Antarkan aku menemui anak itu." Ujar Sall.
*************************
Hai-hai.. Apa kabar semuanya. Alhamdulillah aku bisa up lagi, setelah beberapa minggu hiatus.
Maaf karena terlalu lama nunggu (kalau ada yang nunggu itu juga,hehe..)
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya sampai saat ini.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight