
Warning..!!
Ada "sedikit" adegan hareudang, mohon yang berusia dibawah 21 tahun dan belum menikah, skip aja ya.. Makasiiiih...
MANSION NIEVA & KEVIN - BANDUNG, INDONESIA
Bulan purnama terlihat terang sempurna, menghiasi langit malam yang indah diiringi angin sejuk yang berhembus ke dalam kamar dengan pintu terbuka, dimana Sanchia dan Sall terlihat sedang duduk berhadapan di atas sofa. Sendu terlihat di wajah Sanchia, dengan tangan cekatan mengobati beberapa luka di wajah suaminya. Sudut bibir Sall yang robek menjadi fokus Sanchia yang pertama, dilanjutkan pipi dan pelipis Sall yang luka dan memar. Sementara netra Sall tidak lepas memandangi wajah istrinya yang menyiratkan kesedihan setelah kejadian di villa orangtua Satya sore tadi.
"Honey, buka bajumu, aku akan mengobati luka di tubuhmu." Suara Sanchia yang terdengar datar dan rendah, semakin mengganggu perasaan Sall yang jelas menyadari kekecewaan Sanchia saat ini.
"Biar aku mengobatinya sendiri. Saat mandi tadi, aku lihat tidak ada luka, hanya memar saja Sweetheart."
"Menurutlah, cepat buka bajunya."
Setelah menghela nafas panjangnya, dengan terpaksa Sall membuka bajunya dihadapan sang Istri. Mungkin jika dalam keadaan lain, Sall akan sangat bersemangat membuka bajunya, saat Sanchia menyuruhnya. Tapi tidak kali ini, disaat Sanchia bukan hanya terlihat sedih dan khawatir, tapi juga kecewa dan marah.
Netra Sanchia memandangi satu persatu memar yang tampak jelas di bagian bahu, dada, perut, dan juga punggung Sall. Sall menggenggam kedua tangan Sanchia, saat dilihatnya sepasang netra istrinya mulai terlihat berkaca-kaca.
"Sweetheart, maafkan aku yang tidak bisa menahan diri untuk tidak berkelahi dengan Satya. Aku benar-benar minta maaf."
Akhirnya runtuhlah pertahanan Sanchia yang menahan air matanya agar tidak jatuh, air matanya kini lolos membasahi kedua pipinya. Kedua ibu jari Sall bergerak menghapus air mata yang terus jatuh di pipi Sanchia dengan sangat lembut.
"Seharusnya.. tidak aku.. biarkan.. Satya.. mengajakmu bicara.. di taman belakang.. Satya sungguh.. kekanak-kanakan." Sanchia meluapkan emosinya dengan perkataan yang terbata-bata. Sall begitu terkejut melihat reaksi dan perkataan Sanchia yang diluar perkiraannya.
"Kenapa kamu.. diam saja.. saat Satya memukulimu.. Aku ingin sekali menghentikan Satya.. tapi Papa.. Melarangku."
Sanchia menyesali dirinya, karena hanya bisa melihat suaminya dipukuli oleh Satya dari jendela ruang keluarga, bersama dengan kedua orangtuanya dan kedua orangtua Satya. Sementara Sall mengulas senyum tipisnya mendengar kekhawatiran Sanchia. Tadinya Sall mengira kalau Sanchia marah dan kecewa, karena pada akhirnya Sall membalas pukulan Satya yang bertubi-tubi di tubuh dan wajahnya, dengan dua pukulan telak di wajah dan perut Satya. Namun Sanchia ternyata mengkhawatirkan keadaannya yang sedari awal hanya diam saja, menerima luapan emosi Satya padanya.
"Tapi pada akhirnya aku membalas pukulannya, Sweetheart."
Tangis Sanchia perlahan berhenti, berganti tatapan yang dipenuhi rasa ingin tahu yang besar.
"Sebenarnya apa yang dikatakan Satya saat itu, sampai kamu begitu emosi dan membalas pukulan Satya. Padahal sebelumnya kamu diam saja saat dia pukuli."
"Hmm, tadinya aku berniat untuk tidak mengatakan hal ini padamu.."
"Honey, apa kamu berniat mengulang kesalahan yang sama, dengan tidak bersikap terbuka kepadaku?"
"Tidak Sweetheart.. Aku akan mengatakan yang sebenarnya padamu."
FLASHBACK ON
Sall dan Satya berdiri bersebelahan dengan tatapan sama-sama mengarah lurus ke taman dan danau buatan di hadapan mereka.
"Jangan pikir aku juga akan memaafkan kamu begitu saja, seperti kedua orangtuaku. Perbuatanmu akan aku balas dengan sangat setimpal."
"Lakukan saja, aku tidak peduli seperti apa balasan yang kamu inginkan. Yang terpenting kedua orangtuamu sudah memaafkanku."
Satya mencengkeram kerah baju Sall, seraya mengarahkan tatapan tajamnya pada netra Sall yang masih tampak tenang.
"Heh brengs*k, jangan harap kamu bisa hidup bahagia dan melupakan dosa-dosamu begitu saja."
Bugh..Bugh..Bugh..Bugh..
Satya memukuli dada, bahu dan perut Sall dengan membabi buta, tendangannya pun beberapa kali mengarah pada kedua kaki Sall. Namun Sall sama sekali tidak berniat melawan meskipun raut wajahnya jelas menampakkan rasa sakit, diiringi ringisan-ringisan pelan dari mulutnya.
"Lawan aku, jangan membuatku terlihat sedang menyiksamu."
"Aku tidak akan melawan, just do it."
"Baiklah dengan senang hati."
"Pergilah dari hidup Sanchia, jangan pernah kembali lagi. Sanchia tidak mungkin bahagia dengan suami brengs*k sepertimu."
"Jangan terlalu sok tahu menilai kehidupan Sanchia bersamaku, apalagi menyuruhku meninggalkannya. Kamu bukanlah siapa-siapa."
Lagi dan lagi Satya mendaratkan pukulan dan tendangannya di tubuh Sall, dan Sall masih tidak berniat membalas Satya.
'Anggap saja ini pukulan dari Om Hans dan Tante Citra yang memang layak aku terima.' Batin Sall.
"Aku yakin, Sanchia bertahan denganmu, karena kamu mengancamnya dan kamu sudah mengambil mahkotanya. Kalau tidak, dia tidak mungkin mau menikah denganmu."
"Jadi kamu pikir, aku mengancam dan memperkosa Sanchia, sehingga akhirnya dia mau menikah denganku?"
"Kalau bukan dengan cara itu, lalu apa lagi?"
Bugh..Bugh..
Akhirnya emosi yang sejak tadi ditahan Sall, meluap tanpa bisa ditahan. Tangannya melayang di wajah dan juga perut Satya dengan kekuatan penuh. Ringisan Satya terdengar jelas, memicu seringai dan tatapan tajam di wajah Sall yang menguarkan kemarahan.
"Tutup mulutmu brengs*k. Aku bukan marah karena tuduhanmu padaku, tapi kamu membuat istriku terdengar seperti perempuan tidak berdaya, yang terpaksa menyerahkan dirinya pada laki-laki yang sudah merusaknya. Kamu bukan sahabatnya, karena kamu tidak benar-benar mengenalnya."
Sall berbalik meninggalkan Satya yang masih mencerna perkataan Sall dan menahan rasa sakit di wajah dan perutnya.
FLASHBACK OFF
Sanchia mengusap pipi kiri Sall dengan tangan kanannya, air mata yang sudah menggenang di kelopak matanya berpadu senyum haru di kedua sudut bibirnya yang ranum.
"Aku sungguh mencintaimu, Honey. Terima kasih karena sudah mencintai dan membuatku bahagia."
"Tapi aku lebih mencintaimu Sweetheart. Aku juga lebih bahagia karena ada kamu disampingku."
Cup..
Ciuman lembut mendarat di bibir Sanchia\, yang langsung berubah menjadi lum*tan dan ses*pan yang menuntut saat Sanchia membalasnya. Sall seolah tidak peduli dengan rasa sakit di sudut bibirnya terluka. Sentuhan tangan Sall di beberapa bagian tubuh Sanchia pun akhirnya meloloskan des*han yang membuat Sall semakin bersemangat. Sall membuka perlahan kancing baju Sanchia tanpa melepas pertautan bibir mereka\, seolah enggan melepas kenikmatan yang Sall rasakan. Terlebih sentuhan Sanchia di tubuh polosnya semakin membangkitkan gair*hnya.
Keduanya berguling bergantian di atas sofa, menikmati malam panjang seraya mengeksplor setiap sudut kamar dengan kegiatan favorit mereka sampai pagi menjelang.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Maaf aku baru up lagi nih..
Maaf buat Kakak Author kece kalau aku telat mampir & balas comment, nanti aku balas & mampir ya..🤗
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight