
MANSION SALL & SANCHIA - LONDON, INGGRIS
Netra Sanchia masih tidak henti mengeluarkan air mata, tapi bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang tiba-tiba memenuhi hatinya begitu saja. Bagaimana tidak, Sall berdiri dihadapannya dikelilingi begitu banyak buket bunga mawar berukuran besar. Kedua tangannya pun memegang 2 buah buket bunga berukuran standar, yang segera diberikannya pada Sanchia, agar Sanchia tidak kesulitan memegangnya.
Seraya menghapus sisa air mata di wajah Sanchia, Sall merangkul tubuh Sanchia dan menyandarkan kepala Sanchia di dadanya.
"Terima kasih sudah menjadi istri dan Mommy yang sangaaaaaatt baik.. Hingga membuatku merasa menjadi suami dan Daddy paling bahagia dan beruntung di dunia."
Mendongakkan kepalanya dan menatap dalam wajah suaminya yang tulus, Sanchia mengungkapkan rasa bahagianya dengan terbuka.
"Justru akulah istri dan Mommy yang paling beruntung dan paling bahagia di dunia. Kamu memberikan semua hal yang aku inginkan, bahkan hal-hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya."
Cup..
Ciuman Sall pada Sanchia seketika membuat Leon dan Leroy memberi kode pada anak buahnya untuk membawa semua buket bunga berukuran besar itu ke ruang keluarga. Memberikan privacy bagi Sall dan Sanchia mengungkapkan perasaan mereka tanpa gangguan. Sejujurnya, mereka tidak ingin merasa iri dan meratapi nasib, karena belum menemukan belahan jiwa seperti Sall.
Barulah beberapa menit kemudian Sanchia dan Sall, menyusul masuk menuju ruang keluarga, seraya berangkulan dan tidak henti mengulas senyuman.
(Sanchia photo-photo dulu ya..)
*************************
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Sall menyusul naik ke atas tempat tidur, dimana Sanchia sudah lebih dulu merebahkan diri sambil menonton Drama Korea kesukaannya. Kali ini Sanchia memilih menonton drama melalui TV yang dipasang berseberangan dengan tempat tidur, dibanding menonton melalui laptopnya.
Seolah sebuah ritual wajib, Sall selalu menyandarkan kepalanya di pangkuan Sanchia, seraya menghadapkan wajahnya pada perut Sanchia yang semakin membesar. Mengajak bayi dalam perut Sanchia berbicara dan bercanda, setelah seharian tidak bersama.
"Hai baby, apa kabarmu hari ini? Apa kamu merindukan Daddy?" Sebuah tendangan yang begitu kuat langsung dirasakan Sall, yang seketika tersenyum senang.
Pemandangan dihadapannya selalu membuat perasaan Sanchia menghangat sekaligus bahagia. Rasanya dia begitu bersyukur karena bisa merasakan moment yang begitu berharga dan special di hidupnya. Apalagi Sall terlihat sangat bahagia, menikmati perannya sebagai seorang suami dan seorang ayah.
Saat pergerakan baby dalam perut Sanchia perlahan berhenti, Sall menghentikan obrolan dan candaannya, membiarkan bayinya beristirahat. Pandangannya kini beralih pada Sanchia yang menatap penuh tanya pada Sall, karena ekspresinya yang tidak biasa.
"Ada apa Honey? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Sall mendudukkan dirinya, menatap Sanchia begitu dalam.
"Hmm, Sweetheart.. Ada masalah yang cukup besar, dan aku gagal meredamnya selama beberapa bulan ini."
"Masalah apa Honey?" Sanchia menegakkan tubuhnya, siap mendengarkan penjelasan Sall yang pastinya sangat serius.
"Kamu tahu kan Sweetheart, kalau public sudah mengetahui statusku yang sudah mempunyai istri dan anak.."
"Iya.. Lalu.." Sanchia sudah semakin tidak sabar menunggu perkataan Sall yang masih belum bisa dia tebak arahnya kemana.
"Tapi ternyata kabar aku sudah menikah dan memiliki istri, sudah menyebar di dunia bawah."
"Apa maksudmu, semua musuh-musuhmu di dunia mafia sudah mengetahui kalau Der Killer Ritter adalah Sall Sherwyn Knight."
"Tidak, mereka tidak mengetahui kalau Der Killer Ritter dan Sall Sherwyn Knight adalah orang yang sama kecuali petinggi klan kita. Tapi kabar aku sudah menikah dan memiliki istri, menyebar karena kejadian penyerangan Alrico ke markas besar waktu itu. Saat itu kamu muncul, bahkan membuka topengmu."
"Tapi bagaimana bisa? Bukankah semua musuhmu saat itu tertangkap, bahkan kamu membuat mereka melupakan kejadian saat itu, dimana aku menunjukkan wajahku?"
"Iya Sweetheart.. Entah siapa yang membocorkannya. Memang tidak ada bukti yang keluar, seperti photomu atau identitasmu. Tapi kabarnya sudah menyebar, kalau aku memiliki istri seorang mafia yang sangat kuat dan cantik."
"Honey.. Entah kenapa, aku cukup senang mendengarnya." Suasana yang tadinya begitu serius, tiba-tiba berubah karena perkataan dan ekspresi Sanchia yang berbinar senang, mendengar penjelasan Sall. Kekehan Sall pun lepas, memperhatikan Sanchia yang tidak terlihat khawatir, malah terlihat lucu dengan ekspresinya.
"Sudahlah, biarkan mereka mencari tahu, yang penting aku bersembunyi dengan baik. Tapi jika suatu saat diperlukan, aku akan muncul sebagai The Queen bertopeng yang setia mendampingimu."
"Benarkah Sweetheart?"
"Hmm, tadinya aku tidak mau membiarkanmu terlibat dalam urusan klan. Tapi.." Raut ragu terlihat jelas di wajah Sall.
"Jangan takut, aku akan tetap menyembunyikan identitas asliku. Aku akan berusaha menjadi Ratu yang bisa kamu andalkan. Aku akan meyakinkan mereka, kalau aku bukanlah sumber kelemahanmu, yang bisa mereka jadikan ancaman."
"Yes, you're right, My Queen.."
Lengkungan indah tersaji di wajah mereka berdua, merasa lega karena kekhawatiran mereka sudah menemukan jawabannya. Rasa syukur karena memiliki pasangan yang bisa saling mengerti, melengkapi danΒ menenangkan, tentunya menjadi alasan tambahan, agar mereka bisa tidur nyenyak malam ini.
*************************
Usia kandungan Sanchia saat ini sudah mencapai lebih dari 37 minggu, bahkan Dokter Margareth, Dokter kandungan Sanchia sudah berulang kali mengingatkan, agar Sall dan Sanchia bersiap, jika sewaktu-waktu Sanchia akan melahirkan.
Meskipun sibuk dengan urusan group perusahaannya yang tersebar di kota-kota besar di Inggris dan negara Eropa lainnya, juga urusan klan yang sedang melebarkan daerah kekuasaannya, Sall tetap berusaha membagi waktunya untuk keluarga.
Sepulang dari perusahaan atau markas besar, Sall akan menjalankan perannya sebagai suami dan Daddy siaga untuk Shawn dan calon bayinya. Sanchia tentunya sangat bersyukur atas sikap Sall yang sangat bisa diandalkan itu, Sanchia pun berusaha menjalankan kewajibannya sebagai istri, meskipun geraknya sudah sangat terbatas karena kehamilannya yang sudah sangat membesar.
Tidur Sanchia terasa tidak nyaman, meskipun sudah mengubah posisi tidurnya beberapa kali. Matanya tetap tidak bisa diajak terlelap, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Apalagi kontraksi palsu yang dialaminya selama beberapa minggu ini, seringkali membuatnya khawatir dan was-was.
Ingin sekali Sanchia membangunkan Sall yang tertidur lelap disebelahnya, tapi niatnya urung, karena mengingat Sall yang baru saja tertidur 2 jam yang lalu.
Tiba-tiba perut Sanchia terasa sakit dan mulas, diremasnya selimut tebal yang menutupi setengah tubuhnya. Tanpa sadar, Sanchia meringis kesakitan, membangunkan Sall dari tidur nyenyaknya.
"Sweetheart.. Apa perutmu sakit?" Suara Sall masih berusaha tenang, meskipun ekspresinya tidak bisa menutupi rasa paniknya.
"Mungkin.. hanya kontraksi.. palsu." Jawab Sanchia terbata-bata.
Masih dengan menahan rasa sakit di perutnya, Sanchia berusaha menenangkan Sall. Sesungguhnya sudah 3 kali Sall membawa Sanchia ke Rumah Sakit, karena mengira Sanchia akan melahirkan. Tapi saat itu ternyata hanya kontraksi palsu, sehingga kali ini Sanchia tidak ingin Sall langsung membawanya ke Rumah Sakit.
"Tunggu dulu Honey.. Kita harus menghitung.. intensitasnya.. Mungkin saja.. hanya.. kontraksi palsu.." Berusaha menahan Sall, agar tidak terlalu terburu-buru.
"Tapi kamu kesakitan Sweetheart.. Aku takut kamu benar-benar akan melahirkan."
"Tunggu..dulu.."
Sall memandangi Sanchia dengan raut paniknya, tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya ilmu tentang kiat-kiat menjadi suami siaga yang sudah dia dapat saat menemani istrinya kontrol ke Dokter kandungan atau saat menemani Sanchia melakukan senam hamil, sudah menguap begitu saja.
"Hon..neeeeyy... Sak..kiiiiitttt.."
Tanpa pikir panjang, Sall segera menggendong Sanchia keluar dari kamar, menuruni tangga menuju lantai 1 dan berteriak sekeras mungkin untuk membangunkan seluruh penghuni mansion.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok π
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung π
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. π #staysafe #stayhealthy
Love u all.. β€β€β€β€οΈβ€
IG : @zasnovia #staronadarknight