
Tepat jam 12 malam.. Sall, Sanchia, Leon, Leroy dan kurang lebih 40 orang anak buah Sall, berkumpul di aula mansion Sall. Mereka sudah siap berangkat menjalankan misi mereka, meskipun perasaan khawatir gagal dan takut tertangkap, jelas mereka rasakan saat ini.
Sall menatap Sanchia yang kini sudah memakai topeng wajah dan berubah menjadi laki-laki berusia sekitar 40 tahun, hampir mirip dengan topeng wajah yang dipakai Sall, lengkap dengan celana dan jaket khas laki-laki. Bukan hanya Sall dan Sanchia yang menggunakan topeng wajah, tapi juga Leon dan Leroy, Sedangkan anak buah Sall semua memakai penutup kepala yang menyembunyikan wajah mereka seluruhnya.
Sall berusaha membujuk Sanchia untuk terakhir kalinya, berharap Sanchia berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk ikut dalam misi berbahaya ini.
"Babe, jangan keras kepala, kamu tidak perlu ikut. Tinggal saja di mansion dan cukup awasi pergerakan kami dari jauh. Aku dan anak buahku pasti akan berhasil."
"Aku tidak meragukanmu dan anak buahmu, tapi aku hanya mengantisipasi kemungkinan terburuk. Aku yang paling tahu letak jalan rahasia di Markas Besarku, aku hanya khawatir kalian akan sedikit kebingungan jika dihadapkan pada situasi yang tidak terduga."
"Kamu memang benar-benar keras kepala Babe. Baiklah, aku mengizinkanmu ikut, tapi jangan pernah jauh dariku."
"Siap Boss.."
Sall dan Sanchia segera memakai alat pengubah pita suara, agar suara mereka berubah menjadi suara pria yang sudah berumur. Lalu setelah itu mereka berjalan keluar dari mansion, diikuti Leon, Leroy dan semua anak buah Sall.
*************************
MARKAS BESAR BLE ASTERI
Sall, Sanchia dan semua anak buah Sall, sudah memasuki Markas Besar Ble Asteri melalui pintu depan dengan menggunakan sidik jari Sanchia sebagai kunci. Sebenarnya, tanpa Sanchia ikut pun, Sall sudah membuat salinan sidik jari Sanchia dan memakainya di jarinya.
Tentunya sebelum mereka semua masuk, Leon yang tetap berada di dalam mobil, sudah mematikan semua CCTV di Markas itu. Tapi Sanchia memperingatkan agar mereka harus bergerak cepat, karena anggota Klan Ble Asteri akan menyadari jika CCTV mati secara bersamaan. Karena itulah Sall segera mengirim beberapa anak buahnya untuk memasuki Ruang Control CCTV dan membuat orang-orang di dalamnya tidak sadarkan diri dengan menggunakan gas yang mengandung obat bius.
Sementara itu, beberapa orang anak buah Sall yang lainnya, mulai bergerak memasuki Ruang Perawatan, setelah Sall mengaktifkan sebuah alat mirip ponsel yang menghubungkannya dengan micro chip yang terpasang di leher anak buahnya, yang berada dalam tawanan Klan Ble Asteri.
"Babe, kita tunggu disini, agar kita bisa mengawasi pergerakan anak buahku yang memasuki Ruang Control CCTV dan Ruang Perawatan."
Tanpa membuang waktu, semua anak buah Sall yang sudah memasuki Ruang Perawatan, segera menyuntikan obat bius kepada anggota Klan Ble Asteri yang berjaga, setelah berolahraga selama beberapa menit dengan para penjaga itu. Setelah itu, mereka bergerak untuk membuka semua tali yang mengikat anak buah Sall yang ditawan di atas tempat tidur. Semua anak buah Sall yang ditawan, kini sudah mulai sadar. Namun keadaannya masih sangat lemas dan pusing, sehingga mereka semua harus dipapah untuk keluar dari Ruang Perawatan itu.
Dengan susah payah, Sall dan Sanchia mengarahkan dan membantu semua anak buahnya untuk keluar dari Markas Besar melalui pintu depan yang tadi mereka lalui. Namun alangkah terkejutnya mereka semua, saat melihat ada sekitar 20 orang yang berdiri menghalangi koridor yang mengarah ke pintu depan Markas.
Sanchia merasakan detak jantungnya berdetak begitu cepat, saat pandangannya mengarah pada beberapa anggota Klannya, terutama dua orang yang berdiri di baris depan. Alrico, sahabat terbaiknya, dan juga Kevin, adik iparnya.
"Berhenti..Berani-beraninya kalian datang kesini dan melepaskan mereka. Tapi tidak semudah itu kalian kabur dari sini. Kalian sudah terkepung, kalian tidak akan bisa keluar dari sini
'Boleh juga adik iparku ini. Sudah lebih berwibawa setelah menjadi Ketua Klan. Dan kamu Alrico, kenapa sekarang wajah kamu brewokan seperti itu? Tapi lebih keren sih.' Batin Sanchia.
Sanchia bukannya bersiap dengan plan B, dia malah memuji Kevin yang sudah menjadi Ketua Klan, dan juga Alrico, sahabat terbaiknya yang berubah lebih tampan dari sebelumnya.
Sall berbisik sangat pelan di telinga Sanchia, mengejutkan Sanchia yang masih asyik dengan pikirannya.
"Babe, bawa anak buahku melalui jalan rahasia yang kamu tahu, aku dan beberapa anak buahku akan menghadapi mereka."
Sanchia yang sudah tersadar, kini menggiring anak buah Sall menuju sebuah jalan rahasia di sebelah kiri koridor. Alrico dan Kevin yang melihat pergerakan Sanchia dan anak buah Sall, segera berjalan cepat untuk menghalangi mereka, tapi langkah mereka terhenti oleh Sall anak buahnya yang langsung menerjang Kevin, Alrico juga anak buah Kevin.
Sesuai janjinya pada Sanchia yang tidak akan melukai anggota Klan Ble Asteri, Sall dan anak buahnya memilih menyuntikan obat bius atau membungkam mulut lawan mereka dengan sapu tangan yang sudah diolesi obat bius, agar mereka tidak sadarkan diri. Meskipun anak buah Sall dibuat kewalahan dulu dengan perlawanan anggota Klan itu sampai ada beberapa anak buah Sall yang terluka cukup parah.
Sementara itu, semua anak buah Sall yang bersama Sanchia, kini sudah berada di dalam mobil yang berjejer cukup jauh dari gerbang mansion, setelah berjalan selama kurang lebih 15 menit. Namun Sanchia yang khawatir tidak mau masuk ke dalam mobil, meskipun Leon sudah menyuruhnya masuk.
"Leon berangkatlah lebih dulu, sisakan 2 mobil untuk kami. Segera bawa mereka menuju mansion."
Meskipun dengan berat hati, akhirnya Leon memimpin beberapa mobil itu untuk meninggalkan area Markas Besar Ble Asteri. Sedangkan Sanchia kembali ke dalam markas menggunakan jalan rahasia yang dilaluinya tadi.
Sanchia begitu terkejut saat melihat Sall sedang bertarung dengan Alrico, dan Kevin bertarung dengan Leroy. Sanchia segera mendekat ke arah Kevin dan Leroy, dan saat Kevin lengah, Sanchia segera menyuntikan obat bius di leher Kevin. Sampai akhirnya Kevin roboh tanpa sempat melakukan perlawanan pada Sanchia yang segera bergerak mundur, sebelum Kevin berhasil meraih tangannya.
Fokus Alrico buyar, saat melihat Kevin yang sudah roboh, sehingga Sall memanfaatkan kesempatan itu untuk memukul perut dan bahu Alrico, sampai akhirnya Alrico terduduk lemah di atas lantai.
Sanchia mendekat ke arah Alrico dan segera menyuntikan obat bius yang sama seperti yang disuntikkannya pada Kevin, sampai perlahan mata Alrico tertutup dan tubuhnya roboh dan terbaring di atas lantai.
'Maafkan aku Al..' Lirih Sanchia dalam hati.
Sall menarik pelan tangan Sanchia, untuk mengikuti Leroy dan anak buahnya yang berjalan menuju jalan rahasia dengan sedikit tergesa-gesa. Namun langkah Sanchia terhenti, saat suara lirih Alrico tiba-tiba terdengar di telinganya.
"San..Chia.."
*************************