The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 129 Raja & Ratu Mafia



Suasana sarapan pagi di ruang makan mansion Sall & Sanchia, terasa dingin dan cukup mencekam bagi Leon, Leroy, Leticia dan Leandra. Pasalnya Sanchia terlihat acuh tak acuh dan terus mengabaikan Sall yang tidak bosan meluluhkan hati istrinya itu. Sanchia rupanya masih merasa kesal dan cemburu  pada Sall, setelah pertemuannya dengan Jovanka.


Leon, Leandra, Leroy dan Leticia hanya saling memandang, tidak berani menginterupsi Sall dan Sanchia, karena khawatir akan memperkeruh keadaan. Namun saat melihat Sanchia sudah menghabiskan makanannya, Leticia segera membuka suara, karena ada hal penting yang harus dia sampaikan.


"Hmm, Tuan Sall dan Nyonya Sanchia, mohon maaf ada hal yang harus saya sampaikan.." Sanchia yang hendak berdiri, mengurungkan niatnya dan mulai fokus memandang Leticia.


"Jangan memanggilku Nyonya, panggil Kakak saja." Ujar Sanchia.


"Panggil aku Kakak juga, seperti istriku." Sanchia menghunuskan tatapan sengit ke arah Sall, karena ikut-ikutan meminta dipanggil Kakak seperti dirinya. Sementara Sall hanya membalas dengan mengulas senyum tampannya.


"Baiklah, kami akan memanggil Kakak.." Senyum Leticia mengembang, karena diizinkan memanggil Kakak pada Sanchia dan Sall, yang sudah menjadi idolanya sejak semalam.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan Leticia?" Tanya Sanchia pada Leticia yang selama beberapa saat saling berpandangan dengan Leandra.


"Begini Kak Sanchia, orangtua kami ternyata sudah tiba di Bandung tadi malam. Kami baru mengetahuinya sepulangnya kita dari misi, dan saat itu juga kami langsung menghubungi orangtua kami dan menceritakan semuanya. Sebelumnya saya memang tidak menceritakan kepergian saya ke Indonesia untuk menuntut balas pada Nick, bahkan saya mangkir dari tugas yang diberikan Papa saya, dan malah berangkat ke Indonesia. Papa saya selalu melarang saya untuk menuntut balas pada Nick, karena khawatir saya akan terluka. Tapi saat semalam saya ceritakan kalau Nick sudah berhasil dikalahkan oleh Kak Sall, Kak Sanchia dan anggota Ble Asteri, Papa merasa sangat bahagia dan bersyukur. Papa saya ingin sekali bertemu dan mengucapkan terima kasih secara langsung kepada Kak Sanchia dan Kak Sall, bolehkah orangtua kami datang kesini Kak?" Penjelasan panjang lebar dari Leticia, langsung disambut anggukan kepala dari Sall dan Sanchia.


"Tentu saja, kami mengundang orangtua kalian untuk datang kesini. Suatu kehormatan juga bagi kami, bisa kedatangan seorang Pemimpin Klan besar dari Perancis." Sesaat Leticia dan Leandra membelalakan matanya, tidak menyangka kalau Sall mengetahui fakta tentang Papa mereka. Sementara Sall dan Sanchia hanya tersenyum tipis, begitupun Leon dan Leroy yang juga mengulas senyum di wajah mereka yang tampan.


************************


Beberapa jam setelah Sall dan Sanchia mengundang orangtua Leticia dan Leandra untuk datang ke mansion mereka, kini Sall dan Sanchia bahkan sudah duduk berhadapan dan mengobrol dengan keduanya, yaitu Juan Abraham Laren dan Larisa Atma Wijaya. Sosok laki-laki dan perempuan paruh baya yang terlihat sangat bijak dan tenang. Sall dan Sanchia bahkan tidak menyangka Juan Abraham Laren, Pemimpin klan besar dari Perancis itu, bisa tersenyum ramah di sela-sela pembicaraan mereka. Leon, Leroy, Leticia dan Leandra ikut menemani mereka, namun tidak terlalu mendominasi obrolan diantara Sall, Sanchia, Juan dan Larisa.


"Sekali lagi kami ucapkan terima kasih, karena Tuan Sall, Nyonya Sanchia juga semuanya dari Klan Ble Asteri sudah melindungi kedua anak saya, bahkan membantu mencapai tujuan kami untuk mengalahkan Nick. Selama ini saya memang mengetahui kalau Nick sudah membunuh anak sahabat saya, tapi saya belum mengizinkan Leticia untuk membalaskan dendam kami, karena takut Leticia akan terluka, sementara saya dan anggota klan masih sibuk dengan urusan di Perancis dan Inggris. Tapi saya tidak menyangka, Leticia dan Leandra bahkan mendapat bantuan yang sangat besar disini. Saya sering mendengar nama besar Ble Asteri sebagai klan yang sangat berkembang di Indonesia, namun saya tidak menyangka, akan mendapat bantuan secara langsung dari klan Ble Asteri." Sall dan Sanchia tersenyum seraya menganggukkan kepala mereka, atas ungkapan terima kasih Juan.


"Iya sama-sama Tuan Juan dan Nyonya Larisa, kami mengenal kedua anak anda dari kedua sahabat saya, yaitu Leon dan Leroy. Mereka yang lebih dulu berkenalan dan menjaga kedua anak anda." Jawab Sall seraya mengenalkan Leon dan Leroy pada orangtua Leticia dan Leandra.


"Benarkah? Terima kasih Tuan Leon dan Tuan Leroy, saya sangat bersyukur anak-anak kami bisa bertemu dengan orang baik yang bahkan bisa membantu mereka sejauh ini." Tulus Juan pada Leon dan Leroy yang langsung menganggukkan kepala mereka, tanda hormat.


"Iya, terima kasih banyak Tuan Sall, Nyonya Sanchia, Tuan Leon dan Tuan Leroy." Larisa ikut menimpali.


"Sama-sama, kami hanya berusaha membantu sebisa kami, Tuan Juan dan Nyonya Larisa.." Jawab Leon sedikit merendah. Leroy pun ikut membenarkan perkataan Leon dengan gesture tubuhnya yang kembali mengangguk sesaat.


"Tuan Juan, sebelumnya saya ingin bertanya.. Apa benar anda merupakan musuh dari Klan Toddestern?" Juan, Larisa, Leticia dan Leandra tidak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka atas pertanyaan Sanchia yang sangat tidak terduga.


"Kenapa anda menanyakan hal itu Nyonya Sanchia?" Larisa memberanikan diri menanyakan alasannya pada Sanchia.


"Karena Ble Asteri memiliki hubungan yang sangat baik dengan Toddestern." Jawaban Sanchia kembali mengejutkan Juan, Larisa, Leticia dan Leandra.


"Jadi apa benar Tuan Sall dan Tuan Leon memang merupakan bagian dari Klan Toddestern, seperti dugaan kami sebelumnya?" Kali ini Leandra mengajukan pertanyaan dengan penuh rasa ingin tahu.


"Kami semua akan menjawab pertanyaan kamu Leandra, tapi sebelumnya, kami ingin mengetahui jawaban dari Tuan Juan atas pertanyaan saya sebelumnya.." Sanchia kembali menuntut jawaban dari Juan.


"Klan kami sebenarnya tidak memiliki masalah apapun dengan Klan Toddestern, kami hanya membantu beberapa klan yang memberi kami penawaran menggiurkan. Tapi setelah kami selidiki lebih jauh, kami memutuskan untuk tidak meneruskan kerjasama dengan klan-klan itu untuk menyerang Klan Toddestern.."


"Apa alasannya, karena anda sudah mengetahui betapa besar dan kuatnya klan Toddestern?" Juan menganggukkan kepalanya, atas pertanyaan Sall.


"Iya anda benar, Tuan Sall.. Saya merasa salah mengambil keputusan karena bersedia membantu klan-klan kecil itu, dan malah membahayakan keselamatan klan dengan menantang Klan Toddestern. Tapi jika memang benar anda semua ada hubungannya dengan Klan Toddestern, kami minta maaf sebesar-besarnya. Dan kami tegaskan kalau kami tidak berniat mencari masalah dengan Klan Toddestern." Sall, Sanchia, Leon dan Leroy tersenyum mendengar perkataan Juan yang begitu gentle, mengakui kesalahannya. Larisa, Leticia dan Leandra pun menundukkan kepala mereka, merasa malu dan menyesal atas kesalahan klan mereka sebelumnya.


"Tidak apa, kami justru sangat senang karena anda mengambil keputusan yang benar dengan tidak melanjutkan kerjasama dengan klan-klan itu untuk mengusik Klan Toddestern. Karena bisa-bisa klan andalah yang kami hancurkan." Perkataan Sall memang terdengar biasa, tapi cukup menohok bagi Juan, Larisa, Leticia dan Leandra yang sudah mengetahui kekuatan dan sepak terjang Toddestern.


"Iya Tuan Sall, kami sungguh menyesal pernah mengusik klan Toddestern. Hmm, maaf jika saya lancang, saya sungguh sangat penasaran. Kami sudah mengetahui kalau Nyonya Sanchia adalah Ketua pertama klan Ble Asteri, lalu apakah anda adalah Der Killer Ritter dari Klan Toddestern?"


"Iya, dugaan anda benar, Tuan Juan.." Juan terlihat sangat terkejut, bahkan Larisa, Leticia dan Leandra menutup mulut mereka dengan punggung tangan mereka masing-masing, saat Sall membenarkan dugaan mereka.


"Tuan Juan.. Nyonya Larisa.. Apa anda bersedia jika klan anda dan klan kami bekerjasama kedepannya, dan bahkan menjadi saudara?" Tanya Sanchia dengan bersemangat.


"Tentu saja Nyonya Sanchia." Ujar Juan.


"Kami senang sekali, jika kita bisa menjadi dekat." Larisa ikut menimpali.


Sanchia tampak puas mendengar jawaban yakin dari Juan dan Larisa, begitupun Sall yang memandang penuh syukur ke arah Sanchia. Sall begitu senang, karena Sanchia secara tidak langsung sudah membuka jalan bagi Leroy dan Leon, untuk mendapat restu dari kedua orangtua Leticia dan Leandra. Leon dan Leroy pun memandang Sanchia penuh rasa terima kasih, tidak menyangka Sanchia akan mengajukan pertanyaan seperti itu pada orangtua Leticia dan Leandra.


**************************


Malam sudah semakin larut dengan waktu menunjukkan pukul 9 malam, saat Sanchia selesai menyusui Shanaya, yang kini sudah kembali lelap dalam tidurnya. Sanchia beranjak turun dari tempat tidur, hendak memeriksa Shawn di kamarnya, yang sudah lebih dulu tertidur 1 jam sebelumnya. Namun kedatangan Sall, mengurungkan niat Sanchia untuk keluar dari kamar.


"Sweetheart, mau kemana?"


"Kamar Shawn." Jawab Sanchia singkat.


"Shawn sudah lelap tertidur, bahkan ada 2 orang babysitter yang menjaganya. Lebih baik kita ke kamar yuk." Sall menggengam kedua tangan Sanchia dan menariknya perlahan, agar tubuh Sanchia menempel erat pada tubuh Sall yang hangat. Sanchia mendongakkan kepalanya memandang wajah Sall, namun ekspresi terlihat masih ketus dan kesal pada suaminya itu.


"Sweetheart, tolong jangan memandangku seperti itu. Aku benar-benar tersiksa kalau kamu terus-terusan marah padaku. Apa lagi yang harus aku lakukan, untuk meyakinkan kamu, kalau cuma kamu yang aku cintai? Aku benar-benar tidak pernah mencintai perempuan mana pun, sebelum bertemu denganmu, Sweetheart." Sanchia memicingkan matanya, tetap tidak yakin dengan ekspresi tulus, sendu, sekaligus memelas di wajah Sall.


"Ayolah Sweetheart, katakan apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya?" Kini Sall memeluk erat Sanchia dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Sanchia.


"Entahlah.. Aku begitu ingin mempercayaimu, tapi reaksimu saat bertemu perempuan itu, membuatku ragu." Lirih Sanchia.


Sall sedikit melonggarkan pelukannya, menatap dalam netra Sanchia yang terlihat sendu. Setelah menghela nafas panjang, Sall berniat menceritakan kisah yang sebenarnya tentang Jovanka, yang juga menjadi penyebab kesalahpahaman dirinya dengan Marlon. Namun tiba-tiba sebuah ketukan terdengar di luar pintu kamar Shanaya.


Tok..Tok..Tok..


"Sall, ini aku Leon.." Sall melepas pelukannya dari tubuh Sanchia, lalu membuka pintu kamar Shanaya.


"Ada apa Leon?" Sanchia mendekat, ikut penasaran karena ekspresi Leon terlihat sangat serius.


"Sall, aku membawa kabar soal Jovanka. Ternyata dia sudah beberapa tahun ini bolak-balik Inggris-Indonesia, karena dia mempunyai anak yang tinggal di Indonesia. Anak itu sudah berusia belasan tahun. Sepertinya apa yang dikatakan Marlon tentang Jovanka yang pergi meninggalkan London saat kita di High School, dalam keadaan hamil itu benar Sall."


"Hah, jadi benar kalau kamu pernah menghabiskan malam bersamanya, sampai perempuan itu hamil?" Desak Sanchia dengan memelototkan matanya karena emosi.


"Tidak mungkin aku melakukannya Sweetheart."


"Ah aku benci kamu Sall.." Teriak Sanchia sebelum pergi menuju kamarnya.


"Leon, kalau menjelaskan itu jangan setengah-setengah. Jelaskan juga siapa ayah anak itu. Kamu malah membuat Sanchia semakin salah paham padaku." Sall menyugar rambutnya dengan kasar.


"Aku kan baru mau mengatakannya Sall. Kenapa Sanchia malah langsung menyimpulkan kalau kamulah ayah anak itu. Sepertinya dia sedang PMS." Ujar Leon membela dirinya sendiri.


"Heh, kamu malah menyalahkan Sanchia.. Jadi siapa ayah anak itu?" Tanya Sall sudah tidak sabar.


"Kamu pun mengenalnya.." Jawaban menggantung Leon membuat Sall menghunuskan tatapan tajam pada sahabatnya itu, karena lagi-lagi Leon malah menguji kesabarannya.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Aku balik lagi nih..😄


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight