
Emosi Sall sudah tidak bisa dibendung, kemarahannya memuncak, karena merasa dikhianati mentah-mentah oleh Sanchia. Sall menyadari, ternyata sikap lembut dan penurut Sanchia beberapa hari ini, hanyalah topeng, agar Sall lengah dan tidak curiga dengan rencananya untuk melarikan diri.
Anak buah Sall yang tersisa di mansion, kini menjadi sasaran amukan Sall yang benar-benar tidak bisa dikendalikan. Dalam hati, mereka lebih memilih melakukan pengejaran melalui lorong rahasia yang digunakan Sanchia seperti rekan-rekannya, dibanding menjadi sasaran kemarahan Sall, yang jauh lebih buruk daripada menjalankan tugas seberat apapun.
Kecurigaan Sall mengarah pada Austin, teman Sanchia yang bertemu beberapa hari yang lalu di tepi pantai. Sall yakin, Sanchia akan meminta bantuan temannya itu, agar bisa pulang kembali pada keluarganya.
Tanpa membuang waktu, Sall segera memasuki ruang kerjanya ditemani Leon. Sall langsung berkutat dengan laptopnya, untuk mencari tahu resort dengan nama pemilik Austin. Tentu saja, Sall dengan mudah menemukannya.
Sall juga meretas data pribadi Austin, termasuk track recordnya selama tinggal di luar negeri. Dan tiba-tiba rahang Sall mengeras, saat mengetahui satu fakta yang mengejutkan tentang Austin, yang pastinya Sanchia pun tidak mengetahuinya.
"Leon, retas CCTV Resort AM, cari tahu keberadaan Sanchia terutama di area kamar pribadi dan ruang kerja Austin."
"Baik Tuan."
Leon segera menjalankan tugas dari Sall dengan memfokuskan diri pada laptop didepannya. Hanya perlu beberapa menit saja sampai akhirnya Leon bisa meretas semua CCTV Resort AM dan mulai mengawasi semua rekaman CCTV yang terpampang di monitor laptopnya. Sementara itu Leon mulai fokus mencari alamat rumah pribadi Austin yang ada di Bali.
Drrtt..Drrtt..Drrtt..
Ponsel milik Leon berbunyi, dengan panggilan masuk dari Leroy, Kepala Pengawal yang melakukan pengejaran dengan anak buah Sall yang lain. Leon segera menerima panggilan itu dan mengubahnya ke mode loudspeaker, agar Sall bisa mendengar langsung hasilnya.
"Bagaimana hasilnya?" Leon bertanya dengan sangat tidak sabar.
"Lorong mansion itu berakhir di sebuah bangunan rumah sederhana di tepi pantai. Perlu waktu 25 menit dengan berlari untuk sampai di rumah itu. Tapi dari pantai yang sangat sepi ini, tidak ada akses angkutan umum, mungkin Nona Sanchia berjalan kaki sampai jalan raya."
'Sanchia tidak bisa berlari, karena sepertinya dia menggunakan lilin aromatherapy untuk menerangi lorong yang gelap. Jika berlari, maka lilin itu akan mati. Dia sampai di tepi pantai mungkin memerlukan waktu lebih lama. Tapi ini sudah 2,5 jam sejak Sanchia meninggalkan mansion.' Batin Sall.
"Kembalilah ke mansion, kalian harus melanjutkan pencarian dengan menggunakan mobil dan perlengkapan yang lengkap." Instruksi Sall pada Leroy dengan penuh penekanan.
"Baik Tuan."
Leon menutup panggilan dari Leroy, lalu kembali berkutat dengan laptopnya.
Leon mengerjap saat melihat rekaman CCTV setengah jam yang lalu, memperlihatkan Sanchia yang berjalan memasuki Lobby resort.
"Tuan, Nona Sanchia terlihat memasuki Lobby Resort."
Sall segera bergeser untuk melihat laptop milik Leon. Tangan Sall mengepal kuat, dengan emosi terpancar di wajahnya. Terlebih saat 5 menit kemudian, Austin terlihat menghampiri Sanchia, bahkan sampai memeluk tubuh Sanchia yang tampak lemas.
Terlihat Sanchia berbicara dengan cepat disertai ekspresi cemas dan lelah yang terlihat jelas. Sepatu dan bajunya kotor, rambutnya pun basah karena keringat. Tidak sampai 5 menit berbicara, Austin menarik tangan Sanchia untuk keluar dari Lobby Resort. CCTV area parkir merekam jelas perginya Austin dan Sanchia menggunakan mobil sport berwarna biru metalic.
"Aaaaarrrggh.. Leon ikut aku, retas semua camera CCTV di sepanjang jalan yang dilalui oleh mobil itu. Kita akan pergi ke rumah si brengs*k itu. Semoga instingku benar, kalau mereka memang ada disana. Tapi jika mereka tidak kesana, aku akan minta Leroy segera pergi ke lokasi mereka, sebelum kita menyusul pergi kesana."
Sall segera keluar dari ruang kerjanya, diikuti Leon yang menenteng tas berisi laptopnya menuju area parkir. Sall segera melajukan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi, setelah Leon duduk disebelahnya, diikuti 4 mobil yang berisi sekitar 20 orang anak buahnya.
Selang 30 menit kemudian, Sall dan anak buahnya sudah sampai di sebuah villa mewah bercat putih, yang dikelilingi pagar yang tinggi menjulang. Sall menyuruh seluruh anak buahnya untuk tetap berada di dalam mobil. Leon yang sudah meretas semua camera CCTV di villa milik Austin, kini memperlihatkan rekaman saat Austin menggendong Sanchia ke dalam sebuah kamar.
Dengan mengeraskan rahang dan mengepalkan tangan, Sall segera turun dari mobilnya menuju gerbang villa.
Sall mendekat ke arah 2 orang berpakaian serba hitam, yang terlihat berjaga di Pos Security. Sall bertanya tentang keberadaan Austin, tapi kedua penjaga itu mengatakan kalau Austin sedang tidak ada di villa.
Sall segera mengeluarkan dua buah pistol dari balik jaketnya, dan mengarahkannya tepat ke kepala 2 orang tadi. Seringai disertai tatapan tajam terpampang jelas di wajah Sall, yang sudah begitu tidak sabar ingin menerobos masuk ke dalam villa.
"Buka gerbangnya, atau aku ledakan kepala kalian!!!"
Kedua orang penjaga itu, akhirnya mau membuka gerbang villa dengan raut wajah ketakutan. Terlebih saat semua anak buah Sall turun dan mengambil alih tugas Sall dengan menodongkan pistol mereka, serta mengikat kedua orang penjaga itu.
Leon tentu saja sudah mematikan semua camera CCTV yang ada di villa itu sebelum Sall turun dari mobilnya, bahkan menghapus semua rekaman CCTV yang menangkap keberadaan mereka di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Sall berlari dengan langkah besarnya, langsung mengarah ke kamar di lantai 2 yang sudah ditunjukan Leon melalui rekaman CCTV. Tanpa aba-aba, Sall mendobrak pintu kamar itu dengan sekuat tenaga.
"Siapa kamu? Beraninya menerobos masuk kesini."
Sall tidak berniat menjawab pertanyaan Austin, terlebih emosinya semakin memuncak, saat mendapati Sanchia yang terbaring di atas tempat tidur dalam keadaan tidak sadar. Bukan hanya itu, tapi keadaan Sanchia terlihat sangat mengenaskan dengan baju yang sudah terbuka, menampakan tubuhnya yang hanya terbungkus pakaian dalam saja.
Sall segera menutupi tubuh Sanchia dengan selimut sebelum akhirnya melayangkan pukulan mematikannya pada tubuh Austin.
Buugh...Buugh..Buugh...
Sall memukuli wajah, dada dan perut Austin dengan membabi buta, diikuti dengan tendangan di kaki dan perut Austin berkali-kali. Sampai akhirnya Austin roboh dengan tubuh berlumuran darah, hampir di semua bagian tubuhnya.
Seolah masih belum puas, Sall kembali memukuli Austin sampai tidak sadarkan diri. Anak buah Sall hanya bertindak sebagai penonton dari luar kamar, tidak berniat melerai sampai Sang Big Boss selesai melampiaskan amarahnya.
"Rasakan brengs*k, kamu berurusan dengan orang yang salah."
Sall kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi cairan dari saku jaketnya, kemudian memasukannya dengan kasar ke dalam mulut Austin. Sall menyeringai puas, menampakan wajah devilnya.
Beberapa detik kemudian, fokusnya beralih pada Sanchia yang masih terbaring dengan posisi yang sama di atas tempat tidur. Sall mendekat dan memandang Sanchia dengan tatapan nanar dan berkaca-kaca.
'Dasar perempuan bodoh.. Aku menjagamu dan menahan diriku, meskipun aku begitu ingin memilikimu. Tapi kamu, malah pergi dariku untuk menyerahkan diri pada laki-laki pelaku pemerkosaan dan memiliki kelainan seksual seperti dia. Percuma kamu menjadi Ketua Mafia kalau menghadapi satu laki-laki seperti ini saja, kamu tidak bisa. Dasar bodoh kamu, Sanchia.' Rutuk Sall dalam hati.
Tanpa bisa ditahan, air mata menetes dari kelopak mata Sall yang sudah terasa perih sejak beberapa saat yang lalu. Sall menunduk dan memejamkan matanya, seolah sedang menahan perasaannya yang terasa perih dan sesak.
Air matanya mengalir semakin deras, saat Sall menggendong tubuh Sanchia yang terbungkus selimut tebal, dan melangkahkan kakinya meninggalkan villa terkutuk yang hampir menjadi saksi hancurnya gadis yang dicintainya itu.
*************************