The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 140 Kenekadan Shawn



Sungguh pemandangan pagi hari yang tidak pernah Sall dan Sanchia bayangkan sebelumnya, dimana mereka melihat putra sulung mereka tertawa bahagia dengan kaki memijak flyboard yang terbang beberapa belas meter dari atas laut. Rasanya jantung Sanchia terasa akan lepas dari tempatnya, hanya saja Sall berusaha menenangkan Sanchia yang tidak henti memegang dadanya yang berdetak kencang.



Shawn tidaklah sendiri, ada beberapa orang dewasa yang sepertinya merupakan instruktur flyboard yang menemaninya bermain flyboard. Mereka juga seolah tidak henti memberikan pengarahan pada Shawn tentang apa yang harus dilakukannya. Sall dan Sanchia tidak tahu sudah berapa jam Shawn berlatih, sampai dia bisa semahir itu. Tapi terselip rasa bangga di hati keduanya, meskipun rasa marah dan khawatir tetaplah mendominasi perasaan mereka saat ini.


Sall langsung menghampiri salah seorang pengelola water sport yang berjaga di pinggir pantai, dan segera memintanya menurunkan Shawn yang masih terlihat asyik dan tidak menyadari kedatangan orangtua dan juga para pengawalnya.


Pengurus watersport itu segera berteriak pada rekan-rekannya yang sedang bermain flyboard dengan Shawn, agar membawa Shawn turun. Seolah mengetahui ada yang salah, Shawn mengarahkan pandangannya ke bibir pantai. Sorot mata tajam Sang Daddy sontak membuat Shawn begitu terkejut.Tanpa harus menunggu perintah, Shawn segera menurunkan flyboardnya ke atas permukaan laut.


*************************


Suasana sarapan terasa hening, hanya terdengar bunyi garpu dan pisau yang beradu dengan piring. Shawn sama sekali tidak berani membuka mulutnya, bahkan hanya untuk sekedar meminta maaf pada Mommy dan Daddy-nya, yang masih saja mendiamkannya sejak di pantai tadi. Sedangkan Shanaya yang duduk disebelahnya terlihat bersemangat memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Hmm..Mom..Dad.." Sall dan Sanchia mengangkat kepala dari menu sarapan dihadapan mereka, namun hal itu justru membuat Shawn gugup. Terlebih ekspresi Mommy dan Daddy-nya masih belum berubah sejak tadi. Daddy-nya masih memasang wajah tegas dan dingin, sementara Mommy-nya masih terlihat kecewa dan berkali-kali menarik nafas panjang.


"Kak Shawn, apa benar yang dikatakan para pengawal, kalau Kakak sudah bisa bermain flyboard? Kenapa tidak mengajakku Kak? Aku sangat ingin mencoba bermain flyboard." Kalimat panjang Shanaya membuat Shawn urung berbicara pada kedua orangtuanya. Ekspresinya malah semakin terlihat gugup, karena kini Mommy dan Daddy-nya terlihat bertambah marah pada dirinya.


"Shanaya, nanti Daddy akan mengajarimu bermain flyboard, tapi tunggu umurmu agak sedikit besar ya." Ekspresi ceria dan bersemangat Shanaya tiba-tiba berubah muram mendengar perkataan Daddy-nya.


"Kak Shawn sudah boleh bermain flyboard, tapi kenapa Shanaya belum boleh? Apa karena Kak Shawn lebih tua setahun dari aku?" Tanya Shanaya sedikit kecewa.


"Shanaya, sebenarnya Kakak juga belum boleh bermain flyboard. Tapi Kakak bersalah karena tetap memaksa untuk mencoba flyboard, meskipun tanpa izin Daddy dan Mommy." Setelah mengakui kesalahannya, Shawn menundukkan kepala, tidak berani menatap netra kedua orangtuanya. Sementara Shanaya membungkam mulutnya, setelah menyadari ekspresi Daddy dan Mommy-nya yang semakin tidak bersahabat.


"Shanaya, apa kamu sudah kenyang?" Sanchia bertanya pada Shanaya yang baru selesai mengunyah suapan terakhirnya.


"Sudah Mommy." Jawab Shanaya setelah meneguk setengah gelas susu hangatnya.


"Shanaya, bisakah Mommy minta tolong untuk menghubungi Keiva? Tolong tanyakan dimana posisi Keiva, Aunty Nieva, Om Kevin, Grandma dan Grandpa saat ini. Apakah sudah berangkat dari Bandung atau belum?" Shanaya mengangguk mendengar permintaan Mommy-nya.


"Baiklah Mom, aku akan menelepon Keiva dari kamarku." Jawab Shanaya, lalu bergegas pergi menuju kamarnya.


Sepeninggal Shanaya, fokus Sall dan Sanchia beralih pada Shawn yang kini memberanikan diri menatap netra kedua orangtuanya, meskipun segan. Shawn tahu, permintaan Mommy-nya pada Shanaya, hanyalah cara agar Shanaya bisa segera pergi dari ruang makan, dan tidak melihat dirinya diomeli oleh kedua orangtuanya.


"Dad.. Mom.. Maafkan aku, karena tidak menuruti apa yang Daddy dan Mommy katakan. Aku benar-benar minta maaf, karena sudah bermain flyboard tanpa izin Daddy dan Mommy.." Raut wajah Shawn terlihat sangat sendu, membuat Sanchia tidak tega untuk terus mendiamkan anak sulungnya itu.


"Apa kamu menyesal sudah bersikap membangkang dengan bermain flyboard tanpa izin Daddy dan Mommy?" Sall bertanya dengan sorot matanya yang mengintimidasi.


"Aku.. Aku menyesal karena tidak mendapat izin dari Daddy dan Mommy. Tapi aku benar-benar senang bisa bermain flyboard, aku benar-benar menyukainya Dad."


"SHAAWN.." Suara Daddy-nya yang menggelegar diiringi gebrakan keras di atas meja makan, membuat nyali Shawn ciut seketika.


"Berarti kamu tidak menyesal bermain flyboard?"


"Ti..Tidak Dad.. Aku sangat menyukainya, tolong izinkan aku bermain lagi. Daddy sudah melihat sendiri kan, kalau aku sudah bisa mengendarai flyboard dengan baik. Aku berlatih dengan sungguh-sungguh Dad." Sall menghunuskan tatapan tajamnya lebih dalam di netra Shawn yang mengkeret ketakutan. Namun sentuhan tangan Sanchia, perlahan menenangkan emosinya yang sempat memuncak.


"Shawn, kami sangat khawatir dengan keadaanmu. Biar bagaimana pun, umur kamu masih belum cukup untuk melakukannya. Jangan membuat kami cemas dengan apa yang kamu lakukan Shawn." Bujuk Sanchia, menatap dalam mata anak sulungnya.


"Aku akan bermain flyboard dengan pengawasan Daddy, Mommy dan para pengawal. Hanya dua kali lagi selama kita di Bali. Okay Dad..Mom..?" Akhirnya Sall dan Sanchia menganggukkan kepala mereka secara bersamaan, setelah beberapa lama berdiskusi melalui pandangan mata yang saling memberi kode.


"Yeeeess.. Thanks Dad.. Thanks Mom.." Ujar Shawn, lalu menghampiri dan mencium pipi Daddy dan Mommy-nya.


"Tapi Shawn, apa yang kamu lakukan pada pengelola watersport itu? Mereka tidak mungkin langsung mengizinkan anak dibawah umur untuk bermain flyboard."


"Aku membawa tabunganku dan membayar mereka. Untungnya mereka menerima pembayaran dengan dollar." Sall memicingkan matanya, masih belum percaya dengan penjelasan Shawn.


"Apa kamu mengancam mereka Shawn?" Shawn tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya, tidak menyangka Sang Daddy bisa mengendus apa yang sudah dilakukannya.


"I..Iya Dad, awalnya aku memang sedikit mengancam mereka. Tapi setelah aku bermain baik, mereka malah mengatakan, kalau aku sangat mudah diajari. Mereka bilang bangga karena aku bisa bermain flyboard hanya dalam waktu yang singkat." Rahang Sall mengeras dengan tangan mengepal, terfokus pada kalimat pertama Shawn.


"Katakan apa yang kamu lakukan?" Tegas Sall.


"Aku membawa Coby dan mengancam akan mengeluarkannya, jika mereka tidak mengizinkanku bermain flyboard." Sall dan Sanchia membelalakan matanya, merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Shawn barusan.


Coby adalah seekor ular kobra peliharaan Shawn yang berukuran sekitar 2 meter. Pastinya ular itu sangat berbahaya dan beracun. Sall dan Sanchia tidak menyangka, Shawn bisa menggunakan ular peliharaannya itu untuk mengancam pihak pengelola watersport agar menuruti keinginannya.


"Shawn kamu benar-benar keterlaluan, kita harus meminta maaf pada semua orang yang kamu ancam. Sikapmu benar-benar keterlaluan Shawn." Shawn menatap Sang Mommy yang terlihat sangat marah padanya.


"Dan setelah itu, kamu harus menerima hukumanmu Shawn." Shawn menunduk pasrah mendengar perkataan Daddy-nya yang terdengar tidak main-main itu.


*************************


Image Source : Google (flyboard)


(Shawn mumpung di Indonesia, ketemuan sama Panji Petualang yuk, kali Coby bisa ketemu teman-teman baru,hihi..)


Hai..Hai.. Alhamdulillah bisa up lagi nih di hari libur ☺️


Hanya tinggal beberapa episode lagi menuju tamat di season 1. Kisah Sall dan Sanchia akan berlanjut dengan kisah anak-anak mereka tentunya.


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya sampai saat ini.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❀❀❀❀️❀


IG : @zasnovia #staronadarknight