
Matahari terlihat mulai naik menyebarkan sinar teriknya, saat Sall dan Leon keluar dari lobby perusahaan dan masuk ke dalam mobil yang dikemudikan sopirnya. Tujuan mereka siang ini adalah Markas Besar, tempat dimana seluruh petinggi klan Toddestern berkumpul untuk membahas suatu masalah penting.
Sall diberi tahu, kalau para petinggi klan yang sebagian terdiri dari orang-orang kepercayaan Ayahnya sejak dulu dan orang-orang kepercayaannya setelah dinobatkan, tiba-tiba mengadakan pertemuan untuk membahas hukuman yang layak bagi para pengkhianat klan. Mereka sedikit kesal, karena Sall masih menahan para pengkhianat itu di dalam penjara bawah tanah klan, tanpa berniat mengeksekusinya.
Selang beberapa belas menit kemudian, Sall sudah tiba di Markas Besar, disambut tatapan serius para petinggi klan. Sall duduk di kursi kebesarannya yang berada di ujung meja dengan ekspresi tenang, ditemani Leon yang duduk di sebelahnya.
"Why are you still stalling for time to execute those traitors? (Kenapa kamu masih saja mengulur waktu untuk mengeksekusi para pengkhianat itu?)"
Seorang laki-laki paruh baya bernama Rob, yang merupakan asisten pribadi Ayah Sall dulu, mulai angkat bicara tanpa ragu.
"I'm still thinking about the punishment they deserve, without having to take their lives. (Aku masih memikirkan hukuman yang pantas mereka terima, tanpa harus mengambil nyawa mereka)."
Tanpa menunjukkan ekspresi, Sall memberikan jawaban jujur atas pertanyaan Rob yang mewakili pertanyaan semua orang yang hadir tersebut.
"The proper punishment for traitors is death, nothing else. (Hukuman yang layak untuk para pengkhianat adalah kematian, tidak ada yang lain)." Jawab Rob penuh emosi.
"And The Killer Knight who had to take their lives. (Dan Sang Ksatria Pembunuh yang harus mengambil nyawa mereka).." Timpal yang lainnya.
Sall mengetuk-ngetukan telunjuk dan jari tengahnya bergantian di atas meja.
"I already told you all, that I will change our clan system, and all of you can't refuse my decision. (Aku sudah katakan pada kalian semua, kalau aku akan mengubah sistem klan kita, dan kalian semua tidak bisa menolak keputusanku)."
"We will always support your decision, but not this time. Show us and other clans, that you are The Killer Knight, the strongest Mafia Leader who will not tolerate traitors. Kill those four traitors. (Kami akan selalu mendukung keputusanmu, tapi tidak kali ini. Tunjukkan pada kami dan juga klan lain, kalau kamu adalah Sang Ksatria Pembunuh, Ketua Mafia terkuat yang tidak akan mentolerir para pengkhianat. Bunuh keempat pengkhianat itu)."
Sall kembali mengeluarkan argumennya untuk menolak permintaan para petinggi klannya, namun semua orang yang hadir tidak ada yang mendukung keputusannya. Mereka menganggap Sall berubah menjadi lemah dan tidak konsisten. Mereka tetap teguh dengan pendapat mereka dengan mengatasnamakan prinsip dan tradisi.
Hingga akhirnya pertemuan yang berjalan alot, lebih dari 3 jam itu menghasilkan keputusan yang sangat tidak sesuai dengan hati nurani Sall saat ini. Meskipun berat, Sall terpaksa mengikuti kehendak para petinggi klan untuk mengeksekusi para pengkhianat itu dengan tangannya sendiri.
Seolah tidak ingin kembali membuang waktu, para petinggi klan memimpin jalan untuk Sall turun ke ruang bawah tanah, dan menemui keempat pengkhianat yang mereka maksud secara bersama-sama.
Keempat pengkhianat yang duduk berjejer dalam kondisi tangan dan kaki terikat itu, kini terlihat ketakutan melihat Sall dan para petinggi klan. Mereka sudah bisa membayangkan nasib yang akan menimpa mereka beberapa detik kemudian. Dan benar saja, Sall segera mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan segera mengarahkannya pada objek dihadapannya.
Keempat orang itu memejamkan mata dengan peluh membasahi dahi mereka masing-masing. Tidak ada yang berusaha menghindar, apalagi kabur. Karena mereka menyadari usaha mereka akan berakhir sia-sia. Mereka sudah tahu pasti, hukuman bagi pengkhianat adalah kematian. Sehingga mereka lebih memilih menyambut kematian mereka dengan pasrah, di tangan The Killer Knight.
Namun sebelum peluru di dalam pistolnya meluncur, terucap satu kalimat diiringi hantaman keras di dalam hati Sall yang begitu perih.
'Maafkan aku Sweetheart. Ku mohon ampuni aku Ya Allah.' Lirih Sall dalam hati.
Door..Door..Door..Door..
Keempat pengkhianat di hadapan Sall seketika roboh, setelah peluru melubangi dahi mereka masing-masing. Sall segera berbalik pergi menuju lantai 1 diikuti Leon dan sebagian petinggi klan.
Tidak terasa buliran air mata, tiba-tiba merembes dari kelopak mata Leon yang memahami pergulatan batin sahabatnya itu. Segera dihapusnya air mata yang membasahi pipinya, sebelum ada orang lain yang menyadarinya.
Leon menghentikan langkahnya, saat tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan nama Leroy terpampang pada layar ponselnya. Beberapa saat setelah mengangkat panggilan masuk dari Leroy, wajah Leon berubah pucat pasi dengan raut panik yang jelas terbaca. Dengan langkah terburu-buru, Leon menyusul dan membisikkan sesuatu di telinga Sall.
"Sall kita ke Rumah Sakit, Sanchia jatuh di mall." Bisik Leon di telinga Sall.
Tanpa menjawab sepatah katapun, Sall langsung berlari menuju mobilnya dengan raut wajah yang panik dan cemas.
*************************
Sall menggenggam erat tangan Sanchia seraya memandangi wajah Sanchia yang terbaring tidak sadarkan diri di atas tempat tidur kamar VVIP Rumah Sakit, setelah menjalani operasi kuretase 1 jam yang lalu.
Bayi yang sudah berusia 5 bulan itu terpaksa dikeluarkan karena meninggal di dalam kandungan. Sanchia ditemukan tergeletak di toilet Mall, dengan darah merembes dari perut sampai kakinya, dan luka juga memar di beberapa bagian tubuhnya.
Sall tidak kuasa menahan tangis, karena rasa sakit di hatinya saat ini. Melihat istrinya dalam keadaan yang sangat mengenaskan, membuatnya hatinya terasa diremas dan dihantam palu besar berkali-kali. Terlebih Sall harus pasrah kehilangan bayi dalam kandungan Sanchia yang ternyata berjenis kelamin perempuan itu.
'Baby, maafkan Daddy yang tidak bisa melindungimu..' Ratap Sall dalam hati diiringi tangis yang menyayat hati.
Tangis Sall semakin keras, saat pikirannya kembali teringat bayi mungilnya yang sudah tak bernyawa. Pihak Rumah Sakit sudah selesai membersihkan dan mengurus bayinya, namun Sall masih begitu berat untuk membawanya pulang ke mansion dan menguburkannya. Perasaannya masih tidak rela kehilangan bayi yang sangat dia dan istrinya harapkan. Sall tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi Sanchia saat mengetahui kalau mereka sudah kehilangan bayi mereka.
Tepukan di bahunya, membuat Sall menghentikan isaknya seraya memandang Leroy yang berdiri dengan tatapan sendunya. Sementara Leon yang duduk di atas sofa, masih sibuk melacak rekaman camera CCTV di mall dan sekitarnya, untuk mencari tahu pelakunya.
"Kita akan menemukan pelakunya. Maafkan aku."
"Bagaimana bisa kamu lalai melindungi istriku?"
Sall berdiri dan mencengkeram kerah kemeja Leroy dengan erat, namun Leroy hanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap netra Sall yang menguarkan api emosi yang tidak akan bisa diredam.
Sall menghempaskan tubuh Leroy, sampai terjatuh ke lantai dan membentur sofa.
"Ceritakan semuanya, jangan sampai ada yang terlewat."
Sall kembali duduk, menopang dagunya dengan kedua tangan dieratkan, yang bertumpu di atas pahanya.
"Saat berbelanja, Sanchia tidak sengaja bertemu dengan Vara dan kedua anak kembarnya. Mereka berbelanja bersama, lalu makan di restaurant Indonesia yang ada di mall itu. Setelah itu Vara dan kedua anaknya langsung pulang, sementara Sanchia pergi ke toilet. Aku dan beberapa pengawal berjaga di koridor toilet, tapi selang 15 menit Sanchia tidak juga keluar. Akhirnya aku menerobos masuk ke dalam toilet, dan menemukan.. Sanchia.. tidak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah."
Isak tangis yang tertahan kembali terdengar dari mulut Sall yang kini menundukkan kepalanya. Sebelah tangannya meremas dadanya yang sesak, seolah berusaha mengusir perih dan sakit di hatinya. Namun justru rasa bersalah dan menyesal yang kini memenuhi hati dan juga pikirannya.
'Allah seketika menghukumku, dan aku tidak akan sanggup menghadapi kemarahan Sanchia saat dia sadar nanti. Aku juga tidak akan sanggup melihatnya bersedih karena kehilangan anak kami. Apa yang harus aku lakukan?' Lirih Sall dalam hati.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight