
Hujan deras tidak hentinya mengguyur mansion Sall disertai petir yang saling menyambar, bahkan sampai tengah malam tiba. Sanchia mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya lampu yang terang, yang cukup menyilaukan matanya.
Alangkah terkejutnya Sanchia, saat matanya menangkap sosok Sall yang sedang duduk di atas sofa, seraya menyilangkan kaki dengan tangan menyilang di dada. Tatapan Sall begitu tajam menghunus, membuat Sanchia mendudukkan dan memundurkan dirinya sampai punggungnya menabrak headboard tempat tidur.
Perlahan Sanchia mengingat kembali kejadian saat dirinya berada di villa milik Austin tadi pagi. Tiba-tiba Sanchia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, diiringi air mata yang kemudian mengaliri pipinya.
FLASHBACK ON
Sesungguhnya pagi dini hari itu, ada perasaan dilema yang dirasakan Sanchia, saat hendak meninggalkan mansion. Terlebih saat dirinya melihat Sall, yang tertidur begitu tenang disampingnya. Semalam Sanchia kembali terbangun dari tidurnya, saat sebuah benda kenyal mendarat di kening dan bibirnya. Sebisa mungkin Sanchia berusaha menenangkan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan, beruntung Sall tidak menyadarinya sama sekali. Sall malah memejamkan matanya dan tertidur begitu pulas beberapa menit kemudian, berganti Sanchia yang membuka matanya seraya memandangi wajah tampan di hadapannya dengan tatapan yang sendu.
'Sall, kenapa kamu begitu kejam, memisahkan aku dan keluargaku? Kenapa kamu mengekangku bagai tawanan? Tapi kenapa kamu selalu memperlakukanku bagai seorang Putri? Entah apa yang aku rasakan padamu Sall.. Tapi anehnya aku senang, setiap kali kamu berusaha membuatku nyaman dan mengabulkan semua keinginanku. Andai kita bertemu dengan cara yang lebih baik, mungkin segalanya akan berbeda.' Batin Sanchia.
Perlahan ujung jari Sanchia menyusuri kening, hidung dan bibir Sall dengan sangat lembut. Senyum manis Sanchia terulas, saat Sall merasa terusik dan mengusap-usap kening, hidung dan bibirnya dengan punggung tangannya. Beruntung Sall tidak terbangun, dan malah melanjutkan tidurnya dengan begitu nyenyaknya.
Sanchia memandang wajah Sall selama berjam-jam, seraya memikirkan rencananya melarikan diri. Di satu sisi, Sanchia mulai terbiasa dan nyaman dengan keberadaan Sall, tapi di sisi lain, Sanchia begitu rindu dengan keluarganya. Sedangkan Sall sudah mengatakan dengan jelas, bahwa tidak akan pernah mengembalikan Sanchia pada keluarganya. Akhirnya, Sanchia memutuskan untuk bersiap melarikan diri dari mansion, karena keluarga tetaplah yang paling utama bagi Sanchia.
Sanchia turun dengan perlahan dari tempat tidur menuju ruangan walk in closet dan segera mengganti bajunya dengan celana panjang dipadukan dengan kaos dan jaket, juga sepatu sport yang nyaman. Sanchia juga memasukan beberapa lilin aromatherapy, alat pemantik api dan sebotol air mineral.
Sanchia menatap wajah Sall dengan sendu, matanya mulai berkaca-kaca, memandang wajah Sall yang begitu tenang dalam tidurnya. Perlahan Sanchia duduk di tepi tempat tidur, sedikit membungkuk dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Sall. Sanchia mencium kening Sall dengan sangat lembut, dan sedetik kemudian beralih mencium bibir Sall sekilas, karena takut membangunkan Sall yang sedang tertidur lelap.
"Maafkan aku Sall." Lirih Sanchia.
Sanchia meninggalkan mansion tepat di jam 4 pagi, melewati lorong rahasia dengan hanya berbekal lilin aromatherapy dan alat pemantik api. Perlu waktu sekitar 1 jam sampai akhirnya Sanchia sampai di rumah yang berada di tepi pantai. Kelelahannya masih berlanjut, saat Sanchia harus kembali berjalan menuju jalan raya, dan menumpang mobil penduduk untuk sampai di Resort milik Austin.
Betapa bersyukurnya Sanchia, saat akhirnya dia bisa bertemu dengan Austin. Austin pun mengatakan akan membantu Sanchia, setelah Sanchia mengatakan kalau dia sedang bersembunyi dari kejaran orang jahat. Austin juga berjanji akan mengantarkan Sanchia pulang untuk bertemu kembali dengan keluarganya. Namun untuk sementara Sanchia harus tinggal di villa Austin, selama Austin mengurus kepulangan Sanchia ke Bandung, dan Sanchia setuju tanpa sedikitpun curiga pada laki-laki yang dianggapnya teman itu.
Sesampainya di villa, Sanchia yang terlihat begitu kotor dan berantakan diminta mandi dan mengganti bajunya dengan baju yang sudah dibelikan Austin di perjalanan ke villa. Tanpa curiga, Sanchia segera mandi dan mengganti bajunya, lalu bergabung dengan Austin yang sedang berada di dapur. Segelas minuman jahe hangat, disodorkan Austin pada Sanchia yang memang terlihat sedikit lelah dan kedinginan. Mungkin karena berjalan jauh di lorong yang gelap dan lembab, membuat tubuhnya terasa tidak enak.
"Minumlah, kamu terlihat kelelahan. Minuman ini akan membuatmu lebih segar."
"Terima kasih Austin."
Segera diteguknya minuman yang disodorkan Austin, sampai hanya tersisa setengahnya.
"Bagaimana, enak?"
"Iya enak."
Sanchia mengulas senyumnya, namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan berat.
"Austin, minuman apa yang kamu berikan padaku?"
"Hmm, tenang.. Aku tidak memberimu obat perangsang. Aku tidak suka dengan perempuan agresif. Aku lebih suka, jika melakukannya dengan perempuan yang hanya bisa diam, tanpa melawan. Karena aku bisa bebas melakukan apa yang aku mau tanpa perlawanan."
Sanchia berusaha melayangkan pukulan ke arah Austin, tapi tubuhnya yang limbung, justru membuatnya terjerembab ke lantai. Sanchia memegangi kepalanya yang serasa akan meledak, namun sesaat kemudian Sanchia terkulai lemas dan tidak sadarkan diri di atas lantai.
Austin tersenyum puas karena merasa rencananya sudah berhasil, tanpa membuang waktu segera digendongnya Sanchia, menuju kamar pribadinya di lantai 2. Setelah merebahkan tubuh Sanchia di atas tempat tidur, Austin segera membuka pakaian Sanchia hingga menyisakan pakaian dalamnya saja.
Baru saja Austin hendak mencium Sanchia, tiba-tiba kamarnya didobrak paksa oleh Sall yang langsung menggagalkan rencana bejat Austin.
FLASHBACK OFF
Sanchia masih menangis tersedu-sedu, selama lebih dari setengah jam. Dan Sall hanya memandang Sanchia dengan tatapan tajam tanpa melakukan apapun untuk menghibur Sanchia. Hatinya masih sakit, karena Sanchia telah begitu tega membohonginya untuk bisa melarikan diri dari mansionnya. Perasaan dikhianati yang dirasakan Sall lebih mendominasi hatinya saat ini, dibanding rasa ingin menenangkan hati Sanchia, yang sedang begitu terpukul.
"Berhentilah menangis, kamu membuatku sakit kepala. Tidak usah bersedih seperti itu, karena si brengs*k itu belum sempat melakukan apapun padamu. Aku sudah meminta Dokter memeriksamu, dan Dokter memastikan tidak ada tanda-tanda pelecehan seksual di semua bagian tubuhmu."
Tangis Sanchia seketika berhenti, matanya menatap mata Sall yang masih saja berkilat tajam.
"Apakah yang kamu katakan itu benar?"
"Jika tidak percaya, kamu bisa memeriksanya sendiri. Ya sudah, aku mau tidur."
Sall berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu, namun panggilan Sanchia menghentikan langkahnya.
"Sall.."
Sall menolehkan kepalanya dengan malas tanpa menjawab.
"Terima kasih."
"Aku kira kamu akan menyalahkanku karena sudah menggagalkan kegiatan panasmu dengan si brengs*k itu."
Tangis Sanchia kembali luruh karena perkataan Sall yang begitu menyakitkan hatinya. Sall pun tahu, kalau Sanchia tidak akan mau melakukannya dengan Austin, tapi hatinya yang sakit, seolah menuntun mulutnya untuk mengeluarkan kata-kata pedas yang bisa menyakiti hati Sanchia.
"Sudahlah, jangan menangis. Air mata palsumu itu harus kamu gunakan pada saat yang tepat."
Sall segera keluar dari kamar Sanchia menuju kamarnya, dan sudah bisa ditebak selanjutnya, apa yang kemudian dilakukan Sall di kamarnya. Tentu saja mengawasi Sanchia dari semua camera CCTV dan camera micro yang sudah Sall pasang di kamar Sanchia.
Terlihat Sanchia mengunci pintu dengan kasar,lalu mendorong sofa untuk menahan dan menutupi pintu kamarnya. Sall meremas kuat rambutnya, melihat Sanchia yang membangun benteng agar Sall tidak bisa memasuki kamarnya.
Rasa terkejut Sall semakin menjadi, saat tiba-tiba semua monitor camera berubah gelap secara berurutan. Ternyata Sanchia menutupi semua camera di kamarnya sampai tidak bersisa. Dan kini Sall hanya bisa berteriak kesal menghadapi sikap Sanchia yang mulai kembali memberontak.
"Aaaaaaarrrggghh...Sanchiaaaaaaa..."
*************************