The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 125 Tidak Terduga



Air mata akhirnya sukses menjebol benteng pertahanan yang sekuat tenaga dibangun Leticia, meskipun tanpa suara. Wajah Shawn benar-benar mengingatkannya pada sahabat baiknya yang kini telah tiada. Terlebih netra birunya seolah meyakinkan Leticia, bahwa Shawn adalah anak dari Steward yang juga memiliki mata berwarna biru. Tapi melihat tangan Sall dan Sanchia yang menggenggam erat tangan Shawn, membuat Leticia ragu, kalau Shawn adalah anak Steward dan Davina yang hilang.


"Silahkan duduk semuanya.." Leticia, Leandra, Leon dan Leroy segera mendudukkan dirinya di sofa. Sall dan Sanchia pun menyusul duduk, berbeda dengan Shawn yang justru mendekat ke arah Leticia.


"Aunty, kenapa menangis?" Tangis Leticia semakin deras tatkala tangan mungil Shawn mengusap air mata di pipi Leticia.


"Apa Uncle Leroy yang membuat Aunty menangis?" Leticia tertawa disela-sela tangisnya, memandang Shawn yang menghunus tatapan tajam pada Leroy yang sedari tadi mengelus lembut punggung Leticia.


"Lho, kenapa kamu jadi menyalahkan Uncle, Shawn?"


"Lalu apa yang membuat Aunty cantik ini menangis?" Leticia sudah bisa menghentikan isakannya, dan menggenggam kedua tangan Shawn dengan kedua tangannya.


"Aunty senang bertemu anak tampan seperti kamu." Jawaban Leticia direspon Shawn dengan gelengan kepala.


"Shawn tahu kalau Shawn tampan, tapi Aunty tidak perlu sampai menangis begitu." Tawa semua orang pecah mendengar kenarsisan Shawn, yang pastinya diturunkan oleh Sall.


"Berapa umurnya? Kenapa sudah begitu pintar dan lancar sekali berbicara?" Tanya Leandra mencubit pipi Shawn gemas.


"Aunty, jangan cubit." Protes Shawn pada Leandra yang justru tersenyum senang.


"Umurnya baru 1 tahun, tapi pikirannya lebih dari anak umur 1 tahun, hehe.." Komentar dan kekehan Leon, dibalas Shawn dengan ekspresi datarnya.


Sall dan Sanchia hanya tersenyum melihat Putra mereka yang memang terlihat cerdas untuk ukuran anak seusianya. Mereka juga bangga, Shawn yang masih sekecil itu, sudah bisa menunjukan empati-nya pada orang lain.


"Nona Leticia dan Nona Leandra, anda mungkin sudah mengenal saya.." Perkataan Sall yang terjeda langsung dibalas Leticia dan Leandra dengan anggukan singkat.


"Ini anak kami, namanya Shawn." Leandra dan Leticia menganggukkan kepalanya, mengerti kalau mereka telah salah menduga tentang Shawn.


"Saya dan istri saya, Sanchia Arelia Knight, sengaja mengundang Nona Leticia dan Nona Leandra untuk tinggal sementara di mansion kami. Karena saya lihat, keselamatan kalian berdua sedang terancam. Leroy dan Leon akan menjaga dan memastikan keselamatan kalian disini."


"Tapi kenapa Tuan Sall dan Nyonya Sanchia mau menolong kami?" Tanya Leandra penuh rasa ingin tahu.


"Karena kita sesama manusia harus saling membantu, terlebih kalian orang special bagi saudara kami." Leon dan Leroy tersenyum mendengar perkataan Sanchia, sementara Leandra dan Leticia cukup terkejut dan tidak menyangka dengan jawaban Sanchia.


Leandra mungkin sudah tidak terlalu canggung, karena dia dan Leon sudah saling mengakui dan mengungkapkan perasaan masing-masing. Tapi bagi Leticia, ada sedikit kecanggungan saat Sanchia mengatakan kalau Leticia adalah orang special bagi saudaranya, yang Leticia yakini Leroy-lah saudara yang dimaksud oleh Sanchia. Leticia merasa terlalu cepat, jika Leroy menganggapnya seseorang yang special. Meskipun Leticia akui, kalau dia begitu nyaman bersama Leroy.


Leticia juga masih bertanya-tanya tentang hubungan Leandra dengan Leon, dan berniat menanyakan hal itu pada Leandra. Namun saat ini, bukanlah waktu yang tepat. Leticia memutuskan untuk menanyakannya nanti, saat dia hanya berdua dengan Leandra.


"Shawn.. Ikutlah bersama Nanny. Ada hal yang harus Daddy dan Mommy bicarakan dengan Uncle dan Aunty." Ujar Sall seraya merangkul bahu Shawn.


"Secret?" Tanya Shawn penasaran.


"Iya.. Ini obrolan orang dewasa, kamu pasti bosan mendengarnya." Shawn menggaruk dagunya, seolah sedang berpikir layaknya orang dewasa.


"Baiklah.. Aku mau bermain saja." Shawn lalu menggandeng babysitter-nya setelah mencium Daddy dan Mommy-nya, juga berpamitan pada dua Uncle dan dua Aunty barunya.


Leon menutup dan mengunci pintu ruang tamu, setelah memastikan Shawn sudah berjalan menjauh dari ruangan itu. Leandra dan Leticia berpandangan sejenak, menyadari ada hal penting yang hendak disampaikan sang tuan rumah pada mereka.


"Nona Leticia dan Nona Leandra.. Ada hal penting yang harus kami sampaikan pada kalian berdua." Leticia dan Leandra menunggu kalimat Sall selanjutnya dengan harap-harap cemas.


"Sesuai dugaan kalian berdua, Putra kami Shawn sebenarnya adalah anak dari mendiang Steward Davies Smith dan Davina Park.." Meskipun sempat menduga dan berharap Shawn adalah anak sahabat mereka, tapi perkataan Sall tetap berhasil membuat Leticia dan Leandra membelalakan mata mereka. Bagaikan mimpi, mereka akhirnya menemukan anak sahabat mereka yang hilang setelah sekian lama.


"Kami sangat berterima kasih sekali pada Tuan Sall dan Nyonya Sanchia, karena telah menjaga dan mengurus anak sahabat kami dengan baik. Kami benar-benar bersyukur, karena Steve bersama dengan orang-orang yang baik. Oh maaf, aku memanggilnya dengan nama aslinya. Tapi kami akan membiasakan diri untuk memanggilnya Shawn. Sebelumnya kami ingin tahu, bagaimana bisa anda berdua bertemu dengan Shawn?"


Leticia bertanya dengan ekspresi penuh keingintahuan, lalu mengalirlah cerita awal pertemuan Sall dan Sanchia dengan Shawn di panti asuhan dulu. Leticia dan Leandra merasa sangat terharu dengan kisah yang diceritakan Sanchia itu. Mereka begitu bersyukur, karena Shawn bertemu dengan orang baik seperti Sanchia dan Sall. Sehingga Shawn bisa tumbuh dalam lingkungan yang baik dan aman.


"Nona Leticia dan Nona Leandra, kami meminta agar kalian berdua tidak mengatakan apapun pada Shawn tentang kedua orangtuanya. Kami sudah memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari Shawn, kami ingin Shawn menganggap kami orangtua kandungnya. Setidaknya sampai Shawn dewasa dan siap menerima kenyataan yang pasti akan mengejutkannya.." Sall merangkul bahu Sanchia, memberi kekuatan pada istrinya yang terlihat sedikit khawatir. Leticia dan Leandra mengangguk mantap, memahami sekali keinginan Sanchia itu.


"Kami sangat memahami maksud anda Nyonya Sanchia. Kami juga ingin Shawn tumbuh dengan baik, bahagia bersama dengan kedua orangtua yang menyayanginya." Sanchia tersenyum bahagia mendengar perkataan Leticia yang terdengar sangat menenangkan.


"Tuhan mempertemukan anda berdua dengan Shawn, tandanya Tuhan sudah memilih anda untuk menjadi orangtua Shawn." Lagi-lagi Sanchia dan Sall tersenyum haru mendengar kalimat yang diutarakan Leandra.


"Kami akan selalu berusaha menjadi orangtua yang baik bagi Shawn. Kami akan selalu menjaga dan melindunginya, juga membantunya membalas kematian kedua orangtuanya." Leticia dan Leandra terhenyak mendengar kalimat Sall yang mengandung emosi, meskipun diucapkan dengan nada yang sangat datar.


"Kami sudah mengetahui pembunuh orangtua Shawn, tidak lama setelah kami bertemu dengan Shawn. Nick Smith.. Kakak angkat dari mendiang Ayah Shawn, yang anda ikuti sejak beberapa hari yang lalu. Kami pun tahu, tujuan anda kembali ke Indonesia adalah untuk menuntut balas kematian mendiang orangtua Shawn kan?" Raut terkejut tampak jelas di wajah Leticia dan Leandra. Mereka sama sekali tidak menyangka, Sall bisa mengetahui tujuan mereka saat ini.


"Karena kita mempunyai tujuan yang sama, maka saya akan menceritakan semuanya." Leticia menjeda kalimatnya, namun Sall dan Sanchia hanya diam menunggu lanjutan cerita Leticia.


"Saya dan Leandra, datang ke Indonesia tanpa sepengetahuan orangtua kami. Meskipun saya yakin, orangtua kami pasti sudah mengetahui keberadaan kami saat ini yang berada di Indonesia. Saya datang lebih dulu ke Indonesia, karena mendapat informasi penting tentang Nick yang sedang mencari keberadaan Shawn. Sedangkan Leandra sedang berada di London saat itu. Seharusnya saya juga datang ke London untuk suatu urusan, tapi saya malah mengalami kecelakaan saat melakukan pengintaian. Saat itu anak buah Nick memergoki saya, sehingga saya melarikan diri dengan motor sport saya. Nahasnya, karena hujan yang deras, saya mengalami kecelakaan karena motor saya tergelincir. Namun saya berhasil bersembunyi sebelum mereka menyusul saya." Sall, Sanchia, Leon dan Leroy menganggukkan kepala mereka. Terutama Leroy yang baru mendapat jawaban, setelah menahan rasa penasarannya sejak kemarin.


Meskipun sangat prihatin dengan kecelakaan yang menimpa Leticia, tapi Leon bersyukur Leandra menggantikan tugas Leticia untuk mengikutinya. Karena hal itulah, akhirnya Leandra dan Leon bisa bertemu, meskipun dalam situasi yang sangat tidak terduga.


"Saya ingin menuntut balas pada Nick.. Tolong bantu saya." Leroy adalah orang yang paling terkejut mendengar permintaan Leticia yang begitu terus terang.


"Kita semua mempunyai tujuan yang sama, kami akan membantumu. Apapun yang kamu perlukan untuk membalaskan kematian kedua sahabatmu." Jawab Sanchia tanpa ragu. Sementara Sall memandang Sanchia dengan mengulas senyum tipisnya.


'Sepertinya The Queen sedang bersemangat.' Ujar Sall dalam hati.


*************************


Saat ini hati Sanchia sedang begitu senang, karena sudah dua hari ini mansion terasa lebih ramai dengan kehadiran Leandra dan Leticia. Leon dan Leroy pun terlihat lebih ceria, karena ada penyemangat yang selalu berhasil membuat senyuman enggan lepas dari wajah mereka setiap harinya. Sall juga terlihat lebih santai, karena senang melihat kedua sahabatnya lebih bersemangat dan bahagia menjalani hari-harinya.


Sall dan Sanchia berjalan-jalan mengitari mall seraya mendorong stroller berisi Shanaya yang asyik melihat pemandangan baru di depannya. Mereka juga ditemani beberapa pengawal yang berjaga dari kejauhan. Shawn tidak mau ikut, karena sedang asyik bermain dengan Leticia dan Leroy di ruang bermain. Memang Shawn terlihat mulai dekat dan nyaman dengan Leticia, yang begitu perhatian padanya. Sesungguhnya Leticia merasakan kebahagiaan yang sangat besar, setiap kali bersama Shawn. Seolah dirinya bisa merasakan kehadiran Steward dan Davina, kedua sahabat yang sangat dia rindukan.


"Sweetheart.. Kita sebaiknya makan dulu, Shanaya juga sudah mulai tertidur setelah meminum susunya. Aku akan meminta pengawal menyimpan barang belanjaan ini dulu." Sanchia memandang kedua tangan Sall yang menjinjing begitu banyak tas belanjaan Sanchia.


"Baiklah.. Terima kasih Honey, sudah membawakan semua belanjaanku."


"No problem, Sweetheart.. Kamu masuklah lebih dulu ke restaurant itu. Aku akan menyusul setelah selesai."


"Baiklah.. Jangan lama-lama ya Honey." Sall menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum, lalu berjalan mendekati seorang pengawal yang berjaga cukup jauh darinya.


Sanchia duduk dan memesan makanan western favoritnya dan Sall. Perutnya sudah sangat kelaparan setelah mengitari mall seharian. Memang kali ini Sanchia sedang sangat bersemangat berbelanja, bahkan banyak sekali barang yang dia beli. Sall tentu senang, Sanchia mulai pandai menghabiskan uangnya yang tidak akan habis beberapa turunan itu. Tapi ternyata kebanyakan dari barang-barang itu, bukan untuk Sanchia sendiri. Melainkan untuk Leticia dan Leandra, yang sudah Sanchia anggap seperti adik sendiri.


Menunggu makanan datang, Sanchia memandangi Shanaya yang masih lelap tertidur di dalam strollernya. Tiba-tiba seorang perempuan yang sedang berjalan terburu-buru hendak keluar dari restaurant, menumpahkan 1 cup cappucino yang dipegangnya sehingga menyiprat ke kaki Sanchia.


"Ups.. Sorry.." Ekspresi perempuan itu sangatlah tidak tulus, bahkan terkesan meremehkan Sanchia. Lalu tanpa menunggu jawaban Sanchia, perempuan itu segera berjalan menuju pintu.


Sanchia berniat mengejar perempuan yang sudah berlaku tidak sopan itu, namun langkahnya urung saat perempuan itu menyapa Sall yang berpapasan dengannya di depan pintu restaurant.


"Wow Sall.. I didn't expect to meet you here. I miss you so badly, Sall.." Ujar perempuan itu, lalu memeluk Sall begitu posesif.


Sall bergeming, tidak menyangka dengan kemunculan perempuan dihadapannya. Namun sesaat kemudian, Sall segera melepas pelukan perempuan itu, terlebih saat netranya menangkap tatapan tajam Sanchia yang mengarah padanya.


'Mati aku..' Rutuk Sall dalam hati, diikuti langkah lebar untuk mendekat pada Sanchia.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight