The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 118 Dendam Masa Lalu



MARKAS BESAR TODDESTERN - LONDON, INGGRIS


Akhir pekan yang cukup sibuk, Sall harus datang ke Markas Besar karena ada pertemuan penting dengan para petinggi klan. Keadaan cukup kacau, karena beberapa petinggi klan yang merupakan sahabat dan orang kepercayaan dari Ayah Sall mengetahui fakta bahwa Marlon ditahan di penjara bawah tanah Markas Besar Toddestern. Tentunya mereka ingin tahu, alasan Marlon yang merupakan salah satu orang kepercayaan Sall bisa sampai ditahan layaknya penjahat seperti itu.


Sebenarnya Sall tidak menginstruksikan Leon dan Leroy untuk menahan Marlon, hal itu dilakukan atas inisiatif Leon dan Leroy yang begitu marah karena pengkhianatan Marlon. Selama ini mereka memperlakukan Marlon seperti saudara, bahkan saat Marlon berbohong dengan mengatakan jatidirinya sebagai Marry, mereka juga menerima dan tidak berpikir sama sekali untuk menjauhi Marlon. Mereka tetap bersahabat dan memperlakukan Marlon layaknya adik sendiri.


Pertemuan yang dihadiri petinggi klan itu berakhir tidak memuaskan, karena Sall masih tetap bungkam dengan mengatakan kalau Marlon melakukan kesalahan yang mengharuskan dia ditahan dalam waktu yang belum bisa ditentukan. Namun Sall enggan menjelaskan jenis kesalahan apa yang membuat Marlon sampai harus ditahan di penjara bawah tanah klan Toddestern yang terkenal seram itu.


Sall turun menuju penjara bawah tanah tempat Marlon ditahan, tanpa ditemani Leon dan Leroy. Sall sengaja ingin bicara 4 mata, terlebih Sall ingin melihat keadaan Marlon yang tidak mau makan sejak ditahan beberapa hari yang lalu, bahkan mogok bicara setiap kali Leon dan Leroy datang untuk menginterogasinya.


Marlon yang duduk bersandar pada headboard temat tidur, dengan tangan dan kaki terikat, cukup terkejut saat melihat wajah Sall yang muncul dihadapannya. Beberapa hari ini, dia sudah cukup terbiasa dengan kedatangan Leon dan Leroy yang terus memaksanya mengatakan musuh-musuh yang diajak Marlon bekerjasama. Namun Marlon tetap diam, sekalipun Leon dan Leroy terus membentak dan menghajarnya. Tapi Marlon merasa Leon dan Leroy tidak sampai mengerahkan semua kekuatan mereka, mereka lebih bersikap mengancam untuk membuat Marlon mengaku. Sesungguhnya Leon dan Leroy begitu tidak tega menghajar sahabat mereka sendiri.


Sedikit sedih dirasakan Sall karena melihat tubuh Marlon yang babak belur, apalagi Marlon terlihat lemas dengan wajah yang pucat dan sangat berantakan.


"Kamu boleh membenciku, kamu juga boleh membunuhku, tapi jangan di depan anggota klan. Aku hanya ingin menjaga nama baik Ayahku di depan sahabat-sahabatnya dan juga anggota klan."


Perkataan Marlon cukup menohok hati Sall, kembali terlintas di dalam pikirannya kenangan beberapa belas tahun yang lalu, dimana Sall seringkali merasa kagum dengan kedekatan Marlon dan Ayahnya. Namun semuanya berakhir karena suatu misi rahasia, Ayah Marlon tewas dibunuh musuh-musuh klan Toddestern saat Marlon masih berusia 13 tahun.


"Marlon, kamu tahu pasti, Ayahmu dan Ayahku bersahabat sejak mereka remaja. Bahkan saat Ayahmu tewas, Ayahku begitu marah dan sangat terpukul. Ayahku membunuh orang-orang yang membunuh Ayahmu dengan tangannya sendiri. Ayahku bahkan berpesan padaku, agar selalu menganggapmu sebagai saudara. Karena itulah aku tidak pernah bisa membunuhmu, sekalipun kamu mengkhianatiku dan klan."


Sall beranjak hendak pergi meninggalkan ruang bawah tanah itu, namun perkataan Marlon sejenak menghentikan langkah Sall.


"Aku membencimu, kamu mengambil segalanya milikku.." Sall berbalik dan menghunus tatapan tajam kepada Marlon.


"Jovanka? Kamu membenciku karena dia kan?"


Tubuh Marlon yang lemas mendadak menegang mendengar Sall menyebut nama perempuan yang merupakan cinta pertamanya semasa di Senior High School (SMA). Saat itu Marlon begitu menyukai Jovanka, tapi Jovanka lebih menyukai Sall yang dianggap lebih segalanya dibanding Marlon.


"Setelah membuatnya tergila-gila, kamu memaksanya pergi dengan perasaan hancur."


Helaan nafas panjang keluar dari mulut Sall yang merasa jengah dengan perkataan Marlon.


"Ayo selesaikan kesalahpahaman ini, sungguh tidak aku sangka, cinta monyetmu itu bisa membuatmu segila ini. Bahkan memelihara dendam sampai belasan tahun. Katakan apa yang sudah perempuan itu katakan untuk membuatmu semakin membenciku?"


"Kamu jelas tahu aku sangat mencintainya saat itu, tapi kamu terus membuatnya jatuh cinta padamu. Tapi kamu membuangnya seperti sampah, dan pergi dalam keadaan hamil.."


Sall seketika mencengkeram leher Marlon dengan tangan besarnya, membuat Marlon tercekik sampai hampir kehabisan nafas.


*************************


Sall mendudukkan dirinya pada salah satu anak tangga yang mengarah ke sebuah danau buatan di belakang markas besar. Raut marah masih belum hilang dari wajah tampannya, Sall pun masih setia melempar batu-batu kecil ke arah danau untuk mengurangi kemarahannya.


Tiba-tiba Leroy datang dan duduk di sebelah Sall dengan membawa 2 cup americano. Sall segera meraih 1 cup americano yang disodorkan Leroy padanya.


"Apa yang dikatakan si brengs*k itu, sampai membuatmu murka seperti tadi?" Tanya Leroy, lalu menyesap americano-nya perlahan.


"Si bodoh itu mengatakan kalau aku membuang seorang perempuan, setelah membuatnya hamil."


"Uhuk..Uhuk.." Leroy tersedak mendengar perkataan Sall yang datar, lalu memandang penuh tanya ke arah Sall yang kini mulai menyesap americano-nya.


"Siapa yang kamu hamili Sall?"


Bugh..


Sall memukul lengan Leroy dengan kepalan tangannya, membuat Leroy meringis kesakitan.


"Enak saja.. Aku tidak mungkin sembarangan meniduri bahkan sampai membuat seorang perempuan hamil." Ujar Sall penuh emosi.


"Aku pikir kamu benar-benar menghamili seorang gadis Sall. Tapi siapa yang kamu maksud?"


"Jovanka.." Leroy membulatkan matanya, mendengar nama perempuan yang cukup dikenalnya dulu.


"Hah, Jovanka? Perempuan liar itu?"


"Tapi apa dulu Jovanka pernah menggodamu Sall?" Kembali menyesap americano-nya, sebelum bercerita pada Leroy.


"Aku pernah tidak sengaja bertemu dengannya di club saat kabur dari pengawasan pengawal. Dia mabuk dan memintaku mengantarnya pulang. Saat itu aku terpaksa mengantarnya pulang karena khawatir dia menjadi mangsa laki-laki jahat jika aku abaikan. Tapi setelah sampai di rumahnya, dia terus saja menggodaku dan tidak mengizinkanku pulang."


"Lalu kamu tergoda?"


Bugh..


Lagi-lagi lengan Leroy menjadi sasaran bogem mentah Sall. Namun kali ini Leroy terlihat menyeringai karena puas menggoda dan membuat Sall semakin kesal.


"Perempuan itu memang senang menggoda laki-laki kaya raya, dan menghabiskan uang mereka. Mungkin saja dia mengandung anak dari salah satu laki-laki yang berkencan dengannya. Serahkan urusan ini padaku, aku akan mencari informasi untuk membuktikan kamu tidak menghamili perempuan itu." Sall mengalihkan pandangannya dari Leroy dan beralih memandang danau dihadapannya.


"Tidak penting.. Aku sudah tidak peduli, Marlon akan tetap dengan pemikirannya atau tidak. Seorang perempuan ternyata bisa merusak persahabatan. Dulu aku pun sempat takut saat kamu dan Leon menyukai perempuan yang sama. Kalau salah satu dari kalian mendapatkan Catherine, bisa-bisa kamu bertengkar setiap hari dengan Leon."



"Hei, kenapa namaku disebut-sebut?" Sebuah teriakan, membuat Sall dan Leroy menoleh ke arah sumber suara. Namun keduanya kembali fokus memandang danau dihadapan mereka, dan mengabaikan Leon yang bergegas menghampiri keduanya.


"Apa ada kejadian yang aku lewatkan?" Tanya Leon seraya merangsek dan memaksa duduk diantara Sall dan juga Leroy.


"Kepoooo.." Teriak Leroy tepat di telinga Leon.


Bugh..


Kali ini giliran Leon yang mendaratkan kepalan tangannya di bahu Leroy, membuat Leroy kembali meringis kesakitan. Sedangkan Sall tertawa lepas melihat nasib Leroy yang cukup mengenaskan hari ini, tidak jauh lebih baik dari dirinya.


Tiba-tiba ponsel Sall bergetar, Sall segera mengangkat panggilan video call yang ternyata berasal dari Sanchia itu.


"Iya Sweetheart, ada apa?" Terlihat wajah Sanchia begitu panik dan cemas.


"Honey, tolong siapkan private jet untuk aku, Mama, Papa dan anak-anak berangkat ke Indonesia. Kevin dan Nieva kecelakaan mobil, sekarang mereka sedang dirawat di Rumah Sakit."


"Apaaa? Iya Sweetheart, kita berangkat malam ini juga ke Indonesia." Sall berdiri dari duduknya, diikuti Leon yang segera berkoordinasi dengan Pilot kepercayaannya, juga Leroy yang segera menghubungi kepala pengawal agar bersiap berangkat ke Indonesia malam nanti.


"Honey, kamu kan sibuk. Nanti saja menyusul kalau semua urusanmu sudah selesai. Nieva dan Kevin hanya mengalami luka ringan saja kok Honey."


"Tidak ada yang lebih penting dari keluarga Sweetheart, aku akan melindungimu, anak-anak, juga orang tua kita. Terlebih Kevin dan Nieva memerlukan dukungan kita. Keiva pasti sedih karena kedua orangtuanya tidak bisa bersamanya di mansion." Sanchia mengulas senyum di wajah sendunya. Sungguh bersyukur, memiliki suami yang begitu memprioritaskan keluarganya.


"Baiklah, malam ini kita semua pulang ke Indonesia ya, Honey.."


"Iya Sweetheart.." Sall bergegas menuju tempat parkir markas besar, diikuti Leon dan Leroy yang masih sibuk dengan ponsel mereka.


*************************


Image Source : IG Toni Mahfud & Mariano D (photo menyusul setelah lolos review ya)


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight