The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 20 Moment Haru



Sinar matahari pagi  terlihat begitu ceria, menghangatkan tubuh Sall yang duduk di atas sofa, berbalut selimut yang menutupi bagian pinggang sampai kakinya. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Sanchia membawakan sarapan untuk Sall, yang kali ini hanya sendirian di kamarnya. Padahal Sall sudah melarang Sanchia untuk masuk ke kamarnya, karena masih merasa malu dan tidak ingin Sanchia melihat keadaannya yang lebih banyak berbaring di atas tempat tidur,  atau duduk di atas sofa seperti saat ini.


Sall membetulkan selimut tebalnya, lalu memandang wajah Sanchia yang sedang memasang senyum manisnya.


"Babe, please.. Aku kan sudah bilang, biar Leon saja yang membawakanku sarapan."


"Honey, kamu kenapa sih? Apa kamu tidak ingin melihat wajahku? Kenapa setiap kali aku membawakan makanan, pasti kamu selalu mengusirku?"


Wajah memelas yang ditampakan Sanchia, membuat Sall begitu bersalah. Tapi untuk kali ini, Sall tidak ingin mengalah.


"Bukan begitu Babe.. Tapi kan kita bisa video call, untuk bisa saling melihat dan mengobrol."


"Ya ampun Honey, kita berada di tempat yang sama, untuk apa melakukan video call."


"Babe, tolong mengertilah. Aku selalu ingin bersamamu setiap saat, tapi untuk sekarang, tolong biarkan Leon yang membawakan semua kebutuhanku."


"Ya sudahlah, terserah kamu saja. Aku pergi.."


Sanchia bergegas keluar dari kamar Sall, menghentak-hentakan kakinya dengan kesal.


"Babe.."


Sanchia tidak menggubris teriakan Sall, karena sudah terlanjur kesal dengan perlakuan Sall.


'Ah jangan marah Babe.. Kenapa kamu tidak mengerti, kalau aku begitu malu setiap kali kamu melihatku seperti ini. Lagipula, kecantikan dan keindahan tubuhmu seringkali membangkitkan gairahku tanpa kamu sengaja, dan itu membuatku sangat tidak nyaman. Tidak tahukah kamu, kalau kamu sudah menyiksaku tanpa kamu sadari, Babe..' Keluh Sall dalam hati.


Tok..Tok..Tok..


"Siapa?"


Teriakan Sall seketika mendapat sahutan dari si pengetuk pintu yang ternyata adalah calon adik iparnya.


"Aku Kevin, Sall."


Sebenarnya sifat Sall yang selalu membatasi pergaulannya, membuatnya tidak nyaman jika bersama orang yang tidak terlalu Sall kenal. Tapi Kevin adalah suami dari adik kandungnya Sanchia, yang akan menjadi adik iparnya juga. Maka Sall memutuskan untuk berusaha lebih dekat dengan Kevin, yang mungkin bisa memberinya masukan sebelum masuk ke dalam keluarga Sanchia.


"Masuklah, pintunya tidak dikunci."


Kevin masuk dengan membawakan nampan berisi salad buah dan puding yang terlihat sangat lezat.


"Sanchia memintaku membawakan ini untukmu. Kamu tidak ingin siapapun membawakan kebutuhanmu selain Leon bukan? Tapi Leon sedang pergi, katanya ada urusan perusahaan yang harus dia selesaikan."


"Oh jadi Leon tidak ada. Terima kasih Kevin, maaf sudah merepotkanmu."


"Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak keberatan."


Kevin lalu duduk di sofa, yang berseberangan dengan Sall.


'Jadi tadi kamu memaksa kesini, karena memang Leon sedang tidak ada. Pasti kamu tidak ingin aku terlambat untuk sarapan ya Babe? Tapi aku justru membuatmu kesal. Maafkan aku, Babe..' Batin Sall.


Sall kembali tersadar dari lamunannya, saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Kevin.


"Bagaimana lukanya, apa masih sakit?"


"Tidak terlalu, aku sebenarnya sudah bisa berjalan, tapi cara jalanku yang aneh dan pelan, membuatku masih malu untuk keluar dari kamar ini."


"Sabarlah, hanya perlu waktu beberapa hari lagi sampai benar-benar sembuh. Tapi aku tidak yakin, juniormu bisa langsung bertempur di malam pertama kalian nanti."


Sall menghela nafas panjang, menanggapi Kevin yang mengulum senyumnya  yang terlihat menyebalkan bagi Sall.


"Iya kamu benar Kev, dokter pun menganjurkanku untuk tidak membuatnya bekerja keras selama 1 bulan. Aku menyesal, kenapa tidak dari saat di Bali saja aku di khitan."


"Sabar Bro, 1 bulan tidaklah lama. Kamu hanya perlu banyak stock sabar untuk menahan hasrat, setiap kali melihat istrimu yang menggoda pertahananmu, hahaha.."


Tawa menggelegar Kevin, langsung dihadiahi hantaman bantal sofa yang dilempar Sall sekuat tenaga.


"Dasar calon adik ipar laknat."


Lagi-lagi Kevin tertawa puas menanggapi kekesalan Sall yang menurutnya sangat lucu. Saat tawa Kevin sudah berhenti, Kevin mencondongkan tubuhnya sedikit.


"Sall, kamu berhasil membuat keluarga ini kembali ceria. Tadinya aku pikir Mama dan Papa tidak akan bisa tertawa lagi setelah Sanchia meninggal. Mungkin kehamilan Nieva sedikit mengobati kepedihan Mama dan Papa, tapi belum berhasil mengembalikan senyuman di wajah mereka. Kamulah yang  berhasil melakukannya, kamu membawa Sanchia pulang, dan membuat semua orang bisa tertawa kembali. Thanks Bro.."


Kevin menepuk bahu Sall seraya tersenyum begitu tulus, tapi Sall justru tersenyum kecut menanggapinya.


"Aku tidak sehebat itu Bro.."


"Wah.. Calon kakak iparku memang rendah hati, hahaha..."


Dua kali lemparan bantal berhasil mengenai wajah Kevin yang kali ini memasang seringai jahilnya. Sall hanya geleng-geleng melihat tingkah Kevin yang cukup gila tapi menyenangkan. Sall seperti menemukan teman baru yang asyik dan suka bercanda. Jauh berbeda dengan Leon, sahabatnya dari kecil, yang meskipun begitu setia kawan tapi selalu bersikap kaku juga serius. Bahkan Leon tidak mau berhenti memanggilnya Tuan.


"Oh iya Sall.. Aku sangat penasaran tentang hal ini, bagaimana caramu membuat Sanchia jatuh cinta padamu? Dia kan galak dan jutek sekali. Aku tidak menyangka kamu bisa menaklukan Sanchia."


'Apa Sall tahu, kalau Sanchia adalah seorang Ketua Mafia? Seharusnya sebelum menikah, Sanchia mengatakan segalanya pada Sall. Aku takut Sall terkejut, jika suatu saat mengetahui kenyataannya.' Batin Kevin.


"Aku sudah mengetahui segalanya tentang Sanchia, tidak ada satu hal pun yang kami tutupi satu sama lain."


"Maksudmu, kamu sudah tahu kalau Sanchia adalah.."


"Seorang Ketua Mafia.."


Perkataan Sall sukses membuat Kevin ternganga, saking terkejutnya.


"Wah ternyata kamu sudah tahu, dan kamu tidak berniat untuk berubah pikiran kan? Apa kamu merasa takut dengan kehidupan Sanchia yang selalu berdekatan dengan bahaya dan orang-orang jahat?"


"Tidak, aku mengerti kehidupannya, dan aku bisa mempekerjakan banyak bodyguard untuk melindungi Sanchia."


"Tentu saja."


Sall menjawab singkat tanpa berniat menjelaskan keahlian beladirinya di hadapan Kevin.


'Aku bahkan sudah menguasai 11 ilmu bela diri..' Batin Sall.


Tok..Tok..Tok..


Terdengar ketukan di pintu kamar Sall yang tidak tertutup, sehingga Sall dan Kevin menolehkan kepalanya ke sumber suara.


"Boleh Papa masuk?"


"Silahkan masuk Pa.."


Papa Leonard masuk ke dalam kamar Sall, lalu duduk bersebelahan dengan Kevin.


"Sall, Papa ingin bertanya.. Apa kamu sudah siap untuk mengucap 2 kalimat syahadat?"


"Aku sudah siap Pa.."


Jawaban Sall terdengar sangat yakin, sehingga membuat senyum bahagia terulas di wajah Papa Leonard dan juga Kevin.


"Baiklah kalau begitu, Papa akan mengundang seorang Ulama untuk membimbingmu, malam ini juga."


"Malam ini Pa?"


"Iya, kenapa? Apa kamu keberatan?


"Tidak Pa..Lebih cepat lebih baik."


"Baguslah.. Bersiap-siaplah untuk nanti malam."


*************************


Malam yang sejuk, mendukung suasana haru di ruang tamu mansion Sanchia. Senyum dan tangis haru terpancar jelas dari wajah Sanchia yang  menatap penuh cinta ke arah Sall yang baru saja mengucap dua kalimat Syahadat. Moment bersejarah itu disaksikan langsung oleh Sanchia, Papa Leonard, Mama Annesya, Kevin, Nieva, Leon dan juga beberapa penghuni mansion. Sall dibimbing oleh seorang Ulama yang diminta khusus oleh Papa Leonard, sekaligus diminta menjadi Guru Sall dalam belajar agama.


Rencana Sall yang akan mengucapkan dua kalimat Syahadat, 2 hari menjelang pernikahan Sall dan sanchia, tiba-tiba dimajukan oleh Papa Leonard menjadi 4 hari sebelum pernikahan, agar Sall bisa lebih cepat belajar tentang agama Islam. Lagipula keadaan Sall pasca khitan, sudah terlihat membaik.


Terlihat jelas ekspresi lega dari wajah Sall yang kini sudah resmi memeluk agama yang sama dengan kekasihnya. Papa Leonard, Kevin dan Leon terlihat begitu sumringah, berbeda dengan Mama Annesya, Nieva dan tentunya Sanchia yang tidak dapat menghentikan tangis mereka sejak tadi.


Sall akui, pada awalnya, memang apa yang dia lakukan adalah demi menikahi Sanchia. Namun beberapa hari tinggal di mansion, membuatnya mengubah pola pikirnya. Kebersamaan dan kebiasaan keluarga Sanchia membuatnya ingin lebih belajar mendalami keyakinannya.Terlebih saat Sall tahu, kalau Papa Leonard dan Kevin pun adalah seorang mualaf. Sebelumnya mereka pun tidak percaya pada Tuhan, sama sepertinya. Papa Leonard dan Kevin memeluk Islam, pada awalnya hanya karena tuntutan yang harus dipenuhi, sebelum menikahi wanita pujaannya. Namun seiring berjalannya waktu, mereka menemukan ketenangan setelah mempelajari keyakinan baru mereka semakin dalam.


Sall merasa ada yang berbeda pada hatinya, saat  dua kali melihat Papa Leonard dan Kevin menjadi Imam saat shalat berjamaah di mushola yang terletak di lantai 2, dan cukup dekat dengan kamarnya. Terlebih saat Mama Annesya mencium tangan Papa Leonard setiap kali selesai shalat dan berdoa, sama halnya yang dilakukan Nieva pada Kevin. Sall berharap kelak bukan hanya punggung tangan Papa Leonard yang akan Sanchia cium setelah shalat, tapi juga punggung tangannya sebagai suami yang sah bagi Sanchia.


Sall menerima pelukan hangat dari Papa Leonard, Kevin dan Leon, yang memandang bahagia pada Sall yang juga tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Tatapan Sall mengarah pada Sanchia yang sejak tadi memandang moment sakral itu dengan senyuman dan tangis haru yang begitu jelas. Mereka hanya saling memandang dalam jarak yang cukup jauh, sampai Ulama yang merupakan tamu paling penting itu pulang, dan penghuni mansion kembali ke kamarnya masing-masing. Sall menghampiri Sanchia yang hendak menaiki tangga menuju kamar, dan menahan pergelangan tangan Sanchia, sehingga Sanchia menghentikan langkahnya seketika.


"Heh, jangan pegang-pegang, bukan mahram."


Tawa Sall lepas, setelah mendengar perkataan Sanchia yang menurutnya sangat lucu itu.


"Babe, bahkan kita sudah berpelukan, berciuman, ber.."


Sanchia langsung membekap mulut Sall, dengan sikap yang salah tingkah, lengkap dengan wajah berubah merah menahan malu. Sanchia menarik tangan Sall, lalu mengajaknya ke ruang TV yang terletak  di lantai 2, dan duduk bersebelahan di atas sofa.


"Kenapa harus keras-keras sih bicaranya? Kalau Papa dan Mama tahu, aku bisa di sidang. Padahal kamu yang sudah membuat diriku yang polos ini menjadi nakal."


"Lho, kenapa kamu jadi menyalahkanku Babe, kan kamu juga menikmatinya."


Lagi-lagi Sanchia membekap mulut Sall dengan gemas, namun Sall justru tertawa lepas meskipun tangan Sanchia menahan tawanya. Sanchia baru yakin untuk melepas bekapan tangannya, setelah tawa Sall benar-benar berhenti.


"Ini mulut, aku tutup pakai lakban saja ya, benar-benar menyebalkan."


Bibir Sanchia yang mengerucut, justru membuat Sall gemas. Ingin sekali Sall mengecup bibir itu dan menyesapnya dalam-dalam, tapi entah kenapa, hatinya seolah memintanya menahan diri.


"Babe..  Berhentilah memancingku. Aku tidak kuat kalau melihat bibirmu yang menggemaskan itu. Aku takut tidak bisa menahan diri untuk menciummu Babe."


Wajah Sanchia kembali memerah, kali ini Sanchia memilih memalingkan wajahnya demi menghindari tatapan mata Sall yang begitu intens. Sampai akhirnya terdengar seseorang memanggil nama Sanchia dengan nada penuh tanya yang begitu jelas.


"Sanchiaaa?"


Sall dan Sanchia menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan. Namun seseorang yang mereka lihat saat ini, cukup membuat wajah Sall dan Sanchia berubah pucat, dengan perasaan khawatir yang tidak dapat mereka sembunyikan.


"Sanchia.. Benarkah ini kamu?"


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


(IG : @zasnovia #staronadarknight)