The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 80 Negative Thinking



Waktu terus bergulir, hingga tanpa terasa usia kandungan Sanchia sudah menginjak 4 bulan. Sesuai janji Sanchia dan Sall pada Papa Leonard dan Mama Annesya, mereka tetap bertahan di Indonesia sampai usia kandungan Sanchia mencapai 4 bulan. Dan selama itu pula, Sall dan Sanchia mempersiapkan segala sesuatu untuk kepindahan mereka ke Inggris yang tinggal 3 hari lagi.


Sall dan Sanchia pun sudah selesai mengadakan syukuran pengajian 4 bulanan yang diadakan tadi siang di Panti Asuhan tempat Sanchia dan Sall bertemu dengan Shawn. Panti Asuhan yang sudah hampir selesai direnovasi dengan design yang begitu menakjubkan dari Sall itu, begitu hangat dan ramai dengan hadirnya keluarga, sahabat dan juga anak-anak Panti Asuhan yang terlihat sangat bersemangat dan bahagia mengikuti jalannya acara.


Rangkaian pengajian yang khusyu dan haru, ditutup dengan acara berbagi hadiah pada anak-anak Panti Asuhan. Senyum bahagia dan penuh syukur tidak sedikitpun luntur dari wajah semua orang yang hadir, bahkan sampai acara berakhir menjelang petang hari.


Sanchia berniat memanggil Sall untuk makan malam yang cukup terlambat, namun niatnya urung karena Sall terlihat tertidur dengan rambut setengah basah, setelah mandi dan shalat isya. Sanchia perlahan naik ke atas tempat tidur, mengelus lembut pipi Sall seraya mengulas senyum tipisnya. Sanchia paham kenapa Sall terlihat lelah, karena sepanjang acara tadi siang, Sall terus menerus menggendong Shawn.


Putra mereka yang sudah semakin bertambah berat itu, entah kenapa enggan duduk di dalam stroller-nya, digendong Sanchia atau yang lainnya. Shawn terlihat selalu ingin bersama Daddy-nya dan begitu semangat setiap kali anak-anak Panti Asuhan mendekati dan mengajaknya bercanda. Jadilah Sall harus kesana kemari mengikuti keinginan Shawn, karena jika tidak diikuti kemauannya, maka Shawn akan menangis dengan kencang.


'Honey, kamu adalah Daddy yang hebat. Seharian kamu menunjukan kesabaran kamu dalam menjaga dan menyenangkan Shawn. Kamu bahkan bermain bersama Shawn dan anak-anak Panti Asuhan. Sikapmu yang begitu lembut dan penyayang kepada mereka, membuatku semakin mencintaimu. Betapa aku bersyukur memiliki suami sehebat kamu. I love you, Honey.' Lirih Sanchia dalam hati.


Kecupan lembut Sanchia mendarat di kening Sall. Sanchia sudah berusaha untuk tidak membangunkan Sall, namun ternyata kecupan lembut itu cukup mengusik suaminya, yang kini mengembangkan senyum manisnya, meskipun dengan mata yang masih tertutup.


Tangan Sall yang melingkar di pinggang Sanchia dan menarik perlahan tubuh Sanchia agar semakin menempel ke tubuhnya, tentunya membuat Sanchia terkejut. Apalagi saat kedua netra Sall terbuka, dan menatap kedua mata Sanchia dengan tatapan teduhnya.


"Maafkan aku Honey, aku tidak bermaksud membangunkanmu."


"Tidak apa-apa Sweetheart. Tapi kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuatku terbangun."


Pandangan mata Sall yang jahil, mengundang senyum Sanchia yang memahami maksud dari suaminya itu.


"Baiklah. Tapi kita makan dulu ya."


"Tapi aku maunya makan kamu Sweetheart."


"Hmm, tapi aku dan baby kita sudah sangat lapar."


"Oh iya, maafkan aku Sweetheart."


Sall mengelus lembut perut Sanchia, lalu mengarahkan kepalanya untuk mencium perut Sanchia yang terlihat membesar.


"Maafkan Daddy ya Sayang. Kamu harus makan, agar sehat dan tumbuh dengan baik."


Sall kembali menciumi perut Sanchia, lalu mendudukan dirinya dan menggenggam tangan Sanchia.


"Sweetheart, aku ke kamar mandi dulu ya. Apa kamu mau duluan?"


"Tidak Honey, aku akan menunggumu saja."


"Baiklah.."


Sall beranjak menuruni tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Sementara Sanchia mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas, lalu mulai membuka social medianya yang sudah lama tidak dia lihat.


Tiba-tiba ponsel Sall yang berada di atas nakas bergetar, Sanchia melirik sekilas layar ponsel yang memperlihatkan sebagian pesan yang masuk ke ponsel suaminya itu. Chat tanpa nama dan berasal dari nomor luar negeri itu cukup membuat Sanchia penasaran. Sanchia langsung membuka pesan itu tanpa ragu, tidak peduli Sall akan marah atau tidak jika mengetahui Sanchia membuka ponselnya tanpa izin.


Sall, today i'll go to Indonesia. Don't forget your promise to me. See you soon Sall..


Sanchia mengerutkan keningnya, karena penasaran siapa pengirim chat itu. Emoticon mengedipkan mata di akhir kalimat, membuat Sanchia menduga kalau pengirimnya adalah seorang wanita, dan hal itu tentu membuat Sanchia curiga.


'Siapa dia? Kenapa dia mau datang ke Indonesia? Sall berjanji apa pada orang ini?' Tanya Sanchia dalam hati.


"Ah menyebalkan.."


Sanchia lalu menyimpan kembali ponsel Sall ke atas nakas dengan sedikit kasar, lalu pergi menuju ruang makan dengan perasaan kesal.


Beberapa saat kemudian, Sall memasuki ruang makan dan duduk di sebelah Sanchia yang sudah begitu lahap memakan menu makan malamnya.


"Sweetheart, ternyata kamu sudah makan duluan. Maaf ya kalau aku terlalu lama di kamar mandi."


Sanchia sama sekali tidak menjawab sepatah katapun, dan tetap fokus memasukan makanan ke dalam mulutnya dengan sangat lahap. Meskipun merasa heran dengan sikap Sanchia, Sall tidak menanyakan apapun pada Sanchia, dan lebih memilih menyantap menu makan malamnya seperti istrinya.


Lima menit kemudian, Sanchia meletakkan sendok serta garpunya di atas piring, lalu berdiri hendak meninggalkan meja makan. Namun tangan Sall refleks menahan tangan Sanchia, sehingga langkah Sanchia tertahan di tempatnya.


"Mau kemana Sweetheart? Kamu belum menghabiskan makananmu dan juga susunya. Apa kamu tidak mau menemaniku makan sampai selesai?"


Sanchia lalu menghempaskan tangan Sall lalu berjalan cepat menuju kamarnya, meninggalkan Sall yang hanya bisa menatap punggung Sanchia dengan mulut terbuka.


'Ada apa lagi ini? Apa salahku?' Rutuk Sall dalam hati.


Sall meletakkan sendok dan garpunya,  memilih mengejar Sanchia dibanding menghabiskan makan malamnya. Perasaan istrinya yang sedang hamil tentunya lebih penting saat ini, dan Sall tidak mau membuat mood Sanchia semakin buruk jika dia salah mengambil sikap.


Saat memasuki kamar, Sall melihat Sanchia sudah berbaring di atas tempat tidur dengan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut.


'Pasti ada sesuatu yang tidak beres, aku yakin ada sesuatu yang membuatmu marah padaku, Sweetheart.' Batin Sall.


Sall lalu naik ke atas tempat tidur, lalu ikut merebahkan dirinya di sebelah Sanchia.


"Sweetheart, kamu kenapa? Apa ada sikapku yang membuatmu marah?"


Tanpa menjawab, Sanchia memilih membalikkan badannya membelakangi Sall. Memang sikap Sanchia lebih terlihat kekanak-kanakan setelah hamil, tapi Sall berusaha lebih sabar menghadapinya, karena paham hal itu karena pengaruh dari kehamilan Sanchia.


"Sweetheart.. Tolong katakan apa yang mengganggu pikiranmu. Katakan agar aku mengerti apa salahku, jangan marah seperti ini!"


Sall mencoba membujuk istrinya dengan suaranya yang sangat lembut dan juga elusan di punggung istrinya.


"Sweetheart.. Buka selimutnya, kamu bisa sesak nafas kalau begitu. Aku buka ya."


Sall membalikkan tubuh Sanchia perlahan, lalu membuka selimut yang membungkus tubuh Sanchia dari bagian kepalanya. Tampaklah wajah Sanchia yang sembab seperti habis menangis, hal itu tentu membuat Sall khawatir dan panik.


"Sweetheart, kenapa kamu menangis? Ada apa sebenarnya? Apa kamu sakit?"


Tangis Sanchia yang sudah berhenti, kini malah lepas kembali. Sall menarik perlahan kepala Sanchia dan menyandarkannya di dadanya yang bidang. Pandangannya mengarah ke wajah Sanchia semakin terlihat basah dan memerah karena tangisannya.


"Sweetheart, ada apa ini? Tolong jangan membuatku semakin bingung, apa kamu sakit? Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu?"


Sanchia masih belum mau menjawab, dan Sall tidak berniat memaksa lebih jauh lagi, sehingga Sall hanya bisa mengelus lembut rambut dan punggung Sanchia agar perasaannya lebih tenang.


Beberapa menit kemudian, tangis Sanchia sudah berhenti. Sanchia memundurkan tubuhnya dan menatap wajah Sall, tidak peduli wajahnya yang basah karena air matanya.


Sall menghapus air mata Sanchia dengan jarinya, dan menciumi wajah Sanchia dengan kecupan-kecupan bibirnya.


"Aku hanya ingin tidur, tolong peluk aku, dan berjanjilah untuk tidak mengkhianatiku."


"Tentu saja aku tidak akan pernah mengkhianatimu Sweetheart. Percayalah padaku."


Sanchia mengangguk lemah tidak berniat menanggapi perkataan Sall padanya. Sall mengecup kening Sanchia yang kini kembali menyandarkan kepalanya di dada Sall. Sanchia lalu memejamkan matanya sampai akhirnya terlelap ke alam mimpi. Sementara Sall masih bertanya-tanya dalam hati, mengenai hal yang membuat Sanchia begitu sedih. Namun karena otaknya masih buntu, Sall memilih menyusul Sanchia ke alam mimpi dengan memejamkan matanya yang memang sudah begitu lelah.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Maaf ya aku baru bisa up lagi, karena sibuk di real life.


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight