
Sehari sebelum keberangkatan Sall dan Sanchia ke Inggris, keluarga dan beberapa sahabat sengaja berkumpul di mansion lama milik Sanchia yang kini ditempati kedua orangtuanya bersama dengan Nieva dan Kevin. Acara garden party sederhana menjadi pilihan Sall dan Sanchia untuk menjadi moment bercengkrama dengan keluarga dan para sahabat untuk yang terakhir kalinya sebelum mereka meninggalkan Indonesia.
Atmosfer haru begitu terasa di sepanjang acara. Papa Leonard, Mama Annesya dan Nieva bahkan tidak mau jauh dari Sanchia. Sesungguhnya mereka begitu berat melepas kepergian Sanchia ke Inggris, namun hal itu merupakan keputusan terbaik bagi Sanchia yang saat ini sudah menjadi istri dari Sall yang mempunyai kerajaan bisnis di Inggris. Terlebih Sanchia kini sedang mengandung, dan tidak bisa berjauhan dengan Sall, begitupun Sall yang selalu khawatir jika Sanchia jauh darinya.
Nieva terus memegang lengan Sanchia kemana pun Sanchia berjalan, seolah tidak ingin menyia-nyiakan waktunya bersama sang Kakak. Sanchia sesekali melepas tawanya melihat kelakuan Nieva yang terlihat kekanak-kanakan, begitu kontras dengan perutnya yang sudah membesar.
"Nieva, Kakak mau menemui anggota klan dulu, berhentilah menggelayut di lengan Kakak. Kamu tidak terlihat seperti calon ibu, hihihi.."
"Jangan meledekku, bahkan Kakak pun sama kekanak-kanakannya sepertiku."
Sanchia terkekeh geli mendengar perkataan Nieva, sesungguhnya Sanchia membenarkan perkataan adiknya itu, namun Sanchia tentu tidak mau mengakuinya. Sementara Sall dan Kevin hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat kelakuan kakak beradik itu.
Sanchia menghampiri beberapa orang kepercayaannya di klan Ble Asteri, diantaranya juga ada Kendra yang sudah resmi bergabung dengan klan sebagai Wakil Kevin. Tentu saja kesibukan Kevin sebagai Vice CEO di group perusahaan BR Company, membuat Kevin tidak bisa sepenuhnya mencurahkan waktunya untuk klan. Oleh karena itu, Sanchia meminta Kevin untuk mengangkat Kendra sebagai wakilnya. Tentunya setelah Sanchia menjelaskan kemampuan Kendra dihadapan seluruh anggota klan, dan disetujui oleh seluruh petinggi klan.
Lagi-lagi Mama Annesya terlihat meneteskan air mata saat melihat Sanchia yang sedang berpamitan pada beberapa orang kepercayaannya di Klan Ble Asteri. Kevin juga terlihat menerima beberapa wejangan dari Sanchia, kakak ipar sekaligus mantan Ketua Ble Asteri yang sudah dia gantikan posisinya selama beberapa bulan ini. Papa Leonard hanya bisa mengelus lembut bahu Mama Annesya, berusaha menenangkan istrinya yang terlihat tidak bisa menyembunyikan kesedihannya itu.
SallΒ menghampiri kedua mertuanya dan menggenggam sebelah tangan Mama Annesya. Mama Annesya berusaha tersenyum memandang sang menantu yang mengulas senyum tulusnya, meskipun air matanya masih saja turun tanpa diminta.
"Mama.. Tolong percayai Sall untuk menjaga dan melindungi Putri Mama. Sall berjanji akan selalu menghargai dan mencintai Sanchia sepenuh hati, selamanya, dan seumur hidup Sall, Ma.."
"Mama percaya, dan kamu harus membuktikan ucapan kamu seumur hidup kamu, Sall."
"Tentu saja Ma.." Mama Annesya menggenggam tangan Sall lebih erat, tidak lupa lengkungan di kedua sudutnya yang membuat Sall lega sekaligus bahagia.
"Sall.."
Panggilan Papa Leonard mengalihkan pandangan Sall dari Mama Annesya yang sudah bisa menghentikan tangisnya.
"Iya Pa.."
"Kami sudah begitu mempercayaimu, jangan pernah mengkhianati kepercayaan kami. Karena seorang laki-laki sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya."
"Aku berjanji Pa, Ma.. Aku akan menepati janjiku. Aku akan selalu membahagiakan Sanchia dan tidak akan pernah menyakitinya."
Seketika Papa Leonard dan Mama Annesya memeluk Sall dan meluapkan rasa haru mereka. Tentu saja adegan ini menarik perhatian Sanchia yang langsung mohon pamit pada orang-orang kepercayaannya, dan menghampiri kedua orangtua dan suaminya yang terlihat berpelukan. Sedangkan Nieva dan Kevin memilih membiarkan keempat orang kesayangan mereka itu untuk meluapkan perasaan mereka, Nieva dan Kevin menonton adegan haru itu sambil saling merangkul dengan netra yang sudah berkaca-kaca.
"Kenapa aku tidak diajak berpelukan?"
Papa Leonard dan Mama Annesya tertawa di sela-sela tangisnya, lalu menarik Sanchia ke dalam pelukan mereka bersama dengan Sall. Jadilah mereka berempat berpelukan seperti teletubbies.
Beberapa saat setelah tangis mereka reda, Sall mengajak Sanchia untuk menyambut tamu-tamunya yang baru saja datang. Beberapa orang pria bertubuh tegap dengan wajah khas Eropa, terlihat membungkukkan badannya di hadapan Sall dan Sanchia. Dilihat dari wajah dan perawakan mereka, Sanchia sudah bisa menebak, kalau orang-orang itu adalah anak buah Sall dari Inggris. Namun Sanchia masih belum paham maksud dari suaminya mendatangkan tambahan beberapa anak buahnya ke Indonesia.
"Sweetheart.. Mereka adalah orang-orang kepercayaanku yang sengaja aku datangkan untuk menjaga Papa, Mama, Nieva dan Kevin. Meskipun aku yakin, semua anggota klan-mu mampu menjaga keluarga kita dengan baik, tapi aku ingin memastikan keselamatan mereka juga."
Netra Sanchia berbinar mendengar perkataan suaminya yang tulus dan menenangkan. Sesungguhnya Sanchia begitu bersyukur memiliki suami yang tidak hanya mencintainya tapi juga menyayangi keluarganya juga.
"Terima kasih Honey."
Sanchia merangkul pinggang Sall yang langsung dihadiahi ciuman di puncak kepala Sanchia, tidak peduli dengan tatapan anak buahnya juga para tamu yang terarah padanya. Sall memang tidak pernah segan menunjukan kemesraannya pada Sanchia dihadapan orang lain.
"Hi.. Sorry, i'm late."
Seorang wanita berpakaian seksi terlihat berjalan tergesa-gesa menghampiri Sall. Tentu saja kehadiran wanita itu langsung memunculkan tanduk tak kasat mata di kepala Sanchia. Pandangan tajam Sanchia menghunus tepat di netra Sall yang sama sekali tidak merasa terancam. Sall malah sengaja mengulum senyum jahilnya, yang membuat Sanchia semakin geram.
"Sweetheart.. Inilah orang yang membuatmu penasaran, dialah yang kemarin mengirimiku pesan. Kenalkan, dia salah satu sahabat sekaligus orang kepercayaanku. Meskipun penampilannya seperti ini, tapi kemampuannya tidak usah diragukan lagi. Nanti dia yang akan melindungi Mama dan Papa, namanya Mar.."
"Mary. Just call me Mary.."
"Nama aslinya Marlon, Sweetheart."
Anak buah Sall semuanya tertawa, termasuk Leon dan Leroy yang baru saja ikut bergabung. Sedangkan Sanchia hanya bisa ternganga seraya memperhatikan sosok wanita dihadapannya dengan lebih teliti.
"Ah Sall, kenapa kamu mengatakan identitas asliku. Namaku Mary, bukan Marlon"
Marlon alias Mary menghentak-hentakkan kakinya karena kesal pada Sall yang malah membuka identitas aslinya di depan Sanchia. Padahal Marlon yakin, kalau Sanchia tidak mengetahui kalau Marlon adalah seorang laki-laki jika tidak diberitahu.
"Aku harus mengatakannya, karena chat-mu kemarin sudah mengancam pernikahanku. Aku tidak mau istriku salah paham padaku."
"Apa istrimu membaca chat dariku?"
Sall menganggukkan kepalanya, yang langsung dibalas tawa menggelegar dari semua orang. Sungguh berbeda dengan Sall, yang saat ini dihadiahi beberapa pukulan di lengannya oleh Sanchia.
"Ih kenapa harus dikatakan di depan banyak orang sih. Sungguh menyebalkan." Rutuk Sanchia.
"Tenang saja Sanchia, Marlon tidak akan merebut Sall, karena Marlon sudah menolak Sall dulu, hahaha.." Ujar Leon.
"Shut up.."
Leon terpaksa harus rela menerima pukulan Sall yang tidak terima dengan candaannya. Namun mulut jahilnya masih saja menahan tawanya yang hampir meledak.
"Tenang Sanchia, aku tidak akan mengganggu dan menggoda suamimu. Kami bersahabat sejak kecil, tidak mungkin aku tertarik padanya."
Marlon terlihat serius berusaha meyakinkan istri dari sahabatnya itu, namun Sall langsung menoyor dahi Marlon dengan cukup kencang.
"Heh kepedean.. Siapa juga yang akan tertarik padamu."
Marlon mengerucutkan bibirnya karena kesal, sehingga membuat semua orang tertawa melihatnya.
Tiba-tiba Sanchia dan Sall dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tidak mereka duga sama sekali. Sall menggenggam erat tangan Sanchia saat tamu tak diundang itu berjalan mendekat ke arahnya dan Sanchia.
Alrico.. Sosok yang sama sekali tidak Sall dan Sanchia duga akan hadir dalam acara perpisahan mereka. Leon dan Leroy tidak kalah terkejutnya melihat kedatangan Alrico, terlebih saat melihat seorang perempuan yang saat ini berdiri disamping Alrico seraya menggamit lengan Alrico dengan cukup posesif.
"Catherine.." Lirih Leon dan Leroy bersamaan, dengan menatap lekat wanita yang selama beberapa bulan ini mengisi hati dan pikiran mereka. Namun bukan hanya Leon dan Leroy, Catherine juga menunjukkan raut wajah terkejutnya, melihat dua pria yang sudah dia patahkan hatinya.
************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean π
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok π
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung π
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. π #staysafe #stayhealthy
Love u all.. β€β€β€β€οΈβ€
IG : @zasnovia #staronadarknight