The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 89 Who's The Real King?



Jangan lupa like & vote-nya ya, buat yang suka sama kisah Sanchia & Sall. Biar aku makin semangat menulisnya..🥰


*************************


KNIGHT GROUP COMPANY - LONDON, INGGRIS


Matahari di musim panas yang bersinar begitu terik, tidak membuat Sall menjauhkan dirinya dari jendela ruang kerja di holding company miliknya, netranya masih setia memandangi langit seraya menerawang pada sang istri yang jauh terpisah oleh benua dengannya. Rasa rindunya begitu kuat mengakar, meskipun Sall baru saja selesai melakukan video call dengan Sanchia yang baru selesai melakukan shalat maghrib di Indonesia sana.


Seminggu berlalu sejak kepulangan Sanchia ke Indonesia, dan selama itu pula hati Sall merasa tidak tenang berjauhan dengan Sanchia yang selalu terlihat sedih dan lebih banyak diam setiap kali Sall menghubunginya melalui video call. Memang kemarahan Sanchia sudah tidak lagi menghiasi wajahnya, dan hal itu membuat Sall cukup lega. Tapi entah kenapa, Sall merasa Sanchia seringkali memasang wajah sendu seolah penuh kecewa terhadapnya, dan setiap kali Sall bertanya "ada apa?", maka Sanchia akan tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya pelan.


Wajah Leon tiba-tiba muncul di hadapan Sall tanpa permisi, membuat Sall yang bahkan tidak menyadari kedatangan Leon, merasa terkejut melihat sahabat sekaligus asisten pribadinya itu.


"Leon bisakah kamu mengetuk pintu sebelum masuk?"


"Aku sudah melakukannya, tapi tidak ada jawaban yang menyuruh aku masuk, jadi aku masuk saja."


"Kalau aku tidak menjawab, maka kamu tidak boleh masuk."


Sall berjalan mendekat ke arah sofa dan mendudukkan dirinya di atas sofa seraya menyilangkan kedua tangan dan juga kakinya.


"Sall bukan waktunya mengomel, aku mau menyampaikan kabar buruk." Jelas Leon, ikut mendudukkan dirinya di hadapan Sall.


"Kabar buruk apa maksudmu?"


"Berdasarkan informasi yang berhasil aku dapatkan, sejak beberapa minggu yang lalu, ada beberapa klan kecil di Inggris yang bergabung untuk menyerang klan kita. Kejadian ini persis seperti kejadian sebelum kita berangkat ke Korea saat itu. Tapi kali ini jumlah klan yang bergabung lebih banyak, dan pastinya dengan jumlah anggota yang juga lebih banyak."


Sall bergeming selama beberapa detik setelah mendengar penjelasan Leon, sesungguhnya saat ini yang terpikirkan pertama kali oleh Sall adalah Sanchia. Sall berniat meralat permintaannya tadi terhadap Sanchia, yang meminta Sanchia agar cepat pulang ke London. Sall akan meminta Sanchia untuk tetap tinggal di Indonesia, sampai keadaan di Inggris benar-benar aman.


"2 jam lagi kumpulkan seluruh anggota klan di markas besar."


"Okay Sall.."


Leon segera keluar dari ruangan Sall, meninggalkan Sall yang segera menyambar ponselnya dan kembali menghubungi Sanchia melalui panggilan video call. Tidak sampai 1 menit menunggu, Sall akhirnya bisa kembali melihat wajah istrinya yang kali ini sedang berbaring bersama Shawn di atas tempat tidur.


"Hai anak hebatnya Daddy, kamu sedang bermain bersama Mommy ya? Sayang ya Daddy tidak bisa ikut bermain disana. Sementara kamu di Bandung dulu ya sama Mommy, jangan pulang dulu ke London."


"Kenapa Honey? Ada apa?"


"Keadaan sedang tidak aman Sweetheart. Ada beberapa klan yang bergabung untuk menyerang klan-ku."


"Lagi?" Raut cemas Sanchia tertangkap jelas oleh Sall.


"Iya Sweetheart..Dan sepertinya kali ini kekuatan mereka jauh lebih besar."


"Honey, apa kamu membutuhkan Leroy untuk membantumu disana?"


"Sebenarnya iya Sweetheart. Klan sedang membutuhkan Leroy kali ini."


"Baiklah, hubungi saja Leroy dan minta dia juga seluruh anak buahmu untuk segera berangkat ke London secepatnya."


"Leroy saja Sweetheart, biarkan semua pengawal tetap berada disana untuk menjaga kalian. Anak buahku disini sudah banyak."


"Tidak, disini ada anggota klan Ble Asteri yang menjagaku, tambahan 10 orang mungkin tidak berpengaruh banyak, tapi aku yakin mereka ingin bergabung denganmu untuk menjaga klan mereka."


"Kamu benar Sweetheart.. Baiklah, aku akan segera memberitahu Leroy soal hal ini. Hmm, aku sudah sangat merindukanmu Sweetheart, tapi kita justru harus berjauhan lebih lama lagi."


"Tidak apa Honey, selesaikan urusanmu. Aku doakan, semoga Allah selalu melindungi dan menjagamu dari segala sesuatu yang buruk."


'Apa mungkin Allah akan mengabulkan doamu, Sweetheart? Apa manusia hina sepertiku masih layak dilindungi?' Tanya Sall dalam hati.


"Honey, cepatlah hubungi Leroy.."


Perkataan Sanchia kembali menyadarkan Sall dari lamunan sesaatnya.


"Baiklah Sweetheart.. Aku hubungi Leroy dulu ya. I love you Sweetheart. Mmmuaaach..


"Me too.."


"Hmm, Sweetheart.. Bisakah kamu membalasnya dengan kata i love you too dan membalas ciumanku?"


Sanchia menggelengkan kepala menanggapi Sall yang memasang raut wajah penuh harap di layar ponselnya.


"I love you too, Honey. Mmuaach.."


*************************


MANSION NIEVA & KEVIN - BANDUNG, INDONESIA


Sanchia terlihat berada di ruang latihan beladiri  yang dulu sering dia gunakan untuk berlatih. Sesekali dipukul dan ditendangnya samsak yang tergantung di depannya dengan cukup bertenaga. Beruntung keadaannya sudah mulai pulih, dan badannya pun sudah tidak selemas beberapa hari yang lalu.


Baru 2 jam yang lalu, Leroy dan seluruh anak buah Sall berangkat ke airport untuk segera menuju London, tidak terkecuali Mary dan anak buah Sall yang selama ini menjaga Papa Leonard dan Mama Annesya. Sanchia-lah yang meminta mereka untuk ikut berangkat ke London, karena Sanchia ingin memastikan Sall mendapatkan kekuatan klan-nya secara maksimal dari orang-orang terbaiknya.


Alasan utama Sanchia, tentunya adalah khawatir akan keselamatan Sall. Sanchia bisa menebak, jika pertempuran ini benar terjadi, Sall-lah yang akan menjadi target utama musuh untuk dihabisi. Maka Sanchia ingin agar Sall dikelilingi oleh orang-orang yang bisa diandalkan.


Sanchia mengeluarkan ponsel dari saku celana jeans-nya dan memencet sebuah nama yang ada di ponselnya.


"Tolong aku, aku benar-benar butuh bantuanmu."


***************************


3 hari kemudian..


Sall sedang memimpin pertemuan besar dengan seluruh petinggi klan Toddester di Markas Besar. Semua orang kepercayaannya sudah berkumpul, termasuk Leroy dan Mary yang sudah tiba sejak 2 hari yang lalu di London. Sall menjelaskan secara detail beberapa rencana dan strategi yang akan mereka jalankan, jika musuh menyerang atau meminta mereka bertempur di suatu tempat. Tidak terkecuali semua jenis senjata dan peralatan yang akan mereka gunakan untuk mengalahkan musuh.


Sall pun memberikan kesempatan pada semua orang yang berada di ruang meeting itu untuk menyampaikan pendapat mereka. Sampai akhirnya pertemuan yang berlangsung selama lebih dari 4 jam itu berakhir dengan diputuskannya rencana yang benar-benar sempurna, lengkap dengan beberapa rencana cadangan yang sangat matang.


Sall segera keluar dari ruang meeting, dan berjalan menuju ruang kerjanya ditemani Leon. Berkali-kali mulutnya mengeluarkan umpatan, setiap kali panggilan video call dan panggilan teleponnya pada Sanchia, dibalas oleh operator yang mengatakan kalau nomor Sanchia sedang berada di luar jangkauan.


Sall memasuki ruang kerjanya dengan mendorong kasar pintu dan mendaratkan dirinya dengan kasar di atas sofa.


"Come on Sweetheart, where are you?" Sall bermonolog, namun perkataannya yang keras membuat Leon jengah, karena merasa sudah terbiasa dengan tingkah Sall yang selalu seperti ayam kehilangan induk, jika sedang rindu pada Sanchia.


"Leon, lacak keberadaan istriku!"


Tanpa menjawab, Leon segera duduk di atas sofa seraya mengeluarkan tab-nya, dan langsung sibuk mencari keberadaan istri dari sahabatnya itu.


"Sall.. Sanchia sudah tiba di London sejak kemarin."


"Apa? Tapi kenapa Sanchia belum pulang ke mansion? Kemana dia?"


Sall meremas kuat rambutnya seraya memikirkan kemana kira-kira Sanchia pergi.


"Leon cari terus keberadaan Sanchia sampai dapat, aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpanya."


Leon mengangguk cepat, dan kembali berkutat dengan tab-nya. Sementara Sall masih berusaha menghubungi istrinya melalui panggilan telepon. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal mengalihkan perhatian Sall.


Braakk..


Seketika Sall membanting ponselnya dengan penuh emosi, sesaat setelah melihat photo yang dikirimkan oleh nomor tidak dikenal itu. Darah Sall mendidih dengan rahang mengeras, dan tangan terkepal kuat. Mata Sall pun mulai panas dan perih, dadanya sesak mendapati kenyataan yang bahkan tidak pernah diduganya sama sekali. Terlebih saat membaca isi pesan dibawah photo itu, membuat Sall semakin emosi dan ingin membunuh Alrico saat ini juga.


Leon mengambil ponsel Sall yang teronggok di lantai, dan betapa terkejutnya Leon saat matanya menangkap jelas photo Sanchia yang terlihat sedang berciuman dengan Alrico yang memeluknya posesif dengan sebelah tangannya, dan sebelah tangan lainnya menahan tengkuk Sanchia, untuk memperdalam ciuman mereka.


Leon membaca isi pesan yang berada tepat di bawah photo, dan jelas menyiratkan tantangan itu.


"A queen is only destined to be with A King. And we'll see, which among us is the real King. (Seorang Ratu hanya ditakdirkan untuk bersama seorang Raja. Dan kita akan lihat, siapa diantara kita yang merupakan Raja yang sesungguhnya)."


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight