
BALLROOM HOTEL - BANDUNG INDONESIA
Langkah Sanchia yang terburu-buru seraya mendorong stroller Shawn, membuat Sall bergegas menghampiri Sanchia dengan langkah lebarnya. Bahkan Sall langsung mengeluarkan sapu tangannya untuk mengusap keringat yang terlihat membasahi pelipisnya.
"Kenapa Sweetheart?"
"Laki-laki itu ada disini."
"Siapa?"
"Nick, orang yang membunuh orangtua Shawn." Lirih Sanchia.
Sall sedikit menampakkan raut terkejutnya, lalu segera menggiring Sanchia agar kembali duduk di tempat semula.
"Ayo kita pulang Honey."
"Baiklah, aku akan pamit pada Bry dulu. Tidak enak rasanya kalau langsung pulang begitu saja."
Sall langsung menghampiri Bryllian yang terlihat sedang mengobrol seru dengan Daniel dan dua orang koleganya. Sall menepuk bahu Bryllian, lalu menganggukkan kepalanya tanda hormat sekaligus maaf pada kolega Bryllian yang dia ganggu keseruan mengobrolnya.
"Bry, sorry ganggu. Aku dan Sanchia pamit, maaf tidak bisa mengikuti pestanya sampai selesai."
"Wah kenapa Sall? Acara puncaknya bahkan belum dimulai." Protes Bryllian.
"Apa karena Shawn sudah lelah Sall?" Daniel ikut menimpali.
"Iya kamu benar Daniel. Shawn bahkan sudah tertidur di stroller-nya."
Bryllian tampak menganggukkan kepalanya, memahami alasan Sall untuk segera meninggalkan pestanya.
"Oh begitu. Tapi sebelumnya, aku kenalkan dulu ya dengan sahabat sekaligus partner bisnisku. Ini Rayyan G. Michael, sahabatku saat kuliah di Inggris dulu. Dia CEO perusahaan CV, salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Yang disebelahnya adalah Davino Roveis, sahabat sekaligus sekretaris pribadi Ray. Kenalkan Coldman, ini Sall Sherwyn Knight, sahabatku juga arsitek terkenal sekaligus CEO perusahaan properti di Inggris."
"Senang bertemu dengan anda Tuan Rayyan. Saya Sall Sherwyn Knight." Sall mengulurkan tangannya yang langsung dibalas uluran tangan Rayyan.
"Iya saya juga senang bertemu anda, Tuan Sall. Saya tidak menyangka bisa bertemu seorang arsitek hebat disini. Mungkin suatu saat, kita bisa bekerjasama ya."
"Tentu saja, jika memang ada kesempatan Tuan Rayyan. Tentu saya akan sangat senang, jika dapat bekerjasama dengan CEO sukses seperti anda." Sall dan Rayyan saling bertukar senyuman. Uluran tangan Sall, kini beralih pada laki-laki di sebelah Rayyan, dan disambut tanpa ragu.
"Hallo Tuan Davino, senang bertemu anda."
"Saya juga senang bertemu anda Tuan Sall, cukup panggil saya Davin."
"Baik Tuan Davin."
"Wah kalian formal sekali. Tapi aku yakin, jika kalian sudah lama saling mengenal, kalian bisa akrab dan bersahabat baik." Komentar Bryllian seraya menatap Sall, Rayyan dan Davin bergantian.
"Kesan pertama harus baik dan jaga image, masa langsung sok akrab." Sall menimpali komentar Bryllian seraya menyunggingkan senyum jahilnya, yang disambut tawa kecil oleh Rayyan, Davin dan juga Daniel.
"Sayang sekali kamu sedang buru-buru Sall, padahal kalau tidak, kita bisa mengobrol lebih lama dengan Ray."
Sall hanya tersenyum menanggapi perkataan Bryllian, sungguh sayang sekali bagi Sall melewatkan obrolan yang mungkin akan membuka kerjasama dan persahabatan baru. Namun saat ini ketenangan dan keselamatan istrinya adalah prioritas utama.
"Tapi Hyeong, aku juga harus segera pamit. Hyeong tahu kan kalau sekarang aku adalah Daddy dari dua bayi kembar, sama sepertimu. Jadi aku harus segera pulang untuk menemani istriku menjaga mereka."
"Oh iya benar, sekarang kamu sudah menjadi Daddy dari dua bayi menggemaskan, Baby Zeanra & Baby Rayner. Kamu harus bisa menjadi suami siaga untuk istrimu, Zuy. Sall juga sudah mempunyai bayi bernama Shawn, dan Sanchia istrinya sedang mengandung juga."
"Seru sekali topik obrolan kita, aku juga senang membahas bayi, pasti kita bisa berbagi saran tentang banyak hal. Tapi mohon maaf aku harus pamit."
"Ok Sall.."
Sall menyalami menyalami & memeluk Bry, Rayyan dan juga Daniel, diikuti Rayyan yang juga pamit pada Bryllian seraya menyalami & memeluk Bryllian juga Daniel.
"Baiklah.. Sall, Rayyan, hati-hati ya.."
Sall dan Rayyan tersenyum dan melambaikan tangan, lalu segera pergi ke arah yang berlawanan. Rayyan dan Davin langsung menuju pintu keluar ballroom hotel, sementara Sall menghampiri Sanchia, Shawn dan baby sitternya, sebelum akhirnya meninggalkan ballroom hotel dan pulang ke mansion mereka.
Sementara Bryllian dan Zivara kembali menyapa sahabat juga kolega yang baru saja datang di pesta mereka. Mengucapkan selamat datang, terima kasih, juga permohonan maaf sebelum mereka benar-benar meninggalkan Indonesia beberapa hari lagi.
*************************
MANSION SALL & SANCHIA - BANDUNG, INDONESIA
Lelapnya tidur Shawn di dalam box tidurnya, tidak membuat Sanchia tersenyum tenang seperti malam-malam sebelumnya. Bahkan gurat kekhawatiran itu semakin jelas terlihat di wajah cantiknya yang polos tanpa make-up. Kehadiran Sall yang masuk ke dalam kamar Shawn pun tidak disadari Sanchia, sampai akhirnya rangkulan hangat Sall di bahu Sanchia, kembali menarik pikiran Sanchia ke dunia nyata.
"Ayo kita tidur Sweetheart, kamu pasti lelah. Aku sudah meminta dua baby sitter untuk tidur disini malam ini. Ayo kita kembali ke kamar kita, Sweetheart."
"Aku merasa tidak bisa tenang Honey, aku takut sesuatu terjadi pada Shawn."
"Tenang Sweetheart, Shawn akan baik-baik saja. Nick bahkan tidak melihat Shawn. Kevin bilang, kalau Nick adalah CEO dari perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Bry. Mungkin ini kesempatan kita untuk bisa merebut kembali perusahaan milik keluarga Shawn, melalui Bry atau Daniel."
"Tidak.. Jangan mengusiknya, hal itu akan memancingnya untuk terus mencari keberadaan Shawn. Biarkan dia merasa menang."
"Tapi Sweetheart.."
"Aku hanya ingin kita hidup tenang dan bahagia bersama Shawn dan anak kita kelak. Meskipun Shawn kehilangan orangtuanya, tapi Shawn akan tetap mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari kita sebagai orangtuanya. Kita pun tidak perlu terburu-buru merebut kembali apa yang menjadi hak Shawn, karena jika memang rezekinya, maka semua akan kembali pada Shawn suatu saat nanti."
"Iya kamu benar Sweetheart. Tapi aku akan tetap memantau perusahaan Nick melalui Daniel dan Kevin. Mungkin saja aku punya kesempatan untuk mengakuisisi perusahaan itu."
"Iya Honey, tapi jangan sampai dia tahu tentangmu, apalagi Shawn."
"Tentu saja Sweetheart. Kamu tenang saja, apalagi hanya tinggal beberapa minggu lagi, kita akan pindah ke Inggris. Nick tidak akan bisa menemukan Shawn, Sweetheart."
"Iya kamu benar, Honey."
"Sekarang kita tidur, kamu harus mengistirahatkan tubuh dan pikiranmu, Sweetheart. Anak kita juga pasti sudah lelah."
Sanchia mengangguk pelan sementara Sall mengelus lembut perut Sanchia yang terhalang gaun tidur berbahan tipis. Sesaat kemudian Sall menggendong Sanchia menuju kamar pribadi mereka. Malam ini, Sall akan berusaha membuat Sanchia tertidur lelap dalam pelukannya, dan tidak akan membiarkan Sanchia terus terjaga dengan kekhawatirannya.
************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Mampir yuk ke novel Kakak Author Ananda Andin Angraini "Cintaku untuk Pengasuhku", kalau penasaran sama kisahnya Ray & Zuy, juga bayi kembar mereka. Dijamin ketagihan baca deh saking bagusnya.. 🤩
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight