
VILLA JAVIER - JEJU ISLAND
Waktu sudah menjelang siang, tapi Sanchia sama sekali tidak mau diobati lukanya dan tidak mau memakan makanan apapun yang disodorkan oleh para pelayan atas instruksi Javier. Sanchia benar-benar mengunci mulutnya, bukan hanya tidak ingin makan, tapi juga enggan berbicara sepatah katapun. Terlebih sudut bibirnya mulai membengkak karena tamparan Javier tadi pagi. Tawaran para pelayan untuk membuka ikatan tangan dan kakinya agar Sanchia bisa makan dengan leluasa, sama sekali tidak membuat Sanchia tertarik. Sanchia lebih memilih diam dan juga mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sakit karena perkelahian semalam, juga tambahan luka yang diberikan Javier.
Masih dalam keadaan tangan dan kaki terikat, Sanchia menyandarkan kepalanya yang pusing di atas bantal, air matanya perlahan menetes ke atas bantal, berharap Sall menyelamatkannya secepat mungkin. Meskipun Sanchia merasa sangat khawatir, kalau suaminya itu akan masuk ke dalam jebakan musuh-musuhnya kali ini. Tapi Sanchia percaya, kalau Sall adalah Ketua Klan Mafia kuat, yang punya begitu banyak cara untuk bisa menyelamatkannya.
**************************
HOTEL BRANDON - JEJU ISLAND
Sementara itu Sall sedang bersama Leroy dan Brandon di landasan helicopter yang berada di rooftop hotel milik Brandon, melihat 3 helicopter berjenis Stealth helicopter yang sangat canggih, super senyap suaranya dan tidak terdeteksi radar. Sehingga cocok digunakan untuk misi rahasia.
Dua helicopter diantaranya, memiliki kapasitas hanya untuk 4 orang awak, sedangkan 1 helicopter yang sejenis dengan Stealth Blackhawk Helicopter itu, akan menampung sekitar 15 orang anak buah Sall. Dan anak buah Sall yang tersisa, dibantu anak buah Brandon, akan berangkat lebih dulu menggunakan mobil. Jika memang tempat persembunyian orang-orang itu sudah ditemukan.
Sebenarnya Sall sudah begitu tidak sabar untuk menemukan Sanchia, tapi pencarian Sanchia oleh Kevin dan Leon, ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkan. Mereka sama sekali belum menemukan titik terang, meskipun Sall terakhir kali sudah menemukan beberapa lokasi yang dicurigai sebagai tempat persembunyian mereka di Jeju.
Sall yang baru saja kembali ke ruang khusus, tempat Leon dan Kevin bekerja mencari informasi, menghela nafas dengan begitu berat. Wajahnya terlihat suram dengan sesekali memfokuskan pandangannya pada laptop milik Leon dan juga Kevin, yang masih belum bisa menenangkan hatinya.
Akhirnya Sall mengganti bajunya lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah bangunan khusus yang berada di lantai 1 hotel Brandon. Hatinya yang kalut, butuh sekali ketenangan. Sehingga akhirnya dia memilih meminta petunjuk dan pertolongan dari Yang Maha Segalanya.
Sall membersihkan dirinya dengan berwudhu, sekaligus meresapi doa-doanya sebelum masuk ke dalam Mesjid untuk menunaikan kewajibannya shalat dzuhur.
Setelah selesai menunaikan shalatnya, Sall menundukan kepalanya, seolah memandangi sejadahnya. Namun sebenarnya, hatinya sedang memohon petunjuk dari Allah, untuk bisa menemukan keberadaan istrinya.
Tanpa bisa ditahan, air mata Sall lolos dari kelopak matanya, dan menetes membasahi sejadahnya. Entah kenapa, Sall merasa begitu rapuh saat ini. Sall begitu takut sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya, tapi Sall sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, sehingga Sall memilih menyerahkan semua urusannya pada Yang Maha Penolong.
'Ya Allah, aku memohon pada-Mu, tolong berikan petunjuk keberadaan istriku. Tolong lindungilah dia, dari kejahatan orang lain. Aku sungguh takut, sesuatu yang buruk akan menimpanya. Aku serahkan istri yang sangat aku sayangi pada-Mu, Ya Allah.. Karena hanya Engkaulah yang bisa menjaga dan melindungi istriku saat ini. Tolong berikan aku kekuatan dan kemampuan, untuk bisa menyelamatkan istriku, Ya Allah..' Doa Sall dalam hatinya yang tulus.
**************************
VILLA JAVIER - JEJU ISLAND
Sanchia hampir jatuh tertidur, saat tiba-tiba seorang laki-laki masuk dengan membawa 1 wadah berisi es batu dan juga tas perlengkapan P3K. Mata Sanchia memanas dan tanpa sadar mengeluarkan air matanya, saat netranya mengenali laki-laki yang tidak disangka keberadaannya itu.
"Alrico.. Ternyata kamu begitu tega padaku."
Seolah tidak peduli pada perkataan Sanchia, Alrico kini mendudukan dirinya di tepi tempat tidur, dan memandang wajah dan tubuh Sanchia yang terlihat mengenaskan dengan tatapan iba dan merasa bersalah. Berbeda halnya dengan Sanchia, yang menghunuskan tatapan super tajam pada laki-laki, yang masih Sanchia anggap sahabat terbaiknya itu.
Sanchia memalingkan wajahnya, saat Alrico hendak mengompres luka dan memar di wajah Sanchia dengan es batu.
"Maafkan aku Sanchia."
Suara Alrico terdengar begitu lirih, membuat Sanchia kembali menatap wajah Alrico dengan sangat tajam.
"Berhenti berpura-pura merasa bersalah, kamu benar-benar tega padaku Al.. Lepaskan aku, brengs*k!!!"
Tiba-tiba Alrico menundukan kepalanya, mencoba menyembunyikan air mata yang siap menerobos keluar, bukan hanya karena rasa sakit mendengar umpatan Sanchia, melainkan juga karena melihat keadaan Sanchia yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Tolong, biarkan aku mengobatimu kali ini saja. Setelah aku selesai mengobatimu, kamu boleh memukulku, memakiku dan melampiaskan semua kemarahanmu padaku, Chia."
Tidak ada satu patah katapun dari mulut Sanchia, dan Alrico menyimpulkan bahwa Sanchia tidak akan menolak apa yang akan dilakukannya. Tanpa membuang waktu, Alrico langsung membuka ikatan tangan dan kaki Sanchia.
"Jangan berpikir untuk kabur Chia. Tubuhmu sudah penuh luka dan memar. Aku tidak mau mereka menyakitimu lagi."
Alrico tidak menanggapi perkataan Sanchia sama sekali, tapi sesungguhnya Alrico mati-matian menahan tangisnya agar tidak menerobos keluar. Karena Alrico mengakui, memang perkataan Sanchia benar adanya. Dialah yang menyebabkan Sanchia terluka.
'Maafkan aku, aku melakukannya karena mencintaimu. Hanya sebentar lagi, aku akan membawamu pergi dari sini.' Tekad Alrico dalam hati.
Sanchia meregangkan tangan dan kakinya yang terikat dalam posisi yang sama dan dalam waktu yang lama. Kemudian Alrico mulai mengompres luka memar di wajah sanchia, dilanjutkan dengan mengobati luka-luka Sanchia.
"Jelaskan maksudmu, kenapa kamu bekerjasama dengan orang-orang brengs*k itu? Apa kamu benar-benar berniat menghancurkan Sall dengan menyakitiku?"
Alrico membenahi kembali perlengkapan P3K yang selesai digunakannya dan menyimpannya ke atas nakas, terlihat enggan menjawab pertanyaan dari Sanchia yang terdengar sangat menuntut.
"Jawab aku, brengs*k!!!"
Sanchia mencengkeram lengan Alrico, dan matanya menghunus tepat pada netra Alrico yang kini sudah tidak bisa menyembunyikan genangan air di kelopak matanya.
"Chia.. Apa aku memang tidak berhak bahagia?"
Pertanyaan Alrico disertai air mata yang jatuh di pipi Alrico, sukses membuat Sanchia terkejut dan melepas cengkeraman tangannya dari lengan Alrico.
"Apakah aku memang ditakdirkan untuk selalu menderita di seluruh hidupku, Chia? Ayahku seorang anggota mafia yang berbahaya, dan dia tewas saat melakukan kejahatan. Ibuku, bahkan meninggal saat aku belum bisa mengingat apapun. Aku sudah menjadi yatim piatu sejak aku masih kecil, dan dimasukan ke dalam panti asuhan. Lalu Bernardo mengambilku untuk dia jadikan budak, yang selalu dia tumbalkan untuk misi-misi berbahaya. Tapi aku menjalani semuanya dengan semangat, Chia. Aku selalu ceria, karena ada kamu."
Air mata mulai menggenang di kelopak mata Sanchia, karena Sanchia tahu pasti kalau kehidupan Alrico sangatlah berat dan pahit.
"Saat kita berumur 15 tahun, dan kamu dibawa oleh Om Leonard kembali ke Indonesia bersama Tante Annesya, hidupku hancur Chia. Bukan hanya Nieva yang frustasi karena ditinggal kalian, tapi aku juga. Aku menjaga dan melindungi Nieva seperti adikku sendiri, terlebih Nieva adalah adik dari perempuan yang aku cintai."
Kini, air mata Sanchia sudah lolos tanpa bisa dia tahan. Semua yang dikatakan Alrico membuatnya sedih, bersalah dan berterima kasih. Memang Alrico-lah yang menjaga Nieva bertahun-tahun di Spanyol, dan itu membuat Sanchia begitu bersyukur memiliki sahabat sebaik Alrico.
"Sejak di Senior High School sampai kuliah, aku selalu mendapat beasiswa. Kamu tahu kan kalau aku selalu jadi juara kelas bahkan sampai lulus kuliah pun, aku berhasil mendapat predikat lulusan terbaik. Tidak bisa kuhitung banyaknya tawaran pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar, bahkan orang-orang yang mengenalku sebagai anak buah Bernardo, banyak yang menawariku untuk bergabung dengan klan mereka, dengan posisi yang sangat tinggi. Tapi aku menolak semuanya, aku tidak mau meninggalkan Nieva sendiri, karena dia adalah adikmu."
Sanchia menggigit punggung tangannya sendiri untuk menahan suara isakan yang tidak mau berhenti, walau Sanchia menahannya begitu keras.
"Saat aku diberi misi untuk membunuh Kendrick J. Harrison yang sedang berada di Indonesia, aku begitu bahagia Chia. Karena akhirnya bisa bertemu denganmu. Aku pun tahu, Nieva mengikutiku karena tidak ingin aku mati dalam misi itu. Aku membiarkannya, seolah-olah tidak tahu kalau Nieva mengikutiku ke Indonesia. Aku ingin kita berkumpul kembali di Indonesia. Dan akhirnya kita benar-benar bisa berkumpul kan Chia. Aku memilih menjadi tangan kananmu, meskipun begitu banyak kesempatan besar yang aku lewatkan."
Alrico menarik tangan yang digigit Sanchia untuk menahan isak tangisnya. Diusapnya punggung tangan Sanchia yang basah karena air mata sekaligus air liur Sanchia tanpa merasa jijik.
"Jangan begitu, punggung tanganmu bisa berdarah. Aku tidak bisa melihatmu terluka. Karena aku sangat mencintaimu, Chia.."
*************************
Image Source : Instagram Toni Mahfud
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight