
Pemandangan butiran salju yang turun di luar jendela ruang tamu mansion, menjadi objek pandangan Sanchia menjelang tengah malam. Sebenarnya bukan pemandangan indah itu yang ingin dilihat Sanchia, tapi kedatangan suaminya yang sampai selarut ini masih belum juga tiba di mansion.
Beberapa jam yang lalu, Sall memang memberikan kabar pada Sanchia, kalau malam ini dia akan pulang larut karena pekerjaannya yang menumpuk. Bahkan Sall meminta Sanchia untuk tidak menunggunya dan tidur lebih dulu, tapi tentu saja Sanchia tidak bisa melalukannya.
Semenjak Leon diangkat menjadi Direktur Cabang di salah satu perusahaan milik Knight Group Company 3 tahun yang lalu, Sall menjadi sedikit kewalahan. Meskipun Sall sebagai CEO yang super sibuk memiliki beberapa Sekretaris di Perusahaan juga seorang Personal Assistant baru bernama Arthur untuk mengatur jadwal dan membantu pekerjaannya, tapi Sall belum sepenuhnya percaya pada Arthur. Padahal Leon-lah yang menseleksi Arthur yang merupakan anggota Toddestern terpercaya, untuk menjadi Personal Assistant Sall menggantikan dirinya. Namun Sall masih saja memiliki krisis kepercayaan pada orang lain. Hanya waktu dan loyalitas yang bisa membuktikan, kalau Arthur memang layak untuk Sall percaya.
Sall sebenarnya ingin Leon untuk menduduki tahta Vice CEO untuk mendampinginya, karena begitu percaya akan kemampuan Leon yang sudah teruji. Tapi Sall tetap saja memberi Leon jabatan sesuai dengan tahapan dan prosedur yang berlaku. Dimulai dari posisi General Manager, lalu diangkat menjadi Direktur Cabang setelah Leon menunjukkan kinerja yang begitu menonjol dalam membawa kemajuan bagi Knight Group Company. Sehingga Leon bisa menunjukkan kemampuannya bukan hanya pada Sall tapi juga jajaran management Knight Group Company.
Soal urusan klan pun tidak jauh berbeda, Sall tidak bisa sepenuhnya dibantu Leon yang sudah begitu sibuk dengan urusan perusahaan. Sall masih belum menemukan sosok setangguh dan seterpercaya Leroy dalam mengurus klan, meskipun begitu banyak orang kepercayaannya yang saat ini menangani urusan klan, menggantikan Leroy yang sudah resmi menjadi Ketua klan mafia terbesar di Perancis menggantikan mertuanya.
Bunyi klakson mobil Sall seketika mengubah wajah muram Sanchia menjadi sumringah, dibukanya pintu mansion lebar-lebar, tidak peduli angin dingin bergerak masuk membuat tubuhnya yang hanya terbungkus piyama menjadi sedikit menggigil.
"Sweetheart, kenapa kamu berdiri di depan pintu tanpa mantel? Aku kira kamu sudah tidur Sweetheart, aku kan sudah katakan jangan menungguku." Ujar Sall setelah menutup pintu, lalu merangkul lembut bahu Sanchia dan mendaratkan bibirnya di pelipis Sanchia. Keduanya berjalan santai menuju kamar mereka di lantai 2.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak tanpa pelukanmu Honey, aku juga khawatir kalau kamu belum pulang." Jawaban Sanchia yang sedikit manja, memancing lengkungan di kedua sudut bibir Sall. Tentu saja Sall sangat senang dengan jawaban jujur Sanchia itu.
"Aku juga tidak bisa tidur nyenyak jika tidak memelukmu Sweetheart. Kamu adalah guling paling nyaman untukku." Sanchia merengut dan mencubit Sall, karena menyamakannya dengan guling. Sementara Sall malah terkekeh geli melihat wajah istrinya yang sedikit kesal.
Sesampainya di kamar, Sanchia segera memasuki kamar mandi dan menyiapkan air hangat di dalam bathtub untuk Sall mandi.
Sall terlihat memejamkan matanya dengan posisi merebahkan diri di atas sofa, saat Sanchia keluar dari mandi. Perlahan Sanchia mendekat dan duduk dengan hati-hati di pinggir sofa, posisinya menghadap tepat ke arah Sall.
"Honey, bangunlah.. Mandi dulu, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Lirih Sanchia dengan tangan mengelus pelan lengan Sall yang menyilang. Sall perlahan membuka matanya yang terlihat merah karena rasa kantuk yang berat.
"Aku mengantuk sekali Sweetheart." Sall mengulurkan tangan yang segera disambut uluran tangan Sanchia.
"Sebentar saja, nanti kamu bisa meneruskan tidurmu setelah mandi dan makan malam."
"Aku sudah makan malam Sweetheart."
"Berarti hanya tinggal mandi saja, Honey." Sall menganggukkan kepalanya dengan mata yang kembali tertutup.
"Honey.. Jangan tidur lagi!" Sanchia menarik pelan tangan Sall, membuat Sall terpaksa membuka mata dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Baiklah, aku akan mandi sekarang Sweetheart." Sall menurunkan kakinya dari atas sofa, hendak beranjak menuju kamar mandi. Namun tiba-tiba Sall mengurungkan niatnya, lalu menatap Sanchia dengan tatapan menggodanya.
"Apa kamu mau menemaniku mandi, Sweetheart?" Tanya Sall penuh harap.
"Tidak, aku sudah mandi. Terlalu sering mandi, bisa membuatku masuk angin." Jawab Sanchia dengan santainya, lalu berjalan menuju tempat tidurnya untuk merebahkan diri. Sall mendengus pelan, berjalan dengan malas menuju kamar mandi. Sementara Sanchia terkikik geli memperhatikan suaminya yang terlihat cukup kesal.
Setelah mandi dan memakai piyama tidurnya, Sall segera menyusul masuk ke dalam selimut yang dipakai Sanchia. Keduanya saling memeluk dengan erat, berusaha mengusir rasa dingin yang mereka rasakan saat ini.
"Istirahatlah Honey, kamu pasti sangat lelah hari ini. Aku ingin mendengar kegiatanmu seharian ini, tapi kamu bisa menceritakannya besok saja. Sekarang lebih baik kamu tidur, Honey." Perkataan Sanchia disertai sentuhan lembut di pipi Sall, membuat senyuman Sall kembali terbit.
"Apa malam ini tidak ada kegiatan favorit yang akan kita lakukan Sweetheart?" Tanya Sall sedikit manja.
"Bukan aku tidak mau Honey, tapi tubuhmu perlu istirahat. Selama beberapa hari ini kamu selalu sibuk dan pulang malam. Tapi sepulangnya dari perusahaan, kamu selalu meminta berolahraga malam bersamaku. Apa kamu tidak lelah Honey?" Tanya Sanchia begitu penasaran.
"Tidak, justru sangat menyenangkan. Karena kamu adalah candu untukku." Nada suara Sall yang terdengar lirih namun berat, membuat Sanchia sedikit meremang.
"Jadi apa kita bisa melakukannya, Sweetheart?" Sanchia belum mengeluarkan sepatah katapun, tapi Sall segera memberikan kecupan lembut yang bertubi di wajah dan juga leher Sanchia. Sanchia yang sempat terbuai, berusaha menyadarkan dirinya agar Sall tidak terlalu jauh menggoda dirinya. Bagaimanapun juga, Sanchia tahu kalau Sall sudah begitu lelah karena pekerjaannya selama seharian ini. Sehingga Sanchia ingin Sall bisa beristirahat malam ini, tanpa kegiatan melelahkan lainnya.
"Honey.. Istirahatlah.. Besok kan weekend, kita akan melakukannya sepuas yang kamu mau." Bujuk Sanchia dengan suara seksi dan jari yang perlahan menyusuri bibir dan juga leher Sall.
"Baiklah, jangan ingkari janjimu Sweetheart." Sanchia mengangguk, lalu seketika dihadiahi ciuman lembut Sall yang cukup menuntut. Jika Sanchia tidak menghentikannya, Sall tentu saja akan melanjutkan adegan itu menjadi kegiatan favoritnya.
"Tidurlah Honey.." Sanchia mengelus lembut rambut Sall, lalu Sall membenamkan kepalanya di dada Sanchia dan mengendus aroma tubuh Sanchia seraya memeluknya dengan erat.
"Good night Sweetheart, I love you.."
"Good night Honey, I love you more.." Balas Sanchia.
Selang beberapa menit kemudian, nafas Sall terdengar sangat teratur, menandakan dia sudah terbang ke alam mimpi. Senyum Sanchia mengembang, karena akhirnya sang pangeran bisa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Sanchia pun memejamkan matanya, untuk menyusul Sall ke alam mimpi.
*************************
Dok..Dok..Dok..
Sall dan Sanchia dibuat terkejut dengan gedoran di pintu kamar mereka, pelukan erat pun seketika terlepas, keduanya mengubah posisinya menjadi duduk dengan ekspresi yang masih sangat mengantuk.
"Siapa?" Tanya Sall sedikit berteriak.
"Aku Shanaya, Dad.." Sanchia hendak beranjak turun dari tempat tidur, tapi Sall menahannya, lalu segera turun dari tempat tidur untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka, wajah Shanaya terlihat sembab seperti habis menangis, membuat Sall dan Sanchia begitu khawatir pada putri mereka itu.
"Ada apa my sunshine?" Sall segera menggendong Shanaya dan membawanya ke tempat tidur. Shanaya lalu memeluk Daddy dan Mommy-nya seraya menumpahkan air matanya.
"Ada apa Sayang?" Tangan Sanchia yang mengelus lembut puncak kepala Shanaya, berhasil menghentikan tangis Shanaya yang cukup keras.
"Aku ingin pergi ke Indonesia, Dad.. Mom.." Sall dan Sanchia saling berpandangan, lalu kembali mengarahkan wajah tanya mereka ke arah Shanaya.
"Kak Shawn selalu mengatakan kalau dia tidak terlalu suka musim dingin. Katanya di Indonesia tidak sedingin di London. Kak Shawn juga selalu bercerita soal Kota Bandung yang katanya begitu indah dan membuatnya nyaman. Aku ingin kesana, aku sama sekali tidak pernah ke Indonesia." Shanaya kembali menangis setelah mengungkapkan keinginannya.
"Kamu sudah pernah ke Indonesia, tapi saat itu kamu masih terlalu kecil untuk mengingat semuanya." Penjelasan Sanchia tidak cukup membuat Shanaya merasa puas.
"Sudah terlalu lama kita tidak pulang ke Indonesia. Meskipun Grandpa dan Grandma-mu seringkali berkunjung ke London. Hmm, baiklah minggu depan kita pulang ke Indonesia." Perkataan Sall bukan hanya mengejutkan Shanaya, tapi juga Sanchia yang mencari kepastian dari perkataan suaminya.
"Kamu serius Honey?"
"Aku serius Sweetheart, kita sudah terlalu sibuk selama 4 tahun ini. Project penting kita sudah tercapai dengan hasil yang memuaskan, tidak ada salahnya kita mengambil libur selama beberapa lama di Indonesia. Apa kamu setuju Sweetheart?"
"Tentu saja Honey, aku sudah sangat rindu dengan Indonesia." Shanaya yang mendengar obrolan kedua orangtuanya tentu sangat senang, karena keinginannya bisa terwujud.
"Aku senang sekali. Terima kasih Dad, Mom.." Ucap Shanaya lalu melabuhkan ciuman singkatnya di pipi kedua orangtuanya.
"Sama-sama Sayang." Jawab Sall dan Sanchia bersamaan.
Tiba-tiba pintu kamar yang tidak tertutup rapat itu terbuka, tanpa didahului ketukan terlebih dahulu. Menampakkan Shawn yang berjalan masuk dengan ekspresi datarnya.
"Kenapa Daddy, Mommy dan Shanaya terdengar sangat berisik dari luar?"
"Kak, kita akan pergi ke Indonesia minggu depan." Perkataan antusias Shanaya, membuat Shawn membelalakan matanya.
"Benarkah itu Dad, Mom?" Sall dan Sanchia menganggukkan kepala disertai mengulas senyum indahnya, membuat Shawn seketika menghambur ke dalam pelukan kedua orangtuanya.
"Thank you Dad, Mom.. Aku sangat senang mendengarnya." Ungkap Shawn.
"You are welcome Son.." Jawab Sall dan Sanchia, lalu memeluk Shawn dan Shanaya bersamaan.
*************************
Hai..Hai.. Alhamdulillah bisa up lagi di hari libur..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight