
Hai semuanya, terima kasih sudah mau menunggu kelanjutan kisah Sall dan Sanchia. Buat yang suka sama kisah mereka, jangan lupa comment, like & vote-nya ya.. Terima kasih semuanya..🤗
MARKAS BESAR TODDESTERN - LONDON, INGGRIS
Ruang kerja Sall yang berada di markas besar Klan Toddestern sudah terlihat bak kapal pecah. Semua barang sudah tidak berada pada tempatnya, karena menjadi sasaran amukan Sall. Leon pun hanya bisa berdiri tanpa bersuara melihat Boss sekaligus sahabatnya itu meluapkan kemarahan dan kekecewaannya setelah melihat photo Sanchia dan Alrico yang sedang berciuman.
Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka dan menampakkan wajah panik Leroy, yang kini semakin membulatkan matanya seraya membuka mulutnya karena terkejut.
"Sall, aku tidak tahu kenapa ruangan ini bisa sampai berantakan seperti ini, tapi aku harus menyampaikan kabar buruk padamu."
"Soal apa?"
"Aku mendapat kabar kalau markas kita yang ada di daerah Birmingham, diserang ratusan orang tidak dikenal. Perkiraan sekitar 200 orang.
"Shiiiiittt.. Akhirnya mereka menunjukkan taringnya. Kirim 500 pasukan ke Birmingham. Kirim juga bantuan masing-masing 300 orang ke markas-markas terdekat dari Birmingham, untuk mengantisipasi hal terburuk. Hubungi semua markas untuk memperketat keamanan, jangan sampai lengah. Aku akan menyusul menggunakan helikopter super senyapku."
"Siap Sall.."
Leroy segera keluar dari ruang kerja Sall dengan langkah yang tergesa-gesa. Sementara Sall berlanjut memberi instruksi pada Leon.
"Leon, pantau semua markas, dugaanku mereka bukan hanya akan menyerang satu cabang saja."
"Baik Sall."
Belum sempat Leon mengambil laptopnya, ponsel Leon berbunyi karena ada satu pesan yang masuk.
"Sall, kamu benar, markas kita di York dan Bristol diserang juga."
"Bast*rd.. Panggil Leroy, Marlon dan para petinggi di ruang meeting untuk meeting darurat, kita harus sebar pasukan kita untuk membantu anggota kita di markas cabang."
"Okay Sall.."
Tidak membutuhkan waktu lama, setelah semua orang kepercayaannya berkumpul di ruang meeting, Sall langsung memberikan instruksi agar masing-masing dari mereka memimpin pengamanan ke markas cabang. Untung saja secara teknis, rencana dan persiapan persenjataan mereka sudah sangat matang, hanya tinggal bergerak saja. Sehingga mereka bisa langsung bergerak ke markas cabang yang menjadi tanggung jawab mereka.
Sementara Sall dan Leon menunggu kabar, markas mana yang diserang oleh musuh yang paling banyak, agar mereka bisa meluncur ke markas yang paling membutuhkan bantuan. Anggota klan Markas Besar hanya ada sekitar 3000 orang, jauh lebih sedikit dari jumlah anggota di masing-masing markas cabang yang tersebar di lebih dari 50 kota di Inggris. Tapi anggota klan di Markas Besar rata-rata memiliki kemampuan beladiri yang jauh lebih baik daripada orang-orang di markas cabang, sehingga mereka sering kali dikirim untuk melindungi anggota klan di markas cabang.
Pengamanan di markas besar saat ini hanya dijaga oleh sekitar 100 orang anggota klan Toddestern, karena sebagian besar sudah menyebar untuk membantu semua anggota klan di markas cabang yang tersebar di seluruh kota di Inggris.
Selang beberapa 30 menit kemudian, alarm darurat di markas besar berbunyi, 2 orang petinggi klan menerobos masuk ke ruang kerja Sall dengan wajah panik. Salah satu diantaranya mendekat ke arah Sall.
"Young Master, this headquarter is being attacked by about 500 peoples. (Tuan Muda, Markas Besar diserang oleh sekitar 500 orang)."
"Shiiiiitt.. Tighten security, don't let them in. They deliberately attacked all branch bases simultaneously, to divide our power. I'm sure their main goal is to attack this headquarter. (Si*lan.. Perketat pengamanan, jangan biarkan mereka masuk. Mereka sengaja menyerang semua markas cabang bersamaan, untuk memecah kekuatan kita. Aku yakin tujuan utama mereka adalah menyerang markas besar ini)."
"Yes, Young Master. (Iya, Tuan Muda)."
Kedua petinggi itu langsung berlari keluar, sementara Leon langsung bersiap dengan rompi anti peluru, senjata laras pendek dan laras panjangnya, dengan mata yang tetap fokus pada laptop dihadapannya.
"Sall, mereka semua memakai topeng dan masker. Mereka berusaha menerobos masuk, dengan membobol sistem keamanan kita. Aku sudah memperketatnya, tapi aku tidak yakin kita bisa mengulur waktu berapa lama lagi, Sall."
Sall yang baru selesai memakai rompi anti peluru dibalik pakaiannya, dan memasukkan beberapa pistol di balik jas-nya, juga mengambil senjata laras panjangnya, langsung berjalan menuju pintu ruang kerjanya.
"Aku akan menghadapi mereka lebih dulu, sebelum mereka masuk."
Sall segera naik menuju rooftop Markas Besar diikuti Leon dan sekitar 30 orang sniper andalannya. Sementara anggotanya yang lain, sebagian besar berjaga di lantai 1 dan sisanya menyebar di semua lantai markas besar.
Dari rooftop Markas Besar, Sall dan sniper-sniper Toddestern membidik musuh-musuh yang tersebar di luar gerbang mansion, dan beberapa diantaranya sudah berhasil menerobos pengamanan gerbang mansion.
Peluru yang berasal dari senjata laras panjang yang canggih dan tanpa suara itu, mulai melesat dan melumpuhkan musuh-musuh yang menyerang di bawah sana. Dengan sekejap saja, jumlah musuh yang bergerak menyerang mulai berkurang, bahkan sampai hanya tersisa hampir setengahnya.
Namun sayangnya, pintu utama Markas Besar sudah berhasil diterobos, sehingga semua musuh bisa masuk ke dalam Markas Besar setelah melumpuhkan semua anggota klan yang ada di lantai 1.
"Brengs*k.. Leon, tetap disini, minta bantuan secepatnya."
"Iya Sall."
Sall segera turun ditemani 25 orang anak buahnya, 5 orang sisanya masih dengan tugasnya melumpuhkan musuh dari atas. Semua anak buah Sall, bukan hanya bersenjatakan senjata laras panjang dan laras pendek, tapi juga racun, granat dan senjata tajam berukuran kecil. Meskipun mereka kalah jumlah, tapi dari segi kemampuan, masing-masing dari mereka bisa menghadapi banyak musuh sekaligus.
Adu tembak sudah tidak bisa dielakkan lagi, saat Sall tiba di lantai 3, musuh sudah menguasai semua lantai dan melumpuhkan semua anggota klan yang tersisa. Bersama 25 orang kepercayaannya, Sall bertahan dan menyerang musuh sekuat tenaga. Pistol di balik jas-nya pun sudah dia gunakan bergantian untuk menghabisi musuhnya. Sesekali Sall menyuntikan racun pada musuh yang menyerang dalam jarak dekat.
Dor..Dor..Dor..
Sall dan anak buahnya mulai menyadari kalau target yang diincar musuh mereka adalah Sall, mereka menyerang Sall dengan begitu agresif, menembaki Sall yang sesekali berlindung di balik tiang dan dinding, juga berkali-kali berlari menyelamatkan diri dari berondongan peluru yang mengejarnya.
Dor..Dor..Dor..
"Eeeugh.." Ringis Sall, menahan suaranya.
Beberapa peluru yang berasal dari beberapa arah yang berbeda, berhasil melukai lengan Sall, membuat Sall seketika memaksa tubuhnya untuk bersembunyi di balik dinding. Sall menekan luka di lengannya seraya meringis kesakitan.
Suara derap langkah terdengar semakin dekat, pistol Sall sudah mengacung siap diarahkan ke arah musuh.
"Der Killer Ritter.. Keluarlah, jangan bersembunyi seperti pengecut."
Rahang Sall seketika mengeras, genggaman tangan Sall di pistolnya pun semakin erat. Tanpa pikir panjang, Sall segera keluar dari persembunyiannya, dan berdiri tepat di depan laki-laki bertopeng yang membuat emosinya memuncak. Sall tidak gentar, meskipun di belakang laki-laki itu masih ada lebih dari 100 orang musuh yang siap menghabisi Sall.
"Akhirnya kamu keluar juga, pengecut."
"Alrico.. Kamulah yang layak disebut pengecut."
"Hahaha.."
Laki-laki dihadapan Sall segera membuka topengnya, menampakkan seringai dan netra berkilat tajam ke arah Sall yang justru memasang ekspresi dingin. Alrico, laki-laki yang begitu dibenci Sall itu, terlihat tersenyum meremehkan ke arah Sall seraya memainkan pistol di tangannya.
" Aku kira kamu tidak akan mengenaliku. Bagaimana.. Sekarang saatnya kamu mengakui kalau akulah Raja yang sesungguhnya."
"Cih.. Jangan pernah bermimpi."
"Hahaha..Kamu masih saja sombong Der Killer Ritter, padahal nyawamu sudah berada di ujung tanduk. Katakan kalau kamu mengaku kalah, dan akulah Raja yang sesungguhnya."
"Sekalipun aku harus mati, aku tidak akan pernah melakukannya."
"Kalau begitu, terima saja kematianmu."
Alrico mengarahkan pistolnya tepat di dahi Sall, bersamaan dengan Sall yang juga mengarahkan pistolnya di dahi Alrico. Tentu saja anak buah Alrico segera mengangkat senjata mereka ke arah Sall, karena sudah mengancam keselamatan Boss mereka. Sudah dipastikan Sall akan menjadi sasaran ratusan peluru dari senjata anak buah Alrico, namun Sall sama sekali tidak terlihat gentar, bahkan ekspresi dingin dan datarnya sama sekali tidak berubah.
Sall dan Alrico saling menghunuskan tatapan tajam, sampai tiba-tiba terdengar suara tembakan yang melumpuhkan beberapa anak buah Alrico. Sall melihat Leon dan kelima anak buahnya yang tadi berada di rooftop, kini bergerak turun menuruni tangga. Tapi ternyata bukan hanya mereka yang menuruni tangga, dan juga keluar dari lift, tapi ada sekitar puluhan orang bertopeng yang ikut dalam adegan baku tembak itu.
'Siapa mereka?' Tanya Sall dalam hati.
Dor..Dor..Dor..
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Sall segera melesatkan tembakannya ke arah paha Alrico, di sela-sela adu tembak yang terjadi.
"Aaarrghh.. Si*alan kamu Sall."
Alrico dan anak buahnya kembali memberondong Sall, membuat Sall harus berkali-kali berlari dan menyembunyikan dirinya. Namun tiba-tiba beberapa tembakan yang berasal dari arah tangga, berhasil membuat Alrico kembali meringis kesakitan.
Tanpa komando, adu tembak itu seketika berhenti, saat seseorang bertopeng yang berhasil melesatkan tembakan ke lengan Alrico itu menuruni tangga dengan anggunnya. Orang itu mendekati Alrico, lalu tanpa ragu menempelkan ujung pistolnya tepat di dahi Alrico yang terlihat begitu terkejut. Sall pun bergerak mendekat, setelah menyadari siapa sosok bertopeng di hadapannya.
"Sweetheart..?"
"Chi.. Chia..?"
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight