The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 134 Hari Pertama di Tahun Baru



MANSION NIEVA & KEVIN - BANDUNG, INDONESIA


Moment tahun baru kali ini terasa lebih berkesan bagi Sall dan Sanchia, karena dirayakan cukup meriah bersama dengan keluarga dan juga para sahabat. Berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana Sall dan Sanchia sama sekali tidak mengadakan perayaan apapun, karena mereka sedang difokuskan pada kehadiran Shawn yang tiba-tiba di hidup mereka.


Malam tahun baru Sall, Sanchia beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, diisi makan malam yang hangat di ruang keluarga lantai 1 yang mengarah ke taman samping mansion. Sementara para pelayan, pengawal dan penghuni mansion yang lain menikmati hidangan special sekaligus acara hiburan yang meriah di aula mansion. Rencana awal untuk mengadakan acara di taman mansion, terpaksa harus dibatalkan karena cuaca yang tidak mendukung karena gerimis yang turun sejak petang tadi.


Selesai makan malam, Sall, Sanchia beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya memilih melanjutkan obrolan mereka di ruang keluarga yang sudah dihias dekorasi tahun baru, sampai tiba waktu pergantian tahun nanti.


Papa Leonard, Mama Annesya serta Tuan Juan dan Nyonya Larisa bertukar cerita tentang kisah masa muda mereka dulu. Leon, Leandra, Leroy dan Leticia sesekali mendapat pertanyaan tentang kelanjutan kisah mereka dari Sall, Sanchia, Nieva, Kevin, bahkan Zivara dan Bryllian.


Senda gurau tidak henti memancing senyum tawa di wajah Sall, Sanchia, juga keluarga dan sahabat mereka. Terlebih ulah Shawn, Bradley, Briley yang mengajak Shanaya bermain di strollernya, membuat senyum di wajah-wajah dewasa disekitarnya semakin mengembang.


"Hai adik bayi, ayo senyum lagi buat Kakak.." Bradley mengelus-elus pelan pipi Shanaya, memancing senyum dan gelak tawa dari mulut mungil Shanaya.


"Cantiknya adik bayi, kalau tersenyum.." Briley mengangguk setuju dengan perkataan Bradley. Lalu Briley mengulurkan jari telunjuknya ke arah tangan Shanaya, dan tiba-tiba Shanaya langsung menggenggam tangan Briley dengan erat.


"Wah adik bayi menggenggam tangan Briley.." Bradley tampak takjub karena genggaman Shanaya begitu kuat, begitupun Briley yang menggerak-gerakan jari telunjuknya yang dipegang Shanaya ke kiri dan kanan, membuat bayi cantik itu tergelak karena merasa senang.


"Sepertinya aku sudah mempunyai calon menantu untuk anakku." Ujar Bryllian, yang disambut senyuman orang-orang disekitarnya.


"Siapapun yang ingin menjadi pendamping anakku, harus bisa melewati ujian ketat dariku." Balas Sall sedatar mungkin.


"Hah, calon mertua kejam.. Kasihan sekali kamu Son.." Keluhan Bryllian yang terdengar memelas itu, justru dibalas tawa semua orang.


Shawn yang sedari tadi hanya memperhatikan tingkah si kembar dan adik bayinya, kini mendekat dan melepas pelan genggaman tangan Shanaya dari jari telunjuk Briley. Namun seolah tidak terima dengan tindakan sang kakak, tiba-tiba Shanaya menangis keras seraya menjulurkan kedua tangannya ke udara.


"Aduh Shawn kenapa genggaman tangan adik dilepas. Adik jadi kesal tuh." Ujar Sanchia seraya mendekat dan menggendong Shanaya. Sementara Shawn hanya mengangkat bahu serta memasang wajah tanpa dosanya.


"Shawn.. Sebelum melakukan sesuatu, coba berbicara dengan adik dulu. Tidak boleh melepas genggaman tangan adik dengan paksa ya." Shawn menganggukkan kepala ke arah sang Daddy yang menasehatinya.


"Hmm, anak kita sepertinya harus bisa menaklukan dulu pawangnya, sebelum bisa mendapatkan calon menantu idaman kita itu." Ujar Zivara tidak lepas memandang Shawn dan juga kedua putra kembarnya dengan senyuman manisnya.


"Iya kamu benar Sayang, Shawn terlihat begitu protektif pada Shanaya." Balas Bryllian, ikut tersenyum lalu merangkul lembut bahu Zivara.


*********************************


Hari pertama di tahun yang baru, semua penghuni mansion Nieva dan Kevin, bangun di pagi hari dengan semangat baru. Namun setelah sarapan bersama, semuanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Lebih tepatnya sibuk dengan pasangan mereka masing-masing.


Di taman belakang mansion, Leon tampak berjalan-jalan bersama Leandra. Keduanya saling berpegangan tangan dengan senyum yang tidak luntur dari wajah mereka.


"Sweetie, aku begitu bahagia karena kedua orangtuamu sudah merestui hubungan kita berdua. Tapi apa kamu akan tetap dengan keputusanmu Sweetie?" Leandra menatap dalam netra Leon yang menatapnya penuh tanya dan harap.


"Maafkan aku, tapi Mama tidak mengizinkanku menikah, sebelum Kak Leticia menikah."


Leon mengalihkan pandangannya ke arah taman bunga yang berwarna-warni, tidak ingin menunjukkan raut wajah kecewanya di hadapan Leandra.


"Apa kamu kecewa?" Leandra menyentuh lembut pipi Leon, berharap Leon akan kembali menatapnya. Namun Leon seperti masih enggan, dan terus saja menghindari tatapan Leandra.


"Sejujurnya aku sangat kecewa, tapi aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Mungkin jalan satu-satunya, kita harus mendorong Leroy dan Leticia untuk segera menikah. Agar kita bisa segera menyusul mereka."


"Baiklah, kamu suruh Leroy untuk segera melamar Kak Leticia, dan aku akan membujuk Kak Leticia untuk menerima lamaran Leroy." Leon seketika mengalihkan pandangannya pada Leandra.


"Benarkah kamu mau melakukannya, Sweetie?" Anggukkan Leandra menarik lengkungan di kedua sudut bibir Leon. Tangannya memegang lembut pinggang Leandra.


"I love you Leandra.." Leandra mengalungkan kedua tangannya di leher Leon.



"I love you too, Leon.." Ciuman lembut Leon mendarat di bibir Leandra, yang langsung membalas ciumannya dengan sama lembutnya.


*************************


Sementara itu di rooftop mansion Nieva dan Kevin, Leroy dan dan Leticia terlihat sedang berbicara serius tentang hubungan mereka. Ekspresi sendu, ragu, penuh harap bahkan kesedihan silih berganti di wajah Leroy dan Leticia.


"Aku sama sekali tidak meragukan ketulusanmu Leroy. Tapi sebuah pernikahan bukanlah hal yang main-main. Kita baru saja saling mengenal, rasanya sebuah pernikahan terlalu cepat untuk menjadi topik pembahasan."


"Leticia, aku paham, kamu masih trauma karena kegagalan rencana pernikahanmu dulu. Tapi aku bukanlah Nick. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu, karena aku benar-benar mencintaimu, Leticia." Leticia menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Leroy yang menuntut balasan.


"Leticia..?" Sejurus kemudian, Leticia memandang kembali wajah Leroy yang berubah sendu.


"Leroy.. Aku juga ingin menciptakan kebahagiaan bersama laki-laki yang aku cintai. Tapi hatiku begitu ragu.." Wajah Leticia semakin sendu.


"Apa kamu tidak mencintaiku, Leticia?" Tanya Leroy penuh penekanan.


"Aku.. Aku mencintaimu Leroy.."


"Jika perasaanmu sama denganku, jangan biarkan hal lain membuatku ragu." Tatapan Leroy semakin dalam menghujam netra Leticia, hingga Leticia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.


Leroy menarik pelan kedua tangannya dari tangan Leticia, pandangannya yang sendu semakin terlihat sedih. Rasa kecewa Leroy tertangkap jelas oleh Leticia, hatinya jelas merasa bersalah, karena sesungguhnya Leticia tidak bermaksud membuat hati Leroy kecewa.


"Baiklah Leticia, aku akan memberikanmu waktu. Nanti malam, aku sudah harus kembali ke London, kamu pun akan kembali ke Paris. Semoga waktu dan jarak bisa meyakinkan perasaanmu." Leroy berdiri dari duduknya, lalu membalikkan badannya hendak turun lebih dulu.


"Leroy.. Tolong jangan seperti ini. Aku sungguh tidak mau jauh dari kamu, aku sungguh mencintaimu Leroy.."


Leroy membalikkan badannya seraya mengulas senyum tampannya yang terlihat tulus.


"Aku bahagia mendengarnya, ayo kita biarkan jarak dan waktu menguji perasaan kita."


"Tidak.. Aku takut kehilangan kamu. Aku.. Aku mau menikah denganmu." Seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Leroy terlihat mengerutkan kening lalu menghampiri dan memegang kedua bahu Leticia.


"Apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan, Leticia?" Leticia mantap menganggukkan kepalanya, menarik senyuman di kedua sudut bibir Leroy, yang langsung memeluk erat Leticia. Sesaat kemudian, Leroy mendudukkan Leticia kembali di tempat duduknya.


Binar bahagia terpampang jelas di wajah Leroy dan Leticia yang saling menatap penuh cinta. Hingga tiba-tiba Leroy mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berukuran mungil di hadapan Leticia. Tidak membiarkan Leticia bertanya-tanya lebih lama lagi, Leroy segera membuka kotak yang menampakkan sebuah cincin bermata berlian yang sangat indah.



"Will you marry me?" Leticia menutup mulut dengan punggung tangannya, sebelum menjawab pertanyaan Leroy.


"Yes.. I will.." Tanpa membuang waktu, Leroy mencondongkan tubuhnya, lalu mendaratkan bibirnya di bibir ranum Leticia. Meluapkan rasa cinta dan bahagia karena Leticia bersedia menjadi istrinya.


************************


Image Source : IG Kevin Lutolf & Mariano Divaio


Eps kali ini khusus keuwuan 4L ya.. Next eps bakalan full keuwuan dari Sanchia & Sall lagi 🥰


HAPPY NEW YEAR.. SELAMAT TAHUN BARU SEMUANYA.. 🤗🥰


Semoga Tahun 2022 menjadi tahun penuh suka cita bagi kita semua. Yang dipenuhi keberkahan, kesehatan, kesuksesan, kebahagian dan tercapainya segala mimpi dan niat baik kita semuanya. Aamiin..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight