The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 101 Goyah



MANSION NIEVA & KEVIN


Dua pasang mata berwarna gelap itu saling menatap selama beberapa detik, sampai akhirnya Sanchia memecah kebisuan diantara mereka, karena merasa tidak sabar untuk mendengar apa yang ingin dikatakan Satya padanya.


"Satya, bicaralah.."


Satya yang sesungguhnya sedang mengagumi wajah Sanchia yang terlihat semakin cantik itu, sedikit tergagap mendengar perkataan Sanchia yang terkesan tidak sabar.


"Aku ingin tahu, apakah mansion ini memiliki detail yang sama dengan mansion-ku? Aku baru tahu kalau mansion yang kamu design itu, ternyata memiliki beberapa ruang rahasia. Aku sampai terkejut saat pertama kali mengetahuinya."


"Syukurlah, kalau akhirnya kamu menemukan ruangan-ruangan rahasia itu. Kamu bisa menggunakannya saat diperlukan."


"Iya Sanchia.. Sejujurnya aku begitu terikat dengan mansion itu, kamu pun begitu kan dengan mansion ini?"


"Aku sudah memberikan mansion ini pada Nieva."


"Benarkah? Aku kira mansion ini adalah mansion impianmu juga, yang tidak akan kamu berikan pada siapapun."


"Aku sudah memiliki mansion impian yang diberikan oleh suamiku."


"Hmm.." Satya menganggukkan kepalanya, sedikit tidak rela untuk menanggapi perkataan Sanchia sebelumnya.


"Sanchia.."


"Hmm?" Sanchia mengernyitkan keningnya, mempertanyakan kelanjutan pertanyaan yang dilontarkan oleh Satya.


"Apa kamu bahagia?"


"Sangat.." Entah kenapa, dada Satya terasa sesak saat mendengar jawaban singkat Sanchia yang begitu tegas dan meyakinkan.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu tahu Satya? Apa maksudmu sebenarnya?"


"Aku menemukan sebuah diary di ruang kerja rahasia yang terletak di bawah tanah."


Deg..


Tanpa sadar, Sanchia membelalakkan matanya saking terkejutnya. Sanchia yakin kalau diary yang ditemukan Satya memanglah miliknya.


"Aku yakin diary itu milikmu.. Disana jelas tertulis kalau diary itu ditulis sekitar 9-10 tahun yang lalu. "


"Apa kamu membacanya?" Tanya Sanchia dengan wajah harap-harap cemas.


"Ya.. Aku membaca semuanya."


Sanchia menutup mulutnya dengan punggung tangannya, tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya karena jawaban Satya yang begitu gamblang. Namun sesaat kemudian, tawa Sanchia pecah begitu saja tanpa bisa ditahan.


"Kenapa kamu tertawa seperti itu?" Satya menatap Sanchia penuh tanya.


"Isi diary-ku itu sangatlah norak. Biasalah remaja labil yang selalu menyikapi segala sesuatunya begitu berlebihan, hahaha.."


"Maksudmu?"


"Jangan terlalu serius menanggapi isi diary-ku itu, semua yang tertulis di dalamnya ditulis oleh seorang remaja yang masih begitu kekanak-kanakan."


"Termasuk tentang perasaan cintamu padaku?"


Deg..


Lidah Sanchia kelu, tidak mampu menjawab apa yang ditanyakan Satya padanya. Sedangkan tatapan Satya masih menuntut sebuah jawaban jujur dari mulut Sanchia.


Tiba-tiba tawa Sanchia kembali lepas, bahkan kali ini sudut matanya sudah basah oleh air mata seraya memegangi perutnya karena merasa lucu.


"Satya, tidak usah mempercayai apa yang ditulis seorang remaja yang labil seperti itu. Saat itu aku begitu bersyukur atas kebaikan yang dilakukan Om Hans padaku dan keluargaku. Aku juga masih ingat persahabatan kita saat masih kecil dulu, dan aku sering merindukan saat-saat itu. Sehingga tanpa aku sadari, aku salah mengartikan rasa terima kasih dan rinduku pada kamu sebagai cinta."


Kerutan di kening Satya jelas menunjukkan rasa tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Sanchia. Namun tidak ada pertanyaan ataupun sanggahan yang Satya utarakan. Satya hanya berusaha menelisik kejujuran dari raut wajah Sanchia.


"Tolong kembalikan diary-ku. Meskipun isinya sangat norak dan aku tidak memerlukannya, tapi bukan hal yang tepat, jika diary-ku ada padamu."


Satya masih bergeming, menatap dalam netra Sanchia yang sedang berusaha menutupi perasaannya. Sesungguhnya Sanchia tidak ingin mengakui perasaannya yang sempat mencintai Satya dulu, karena hal itu tidak bisa mengubah apapun.


"Baiklah, sepertinya pembicaraan kita cukup sampai disini. Bukankah niat awalmu untuk minta maaf? Dan aku sudah memaafkanmu.. Meskipun aku cukup merasa tersinggung dengan perkataanmu pada suamiku. Aku pamit ke dalam, sepertinya aku harus mengajak anakku bermain."


Tanpa menunggu tanggapan dari Satya, Sanchia berdiri dari duduknya. Namun perkataan Satya mengurungkan niatnya.


"Aku tidak percaya kamu meninggal, bahkan saat jenazah yang mirip denganmu sedang kami kuburkan, aku tetap percaya kalau kamu masih hidup. Aku terus berusaha mencari petunjuk tentang keberadaanmu. Hari-hariku berubah, aku berusaha hidup seperti biasa, tapi ada yang berbeda dengan hatiku."


Sanchia memicingkan matanya, masih belum berani menyimpulkan apa yang terjadi pada Satya. Sanchia memilih menunggu Satya meneruskan ceritanya.


"Aku sungguh kehilangan kamu Sanchia.. Tapi tiba-tiba aku mendengar kamu masih hidup dan akan menikah dengan Sall Sherwyn Knight, seorang arsitek dan pengusaha besar dari Inggris. Perasaanku bahagia karena kamu masih hidup, tapi.. Entah kenapa hatiku terasa sesak mengetahui kamu akan menikah."


"Satya tolong jangan berputar-putar, aku tidak mengerti apa yang ingin kamu katakan." Sanchia terlihat sangat tidak sabar.


"Cukup dengarkan aku Sanchia, aku benar-benar ingin kamu tahu apa yang aku rasakan."


Dengan melipat kedua tangan di dada, Sanchia menganggukkan kepalanya, mengizinkan Satya untuk melanjutkan ceritanya.


"Saat mengetahui kalau suamimu adalah Der Killer Ritter sekaligus orang yang sudah menculikmu dan memalsukan kematianmu, aku sangat marah. Tapi Daddy melarangku menemuimu, padahal aku begitu ingin membawamu pergi darinya. Aku.. Aku tidak rela kamu bersamanya."


"Apa maksudmu?" Raut tidak suka terlihat jelas di wajah Sanchia.


"Sanchia, aku mencintaimu.."


"Gila.. Kamu akan menikah Satya, dan kamu datang mengatakan kalau kamu mencintaiku?"


"Maafkan aku, yang baru menyadari perasaanku setelah kamu pergi. Saat itu aku begitu bodoh, karena tidak peka dengan semua perhatian dan kepedulianmu padaku."


"Satya, tolong jangan salah paham dengan apa yang aku lakukan dulu, apalagi saat ini aku sudah menikah. Jangan berkata hal yang tidak penting Satya. Jangan sampai kamu membuat hati calon istrimu terluka. Kamu bahkan rela meninggalkan dunia mafia demi calon istrimu, tapi sekarang kamu bilang mencintaiku? Hah gila.." Seringai tipis terulas di wajah Sanchia yang cantik, namun hal itu tidak menyurutkan Satya untuk tetap meluapkan perasaannya.


"Aku menyesali semua keputusanku.. Aku menyesal meninggalkan klan. Setelah aku melihat kehidupan pernikahanmu, aku baru menyadari kalau kamulah orang yang tepat untuk mendampingiku. Seseorang yang mencintaiku dan bisa mendukungku untuk tetap menjadi diriku sendiri."


Sanchia beranjak dari duduknya, dan berdiri dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Satya.


"Kamu sudah memilih calon istrimu, dan rela melepas duniamu demi dia. Sekarang jangan libatkan aku, dan jangan masukan aku dalam kisahmu. Karena aku bukanlah pilihan."


Dengan langkah mantap, Sanchia meninggalkan Satya yang meremas rambutnya dengan kasar. Sementara seseorang yang sejak tadi tidak lepas mengawasi interaksi Sanchia dan Satya, segera beranjak menghampiri Sanchia yang berjalan masuk ke dalam mansion.


*************************


PRIVATE JET


Sanchia memandangi deretan awan putih dari jendela pesawat pribadi yang ditumpanginya. Tidak menyadari kalau Sall tidak lepas memandangi sikapnya yang terasa sedikit aneh sejak kemarin.


Sebuah sentuhan di tangan, menyadarkan Sanchia dari lamunannya. Senyum manis seketika Sanchia ulas, saat wajah Sall memandangnya begitu dalam.


"Shawn masih tidur ya Honey?"


"Iya, Shawn tidur nyenyak sekali, sekarang masih di kamarnya dengan babysitter." Sanchia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sweetheart, bisakah kamu bercerita tentang apa yang kamu pikirkan saat ini? Aku merasa ada yang berbeda dengan sikapmu, setelah bertemu Satya kemarin." Raut penuh tanya Sall, justru dibalas Sanchia dengan senyuman yang jauh lebih manis dari sebelumnya.


"Tidak ada yang berubah, dan tidak akan ada yang berubah, apapun yang dia katakan."


'Honey, tolong bantu aku, untuk benar-benar menghapus namanya dari hatiku.' Batin Sanchia.


Sanchia mengelus lembut sebelah pipi Sall\, lalu mendaratkan bibirnya di bibir Sall yang langsung menyambutnya dengan ******* dan menyes*p bibir Sanchia. Keduanya saling bertukar saliva\, memperdalam ciuman yang sudah berubah sangat menuntut. Tanpa melepas pertautan bibirnya dengan Sanchia\, Sall menggendong Sanchia menuju VVIP room mewah yang memang diperuntukkan bagi mereka. Tidak peduli dengan pandangan beberapa pelayan & pengawal yang menyaksikan kemesraan mereka seraya tersenyum. Berbeda dengan Leon dan Leroy yang hanya menggelengkan kepala mereka\, seraya menghela nafas panjang.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Maaf aku baru bisa up..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight