
VILLA SALL - JEJU ISLAND
Langit sudah berubah jingga, dan sang penguasa siang pun sudah bersiap-siap pulang ke peraduannya, bersamaan dengan Sall yang masuk ke dalam kolam renang indoor yang terletak di lantai 1 villa. Sall menyuruh beberapa pengawal untuk berjaga di luar ruangan tersebut, dan tidak mengizinkan siapapun untuk masuk, termasuk istrinya sendiri.
Sall berenang selama 1 jam tanpa henti, namun tubuhnya belum juga lelah. Saat ini Sall memerlukan pengalihan dari apa yang terus dipikirkannya, sejak kembalinya dia dan Sanchia ke villa beberapa jam yang lalu.
Saat tenggorokannya mulai kehausan, Sall segera naik dan merebahkan dirinya di atas kursi santai yang terletak di pinggir kolam renang, lalu diteguknya segelas orange juice sampai hanya tersisa seperempatnya.
Sall memejamkan matanya berusaha melupakan banyak hal yang begitu mengganggu pikirannya saat ini, namun bayangan kejadian-kejadian yang sangat mengecewakannya, selalu saja muncul dan menyesakkan dadanya.
FLASHBACK ON
Sall menghubungi Leon dan memintanya meretas CCTV Rumah Sakit untuk mencari keberadaan Sanchia, yang tiba-tiba menghilang dari toilet Rumah Sakit. Leon mengatakan kalau Sanchia memang tidak terlihat keluar dari toilet, dan berasumsi Sanchia menggunakan jalan lain untuk keluar dari toilet.
Namun saat Sall melihat rekaman CCTV di koridor toilet, Sall justru meminta Leon untuk mencari tahu kemana perginya seorang perempuan paruh baya dengan sweater longgar yang keluar dari toilet.
"Sall apa mungkin perempuan paruh baya itu adalah Sanchia?"
"Iya, itu memang dia.. Beri tahu aku, kemana perginya."
Leon masih belum percaya dengan tindakan Sanchia yang menggunakan topeng wajah, agar dirinya bisa lolos dari pengawasan anak buah Sall. Namun kali ini dia memilih untuk menjalankan tugas dari Sall terlebih dahulu.
Tidak sampai 3 menit kemudian, Leon sudah mengirimkan lokasi markas besar Shuga dan juga 2 rekaman CCTV. Rekaman yang pertama adalah saat sebelum Sanchia masuk ke dalam toilet, dimana Sanchia terus menerus mengarahkan pandangannya ke atas seraya membetulkan letak kacamatanya. Sedangkan rekaman yang kedua memperlihatkan Sanchia dalam wujud perempuan paruh baya, menghampiri seorang laki-laki, yang terlihat seperti petugas parkir. Namun sesaat kemudian, Sanchia masuk ke dalam mobil yang dikemudikan petugas parkir yang kemungkinan besar adalah anak buah Shuga itu.
Sall baru sadar, kalau Sanchia mengenakan kacamata buatan Sall yang bisa diatur untuk menangkap objek dalam jarak yang sangat jauh. Dan arah pandang Sanchia pun berkali-kali mengarah ke atas, seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sall yakin, ada orang-orang yang mengawasi mereka dari atas gedung yang terletak di sekitar Rumah Sakit.
'Jadi kamu tahu, kalau orang-orang Shuga sedang mengintai kita. Dan kamu memilih bertindak sendiri dibanding memberitahuku.' Rutuk Sall dalam hati.
Sall segera menuju tempat parkir dan mengemudikan mobil sportnya, diikuti semua anak buahnya yang mengikuti dari belakang.
Di perjalanan menuju Markas Besar Shuga, Sall meminta Leon dan Leroy untuk menyusulnya dengan membawa banyak bantuan, juga tetap melacak keberadaan Sanchia dengan meretas banyak camera CCTV yang terletak di sepanjang jalan yang Sanchia lalui, sampai CCTV di Markas Besar Shuga.
Emosi Sall juga sempat hampir meledak, saat Leon mengirim beberapa rekaman yang memperlihatkan objek yang dilihat Sanchia sebelumnya. Ternyata beberapa orang sniper yang sedang membidikkan laras panjangnya ke arah Sall dan anak buahnya-lah, yang menarik perhatian Sanchia saat itu. Dan yang lebih membuat Sall murka, Shuga ada di antara sniper-sniper itu.
Sall mempercepat laju mobilnya, sehingga mobilnya bisa tiba di Markas Besar Shuga dalam waktu yang sangat cepat. Selang 5 menit, Leon dan Leroy pun tiba ditemani puluhan orang anak buah Brandon.
Tanpa membuang waktu, Sall dan semua anak buahnya juga anak buah Brandon, segera memasuki Markas Besar Shuga dengan berusaha melumpuhkan semua anak buah Shuga. Senjata api, obat bius, alat kejut, senjata tajam dan suntikan racun, adalah senjata yang mereka andalkan untuk mengalahkan anak buah Shuga yang jumlahnya diperkirakan melebihi jumlah anak buah Sall dan juga anak buah Brandon.
"Sall, kamu harus melihat ini."
Sall mengambil tab milik Leon yang memperlihatkan rekaman CCTV di sebuah meeting room yang terletak di lantai 3 Markas Besar itu. Sambil melihat rekaman CCTV itu, Sall tetap berjalan diikuti semua anak buahnya.
Hatinya teriris melihat Sanchia yang duduk berdekatan dengan Shuga, meskipun saat itu terlihat Sanchia dan Shuga saling diam dan seperti sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Namun hati Sall semakin sesak, saat Sall memundurkan rekaman CCTV itu ke beberapa puluh menit yang lalu, dimana jelas terlihat Shuga yang memegang tangan Sanchia, bahkan sampai berani memeluk dan mendekap Sanchia dari belakang.
"Bastaaaard.. How dare you..!!" Maki Sall, begitu emosi dengan apa yang dilihatnya.
Sall berlari menuju ruangan meeting room dimana Sanchia berada, tentunya kemunculannya langsung dihadang oleh anak buah Shuga. Sall menghajar mereka semua dengan membabi buta, meluapkan emosinya yang tidak bisa ditahan lagi. Anak buah Sall dan anak buah Brandon pun begitu bersemangat mengalahkan lawan-lawan mereka kali ini.
Sall lebih banyak terfokus pada tab yang dipegangnya dibandingkan melawan musuh yang menghadangnya. Beruntung anak buahnya dan anak buah Brandon begitu sigap melindunginya, sampai akhirnya semua anak buah Shuga berhasil dilumpuhkan dengan meninggalkan banyak luka di tubuh mereka.
Sall mendudukan dirinya di sebuah kursi putar dengan masih melihat rekaman CCTV di tab milik Leon. Sall masih belum berniat untuk masuk, meskipun saat ini dirinya tepat berada di depan pintu masuk meeting room, tempat Sanchia dan Shuga berada.
Sanchia dan Shuga jelas tidak mengetahui pertempuran berdarah yang berlangsung di luar ruangan, karena ruangan-ruangan itu merupakan ruangan kedap suara yang tidak bisa mendengar suara dari luar, begitupun suara di dalam ruangan tidak dapat terdengar ke luar.
Sall begitu fokus membaca gerak bibir Sanchia dan juga Shuga, karena rekaman CCTV itu tidak disertai dengan rekaman audio. Namun kemampuan Sall dalam membaca gerak bibir, membuatnya tidak sulit untuk mengetahui apa yang dibicarakan Sanchia dan Shuga di dalam sana.
Sall semakin emosi juga khawatir saat melihat Sanchia memegangi dadanya, sedangkan Shuga mulai berdiri menghampiri Sanchia dan berniat memeluknya. Sall sudah berniat masuk, namun urung saat Sanchia terlihat mendorong kasar tubuh Shuga.
Sall kembali memfokuskan penglihatannya pada bibir Sanchia dan juga Shuga.
"Jangan pernah menggangguku lagi, semua perasaanku terhadapmu sudah hilang, sejak apa yang kamu katakan tentangku saat itu. Aku tidak perlu laki-laki sepertimu, yang langsung percaya saat ada orang yang menjelek-jelekan dan merendahkanku. Kamu memang sudah kehilanganku, dan selamanya akan begitu."
"Maafkan aku Sanchia, aku benar-benar sudah bersalah padamu. Tolong katakan sekali saja, kalau saat itu kamupun mencintaiku."
Shuga menabrakkan dirinya ke tubuh Sanchia dan memeluknya begitu erat, tidak peduli meskipun Sanchia terus meronta minta dilepaskan.
"Aku mencintaimu Sanchia, aku benar-benar mencintaimu."
Sall sudah tidak sanggup melihat adegan menyesakkan yang terpampang di layar tab itu, dan segera mendobrak meeting room itu dengan emosi yang meluap-luap.
Braaakk..
FLASHBACK OFF
*************************
Drrtt..Drrtt..Drrtt..
Panggilan yang masuk ke ponselnya, menyadarkan Sall dari lamunannya. Sall langsung mengangkat panggilan video dari Kevin, adik iparnya yang saat ini berada di Indonesia.
"Ya Kevin.."
"Ternyata kamu sedang berenang.. Sall, semua musuh yang mengintai Markas Besar, sudah berhasil kami tangkap. Aku dengar dari Leon, kalian pun sudah berhasil melumpuhkan Markas Besar mereka. Baguslah Sall, aku yakin mereka tidak akan berani mengganggu Sanchia lagi."
"Iya aku harap begitu Kevin."
"Hmm, Sall ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu kusut dan tidak bersemangat? Kamu seharusnya senang, karena tidak akan ada lagi yang mengganggu dan mengancam Sanchia."
"Aku tidak apa-apa Kevin, aku hanya lelah selesai berenang."
Sall enggan untuk menceritakan masalahnya, terlebih lagi Kevin tidak tahu tentang siapa Shuga sebenarnya. Jadi Sall memilih untuk tidak menceritakan masalahnya pada Kevin.
"Oh begitu, beristirahatlah, tubuhmu sudah terlalu lelah.. Sall, terima kasih, kamu memang benar-benar Kakak ipar terkeren. Anak buahmu juga begitu dapat diandalkan, mereka langsung bisa mengalahkan dan meringkus semua musuh meskipun kami kalah jumlah. Terima kasih Sall."
"Sama-sama Kevin, keberhasilan ini berkat kerjasama kita semuanya. Kevin, beristirahatlah.. Kamu pun pasti lelah."
"Baiklah..Bye Sall.."
Sall lalu menutup panggilan video dari Kevin, setelah membalas lambaian tangan Kevin yang terlihat begitu senang, lalu menyimpan ponselnya di atas meja. Namun raut wajah Sall masih saja belum berubah, pikirannya kini bukan hanya dipenuhi rasa marah dan kecewa, tapi juga perasaan ragu. Ragu akan perasaan Sanchia terhadapnya, adalah hal yang kini Sall rasakan dan begitu menyesakkan dadanya.
'Semua usahaku terasa sangat tidak berguna. Semua orang begitu mempercayaiku, tapi istriku sendiri memilih bergerak sendiri dan mengambil keputusan sendiri dibanding meminta bantuanku. Mungkin dia memang tidak percaya pada kemampuan dan kekuatanku. Apa mungkin Sanchia masih mencintai laki-laki itu? Apa selama ini Sanchia masih menyimpan nama laki-laki itu di hatinya? Aku melihat perasaan kecewa saat Sanchia mengatakan tentang laki-laki itu yang tidak mempercayainya dulu. Apa dulu Sanchia berharap laki-laki itu selalu ada untuknya, karena dia sangat mencintainya? Apa justru dirikulah yang menghalangi kisah cinta Sanchia dan laki-laki itu?' Hati dan pikiran Sall dipenuhi banyak pertanyaan yang membuatnya semakin ragu pada perasaan Sanchia.
Drrtt..Drrtt..Drrtt..
Sall membuka matanya dan melirik kembali ponselnya yang berada di atas meja. Nama "Sweetheart" dengan tambahan lambang hati itu biasanya selalu membuat Sall bersemangat, tapi tidak kali ini. Sall memilih memejamkan kembali matanya, sampai akhirnya benar-benar terlelap karena tubuhnya yang sudah terlalu lelah.
*************************
Image Source : Instagram Toni Mahfud & Jang Ki Yong
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight