
MANSION SALL & SANCHIA - LONDON, INGGRIS
Sudah seminggu ini, sikap Sall begitu aneh, manja dan sedikit merepotkan bagi Sanchia. Bagaimana tidak, pagi yang biasanya hanya diwarnai tangis Shawn, kini bertambah dengan adanya rengekan si bayi besar, Sall. Kebiasaan Sall pun berubah drastis, setiap pagi Sall selalu meminta makanan dan minuman yang susah di dapat.
Wedang jahe adalah minuman pertama di minggu ini yang diminta oleh Sall, namun cukup membuat Sanchia pusing karena Sall minta dibuatkan khusus oleh Sanchia. Jadilah Sanchia berkutat di dapur, dengan mata sesekali memandang serius layar ponselnya, yang berisi video "Cara membuat wedang jahe". Dan tidak cukup wedang jahe saja, hari berikutnya Sanchia harus belajar cara membuat bajigur, es pisang ijo, es goyobod, bandrek, es cendol dan es cincau. Belum lagi menu makan siang dan makan malam Sall, harus selalu masakan Indonesia, yang untungnya dibuat oleh para chef yang sudah paham dengan masakan Indonesia.
Seperti hari-hari sebelumnya, dini hari Sall terbangun lebih dulu karena perutnya yang terasa tidak nyaman. Dengan sangat terpaksa, Sall melepas pelukannya dari tubuh Sanchia yang tertidur nyaman dalam dekapannya. Namun ternyata gerakan Sall cukup membuat Sanchia terusik, sehingga akhirnya Sanchia ikut membuka matanya.
"Honey, apa perutmu mual lagi?"
Sall hanya mengangguk singkat, lalu melesat secepat kilat menuju kamar mandi. Sanchia menyusul Sall ke kamar mandi, setelah mengambil segelas air hangat dari dispenser di sudut kamarnya.
"Honey, minum dulu ya.."
Sanchia meminumkan segelas air hangat di tangannya, setelah melihat Sall selesai mengelap mulutnya dengan handuk berukuran kecil. Hanya dengan sekali teguk, air hangat itu sudah tandas tidak bersisa.
"Sweetheart.. Rasanya kepalaku pusing sekali, perutku juga masih terasa mual."
Rengekan Sall yang terdengar seperti anak kecil, terlebih tingkah Sall yang manja dengan menumpukan dahinya di bahu Sanchia, membuat Sanchia tidak tega.
"Honey, kita panggil Dokter ya.. Tolong jangan keras kepala, sudah satu minggu, tapi keadaanmu terus seperti ini."
"Aku yakin kalau aku tidak sakit, Sweetheart. Mungkin aku hanya telat makan. Tapi nanti agak siang juga keadaanku akan membaik."
"Kamu selalu berkata seperti itu, tapi besoknya kamu mengeluh lagi. Dan kamu tidak pernah telat makan Honey, makanmu selalu teratur, bahkan dengan porsi yang luar biasa." Sall terkekeh geli seraya memandang wajah istrinya yang terlihat kesal.
"Sekarang aku hanya ingin memeluk dan menghirup aroma tubuhmu, entah kenapa wangi tubuhmu selalu berhasil membuatku merasa lebih baik." Helaan nafas Sanchia yang terdengar kasar, justru menarik lengkungan di kedua sudut bibir Sall. Rasa syukurnya seolah membuncah, karena dikaruniai istri yang begitu menyayangi dan selalu mengkhawatirkan keadaannya.
"Baiklah Honey, ayo kita kembali ke tempat tidur. Tapi nanti siang, aku akan tetap meminta Leon memanggil Dokter ya." Anggukkan kepala Sall disertai senyumnya yang tampan, cukup membuat Sanchia tersenyum lega.
Sall dan Sanchia berjalan beriringan menuju tempat tidur, Sanchia segera merebahkan dirinya seraya menyangga kepalanya dengan 2 buah bantal. Namun Sall bukannya merebahkan dirinya di sebelah Sanchia, Sall justru menumpukan kepalanya di atas pangkuan Sanchia, wajahnya menghadap ke arah perut Sanchia, dengan sebelah tangan melingkar di perut Sanchia.
Elusan tangan Sanchia di kepala Sall, membuat Sall begitu nyaman. Wangi tubuh Sanchia pun membuat rasa mual di perutnya benar-benar berkurang.
"Masih pusing dan mual Honey?"
"Sedikit.. Sepertinya perutku akan sedikit lebih baik, kalau memakan buah asam."
"Hah?"
Suara Sanchia yang terdengar begitu terkejut, membuat Sall membuka mata dan menatap istrinya yang masih bertahan dengan ekspresi tidak percayanya.
"Honey.. Apa jangan-jangan.."
Mulai menyadari arah pembicaraan istrinya, Sall segera mendudukkan dirinya dan duduk bersila di hadapan Sanchia.
"Ayo kita test Sweetheart.."
Mendahului Sanchia, Sall lalu menggandeng Sanchia turun dari tempat tidur dan menggandeng Sanchia menuju kamar mandi, setelah sebelumnya mengambil sesuatu dari laci nakasnya.
"Honey, kapan kamu membelinya?" Tatapan Sanchia tidak lepas dari sesuatu yang ada di tangan Sall.
"Setelah kita melakukannya lagi lebih dari sebulan yang lalu, aku sudah membelinya untuk berjaga-jaga."
Semakin menyadari bahwa Sall begitu berharap kalau Sanchia hamil dan bisa melahirkan anak mereka, membuat Sanchia menyelipkan sebuah doa di hatinya. Rasanya tidak ingin mengecewakan suaminya, meskipun anugerah anak adalah kehendak mutlak dari Sang Maha Pencipta.
'Ya Allah, kami mohon, tolong karuniakan kepada kami, anak yang sehat lahir dan batin. Aamiin..' Doa Sanchia dalam hati.
Tanpa Sanchia sadari, kalau Sall pun memanjatkan doa yang sama di dalam hatinya.
"Honey.. Tunggu di luar saja ya. Aku malu."
"Hmm, kenapa harus malu? Come on Sweetheart, aku penasaran.." Sanchia mengerucutkan bibirnya, membuat Sall akhirnya menyerah.
"Haah.. Okay, aku akan keluar. Tapi jangan menangis ya, jika hasilnya belum sesuai harapan. Allah pasti memberikan anugerah di saat yang tepat, Sweetheart." Ciuman Sall mendarat di kening Sanchia, sebelum akhirnya Sall keluar dari kamar mandi, dan menunggu tepat di luar pintu.
10 menit berlalu, namun Sanchia masih belum keluar dari kamar mandi. Raut cemas mulai menghiasi wajah tampan Sall, yang langsung mengetuk pintu kamar mandi dengan sangat tidak sabar.
"Sweetheart, are you okay?" Please open the door..!"
Sebelum Sall mendobrak pintu kamar mandi, Sanchia segera membuka pintu kamar mandi. Gurat kesedihan dan sisa air mata di pipi Sanchia, menyesakkan hati Sall yang seketika melepas harapnya. Dipeluknya Sanchia yang seketika melepas tangis dan menumpahkan air matanya di dada bidang Sall.
Sanchia menarik kepalanya ke belakang, menciptakan sedikit jarak dengan Sall, agar bisa memandang wajah suaminya itu. Tangisnya sudah berkurang, namun isak Sanchia masih terdengar lirih dan begitu mengiris hati Sall.
"Sudah ya Sweetheart, tidak apa-apa. Kita harus lebih banyak bersabar. Allah tahu kapan waktu yang tepat." Dihapusnya air mata yang ada di pipi Sanchia, lalu dikecupnya kening Sanchia dengan sangat lembut.
Namun betapa terkejutnya Sall, saat Sanchia memegang benda special dan menunjukkannya di hadapan Sall.
"Ini serius kan Sweetheart?" Mata Sall seolah hendak meloncat keluar, melihat testpack bergaris dua yang akhirnya sukses membuat air matanya mengalir deras karena terharu.
"Alhamdulillah, Ya Allah terima kasih atas semua Anugerah-Mu pada kami. Thank you, Sweetheart. I love you so much."
Pelukan Sall yang sangat erat, memancing air mata Sanchia untuk kembali luruh karena rasa haru dan bahagianya. Betapa bersyukurnya Sanchia karena Allah mengabulkan doanya dan Sall yang begitu tulus dalam meminta.
'Alhamdulillah Ya Allah.. Terima kasih atas karunia-Mu, aku mohon berikan perlindungan-Mu pada bayi kami. Karena hanya Kau-lah Sang Maha Pelindung. Aamiin..' Syukur Sanchia dalam hati.
Melerai pelukannya pada tubuh Sanchia, Sall mengecup kening Sanchia lalu tiba-tiba bersimpuh dengan menghadapkan wajahnya tepat di depan perut Sanchia. Dilingkarkan kedua tangan di pinggang Sanchia, lalu disibaknya gaun tidur Sanchia sehingga menampakkan perut Sanchia yang polos. Penuh kasih, diciuminya perut Sanchia diiringi air mata bahagia yang tanpa sadar menetes dari sudut mata Sall. Tanpa bisa ditahan, air mata Sanchia pun kembali menetes merasakan kasih sayang Sall yang begitu besar untuk sang calon bayi.
"Terima kasih Baby, sudah hadir dalam kehidupan kami. Tetaplah sehat dan tumbuh yang baik. Kami benar-benar mencintaimu." Sekali lagi didaratkannya ciuman yang begitu dalam di perut Sanchia, sebelum kembali berdiri dengan memasang wajah sumringahnya.
"Sweetheart.. Nampaknya baby kita benar-benar ingin makan buah asam. Ayo kita minta Leon dan Leroy untuk mencarikannya."
"Hah? Honey, kasihan mereka. Bahkan ini masih jam 3 pagi."
"Tidak apa. Mereka harus ikut repot, mereka juga kan Uncle-nya anak kita." Perkataan tanpa dosa dan kekehan di akhir kalimat Sall, membuat Sanchia menggelengkan kepalanya.
Senyum manis Sanchia kembali terulas seraya mengikuti langkah Sall yang menggandeng lembut tangannya keluar dari kamar.
"Aku kira kamu akan melupakan keinginanmu untuk makan buah asam."
"Ini kan keinginan anak kita Sweetheart, aku tidak mungkin melupakannya. Kita sebaiknya menggunakan lift saja, kamu tidak boleh lelah." Sall menarik pelan tangan Sanchia, yang hendak menuju tangga, dan segera menggandeng Sanchia masuk ke dalam elevator.
Di dalam elevator, Sanchia memandangi wajah Sall yang tidak henti mengembangkan senyum bahagianya.
"Apakah kamu bahagia, Honey?"
"Apa kamu tidak melihat senyum bahagia di wajahku ini?"
"Iya aku melihatnya, aku hanya ingin memastikannya saja."
Pintu elevator terbuka, Sall dan Sanchia keluar bergandengan tangan, membalas sapaan para pelayan yang sepertinya sudah mulai beraktifitas meskipun belum memulai pekerjaan mereka.
"Duduklah disini, aku akan ke kamar Leon dan Leroy. Tidak boleh kemana-mana. Jika ada yang kamu inginkan, cukup minta tolong pada pelayan ya."
Dengan sangat hati-hati Sall mendudukkan Sanchia di atas sofa ruang keluarga, sementara Sanchia menurut meskipun merasa sikap Sall terlalu berlebihan.
"Honey, jangan terlalu berlebihan."
Berjongkok di depan Sanchia yang duduk di atas sofa, Sall menumpukkan sebelah tangan di atas paha Sanchia, dan tangan lainnya mengelus lembut perut Sanchia.
"Setelah semua duka yang menimpa kita, aku tidak mungkin bisa bersikap biasa saja Sweetheart. Tolong maklumi sikapmu. Aku tidak mau kehilangan anak kita lagi. Aku akan selalu berusaha menjaga dan melindungi kalian.." Suara lirih, namun terdengar sangat dalam itu menggetarkan hati Sanchia, yang kini mengecup lembut bibir suaminya dengan penuh cinta.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight