The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 25 Cyber War



Malam ini menjadi malam yang panjang untuk Sall, bukan karena perasaan gugup yang terus menerus menyelimuti hatinya yang akan mengucap Ijab Qabul esok hari. Tapi karena Sall dan Leon  tidak berhenti berkutat dengan laptopnya, melakukan perlawanan terhadap hacker-hacker Klan Chrysos Dragon dan DS Scorpion yang terus menerus berusaha meretas pertahanan perusahaan Sall. Terlebih Alrico yang saat ini berada di Markas Besar Ble Asteri, sama sekali tidak membiarkan pikiran Sall dan Leon beristirahat sampai saat ini. Tekad Alrico begitu kuat, untuk  menemukan apapun yang dapat dia jadikan alat untuk menjatuhkan Sall di hadapan keluarga Sanchia.


"Leon, apa kamu yakin Kevin sudah tidak berhubungan dengan Klan Chrysos Dragon?"


"Saya yakin Tuan, meskipun Kevin masih bekerja di BR Group milik Bryllian Pemimpin Chrysos Dragon, tapi Kevin sudah tidak ada hubungannya dengan urusan Klan Chrysos Dragon. Hanya saja untuk urusan pribadi, Kevin masih sering bertemu dengan Bryllian Alden Harrison, juga Wakilnya Daniel."


Sall tentu saja sedikit khawatir dengan fakta bahwa Kevin yang pernah menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) di BR Group sekaligus pernah menjadi Ketua Tim Hacker andalan Chrysos Dragon, adalah salah satu orang yang sedang Sall hadapi malam ini. Apalagi Kevin masih dipercaya untuk menjadi Direktur di salah satu Perusahaan Cabang BR Group di Bandung, meskipun sudah tidak ikut masuk dalam urusan Klan Chrysos Dragon, setelah menjadi Ketua Klan Ble Asteri.


(Kalau yang baca Star on A Dark Night 1, pasti sudah tidak asing dengan sepak terjang Kevin sebagai hacker paling handal buat BR Group dan sahabatnya, Bryllian Alden Harrison).


Sejujurnya Sall tidak ingin berhadapan dengan Calon Adik Ipar yang sudah mulai dekat itu. Sall berharap Kevin tidak ada kaitannya dengan perang dunia maya saat ini.


"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan segan-segan menghancurkan sistem Chrysos Dragon."


Drrtt..Drrtt..Drrtt..


Sall yang awalnya hanya melirik sekilas ponselnya, langsung menyambar dan menerima panggilan masuk yang ternyata dari Sanchia itu. Keningnya berkerut saat matanya melihat jam dinding yang sudah menunjukan jam 2 dini hari.


"Babe kenapa belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur Honey, perasaanku benar-benar tidak enak. Seperti ada sesuatu yang salah, tapi aku tidak tahu apa."


Sall menghela nafas sepelan mungkin, berusaha agar Sanchia tidak mengetahui kekalutan yang juga dirasakan Sall saat ini. Bahkan tentang perang di dunia maya yang berlangsung sejak berjam-jam yang lalu pun, tidak Sall beritahukan pada Sanchia. Sall sungguh tidak ingin Sanchia menjadi khawatir dan tidak fokus menghadapi acara pernikahan mereka besok.


"Babe, semua akan baik-baik saja. Kamu hanya gugup menghadapi pernikahan kita besok. Tenang Babe, setelah kita menikah, kita akan selalu bersama-sama, dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Sekarang kamu tidur ya Babe."


"Entahlah Honey, aku tidak bisa tenang sejak tadi. Aku yakin, apa yang aku rasakan bukan karena gugup. Aku takut, besok ada yang menggagalkan pernikahan kita, Honey."


Sall lagi-lagi menghela nafasnya yang berat, dan kali ini Sanchia dapat merasakan suara Sall yang terdengar tidak baik-baik saja.


"Honey, ada apa? Apa ada yang terjadi?"


Sall meremas rambutnya dan menyesali sikapnya yang membuat Sanchia sangat curiga. Tapi Sall tidak bisa membohongi Sanchia yang mempunyai perasaan yang kuat dan tidak mudah dimanipulasi.


"Ada yang berusaha meretas data-data perusahaanku Babe."


"Apaaa? Kamu sudah tahu siapa orang-orang yang melakukannya?"


"Sahabat kamu, Babe."


"Siapa maksudmu Honey?"


"Alrico."


"Kamu tidak sedang bercanda kan Honey?"


"Apaaaa? Honey, ini bahaya. Klan mereka mempunyai hacker-hacker handal yang sulit dikalahkan. Meskipun Kevin sudah keluar dari Chrysos Dragon, tapi anggota Tim-nya sangat kuat. Begitupun dengan Larry, Ketua DS Scorpion saat ini, dia adalah hacker yang hebat dengan Tim yang begitu tangguh. Aku kesana Honey, aku tidak bisa hanya berdiam seperti ini."


Sanchia mematikan panggilannya, bahkan tanpa menunggu tanggapan dari Sall. Sanchia segera turun ke lantai 2, menuju kamar Sall dengan langkah terburu-buru.


Kurang dari 5 menit kemudian, Sanchia sudah masuk ke dalam kamar Sall dengan membawa laptopnya. Sall mencium sekilas kening Sanchia, lalu membawakan laptop Sanchia dan menyimpannya di atas tempat tidur. Disusul Sanchia yang langsung duduk bersila dengan menyimpan laptop di atas pahanya. Sall mengotak-atik laptop Sanchia dan berkutat dengan kode-kode rumit yang langsung dipahami Sanchia. Leon terlihat tidak nyaman, berada satu ruangan dengan Sall dan juga calon istrinya itu, karena Leon merasa seperti nyamuk pengganggu. Meskipun Sall dan Sanchia sama sekali tidak sedang melakukan adegan mesra yang dapat menodai penglihatan Leon.


Sall kembali duduk di sebelah Leon, setelah Sanchia paham dengan apa yang harus dilakukannya. Sanchia memang tidak ahli meretas seperti Sall dan Leon, tapi Sanchia paham caranya bertahan saat ada hacker yang berusaha membobol data perusahaan. Terlebih kini Sanchia mempunyai guru yang sangat handal untuk mengajarinya.


Tok..Tok..Tok..


Sall, Sanchia dan Leon menolehkan kepala mereka ke arah pintu, kemudian saling berpandangan. Sall memandang Sanchia, seolah meminta saran apa yang harus dia lakukan saat ini. Ketukan di pintu Sall terdengar lagi, membuat Sanchia memutuskan bersembunyi di toilet, disusul Leon yang menyembunyikan laptopnya dan laptop milik Sall di dalam lemari, sebelum akhirnya Sall membuka pintu kamarnya.


Terlihat Kevin berdiri di depan pintu dengan ekspresi tidak terbaca, Sall mulai menebak-nebak tujuan Kevin yang sudah lewat tengah malam datang ke kamarnya tanpa menelpon terlebih dahulu.


“Ada apa Kevin?”


Kevin terlihat melirik sekilas ke dalam kamar Sall dan melihat Leon yang sedang merebahkan diri di atas sofa dengan menutup matanya, berpura-pura tertidur.


Seolah mengerti apa yang ada dalam benak Kevin, Sall langsung menjelaskan alasan keberadaan Leon di kamarnya.


“Tadi kita terlalu asyik mengobrol, sampai akhirnya dia tertidur. Aku kasihan kalau menyuruhnya pindah ke kamarnya.”


Tiba-tiba Kevin mengulas senyum sinis,  dan mencengkeram kerah kemeja Sall, membuat Sall sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Kevin.


“Atau kalian sedang melakukan suatu pekerjaan penting.. Der Killer Ritter.”


************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


(IG : @zasnovia #staronadarknight)