
WARNING...!!!
Mengandung konten dewasa, diperuntukan hanya untuk yang berusia 21 tahun keatas dan sudah menikah. Mohon bagi yang dibawah umur, tolong di-skip saja ya. Mohon lebih bijak untuk memilih bacaan. Terima kasih banyak ya..
*************************
Sanchia membuka matanya saat menyadari tubuhnya tidak lagi berada dalam dekapan hangat Sall, suaminya. Segera didudukkan dirinya seraya meregangkan tubuhnya yang terasa begitu pegal dan sakit karena olahraga bersama Sall semalaman. Tanpa sadar Sanchia mengulas senyum malu seraya menyentuh lembut bibirnya dan bagian atas tubuhnya yang dipenuhi jejak kepemilikan dari si pemilik hati.
Lagi-lagi Sanchia tersenyum mengingat kegiatan mereka tadi malam, yang sudah menjadi candu untuknya, terutama bagi Sall. Sebelum keluar dari kamarnya, Sanchia memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum mengajak suaminya untuk sarapan bersama.
20 menit kemudian, Sanchia menyusuri bagian luar kapal pesiar, setelah tidak menemukan Sall di ruangan manapun di kapal. Senyum Sanchia terbit saat melihat suaminya yang sedang berenang di tengah laut, bukannya di kolam renang yang tersedia di kapal pesiar itu. Sanchia mendudukan dirinya di atas sofa yang empuk, seraya memandangi Sall yang sedang asyik berenang.
"Honey, lukamu masih basah, tapi kamu malah berenang. Meskipun memakai pembalut luka anti air, tapi tetap bisa menyerap dari bagian pinggirnya.. Naiklah Honey.."
(Anggap aja bahu Sall masih ada luka yang ditutup ya)
Sall yang baru menyadari kehadiran Sanchia, menyugar rambutnya yang basah dan segera menghampiri Sanchia ke tepi kapal. Uluran tangan Sanchia yang mengarah pada Sall, segera disambut tanpa ragu. Tapi bukannya naik melalui tangga berukuran kecil yang ada di tepi kapal, Sall malah menarik tangan Sanchia, sehingga jatuh ke dalam air tepat di depan Sall.
Sall tertawa lepas melihat ekspresi Sanchia yang terkejut saat terjatuh, namun raut wajah Sall berubah panik saat Sanchia mengepak-ngepakkan tangannya dengan kepala yang sesekali tenggelam dan mulut menelan air laut.
"Hon...Ney.. Tolong.."
Sall segera merengkuh tubuh Sanchia dan menariknya ke dekat kapal. Tubuh Sanchia yang lemas, dengan tangan yang tiba-tiba lunglai, membuat Sall semakin panik karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada Sanchia. Sall menyandarkan tubuhnya pada ujung tangga, seraya mendekap tubuh Sanchia yang tidak sadarkan diri. Sesekali ditepuknya pipi Sanchia, namun Sanchia masih belum sadar dari pingsannya.
"Sweetheart bangunlah.. Tolong jangan membuat aku panik. Maafkan aku, tolong jangan tinggalkan aku!"
Tanpa terasa air mata Sall sudah menggenangi kelopak matanya, dan hampir menerobos keluar. Menyadari kalau usahanya tidak membuahkan hasil, Sall segera mengangkat tubuh Sanchia ke atas kapal dan merebahkannya di lantai kapal. Tanpa membuang waktu, Sall bersiap melakukan CPR atau pertolongan pertama untuk menyelamatkan Sanchia. Namun baru saja tangan Sall menumpu di dada Sanchia, tiba-tiba tawa Sanchia lepas, membuat Sall terkejut dengan mulut menganga.
Sall baru tersadar dari keterkejutannya, setelah Sanchia mendudukan dan menyandarkan dirinya pada bagian bawah sofa, dengan senyum jahil yang masih menghiasi wajahnya.
Sall berdiri seraya menatap tajam netra Sanchia yang berubah khawatir. Nampaknya Sall tidak menyukai kejahilan Sanchia kali ini, dan memilih meninggalkan Sanchia dengan langkah besarnya tanpa berkata sepatah katapun.
Sanchia segera menyusul Sall dengan berlari kecil, lalu memeluk Sall dari belakang. Sanchia menyandarkan kepalanya di punggung Sall yang basah, dengan air mata yang mengalir di pipi Sanchia.
"Honey, maafkan aku.. Aku hanya bercanda, tolong jangan marah!"
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Sall, bahkan Sall mulai melepas tangan Sanchia yang melingkar di pinggangnya dengan perlahan, lalu berjalan kembali meninggalkan Sanchia yang mulai menangis sesenggukan seraya menundukan kepalanya.
Namun beberapa saat kemudian, tubuh Sanchia serasa melayang saat Sall menggendong tubuhnya, lalu berlari ke tepi kapal. Tanpa aba-aba, Sall menjatuhkan dirinya yang sedang menggendong Sanchia ke permukaan laut.
Byuuuurrr...
Sall kembali tertawa lepas melihat Sanchia yang kini tersenyum di sela-sela tangisnya. Sanchia mengeratkan tangannya yang melingkar di leher Sall dan mengerucutkan bibirnya karena kesal. Sanchia sesekali memukuli bahu dan dada Sall dengan sangat gemas, tapi Sall justru semakin tertawa menanggapi kekesalan istrinya itu.
Sall segera membawa Sanchia kembali ke tangga kapal, mendudukan Sanchia di pangkuannya seraya memeluk pinggang Sanchia dan menyandarkan kepalanya di dada Sanchia.
"Jahat.. Aku kira kamu marah."
Sall menolehkan wajahnya dan menatap netra jernih Sanchia yang terlihat sendu.
"Aku memang marah Sweetheart, tapi aku tidak pernah bisa marah lama-lama sama kamu."
"Maafkan aku, tadi aku hanya bercanda. Habisnya kamu duluan yang jahil."
"Iya maafkan aku juga ya Sweetheart, karena sudah menjahilimu. Tapi tolong, jangan pernah bercanda seperti itu lagi, aku begitu takut sesuatu yang buruk terjadi padamu."
Puppy eyes Sanchia benar-benar membuat Sall gemas, sekaligus menarik seringai jahil di wajah Sall saat ini. Sanchia yang merasakan sesuatu yang tidak beres, mulai mengerutkan keningnya ke arah Sall.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu Honey?"
"Hmm, karena kamu sudah membuatku khawatir, aku akan memberimu hukuman."
Tanpa sempat mencerna perkataan Sall, Sanchia memekik kencang saat Sall menggendongnya menuju kamar mandi yang terletak di kamar pribadi mereka.
*************************
Langit sudah berubah jingga, menampakan kedamaian yang terlalu indah untuk dilewatkan. Sanchia dan Sall memandang keindahan itu dari dalam kapal pesiar seraya merebahkan diri di atas sofa dengan posisi bersebelahan.
"Kemarilah Sweetheart, biarkan aku memelukmu."
Dengan diikuti senyum sumringah, Sanchia merangsek masuk ke dalam pelukan Sall yang hangat. Sanchia memejamkan matanya menikmati kenyamanan dan kedamaian, setiap kali berada dalam dekapan dada bidang dan tangan kekar Sall. Sanchia selalu merasa aman dan dilindungi, membuatnya selalu enggan melepas pelukan Sall dari tubuhnya.
"Sweetheart, kita pulang ke hotel malam ini ya. Aku ingin menemui Papa dan Mama dan menjelaskan semuanya."
Mata indah Sanchia terbuka, menatap netra jernih Sall yang terlihat sangat bersungguh-sungguh.
"Apa tidak sebaiknya kita pulang besok pagi saja, sesuai rencana?"
Sanchia sesungguhnya begitu khawatir dengan reaksi kedua orangtuanya, rasanya tidak siap jika orangtuanya meminta Sall meninggalkannya. Saat ini Sanchia memilih untuk menjadi egois, menikmati kebahagiaan tanpa harus memikirkan kemungkinan buruk apapun. Tapi nampaknya berbeda dengan Sall, dia ingin menghadapi permasalahannya agar bisa bersama Sanchia tanpa dibayangi banyak kekhawatiran dan ketakutan akan kehilangan istrinya itu.
"Aku tidak ingin menundanya lagi Sweetheart. Aku ingin selalu bersamamu dan mempertahankan pernikahan dan cinta kita. Kita pulang malam ini ya."
"Baiklah Honey.."
Bibir Sall membentuk bulan sabit menambah kadar ketampanan Sall, yang selalu membuat Sanchia terpesona. Kening Sanchia terasa hangat saat Sall mendaratkan ciuman yang begitu lembut dan menenangkan. Kemudian Sall menyatukan keningnya dan Sanchia, merasakan nafas Sanchia yang begitu hangat dan tenang.
"I love you, Sweetheart.."
"I love you more, Honey.."
*************************
Image Source : Google, Instagram Toni Mahfud & Im Jin ah (Edited)
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight