The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 37 Hilang



Ruang tamu yang berada di kamar president suite yang begitu luas dan mewah itu, mendadak terasa sesak bagi Sanchia. Sall memang langsung mengajaknya menemui Papa Leonard dan Mama Annesya di kamarnya, setibanya mereka di hotel. Saat ini, hati Sanchia tidak bisa tenang menghadapi tatapan membunuh dari Papa Leonard pada Sall. Walaupun Sall yang kini duduk disebelahnya, berusaha terlihat tenang, seraya menggenggam tangan Sanchia dengan begitu eratnya. Sall sudah menjelaskan semua tentang penculikan terhadap Sanchia juga perasaannya yang tulus terhadap Sanchia, tapi Papa Leonard terlihat masih teguh dengan sikapnya yang menentang pernikahan Sanchia dan Sall.


"Sanchia, Papa benar-benar kecewa padamu. Papa sudah tegaskan, kamu harus bercerai dengan laki-laki ini!"


Sanchia seketika mengangkat kepalanya memandang Papa Leonard dengan mata berkaca-kaca. Mama Annesya yang baru saja membawakan minuman dingin untuk suami, anak dan menantunya, kini duduk disebelah Papa Leonard dan mengelus lengan suaminya yang terlihat masih emosi itu.


"Papa, saya mohon, jangan meminta kami berpisah. Saya sangat mencintai Sanchia dan benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan Sanchia. Tolong pertimbangkan kebahagiaan Sanchia juga, hanya saya yang bisa membahagiakan Sanchia. Papa boleh membenci saya, tapi saya akan buktikan, kalau saya bisa membahagiakan Sanchia seumur hidup saya, Pa.."


Senyum sinis terulas di wajah Papa Leonard yang semakin menampakan emosinya. Tapi Sall tidak terpengaruh sama sekali. Tekadnya begitu kuat untuk meyakinkan kedua mertuanya, dia tidak akan menyerah sebelum Papa Leonard dan Mama Annesya merestuinya untuk selalu bersama Sanchia.


"Kamu bilang kamu akan membahagiakan Sanchia? Mana bisa saya menyerahkan anak saya pada penipu sepertimu.. Pergilah, saya tidak mau mendengar apapun lagi. Lepaskan Sanchia dan kembalilah ke negaramu!"


"Saya tidak bisa melakukannya, saya akan selalu bersama istri saya dimanapun dia berada."


"Saya tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk bersama anak saya. Saya tahu kamu orang kuat dan sangat berbahaya, tapi saya tidak akan pernah membiarkan kamu membawa anak saya, sekalipun nyawa saya taruhannya."


Rasa terkejut tidak bisa disembunyikan Sall, setelah mendengar perkataan Papa Leonard yang terdengar mengancam. Sanchia pun kini sudah meneteskan air mata yang ditahannya sejak tadi. Genggaman tangan Sanchia mulai melemah, tapi Sall tidak berniat melepas genggaman tangannya sama sekali. Diliriknya wajah Sanchia yang kini sudah basah dengan air mata, sesaat kemudian Sall menatap netra Papa Leonard dengan sangat dalam dan meyakinkan.


"Papa, saya mohon..Jangan pisahkan saya dengan Sanchia, beri saya kesempatan untuk menebus semua kesalahan saya, dengan membahagiakan Sanchia seumur hidup saya. Saya mohon Pa, beri saya kesempatan sekali lagi."


"Pergilah.. Saya tidak mau mendengar apapun lagi."


Papa Leonard berdiri dari duduknya, dan beranjak hendak menuju kamar tidur diikuti Mama Annesya, namun perkataan Sall mengurungkan niat mereka. Papa dan Mama Annesya tidak berniat memalingkan wajah mereka, mereka hanya berdiri dengan posisi membelakangi Sall, yang kini berdiri, dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan Sanchia.


"Saya begitu bahagia, saat Papa dan Mama menyambut saya begitu hangat sebagai calon menantu. Saya yang sudah kehilangan kedua orangtua saya, sangat bersyukur bertemu dengan Papa dan Mama yang berhati baik dan tulus, dan menerima saya sebagai calon suami Sanchia. Tidakkah Papa dan Mama merasakan ketulusan hati saya untuk Sanchia, juga Mama dan Papa? Papa jelas tahu, saya mampu melakukan apa saja untuk membuat Sanchia tetap bersama saya. Saya dengan mudah bisa membawa Sanchia pergi dari sini. Tapi saya tidak ingin melakukannya dan membuat Papa dan Mama sedih lagi karena kehilangan Sanchia, saya juga tidak mau membuat Papa dan Mama semakin membenci saya. Tolong sekali saja, berikan saya kesempatan untuk membuktikan perkataan saya. Saya mohon, Pa.."


"Sanchia kembali ke kamarmu, Papa akan menempatkan beberapa pengawal di depan kamarmu. Dan kamu Sall, jauhi Sanchia, pergilah dari kehidupan Sanchia selamanya! Jika kamu nekad membawa Sanchia, maka Sanchia akan benar-benar kehilangan orangtuanya."


Rasa lemas yang tiba-tiba dirasakan Sall, membuatnya kembali mendudukkan dirinya di sofa seraya menatap Sanchia dengan tatapan sendunya. Sementara Papa Leonard dan Mama Annesya masuk ke kamar tidur dengan perasaan campur aduk. Sesungguhnya Papa Leonard merasakan sesak di dadanya, sejak awal bertemu Sall, Papa Leonard sudah begitu menyayangi dan mempercayai Sall sebagai laki-laki terbaik bagi Sanchia. Begitupun Mama Annesya yang sudah menganggap Sall seperti anaknya sendiri. Tapi merasa dikhianati, membuat mereka begitu kecewa dan terluka. Di sisi lain mereka ingin Sanchia bahagia, tapi di sisi lain, sangat sulit untuk kembali percaya pada Sall yang sudah menipu mereka mentah-mentah.


Sementara itu, Sall mengusap air mata yang terus menerus mengalir di pipi halus Sanchia. Luka menganga di hatinya, berusaha ditutupi Sall dengan senyuman tipisnya.


"Jangan menangis lagi, Sweetheart. Hatiku sakit melihatmu seperti ini."


"Jangan berpura-pura lagi, kamu pun terluka sepertiku. Menangislah Honey, buat hatimu lega."


Sall menggeleng pelan, seraya mengulas senyum yang lebih lebar, berusaha terlihat tenang meskipun Sanchia tahu pasti kalau suaminya sedang menutupi perasaannya.


"Aku tidak ingin menangis, aku harus kuat untuk mempertahankanmu di sisiku. Aku akan membuktikan pada Papa dan Mama, kalau akulah yang terbaik untukmu. Tersenyumlah Sweetheart, kuatkan aku agar aku bisa melakukannya."


"Aku mencintaimu, Sweetheart. Tidak akan aku biarkan siapapun memisahkan kita."


Tidak ada jawaban apapun dari mulut Sanchia, hanya tangis yang tiba-tiba mengalir semakin deras membasahi pakaian dan dada Sall yang bidang.


**************************


Sall berbaring di atas tempat tidur, memandangi langit-langit kamar president suite yang terhalang beberapa kamar dari kamar Sanchia. Waktu sudah menunjukan jam 2 dini hari, tapi pikirannya begitu sibuk memikirkan cara apa lagi yang akan dilakukannya, untuk meyakinkan kedua mertuanya.


Sejak keluar dari kamar mertuanya tadi, Sanchia langsung di bawa ke kamarnya oleh beberapa orang kepercayaan Papa Leonard. Sedangkan Sall tidak ingin melawan titah sang mertua saat ini. Akhirnya dia memilih ke kamarnya sendiri, setelah meminta Leroy ikut melakukan penjagaan terhadap Sanchia secara diam-diam. Sall berusaha menahan perasaannya, meskipun hatinya begitu tidak rela, karena harus berjauhan dengan istri yang sudah menjadi permaisuri di hatinya itu.


Tok..Tok..Tok..


Terdengar bunyi ketukan yang sangat keras di pintu kamarnya. Sall segera berlari menuju pintu dan membukanya dengan tidak sabar. Terlihat Leon, Leroy dengan beberapa anak buahnya yang babak belur dengan luka di di beberapa bagian tubuhnya.


"Sall, Sanchia diculik.."


"Apaaa?"


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight