The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 16 Masih Cemburu



Hari sudah menjelang siang, tapi nampaknya matahari masih enggan untuk keluar dari singgasananya. Bahkan langit terlihat mendung, seolah awan sedang bersiap menumpahkan air hujan yang kemungkinan akan berlangsung lama seperti beberapa hari kemarin.


Sanchia sudah beberapa kali meminta pelayan untuk memesankan makanan khas kota Bandung melalui aplikasi online. Mata dan lidah Sanchia sudah begitu tidak sabar menikmati makanan-makanan yang menggugah selera itu. Seperti batagor, cireng isi, cilok goang, tahu susu lembang dan es goyobod.


Sanchia sengaja memanfaatkan kesempatan untuk meminta pelayan memesan semua makanan itu, saat Sall tidak juga keluar dari ruang kerjanya sejak pagi tadi. Karena Sanchia tidak yakin, Sall akan memperbolehkan Sanchia untuk memakan makanan yang menurut Sall tidak terlalu sehat.


Selama 3 hari ini, Sanchia menemukan keanehan dari sikap Sall yang tidak pernah dilihat Sanchia sebelumnya. Selain lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerjanya karena alasan pekerjaan, Sall juga lebih rajin berolahraga di ruang gym, berlatih beladiri, berlatih menembak, makan sehat, selalu berpenampilan rapih, namun tidak lupa memanjakan Sanchia.


Sanchia hanya mengomentari perubahan sikap Sall ini dalam hati, tanpa berniat bertanya atau berkomentar secara langsung pada Sall. Bahkan saat Sall merubah semua produk perawatan tubuh dan kosmetik Sanchia tanpa terkecuali, Sanchia hanya menurut meskipun dengan berat hati karena tidak mudah mengganti sesuatu yang sudah begitu Sanchia sukai. Sekalipun Sall meyakinkannya, bahwa produk yang Sall berikan jauh lebih bagus dari semua produk yang Sanchia gunakan sebelumnya.


Sanchia sedang menonton drama Korea sambil menikmati sepiring batagor dan segelas es goyobod di ruang TV, saat Sall menghampirinya dengan tatapan penuh tanya.


"Babe, apa yang sedang kamu makan?"


"Batagor..Mau?"


Sall duduk di sebelah Sanchia sambil mengerutkan keningnya dan menggeleng pelan seolah tidak yakin dengan rasa makanan yang sedang dimakan oleh Sanchia itu.


"Enak Honey.. Coba dulu."


Sall kembali menggeleng dan mengatupkan mulutnya, saat Sanchia menyodorkan batagor yang ditusuk garpu di depan mulut Sall.


"Coba dulu.. Kalau kamu ga mau, aku marah ya."


Sall langsung membuka mulutnya dan melahap batagor yang disodorkan Sanchia. Sesaat kemudian mata Sall membulat dan mengunyah batagor di mulutnya dengan bersemangat.


"Enak Babe.. Aaaaa.."


Sall kembali membuka mulutnya meminta Sanchia untuk menyuapinya batagor yang hanya tinggal tersisa sedikit itu.


"Aku kan hanya memintamu mencicipinya, aku juga masih lapar."


Sanchia menyuapkan batagor ke mulutnya dengan lebih bersemangat, membiarkan Sall menganga dengan tatapan yang sangat memelas, memandangi piring Sanchia yang kini sudah kosong. Sanchia tertawa melihat Sall sambil mencubit pipi kekasihnya itu dengan gemas.


"Tenang Honey, masih ada 1 porsi lagi."


Mata Sall berbinar melihat Sanchia yang mengambil sekotak batagor, yang disimpannya di atas meja telepon di sebelah sofa. Seolah tidak sabar, Sall mengambil alih kotak batagor di tangan Sanchia, dan menumpahkannya ke atas piring Sanchia.


"Babe, aku mau disuapi.."


"Manja sekali sih kamu..Kan bisa makan sendiri."


"Rasanya beda kalau aku makan sendiri."


"Ah beda apanya, kamu itu suka mengada-ada."


"Pokoknya aku mau kamu suapi, pleaseeee.."


Sanchia menggelengkan kepalanya, namun tangannya tetap menyodorkan batagor tepat di depan mulut Sall, yang langsung memakannya dengan lahap.


"Honey, apa pekerjaanmu sudah beres? Sudah 3 hari ini kamu begitu sibuk bekerja, berolahraga dan berlatih."


Sall sedikit terkejut dengan pertanyaan Sanchia, yang ternyata memperhatikan apa yang dilakukannya selama 3 hari ini. Namun Sall berusaha terlihat biasa dengan tidak berhenti mengunyah batagor di mulutnya.


"Pekerjaanku hampir selesai, ada beberapa design gedung di Inggris yang harus aku kerjakan, ditambah urusan Klan sedikit membutuhkan perhatianku saat ini."


Sall sama sekali tidak berbohong dengan apa yang dikatakannya, namun ada satu hal yang ditutupi Sall saat ini. Sall begitu sibuk mengawasi pergerakan Alrico, Kevin dan juga Klan Ble Asteri yang tampaknya begitu gigih mencari tahu siapa dalang yang membebaskan tawanan Sall beberapa hari yang lalu.


Sall dan Leon sudah menghapus semua bukti yang sekiranya akan membuat Alrico dan Kevin tahu tentang Sall dan Klannya. Semua anak buah Sall yang sudah diselamatkan pun sudah dikembalikan ke Inggris, sehari setelah mereka dibebaskan. Sall tidak ingin ada celah sekecil apapun, yang akan membuat rencana lamarannya pada keluarga Sanchia menjadi gagal.


Sebenarnya ada 1 alasan yang menjadi sumber perubahan sikap Sall saat ini, yaitu rasa tidak nyaman setelah bertemu dan mengetahui banyak hal tentang Alrico. Sall akui, kalau dirinya merasa cemburu pada sahabat dari kekasihnya itu. Sehingga beberapa hari ini, Sall kembali mengasah semua kemampuannya agar tidak kalah saing dengan laki-laki yang dia anggap rival itu.



Sebenarnya ada lagi 1 fakta yang di dapat Sall tentang laki-laki di hidup Sanchia selain sahabatnya, Alrico. Sall baru mengetahui kalau Sanchia selama beberapa tahun terakhir seringkali mencari informasi tentang Satya Efrain Scott, pengusaha Inggris yang juga merupakan anak dari sahabat orangtuanya. Bahkan selama beberapa bulan terakhir, mereka begitu dekat dan bekerjasama dalam urusan klan, sejak Satya kembali ke Indonesia. Sall pikir Sanchia memiliki perasaan lebih terhadap Satya yang akan menikah kurang dari seminggu lagi itu.


"Babe, boleh aku bertanya?"


Sanchia menyimpan piring di atas meja, setelah Sall menghabiskan suapan terakhir batagornya dan menyeruput es goyobod milik Sanchia.


"Soal apa?"


"Apa aku boleh tahu, siapa seseorang yang pernah ada di hatimu sebelum ada aku?"


Deg..


Jantung Sanchia terasa dihantam palu besar mendengar pertanyaan Sall yang tidak diduganya itu.


"Kenapa kamu bertanya tentang hal itu?"


Kerutan di kening Sanchia, menunjukan rasa keberatan Sanchia untuk menjawab pertanyaan Sall saat ini. Sanchia tidak mau mengungkit masa lalunya yang sudah dikuburnya dalam-dalam.


"Aku hanya ingin mengetahui semua hal tentangmu, dan memastikan tidak ada orang lain di hatimu selain aku."


"Aku percaya Babe. Aku hanya tidak ingin jika suatu saat, masa lalumu kembali datang dalam hidupmu dan menggoyahkan perasaanmu."


"Itu tidak akan terjadi Honey. Percayalah padaku."


"Babe, aku bukan tidak percaya padamu, tapi aku tidak percaya pada laki-laki yang mungkin mencintaimu."


Sanchia menghela nafasnya sepelan mungkin, lalu menatap Sall yang memandangnya dengan intens.


"Sebelumnya, aku ingin kamu bercerita lebih dulu tentang seseorang dalam hidupmu sebelum aku."


Sall mengangkat kakinya, sehingga duduk bersila di atas sofa dan menghadapkan tubuhnya tepat di depan Sanchia.


"Sejujurnya, seumur hidupku, aku baru merasakan jatuh cinta padamu Babe.. Meskipun aku banyak dikelilingi perempuan sejak aku remaja, bahkan sejak aku masih kecil, tapi aku tidak pernah menyukai seseorang sebelumnya. Aku hanya menganggap mereka pengganggu, atau teman jika memang mereka kebetulan adalah anak dari sahabat orangtuaku. Tapi setelah bertemu denganmu, aku merasakan perasaan yang sangat berbeda Babe, aku menyadari kalau aku bukan hanya menyukaimu, tapi aku menyayangi dan mencintaimu Babe.."


Rasa haru tiba-tiba memenuhi ruang hati Sanchia yang seketika menghangat. Dielusnya pipi Sall dengan lembut, sambil menahan air mata yang menggenang di kelopak matanya.


"Terima kasih karena sudah mencintaiku Honey.. Aku juga mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu."


Senyuman Sall merekah, menghiasi wajahnya yang tampan, disusul dengan sebuah ciuman lembut yang mendarat di kening Sanchia.


Cup..


"Sekarang jawab pertanyaanku sebelumnya, jangan harap kamu bisa lolos dari pertanyaanku sebelumnya."


Tawa Sanchia pecah, mendengar ancaman Sall yang justru terdengar begitu lucu bagi Sanchia.


"Baiklah Honey, aku akan jujur padamu.. Hmm, aku pernah mencintai seseorang sebelumnya. Tapi saat ini aku sudah mengubur perasaanku padanya, aku hanya ingin dia bahagia dengan kehidupannya, karena dia banyak sekali membantuku dan keluargaku sejak bertahun-tahun yang lalu. Beberapa minggu ini, aku malah berpikir, kalau yang aku rasakan terhadapnya mungkin bukan cinta, melainkan hanya rasa utang budi dan terima kasih."


(Buat yang penasaran dengan bantuan yang diberikan Satya dan keluarganya terhadap Sanchia dan keluarganya, bisa kepoin di Eps 25 dan 28 Cold Man Chased by Love - Star on A Dark Night 2 ya).


Sall mendekap erat tubuh Sanchia dan mengelus punggungnya dengan lembut.


"Apa kamu tidak ingin bertanya siapa dia?"


Sanchia bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, karena Sall tidak bertanya siapa laki-laki yang pernah ada dalam hati Sanchia.


"Aku sudah tahu siapa laki-laki itu."


Sanchia mendorong keras dada Sall, lalu menatap wajah Sall dengan tatapan tajam.


"Lalu kenapa kamu bertanya, jika kamu sudah tahu orangnya?"


"Aku kan ingin mendengar langsung perasaanmu saat ini terhadapnya. Informasi yang aku tahu kan tidak termasuk isi hatimu."


"Aaaa..."


Sall tiba-tiba meringis saat Sanchia mencubit hidung Sall dengan sangat gemas, namun Sanchia malah tertawa senang mendengarnya.


"Babe sakiiiitt.."


"Ih sok manja.."


Senyuman manja menghias wajah Sall yang kini menyandarkan kepalanya di dada Sanchia, seraya melingkarkan tangannya di pinggang Sanchia dengan erat.


"Biar saja.. Aku manja pada calon istriku sendiri."


Kekehan terdengar jelas dari mulut Sanchia, namun sesaat kemudian ekspresi wajah Sanchia berubah.


"Honey, apa besok kita akan benar-benar menemui orangtuaku?"


Sall menegakkan tubuhnya dan memandang lekat wajah Sanchia seraya mengelus pipinya.


"Besok kita temui orangtuamu, dan menyampaikan niatku untuk melamarmu. Aku akan meyakinkan mereka agar mengizinkan kita untuk menikah."


Sanchia tersenyum lega dan mengangguk dengan mantap, sehingga menarik senyum sumringah di wajah Sall.



Perlahan Sall merengkuh tubuh Sanchia dan mendekapnya dengan sangat erat, menyalurkan perasaan cinta yang begitu besar dari hatinya.


"Honey, kita makan lagi yuk. Masih ada stock cireng isi, tahu susu dan cilok goang di pantry."


Sall melepaskan pelukannya dari tubuh Sanchia, lalu menatap aneh ke arah Sanchia.


"Makanan apa itu? Kalau sama enaknya dengan makanan tadi, aku mau."


"Aku jamin, makanan ini juga sama enaknya dengan batagor dan es goyobod tadi. Ya sudah, ayo kita makan di ruang makan saja."


Sall hanya tersenyum dan menurut, saat Sanchia menarik tangannya menuju pantry di lantai 1.


*************************