The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 88 Luapan Hati Alrico



INTERNATIONAL AIRPORT - LONDON, INGGRIS


Sall memandang private jet yang mengudara dengan membawa Sanchia, Shawn, Leroy, dua orang babysitter dan 10 orang pengawal untuk Sanchia dan Shawn. Perasaannya sangatlah tidak tenang, seolah ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Leon yang berdiri di sebelah Sall pun menyadari ekspresi Sall yang terlihat gelisah dan tidak tenang, membuatnya penasaran untuk bertanya secara langsung pada sahabat sekaligus Bos-nya itu.


"Ada apa Sall? Kamu terlihat cemas."


"Entahlah Leon, aku merasa sikap Sanchia begitu dingin padaku sejak semalam. Aku merasa ada sesuatu yang salah, tapi aku tidak tahu apa."


"Mungkin itu karena Sanchia masih bersedih karena kehilangan anak kalian, apalagi dia akan pergi ke Indonesia menjenguk keponakannya, dia pasti teringat anak kalian yang sudah tidak ada."


"Iya, mungkin itu alasannya."


"Sudahlah Sall, lebih baik sekarang kita segera menuju perusahaan. Kamu ada schedule Monthly meeting dengan GM seluruh Dept."


"Baiklah.." Jawab Sall masih dengan ekspresi cemasnya.


*************************


MANSION NIEVA & KEVIN - BANDUNG, INDONESIA


Dua hari kemudian, Sanchia sudah berkumpul bersama dengan kedua orangtuanya, Nieva, Kevin dan juga anggota keluarga baru, sang bayi cantik yang bernama Keiva. Sebenarnya Sanchia sudah tiba sejak kemarin, tapi karena Nieva masih di Rumah Sakit, Sanchia diminta Mama Annesya dan Papa Leonard untuk menunggu di mansion sampai Nieva pulang. Keadaan Sanchia yang sebenarnya belum pulih sepenuhnya, membuat Papa Leonard dan Mama Annesya lebih over-protective.


Sejak tiba di Bandung, Sall terus saja menanyakan kegiatan Sanchia melalui panggilan video call dan chat. Namun Sanchia hanya berbicara seperlunya, dan sikap ini begitu disadari oleh Sall, namun Sall khawatir Sanchia akan marah, jika Sall menanyakan tentang alasan perubahan sikap Sanchia itu.


Di kamar bayi yang didominasi warna pink dan putih itu, Sanchia terlihat memandangi wajah Keiva yang lelap tetidur, setelah diberi ASI. Tiba-tiba air matanya luruh, saat ingatannya kembali mengarah pada sang bayi, Sairish. Sanchia memang tidak sempat melihat langsung bayi mungilnya, tapi diam-diam Sanchia melihat photo Sairish yang diambil Sall, sesaat setelah Sairish dikeluarkan dari perut Sanchia.


"Kak, jangan menangis. Aku yakin, Kakak bisa segera hamil lagi. Banyak teman-temanku yang mengalami keguguran, tapi setelah itu mereka bisa langsung hamil lagi, bahkan ada yang kembar."


"Semoga saja ya Nieva." Jawab Sanchia seraya menghapus sisa tangis dan mengulas senyum tipisnya.


Sanchia mengarahkan pandangannya ke arah taman samping, melalui jendela kamar Keiva yang lebar. Pikirannya menerawang, bertanya-tanya tentang hal yang mengganggu pikiran dan perasaannya saat ini.


'Apa pernikahanku dengan Sall adalah suatu kesalahan? Disaat aku memutuskan menikah dengannya, aku yakin, kalau aku dan dia bisa saling melengkapi dan membahagiakan, karena kami berasal dari dunia yang sama. Tapi setelah aku tahu kalau aku kehilangan Sairish tepat di hari dia membunuh 4 orang pengkhianat sekaligus, aku merasa kalau kehilangan Sairish adalah karma untuk Sall dan aku atas semua dosa yang kami lakukan. Aku tidak akan meminta Sall berubah, karena aku paham dunianya. Tapi apa dengan begitu, aku dan Sall tidak berhak mengharap kebahagiaan?' Ratap Sanchia dalam hati.


"Eh ternyata kamu ada disini Sanchia."


Sanchia seketika membalikkan tubuhnya, dan mendapati Mama Annesya yang melangkah masuk menghampiri tempat tidur Nieva dan duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa Ma?"


"Hmm, dibawah ada Alrico, dia kesini untuk menjenguk Nieva dan memberi kado untuk Keiva. Tapi dia juga ingin bertemu kamu."


"Ma, kenapa sih Mama mengizinkan dia untuk selalu datang kesini. Kalian kan tahu apa yang sudah dilakukannya sama Sanchia saat di Korea."


"Iya Mama tahu Sayang, tapi Alrico kan sudah menyesali perbuatannya."


"Ah terserah Mama saja, Sanchia tidak mau menemui orang itu."


Mama Annesya hanya menghela nafas panjang, sedangkan Nieva memilih tidak mengatakan apa-apa, karena dia paham dengan sikap Sanchia yang begitu kecewa pada Alrico, sahabat yang berubah gila karena jatuh cinta pada kakaknya itu.


'Aku harus segera menemukan bukti keterkaitan Alrico dengan kematian anakku, aku sungguh tidak akan mengampuninya, jika memang dialah dalang dari semua kejadian buruk ini.' Rutuk Sanchia dalam hati.


Sanchia memilih meninggalkan kamar Keiva, dan berjalan cepat menuju taman di belakang mansionnya, karena kemungkinan Alrico akan diizinkan masuk untuk menjenguk Keiva di kamarnya itu. Sanchia sangat tidak ingin melihat wajah orang yang kemungkinan besar adalah dalang dari kematian bayinya itu. Untung saja Shawn sedang tidur siang ditemani dua orang baby-sitternya, sehingga Sanchia bisa menghibur dirinya sendiri di taman yang menyimpan banyak kenangan manis itu.


"Chia.."


Sanchia menarik nafasnya dengan kasar, mendengar suara yang sangat dikenalnya itu, terlebih panggilan yang masih tidak berubah, membuat Sanchia muak mendengarnya.


"Kenapa kamu tidak ingin menemuiku Chia? Padahal aku begitu merindukanmu."


"Cih.."


Ekspresi Alrico yang tersenyum senang, sama sekali tidak berubah saat mendapat respon Sanchia yang terlihat begitu kesal.


"Bagaimana kabarmu Chia? Aku sudah dengar kabar bayimu dari Tante Annesya, aku turut berduka cita ya."


"Hahaha.. Berhentilah bersandiwara Alrico, aku benar-benar muak melihat acting-mu."


"Sandiwara apa Chia? Aku benar-benar sedih mendengar kamu yang kehilangan bayimu. Aku juga khawatir dengan keadaanmu, Chia. Kamu yang paling memahamiku, bahkan aku tidak bisa berbohong padamu, karena kamu selalu mengetahui apa yang aku rasakan."


Sanchia membenarkan apa yang dikatakan Alrico, Sanchia selalu bisa mengetahui saat Alrico berbohong, dan saat ini Sanchia tidak menemukan kebohongan dari sorot mata Alrico. Namun Sanchia tidak ingin tertipu oleh Alrico, Sanchia lebih memilih berasumsi kalau Alrico sudah pintar mengelabuinya sekarang.


"Apa kamu benar-benar membenciku Chia?"


"Kamu sudah tahu jawabannya. Jika kamu tidak melakukan hal buruk terhadapku, aku pasti tidak akan membencimu."


Sanchia hendak pergi meninggalkan Alrico, namun cekalan tangan Alrico menahan langkahnya.


"Aku hanya memperjuangkan cintaku Chia. Kamu sejak awal sudah tahu perasaanku padamu, kamu hanya berpura-pura tidak tahu. Aku menjaga Nieva selama di Spanyol, karena aku mencintaimu. Aku rela menjadi tangan kananmu setelah tinggal di Indonesia, demi selalu dekat denganmu. Saat kamu menikah dengan Ketua Mafia itu, aku pun menerima tawaran menjadi Ketua Mafia setelah sebelumnya selalu aku tolak. Akulah yang paling mencintaimu Sanchia. Dan jika kamu ingin kita hidup menjadi orang biasa pun, aku rela melepas semuanya demi kamu."


Sejujurnya Sanchia begitu terkesiap dengan rentetan kalimat yang dikatakan oleh Alrico. Sanchia tahu pasti, Alrico adalah laki-laki yang tulus namun jatuh cinta pada orang yang tidak tepat.


"Kamu hanya terobsesi padaku, itu bukan cinta Al." Tegas Sanchia.


"Aku yakin kamu paham bedanya obsesi dan cinta. Aku mencintaimu sejak dulu, aku menghabiskan bertahun-tahun untuk mencintaimu, Chia. Apa tidak terlalu jahat, jika kamu mengatakan kalau aku hanya terobsesi padamu?"


Sanchia menatap pandangan Alrico yang berubah sendu, bahkan kini air mata sudah menggenangi kelopak mata Alrico.


"Berhentilah bersandiwara, tunjukkan maksudmu yang sebenarnya Al. Aku benci orang munafik."


"Harus dengan cara apa lagi, aku meyakinkanmu Chia? Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu. Tidak peduli kamu menolakku seumur hidupku, aku akan tetap menunggumu. Rasakan dengan hatimu, tidak ada kebohongan sedikitpun dengan apa yang aku katakan."


Alrico menarik tubuh Sanchia, sehingga menempel pada tubuhnya. Sanchia memberontak dan berusaha melepaskan diri, namun Alrico memeluknya dengan erat dan tidak berniat melepas pelukannya. Sedetik kemudian tiba-tiba bibir Alrico mendarat di bibir Sanchia, yang langsung mendorong keras tubuh Alrico. Tetapi Alrico tetap saja menahan bibirnya untuk tetap menempel di bibir Sanchia, meskipun Sanchia memberontak sekuat tenaga.


Grep..Bugh..


Tubuh Alrico terhempas karena sepasang tangan kekar melepas pelukan Alrico dari tubuh Sanchia, lalu membanting keras tubuh Alrico ke tanah.


Sanchia terkejut mendapati Leroy yang sudah begitu murka, menatap Alrico yang tersenyum sinis seolah meremehkan Leroy.


"Jangan pernah berani mendekati dan menyentuh Sanchia lagi. Brengs*k kamu Alrico. Ayo Sanchia."


Leroy memapah tubuh Sanchia yang melemah, seraya menghunuskan tatapan tajam pada Alrico yang baru saja berdiri seraya membersihkan bajunya yang sedikit kotor.


Sesampainya di depan kamar Sanchia, Leroy tidak lantas pergi, dia masih saja diam menunggu Sanchia masuk ke dalam kamarnya.


"Leroy.."


"Iya.."


"Tolong jangan katakan soal kejadian hari ini pada Sall."


"Aku akan tetap mengatakannya Sanchia."


"Sall sudah cukup pusing dan sibuk dengan urusannya di Inggris, aku tidak ingin hal ini mengganggunya. Aku pastikan kejadian ini tidak akan terulang lagi, dan nanti aku sendiri yang akan memberitahu Sall soal kejadian hari ini."


"Baiklah.. Aku tidak akan mengatakannya pada Sall." Dengan berat hati, Leroy menyetujui permintaan Sanchia.


"Terima kasih Leroy.."


"Ok.." Jawab Leroy, meskipun hatinya merasa tidak nyaman karena harus menyembunyikan hal ini dari sahabatnya.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight