
VILLA SALL - JEJU ISLAND
Setelah sarapan pagi bersama Sanchia, Sall langsung mengumpulkan seluruh anak buahnya di meeting room lantai 2, untuk membahas tentang strategi pengamanan dan pertahanan jika klan musuh menyerang mereka. Sebenarnya Sall sama sekali tidak berniat menyerang mereka lebih dulu, tapi strategi penyerangan pun tetap disusun, untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.
Sall benar-benar melarang Sanchia untuk ikut terlibat dalam hal ini, selain karena Sanchia sedang hamil, Sall juga tidak ingin Sanchia bertemu lagi dengan Shuga. Sikap Sanchia yang terlihat tidak biasa setiap kali mendengar nama Shuga, membuat Sall merasa khawatir dengan perasaan istrinya itu. Rasa percaya pada istrinya tentu sangat besar, tapi Sall tidak ingin pertemuan Sanchia dengan fans masa SMA-nya itu, akan mempengaruhi sikap dan perasaan Sanchia kedepannya.
Tidak ingin ada hal sekecil apapun yang dapat mengganggu kehidupan rumah tangganya dan Sanchia, adalah salah satu tujuan utama Sall mengambil langkah ini, terlebih Shuga bukanlah orang sembarangan. Sudah cukup Sall berhadapan dengan Alrico, laki-laki psikopat yang mencintai istrinya dengan cara yang terlalu gila. Belum lagi, Sall mengantisipasi orang-orang berbahaya sejenis Austin dan Javier dulu, yang kemungkinan akan sangat mengancam keselamatan Sanchia dan juga anak dalam kandungannya.
Sementara Sall sibuk dengan seluruh anggota klannya yang ada di Jeju, Sanchia memilih berlatih menembak di ruang latihan yang berada di sisi kanan villa-nya. Saat ini perasaan Sanchia sedang tidak menentu, bukan karena perasaannya yang goyah karena cinta di masa remajanya yang kembali hadir, tapi Sanchia seolah sedang membuka luka lama yang sebenarnya sudah mengering. Kehadiran Dhiany dan Shuga yang pernah menorehkan luka di hatinya, kini kembali datang, hanya untuk mengusik kehidupannya yang sudah bahagia bersama Sall.
Sanchia berusaha fokus membidik sasarannya, agar peluru dapat mengenai sasaran dengan tepat. Tapi entah kenapa, setiap kali Sanchia membidik, sasarannya berubah menjadi wajah Dhiany dan juga Shuga. Selama ini Sanchia sudah berusaha melupakan mereka dengan kesalahan yang pernah mereka lakukan padanya dulu. Tapi justru Dhiany dan Shuga datang kembali dengan kesalahan lainnya.
“Kenapa kalian seperti tidak puas mengganggu hidupku?”
Doorr…
Peluru Sanchia tepat mengenai bagian tengah sasaran tembak, diikuti dengan Sanchia yang menarik nafas panjangnya seolah berusaha meluapkan segala perasaan yang menyesakkan dadanya. Sesaat kemudian air matanya luruh tanpa bisa ditahannya, tangannya menekan kuat dadanya yang masih saja terasa sakit. Perlahan Sanchia melangkah pelan dan mendudukan dirinya di kursi yang terletak di pinggir area tembak. Disandarkan tubuhnya ke sandaran kursi yang nyaman, namun tetap tidak membuat perasaannya berubah nyaman.
‘Apa aku tidak berhak hidup tenang dan bahagia? Kenapa mereka kembali datang dalam kehidupanku? Aku sudah berusaha memaafkan dan melupakan kesalahan mereka padaku, tapi kenapa sekarang mereka kembali dengan kesalahan yang jauh lebih besar? Apa sebenarnya yang mereka inginkan dariku?’ Rutuk Sanchia dalam hati, diiringi air mata yang semakin deras berlinang.
Drrtt..Drrtt..Drrtt..
Sebuah panggilan video dari Sall seketika menghentikan tangisnya, Sanchia menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya dengan kasar dan terburu-buru, sebelum akhirnya mengangkat panggilan video dari Sall dengan senyum lebar di wajahnya. Terpampanglah wajah Sall, yang menyingkir sebentar keluar dari meeting room.
Beberapa saat sebelumnya, Sall begitu khawatir, saat monitor CCTV di laptopnya yang memperlihatkan Sanchia yang sedang menangis di ruang latihan menembak. Sall sudah menebak apa yang dirasakan oleh istrinya saat ini, tapi Sall tidak bisa menghampiri Sanchia, karena harus menyelesaikan meetingnya terlebih dahulu. Apalagi meeting akan berlanjut dengan virtual meeting jajaran Management perusahaan yang berada di Inggris, untuk membahas perkembangan perusahaan saat ini.
“Hallo Honey.. Apa meetingnya sudah selesai?”
“Sweetheart.. Tolong jangan menangisi orang-orang yang menyakitimu, jangan meratapi apa yang terjadi, dan serahkan semuanya padaku. Aku akan menyelesaikan semuanya. Aku hanya ingin kamu menjaga kesehatanmu, ingatlah ada anak kita di dalam perutmu. Lebih baik kamu beristirahat ya, kamu bahkan tidak tidur semalaman. Tolong menurut padaku ya Sweetheart..”
Sanchia kembali berkaca-kaca mendengar perkataan Sall, memang tidak ada hal yang bisa dia sembunyikan dari suami tercintanya itu. Sall akan selalu mengetahui apa yang terjadi dan dirasakan oleh Sanchia, serapat apapun Sanchia menutupinya. Kali ini Sanchia memilih mengangguk dan menuruti apa yang diminta oleh Sall padanya.
“Baiklah, sebentar lagi aku akan kembali ke kamar. Cepatlah kembali ke kamar jika meetingmu sudah selesai, Honey.”
“Baguslah kamu mau menurut.. Tapi maaf ya Sweetheart, sepertinya meetingnya akan berlangsung lebih lama, karena aku juga harus melakukan video conference dengan jajaran management di Inggris, untuk membahas perkembangan perusahaan. Tapi jika kamu butuh sesuatu, hubungi aku ya, Sweetheart."
“Oh baiklah, semoga meetingnya lancar ya Honey..”
“Aamiin.. Love you Sweetheart.”
“Love you too, Honey..”
*************************
Sanchia baru keluar dari kamar mandi, setelah berendam dan membersihkan diri, saat ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal, membuat Sanchia ragu untuk mengangkat panggilan tersebut. Selama beberapa detik, Sanchia hanya memandangi ponselnya yang terus saja berbunyi meminta diangkat. Tapi Sanchia masih enggan menerima panggilan itu, meskipun nomor itu lagi-lagi menghubunginya.
Beberapa saat kemudian, Sall tampak masuk ke dalam kamar dengan langkah yang terburu-buru.
“Angkat saja Sweetheart, bersikaplah tenang, jangan katakan kamu sedang bersamaku.”
Meskipun Sanchia belum tahu siapa orang yang menghubunginya, tapi Sanchia tetap mengangkat panggilan itu sesuai permintaan Sall. Tentunya dengan menggunakan mode loudspeaker, agar Sall dapat ikut mendengarkan apa yang penelpon itu bicarakan.
“Hallo.. Siapa ini?”
“Sanchia.. Aku Shuga..”
Deg…
Mendengar kembali suara Shuga setelah belasan tahun tidak bertemu, ternyata memberikan efek yang cukup kuat pada hati Sanchia. Terlebih perasaan sensitifnya sangat mempengaruhi perubahan mood dan sikapnya. Sall menggenggam tangan Sanchia yang mulai basah, untuk sekedar memberinya ketenangan. Sall paham, saat ini bukan waktunya untuk cemburu, tapi Sall harus mendukung Sanchia untuk menghadapi kembali penyebab lukanya di masa lalu. Sall akan selalu menjadi pelindung pertama dan utama bagi satu-satunya peremnpuan yang paling dicintainya itu.
“Apa maumu?”
Nada suara yang terdengar sangat tidak ramah, membuat Shuga menghela nafas panjangnya, sebelum kembali mengeluarkan kata-katanya.
“Apa saat ini kamu sedang bersama dengan suamimu?”
“Tidak.. Apa aku harus memanggilnya?”
“Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Tidak usah bertele-tele.”
“Aku ingin bertemu denganmu, Sanchia.. Aku benar-benar ingin mengatakan apa yang aku rasakan selama hampir 12 tahun ini. Aku ingin kamu tahu, kalau selama ini, aku sangat merindukanmu.”
Sesungguhnya emosi Sall sudah naik ke ubun-ubun, tapi Sall sebisa mungkin menahannya karena tidak ingin membuat Sanchia merasa lebih tertekan. Saat ini Sanchia sangat membutuhkan supportnya, sehingga sementara ini, Sall lebih memilih menahan rasa cemburunya. Namun entah apa yang akan dilakukannya nanti, saat bertemu langsung dengan Shuga. Sall pun tidak bisa menjamin dirinya akan mampu menahan diri, untuk tidak menghajar Shuga sampai babak belur.
“Jadi bisakah kita bertemu, Sanchia?”
“Kenapa aku harus menemuimu? Aku tidak punya alasan untuk melakukannya.”
“Tentu kamu punya alasan kuat untuk menemuiku. Kamu pasti tidak ingin keluarga, anggota klanmu, juga klan suamimu mengorbankan nyawa mereka hanya untuk melindungimu kan? Setidaknya akan ada banyak orang yang terluka, bahkan kehilangan nyawa, jika sampai perang terjadi. Kalau kamu memang peduli pada mereka, maka turuti saja kemauanku.”
Sall menggeretakan giginya, karena sekuat tenaga menahan emosinya yang sudah memuncak. Genggaman tangan Sall pun, dirasakan Sanchia semakin bertambah erat. Sall tentu saja tidak rela dengan ancaman Shuga yang begitu menekan istrinya.
“Dimana kamu ingin bertemu?”
Sall menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju dengan ide gila Sanchia untuk menemui Shuga. Namun Sanchia berusaha menenangkan dan meyakinkan Sall dengan tatapan meneduhkannya. Sall meremas kasar rambutnya dengan sebelah tangannya, namun berusaha untuk tetap tidak mengeluarkan suara sekecil apapun, agar Shuga tidak curiga.
“Aku akan menghubungimu lagi dan memberitahukan dimana kita harus bertemu. Jangan pernah berpikir untuk membawa suamimu, atau siapapun denganmu, karena aku pasti mengetahuinya. Jika kamu sampai melakukannya, maka aku akan langsung menghancurkan semua orang yang kamu sayangi. Kamu mengerti kan Sanchia?”
“Iya aku mengerti..”
“Baiklah Sanchia. Aku begitu sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku mencintaimu, Sanchia..”
Tuuutt..
Seketika panggilan dari Shuga terputus tanpa menunggu tanggapan dari Sanchia. Sall memeluk tubuh Sanchia yang terasa lemas dan tidak bertenaga, seraya mengelus lembut punggung Sanchia yang terasa dingin.
"It's okay, Sweetheart.. Kita akan atur strategi, agar kita semua bisa aman, tanpa kamu perlu menemuinya."
Tok..Tok..Tok..
Suara ketukan di pintu, menginterupsi pelukan mereka yang terasa menenangkan.
"Sall..Sanchia, ini aku Leon. Ada yang harus aku laporkan."
Sanchia dan Sall segera melepas pelukan mereka, dan Sanchia segera masuk ke ruang walk in closet untuk mengganti bajunya. Sementara Sall segera membukakan pintu untuk Leon, yang begitu terlihat tidak sabar.
"Bagaimana Leon, apa kamu menemukan lokasinya?"
"Iya, lokasi mereka ada di Seoul. Apa kita akan menyerang mereka?"
"Tidak untuk saat ini. Cari tahu seberapa banyak anggota klan mereka, kekuatan mereka dan senjata yang mereka gunakan. Kamu harus bisa menemukan informasi tentang mereka selengkap mungkin. Minta bantuan Brandon dan anak buahnya, jika kekuatan kita tidak cukup untuk menghadapi mereka. Aku akan menghubungi Kevin dan meminta bantuan Bryllian, agar mereka segera bersiap di Indonesia."
"Siap Sall.."
*************************
Image Source : Google Im Jin Ah Drama
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight