
Selesai makan malam, Sall memeluk tubuh Sanchia dari belakang, keduanya menatap ke arah menara Eifell yang terlihat berkelap-kelip dengan indahnya.
"Sweetheart, kita tidur yuk.. Besok kita harus menghadiri pemberkatan pernikahan pagi-pagi sekali, lalu menuju ke mansion Tuan Juan."
Sebenarnya Tuan Juan sudah menawari Sall, Sanchia dan seluruh keluarganya untuk menginap di mansion miliknya, tapi Sall sudah menolak karena tidak ingin merepotkan Tuan Juan. Lagipula Sall ingin istri, anak-anak dan seluruh keluarganya bisa menikmati pemandangan menara Eifell saat mereka sampai di Paris. Bahkan saat mereka baru sampai siang tadi, Shawn, Shanaya dan Keiva terlihat begitu menyukai pemandangan tower yang menjulang tinggi itu. Begitupun dengan Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan Kevin, meskipun bukan pertama kalinya mereka mengunjungi menara Eifell.
"Apa jaraknya jauh dari sini, Honey?"
"Tidak, hanya beberapa belas menit saja. Maaf ya Sweetheart, kita tidak bisa berlama-lama di Paris, aku memiliki beberapa meeting penting lusa nanti. Apalagi Leroy dan Leon akan mengambil cuti selama dua minggu. Untung saja beberapa pekerjaan Leon sudah di handle Sekretaris Perusahaan."
"Tidak apa-apa Honey. Baru 2 minggu kita kembali ke Inggris, setelah lama di Indonesia. Rasanya justru tidak baik, kalau kamu terlalu sering meninggalkan perusahaan. Sekalipun kamu adalah CEO-nya, Honey." Sall memutar lembut tubuh Sanchia sehingga menghadapnya, lalu menghadiahi bibir ranum Sanchia dengan ciuman lembutnya.
"Terima kasih, karena selalu mengerti aku. Aku sangat bersyukur bisa mencintai dan memilikimu, Sweetheart." Ucap Sall lembut, yang dibalas senyum manis Sanchia.
"Honey, sejujurnya sebelum bertemu denganmu, aku sama sekali tidak pernah memikirkan pernikahan. Yang aku pikirkan adalah klan, dendam, orangtua, juga adikku. Tapi setelah bertemu denganmu, rencana hidupku mendadak berubah, tapi aku tidak menyangka akan sebahagia ini, Honey. Terima kasih telah hadir dalam hidupku." Sanchia mengakhiri ungkapan hatinya dengan mencium sekilas bibir Sall.
"Sweetheart, akulah yang seharusnya berterima kasih padamu. Aku pun sama sepertimu, sebelum bertemu denganmu, aku sama sekali tidak pernah memikirkan pernikahan. Aku terbiasa hidup sendiri tanpa keluarga. Tapi setelah bertemu denganmu, aku mendapatkan segalanya Sweetheart. Melalui kamu, Tuhan memberiku keluarga besar, sahabat baik, anak-anak yang sangat lucu, dan tentunya istri yang cantik dan bisa memberiku kebahagiaan yang lengkap. Dan tahukah kamu Sweetheart, setelah menikah denganmu, begitu banyak rezeki yang datang. Aku pun tidak mengerti, kenapa bisa seperti itu. Terima kasih banyak, Sweetheart. I love you so much." Ungkapan hati Sall menghangatkan hati Sanchia yang kini kembali mengulas senyum manisnya.
"I love you more, Honey." Lirih Sanchia.
Sall memeluk erat Sanchia, lalu menghujani wajah dan bibir Sanchia dengan ciuman lembut yang bertubi-tubi. Sedangkan Sanchia menutup matanya, menikmati kasih sayang yang dicurahkan oleh suaminya selama beberapa lama
"Sweetheart, tidurlah. Malam ini aku tidak akan mengganggumu, karena besok kita harus bangun pagi. Aku tidak akan membuatmu kelelahan malam ini, nanti saja sepulang dari Paris." Sanchia tersenyum jahil seraya memicingkan mata, menanggapi niat baik suaminya.
"Apa kamu serius Honey?" Sanchia memastikan kembali perkataan suaminya yang sepertinya tidak terlalu meyakinkan.
"Ayolah Sweetheart, jangan membuatku berubah pikiran. Aku sedang menahan diriku sekuat tenaga untuk membiarkanmu istirahat malam ini." Raut memelas Sall justru membuat tawa Sanchia pecah. Sanchia sudah sangat mengerti dengan gelagat suaminya, jika sedang menahan hasratnya. Sanchia paham, Sall sedang mengesampingkan keinginannya, karena tidak ingin Sanchia kelelahan dan kurang tidur malam ini.
Sanchia menyusuri wajah, leher dan dada Sall dengan jari-jari lentiknya. Lalu menatap Sall dengan tatapan menggoda dan bibir yang sedikit terbuka.
"Paris, beautiful view, romantic room, romantic dinner, flowers, candles, and us (Paris, pemandangan indah, kamar romantis, makan malam romantis, bunga-bunga, lilin-lilin, dan kita). Apa kamu tidak ingin membuatnya sempurna, Honey? Aku tahu, kamu sudah memperhatikan beberapa spot kamar, sejak kita datang tadi." Sall yang menahan hasratnya sejak tadi, tiba-tiba menggendong Sanchia hingga Sanchia memekik karena terkejut dengan apa yang Sall lakukan.
"Kamu yang menggodaku Sweetheart, dan kamu tidak tidak bisa berubah pikiran." Ujar Sall lalu mencium bibir Sanchia, seraya menggendong Sanchia menuju tempat tidur mereka.
Akhirnya pasangan halal itu mengeksplor semua spot kamar dengan kegiatan favorit mereka sampai pagi menjelang.
*************************
Sall dan Sanchia baru tertidur kurang dari 2 jam, namun suara alarm ponsel yang sengaja diatur Sanchia, sudah memaksa mereka membuka mata yang masih terasa berat.
"Ayo bangun Honey, kita harus segera bangun dan bersiap-siap. Belum lagi, kita harus membantu anak-anak untuk bersiap-siap juga." Sall malah mengeratkan pelukannya dan tidak membiarkan tubuh Sanchia membuat jarak dari tubuhnya.
"Sebentar lagi Sweetheart, 5 menit lagi ya." Jawab Sall seraya membenamkan kepalanya di ceruk leher Sanchia. Namun Sanchia malah mendorong pelan tubuh Sall.
"Kamu akan membuat kita terlambat ke pernikahan kedua saudaramu. Aku akan mandi duluan."
"Eiiits.. Ayo kita mandi bersama." Sall mengulas senyumnya, sementara Sanchia mendongak dengan raut penuh kecurigaan terhadap suaminya.
"Kamu akan membuat ritual mandi kita semakin lama, sudah aku mandi duluan saja." Sanchia hendak turun dari tempat tidur, namun tangan Sall masih saja menahan tubuhnya.
"Tidak ada penolakan Sweetheart." Sall segera menuruni tempat tidur, lalu menggendong Sanchia menuju kamar mandi. Sesuai kecurigaan Sanchia tadi, kegiatan mandi yang seharusnya berlangsung cepat itu menjadi sangat lama. Tentunya karena tambahan kegiatan di dalam bathtub, di bawah shower, bahkan di atas meja rias dan sofa kamar mandi.
Selesai mandi, Sall dan Sanchia yang masih berbalut bathrobe, memulai ritual paginya dengan menggunakan skincare di depan cermin yang ada di kamar mandi. Sanchia begitu terkejut, saat menyadari begitu banyaknya jejak kepemilikan yang ditinggalkan Sall di leher, dada bahkan bagian tubuh Sanchia yang lain.
"Honey, kenapa begitu banyak kissmark di dada dan leherku. Kalau begini, aku tidak bisa memakai gaun yang sudah aku siapkan. Tidak ada waktu untuk mencari gaun lain." Protes Sanchia.
"Tidak apa-apa, semua orang juga tahu, akulah pelakunya." Jawab Sall seraya memasang senyum jahilnya, lalu memeluk dan menciumi wajah Sanchia dengan gemasnya. Hal ini berhasil menghilangkan rasa kesal Sanchia dan membuatnya kembali mengulas senyum manis pada sang suami.
"Kamu benar-benar menyebalkan Honey, sayangnya aku benar-benar mencintaimu." Senyum tampan Sall mengembang sempurna mendengar pengakuan Sanchia yang begitu jujur dan apa adanya.
Setelah Sall melepas pelukannya atas permintaan Sanchia, istri tercintanya itu kembali sibuk dengan rangkaian skincare yang ada dihadapannya.
"Ayo kita bersiap Honey, jangan sampai kita terlambat." Ujar Sanchia dengan tangan menepuk-nepuk pipinya dengan moisturizer.
"Perfect.." Ujar Sall puas.
************************
Sall, Sanchia dan seluruh tamu undangan menyaksikan pemberkatan pernikahan Leroy dan Leticia juga Leon dan Leandra dengan sangat khidmat, di sebuah gereja yang terletak tidak jauh dari mansion Tuan Juan. Suasana begitu haru, terlebih saat keempat mempelai itu dinyatakan sah sebagai suami istri.
Sall mengulas senyum tipis seraya merangkul lembut bahu Sanchia, yang juga tersenyum bahagia. Shawn dan Shanaya yang ikut menyaksikan kedua Uncle-nya menikah pun, begitu ceria dan terlihat bersemangat. Hati Sall begitu bahagia, karena kedua sahabat terbaiknya kini sudah menemukan pendamping hidup seperti dirinya. Meskipun setelah ini, Sall harus siap ditinggal Leroy yang harus membantu Leticia untuk mengembangkan klannya di Perancis. Tapi setidaknya, Leon masih bisa membantunya, karena Leandra akan ikut dengan Leon untuk tinggal di Inggris.
Acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan yang berlangsung di taman mansion milik Tuan Juan. Pesta bertema garden party itu, dihadiri banyak kerabat dan sahabat dari klan keluarga Laren, juga klan Toddestern dan klan Ble Asteri. Bahkan sahabat-sahabat Sall dan Sanchia yang merupakan Ketua Klan besar pun ikut hadir, yaitu Bryllian dan Zivara dari Klan Chrysos Dragon, Brandon dan Sharon dari Wang Eagle, dan Larry dari DS Scorpion.
Leroy dan Leon memeluk Sall dan berterima kasih karena peran Sall sangatlah besar, hingga mereka bisa mendapat restu dan menikahi wanita pujaan mereka dalam waktu yang sangat cepat.
"Thank you Sall.. Kamu bukan hanya sahabat dan keluarga kami, tapi kamu juga penyelamat kami." Ujar Leon yang ditanggapi dengan anggukan mantap dari Leroy.
"Thank you Bro, terlalu banyak yang sudah kamu lakukan untuk kami. Aku benar-benar bersyukur, karena kamu, semua bisa berjalan dengan lancar."
"Sudahlah, jangan membuatku sedih di moment bahagia ini. Aku sudah menyiapkan paket bulan madu untuk kalian. Tentunya ke negara-negara impian kalian." Leroy dan Leon lagi-lagi memeluk Sall karena rasa haru dan terima kasihnya pada sang sahabat.
Senyum-senyum bahagia tidak henti terulas di wajah para kerabat, sahabat dan semua tamu undangan. Tuan Juan dan Nyonya Larisa terlihat sangat bahagia melihat kedua Putrinya telah resmi menikah dengan laki-laki pilihan mereka. Bahkan sekarang Leroy dan Leon sudah mulai memanggil Tuan Juan dan Nyonya Larisa dengan panggilan Papa dan Mama.
Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan Kevin yang menggendong Keiva mengucapkan selamat pada Leroy dan Leticia juga Leon dan Leandra. Disusul kemudian oleh Bryllian dan Zivara yang menuntun si kembar Bradley dan Briley, Brandon dan Sharon bersama si pendiam Zeroun, dan juga Larry yang masih saja tanpa pendamping setiap kali menghadiri acara-acara penting.
Leroy dan Leon begitu berterima kasih pada keluarga Sall dan Sanchia dan juga sahabat-sahabatnya yang telah hadir, terlebih begitu banyak hadiah bernilai fantastis yang mereka terima. Rasanya mereka tidak pernah membayangkan, akan mendapat anugerah sebesar dan sebanyak itu dalam waktu yang bersamaan.
"Honey, apa kamu bahagia melihat mereka?" Tanya Sanchia pada Sall yang masih saja mengulas senyum ke arah dua pasang mempelai.
"Sangat.. Karena mereka akan mendapatkan kehidupan yang terasa lengkap seperti aku. Terima kasih Sweetheart, kamu membuat hidupku begitu sempurna." Sall mencium lembut bibir Sanchia, tidak peduli ada banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Untung saja, Shawn sedang asyik memakan ice cream-nya bersama Zeroun, Bradley dan Briley, sehingga tidak menyadari kalau kedua orangtuanya cukup menjadi pusat perhatian saat ini.
"Sepertinya kita harus bekerja keras untuk bisa mengalahkan kemesraan dan keromantisan mereka." Ujar Leon pada Leroy.
Seolah merasa tertantang dengan perkataan Leon dan kemesraan Sall dan Sanchia, seketika Leroy mencium bibir Leticia dengan sangat mesra. Leon yang melihatnya pun tidak mau kalah, sehingga langsung memagut bibir Leandra dengan rakusnya.
"Sepertinya kita harus segera kembali ke hotel Sweetheart, aku juga tidak mau kalah dengan keempat pengantin baru itu." Ungkap Sall yang langsung dihadiahi cubitan di pipinya.
"Nanti saja di London." Jawaban Sanchia berhasil membuat wajah Sall merengut seketika, sedangkan Sanchia justru tersenyum jahil, karena sukses membuat suaminya terlihat kesal.
*************************
Image Source : IG Toni Mahfud, Im Jin Ah, Kevin Lutolf, Mariano Divaio
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight