
VILLA SALL - JEJU ISLAND
Sebuah ruangan luas bercat putih dengan banyak lukisan tergantung, dari mulai ukuran kecil sampai ukuran besar, begitu memanjakan mata Sanchia. Sanchia mulai mengitari seluruh ruangan itu, namun sesaat kemudian, pandangan Sanchia terpaku pada dua lukisan yang tergantung dengan ditutupi kain berwarna putih. Sanchia sangat penasaran dengan lukisan tersebut, tapi sebelum Sanchia hendak mendekati lukisan itu, Sall menghentikan langkah Sanchia dengan menahan lembut pergelangan tangannya.
"Sweetheart, berdirilah disini. Aku akan membuka lukisan itu untukmu."
Sanchia hanya menganggukan kepalanya seraya memasang raut wajah sangat penasaran dengan dua lukisan bersebelahan yang ada di hadapannya. Sall perlahan mulai membuka kain penutup itu pada lukisan yang ukurannya lebih kecil, sehingga terpampanglah satu lukisan yang begitu membuat Sanchia tersenyum bahagia. Sebuah lukisan dirinya saat honeymoon di kapal pesiar, kini membuat matanya berbinar.
"Kapan kamu melukisnya Honey?"
"Aku melukisnya saat kamu menghilang. Aku begitu merindukanmu saat itu, sampai rasanya aku tidak sanggup hidup lagi. Tapi lukisan disebelahnya, membuatku semakin kuat, untuk secepatnya menemukanmu."
"Memangnya lukisan apa Honey?"
"Lihatlah Sweetheart."
Sall segera menarik kain penutup dari lukisan yang ukurannya jauh lebih besar dari lukisan yang pertama, lalu Sall berdiri tepat di sebelah lukisan itu. Lukisan seorang bayi, yang berasal dari mimpinya saat Sanchia menghilang.
Sanchia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya saat melihat lukisan besar dihadapannya itu. Sall kini berjalan mendekat ke arah Sanchia, lalu memeluknya dari belakang.
"Saat aku merasa putus asa karena tidak kunjung menemukanmu, aku bermimpi melihatmu yang sedang mengelus lembut perutmu yang tampak membesar. Anehnya, aku bisa melihat isi perutmu yang menerawang. Dialah yang aku lihat saat itu, seorang bayi yang bergerak-gerak perlahan di dalam perutmu. Saat aku terbangun, aku menganggap kalau mimpi itu adalah pertanda bahwa kamu sedang mengandung anak kita. Aku langsung melukisnya tanpa membuang waktu. Tentu saja aku tidak bisa menyelesaiakannya dengan cepat, karena aku lebih fokus untuk menemukanmu, Sweetheart. Baru malam tadi aku berhasil menyelesaikannya, dan langsung meminta Leroy untuk membawanya ke villa ini. Selama belum selesai, aku menyimpannya di kamar hotel yang pertama kali aku tempati."
Air mata Sanchia sudah luruh tanpa bisa ditahannya, rasa haru kini menyelimuti seluruh bagian hatinya. Sanchia sama sekali tidak menyangka, kalau Sall sudah mendapat firasat tentang kehamilannya, bahkan sebelum Sall menemukannya.
"Apa mungkin itu yang disebut ikatan batin antara Ayah dan anak, Honey? Aku bahkan tidak menyadari bahwa aku sedang hamil, tapi kamu malah bisa begitu yakin, kalau saat itu aku sedang mengandung anak kita."
"Entahlah Sweetheart, mungkin saja Allah memberiku petunjuk, agar bisa segera menyelamatkanmu dan juga anak kita."
Sanchia tidak menanggapi perkataan Sall, karena dirinya sedang sibuk menahan tangis dan isakannya yang terdengar semakin memilukan di telinga Sall.
"A..ku..ham..pir..mem..bu..at..anak..kita..me..ning..gal."
Sall mengeratkan pelukannya, seraya menciumi rambut Sanchia.
"Semua sudah baik-baik saja Sweetheart, jangan mengingat lagi hal-hal yang buruk. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, kita lupakan semuanya, dan membuka lembaran baru yang bahagia bersama anak kita. Kamu mau kan, Sweetheart?"
"Iya Honey, aku mau."
*****************************
Menjelang petang, Sall dan Sanchia menikmati waktu dengan duduk di pinggir pantai yang sepi dan menenangkan. Beberapa saat kemudian, Kevin dan Nieva terlihat menghampiri Sall dan Sanchia yang sedang menyesap juice mereka. Kevin mendudukan dirinya di kursi yang berada tepat di hadapan Sall, sedangkan Nieva memilih duduk berhadapan dengan Sanchia.
"Sall, terima kasih banyak untuk semuanya. Aku begitu bahagia dan tidak menyangka akan mendapat kejutan seistimewa ini. Aku sangat berterima kasih padamu."
"Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan. Semua tidak sesulit dan seburuk yang kamu pikirkan Kevin."
"Iya Sall..Tapi bagaimana kamu membuat mereka berada disini Sall?"
"Jangan pikir kalau kami tidak peduli dengan kebahagiaanmu Kevin. Kami menanyakan masalahmu pada istrimu, dan soal alamat kedua orangtuamu, aku cukup menanyakannya pada Bryllian. Tidak sulit untuk membuat kedua orangtua dan adik-adikmu untuk datang kesini, Leon cukup menyuruh orang untuk pergi ke Seoul dan Gwangju untuk mengatur penerbangan keluargamu. Waktu penerbangan Seoul-Jeju dan Gwangju-Jeju itu hanya 1 jam lebih, Kevin. Kamu saja yang overthinking, sehingga pikiran burukmu membuat jarak yang dekat seolah begitu jauh."
"Kevin, maafkan jika aku terlalu ikut campur dan ingin tahu, tapi aku penasaran kenapa pasangan dari Eomma dan Appa-mu tidak ikut?" Sanchia yang sudah terlalu penasaran, memberanikan diri untuk bertanya pada Kevin.
"Eomma dan Appa sudah berpisah dengan pasangan mereka masing-masing. Hmm, aku sungguh berdosa karena selalu mengira Eomma dan Appa tidak peduli padaku, padahal sebenarnya mereka sangat menyayangiku. Bahkan adik-adik tiriku, begitu bangga memiliki Kakak sepertiku. Hanya saja mantan suami Eomma selalu berjudi, mabuk-mabukan dan melakukan kekerasan terhadap Eomma. Mantan suami Eomma, selalu menghabiskan uang yang aku kirimkan untuk berjudi. Terkadang Eomma meminta uang lagi karena bingung memenuhi kebutuhannya dan adik-adikku. Aku kira Eomma hidup mewah dengan uang yang selalu aku kirimkan, tapi ternyata tidak."
Kevin menghela nafasnya yang sedikit tidak beraturan, Nieva mengelus lembut lengan Kevin, agar Kevin bisa lebih tenang saat bercerita.
"Nasib Appa juga tidak jauh berbeda, mantan istrinya sangat matrealistis. Dia menghabiskan uang yang aku kirimkan pada Appa, untuk membeli barang-barang branded. Dan yang lebih parahnya, wanita itu menggunakan semua barang-barang mewah itu untuk menjerat banyak lelaki tua yang kaya raya."
"Mereka benar-benar gila..."
Sanchia terlihat emosi mendengar cerita Kevin, Sall mengelus lembut bahu Sanchia yang dirangkulnya, agar Sanchia tidak lagi larut dalam emosinya. Sall khawatir hal itu akan berpengaruh pada bayi mereka.
"Hal itu menjadi pelajaran bagiku, meskipun Eomma dan Appa pada akhirnya menyadari kalau mereka masih saling mencintai, tapi perasaan sama-sama pernah mengkhianati dan dikhianati, tetap tidak bisa membuat mereka bersatu kembali. Aku bertekad, tidak akan mengulang kesalahan kedua orangtuaku."
Kevin mengalihkan pandangannya pada Nieva yang duduk di sebelahnya, lalu menggenggam tangan istrinya begitu erat.
"Aku akan selalu setia padamu, Nieva, aku tak akan pernah mengorbankan sesuatu yang paling berharga, hanya untuk kesenangan sesaat. Karena aku begitu mencintai kamu, dan hanya ingin bersamamu sampai akhir hayat."
Mata Nieva mulai berkaca-kaca karena terharu dengan apa yang dikatakan Kevin, sedangkan Sanchia terlihat menangkupkan kedua tangan, mengagumi adegan di hadapannya.
"Ah, so sweet..Kamu romantis sekali sih, Kevin."
Tiba-tiba Sall melemparkan serbet ke arah Kevin, membuat Kevin dan juga Nieva terlonjak kaget.
"Sudah, berhenti sok romantis di depan kami, kami sedang tidak ingin menonton drama Korea."
Seru Sall yang sebenarnya tidak suka kalau Sanchia menunjukan kekagumannya, sekalipun pada iparnya sendiri. Sedangkan Kevin, Nieva juga Sanchia terkekeh geli, melihat tingkah Sall yang sedikit kekanak-kanakan.
***********************
Image Source : Instagram Toni Mahfud & kamon_antc
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight