
MANSION SALL & SANCHIA - LONDON, INGGRIS
Di salah satu ruangan luas yang dikelilingi photo-photo dan lukisan-lukisan berukuran besar, Sall dan Sanchia duduk berdampingan dengan kedua tangan Sanchia merangkul lengan kokoh Sall. Keduanya menatap haru photo-photo yang menjadi saksi perjalanan kisah mereka berdua, photo dari saat belum menikah, sampai Sanchia hamil untuk kedua kalinya.
"Honey, kenapa sih di photo yang kita pakai baju pink, kamu tidak mau berpose dengan jari membentuk tanda hati? Padahal aku sudah begitu bersemangat, tapi kamu malah menunduk begitu." Merengut kecewa, Sanchia memandangi photo 4 bulan yang lalu, beralih memasang raut kesal ke arah Sall. (Anggap aja photonya pakai baju pink ya, edit pake picsart gagal,hihi..)
"Aku kan sudah menunjukkannya padamu, bahkan dengan 2 tangan." Seraya membuat tanda love dengan keempat jarinya.
"Tapi kan tidak di ambil photonya." Kesal Sanchia.
Menangkupkan kedua tangan, Sall memasang raut sedih seraya memohon pada Sanchia agar mengerti alasannya, yang tidak mau berphoto dengan pose menggemaskan itu.
"Please, jangan kesal lagi ya. Kita memajang photo di gallery kita, dimana keluarga kita atau anak-anak kita suatu saat akan melihatnya. Apa kamu tega membiarkan harga diriku sebagai Ketua Mafia turun karena 1 photo? Aku akan menunjukkan seluruh cintaku padamu, tapi jangan minta aku berphoto dengan pose seperti itu."
Helaan nafas panjang yang disertai anggukkan dari Sanchia, seketika membuat Sall tersenyum lalu memeluk dan menciumi wajah Sanchia dengan gemasnya.
Kembali menatap photo-photo dihadapannya, Sall merangkul mesra bahu Sanchia, yang kini menyandarkan kepalanya di dada bidang Sall seraya menatap photo-photo yang sama seperti Sall.
"Sweetheart, begitu banyak hal yang sudah kita lalui. Semoga semua kenangan indah dan kenangan buruk itu membuat cinta kita semakin kuat. Berjanjilah kamu akan selalu mencintaiku dan berada disampingku sampai ajal menjemput."
Tatapan Sall yang begitu dalam dibalas tatapan tulus berbalut senyum haru dan anggukan mantap dari Sanchia.
"Aku berjanji akan selalu mencintaimu sampai ajal menjemput, selama kamu pun mencintaiku Honey."
"Tentu aku akan selalu mencintaimu Sweetheart, selamanya.. Hah, cintamu bersyarat, tapi tidak masalah untukku, karena aku tidak akan mengingkari janjiku."
Disentuhnya ujung hidung Sanchia dengan gemas, sementara Sanchia hanya tersenyum jahil ke arah Sall.
"Honey, benar kamu akan selalu mencintaiku selamanya? Janji?"
Sanchia menyodorkan jari kelingkingnya dihadapan Sall, yang langsung disambut Sall dengan melingkarkan jari kelingkingnya agar saling bertautan.
"Janji.."
Seperti anak kecil, Sanchia tersenyum sumringah dengan kedua mata berbinar menatap dua jari kelingking yang saling bertautan selama beberapa detik itu.
"Sweetheart, maafkan aku.. Karena kita tidak bisa merayakan Hari Anniversary kita dengan meriah dihadapan banyak orang.. Kamu pasti kecewa karena 2 bulan yang lalu kita hanya merayakannya berdua saja."
Hari Anniversary Sall dan Sanchia yang seharusnya ikut dirayakan banyak orang, terpaksa tidak akan pernah dirayakan sesuai tanggal aslinya. Bahkan tahun pernikahan mereka pun diubah untuk menyesuaikan dengan kelahiran Shawn. Sall dan Sanchia ingin semua orang tahu, kalau Shawn adalah anak kandung mereka, bukan anak yang mereka adopsi dari panti asuhan.
"Honey, cukup kita berdua yang ingat kapan kita menikah. Kita punya hati yang harus kita jaga, dan kita harus membuat semua orang yakin kalau Shawn adalah anak kandung kita."
"Iya Sweetheart.. Tapi aku begitu merasa bersalah padamu, banyak moment yang kita lewatkan tanpa perayaan. Bahkan ulang tahunmu tidak ingin kamu rayakan, karena saat itu kita masih berduka karena kehilangan anak kita, Sairish."
"Tidak apa-apa Honey, semoga Allah memberi kita waktu untuk membuat lebih banyak kenangan indah selama hidup kita." Sall mencium telapak tangan Sanchia yang sebelumnya mengelus lembut pipinya.
"Iya Sweetheart, kita akan membuat lebih banyak kenangan indah seumur hidup kita, dengan anak-anak kita juga."
Sall menempelkan keningnya di kening Sanchia, nafas keduanya terdengar begitu teratur, sebelum akhirnya Sall lebih dulu menautkan bibirnya di bibir Sanchia, yang langsung membalas ciuman Sall dengan sama lembutnya.
*************************
Setelah menidurkan Shawn di kamarnya, Sall yang duduk di atas sofa tidak henti memandangi wajah bayinya yang sudah dipajang dalam frame di atas meja hias yang berada di kamar. Sanchia yang melihat tingkah suaminya, ikut merasa haru, karena dirinya pun merasakan kebahagiaan yang sama seperti Sall.
"Honey.."
Seketika Sall mengalihkan pandangannya pada Sanchia, diulurkannya tangan ke arah Sanchia, lalu menepuk sofa disebelahnya, memberi tanda agar Sanchia duduk disebelahnya. Namun setelah Sanchia duduk di atas sofa, Sall malah merebahkan tubuhnya dengan kepala di atas pangkuan Sanchia. Wajahnya sengaja dihadapkan pada perut Sanchia yang sudah sangat membuncit.
Terasa bayi di dalam perut Sanchia melakukan gerakan-gerakan halus, membuat Sall yang menempelkan pipi di perut Sanchia, tertawa-tawa saking senangnya.
"Baby kamu sedang apa? Coba tendang pipi Daddy kalau kamu senang mendengar suara Daddy."
Sedetik kemudian, sebuah tendangan dari kaki mungil di dalam perut Sanchia, terasa menyentuh pipi Sall, tawa senang lagi-lagi keluar dari mulut Sall. Tidak puas hanya sekali, Sall kembali mengajak bicara bayinya, dan meminta bayinya menunjukkan respon atas semua perkataannya selama beberapa lama.
"Honey.. Apa kamu tidak penasaran dengan jenis kelamin bayi kita?"
Gelengan kepala yang mantap dari Sall, mengerutkan kening Sanchia karena merasa heran.
"Karena aku yakin jenis kelaminnya perempuan."
"Kenapa kamu begitu yakin Honey?" Sall tersenyum melihat ekspresi Sanchia yang penuh tanya dan menuntut jawaban.
"Selama kamu hamil penampilanmu begitu feminim, baju pink itulah awal dugaanku. Kamu lebih sering memakai make-up, senang bergaya di depan cermin, dan mulai menyukai boneka-boneka imut. Oh iya, kamu bahkan menolak saat dekorasi dan perlengkapan di kamar bayi kita menggunakan warna biru."
"Hmm, iya ya.. Aku pun kadang tidak menyadari kenapa beberapa bulan ini aku berubah seperti itu. Apa benar ya anak kita perempuan, Honey? Shawn malah ingin kalau adiknya adalah laki-laki."
"Aku hanya menduga berdasarkan perubahan sikapmu saja, tapi kan Allah yang menentukan. Laki-laki ataupun perempuan sama saja, yang penting sehat, sempurna, dan selamat ya."
"Aamiin.." Lirih Sanchia, setelah menganggukkan kepalanya.
************************
Image Source : Instagram Toni Mahfud & Im Jin Ah (edited)
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Beberapa eps ini adem banget ya, Sall & Sanchia bahagia tanpa gangguan..
**Apa tanda bakalan tamat beberapa eps lagi ya.. 🤭 **
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight