The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 74 Merindukanmu



MANSION SALL - LONDON, INGGRIS


Musim panas di Kota London yang biasanya menjadi musim favorit Sall karena kerap diisi banyak kegiatan outdoor yang menyenangkan, kali ini justru sedikit membuat tubuhnya tidak nyaman. 4 hari di London dengan kegiatan yang begitu sibuk dan cuaca yang sangat bertolak belakang dengan cuaca di Indonesia, terutama kota Bandung, membuat Sall tidak bisa tidur dengan nyaman di malam hari.


Meskipun pendingin ruangan berfungsi seperti biasanya, tapi entah kenapa waktu tidur Sall yang sangat singkat itu, tidak benar-benar membuat tubuhnya beristirahat. Entah memang karena cuaca atau karena rasa rindu yang mulai menyerang hebat di hati Sall saat ini. Sepertinya Sall membutuhkan pelukan dari Sanchia yang selalu berhasil membuatnya nyaman dan tertidur dengan lelap, namun Sall perlu bersabar beberapa hari lagi, sampai Sall bisa kembali ke Indonesia dan memeluk istri yang sangat dicintainya itu.


Drrtt..Drrtt..Drrtt..


Sall meraba-raba nakas di samping tempat tidurnya, mencari ponselnya dengan mata yang masih enggan untuk terbuka. Namun Sall terpaksa memicingkan matanya untuk melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. Seketika ekspresi Sall berubah semangat, seraya membuka matanya lebar-lebar, saat mendapati nama "Sweetheart" dengan simbol hati, pada panggilan video di ponselnya.


Selama 4 hari ini, panggilan video call dari Sanchia selalu menjadi obat terampuh untuk menghilangkan rasa rindunya, setidaknya untuk saat ini.


"Good morning, Sweetheart.." Sall mendahului Sanchia yang hendak mengucapkan hal yang sama pada Sall.


Terlihat Sanchia begitu cantik dengan dress model sabrina berwarna pink cerah, dengan rambut panjang tergerai, yang membuat Sall sangat terpesona.


"Good morning, Honey.. Baru bangun ya?"


"Iya Sweetheart.. Wah kamu cantik sekali."


Sanchia tersipu malu mendengar pujian dari sang suami, terlebih raut wajah Sall yang tersenyum dengan mata berbinar, membuat Sanchia yakin kalau ucapan suaminya bukanlah sekedar gombalan semata. Sall pun semakin senang melihat ekspresi malu-malu yang ditunjukkan Sanchia, yang membuat Sall merasa gemas dan semakin rindu pada istrinya itu.,


"Maaf ya Sweetheart, semalam aku baru pulang dari kantor menjelang tengah malam, dan baru tidur dini hari tadi. Aku berniat meneleponmu Sweetheart, tapi kamu pasti sedang sibuk dengan Shawn karena disana masih pagi."


Perbedaan waktu 6 jam antara Bandung dan London, membuat Sall dan Sanchia harus menyesuaikan waktu mereka dalam berkomunikasi. Namun waktu Indonesia yang lebih cepat Itu, tentu bukan masalah bagi Sall dan Sanchia. Yang terpenting setiap harinya Sall dan Sanchia bisa bertukar kabar untuk melepas rindu dan menghilangkan rasa khawatir dengan keadaan pasangan yang jauh di mata, namun tetap dekat di hati itu.


"Tidak apa-apa Honey, kamu pasti lelah. Aku sengaja tidak meneleponmu, karena takut mengganggu waktu istirahatmu. Tapi sekarang shalat subuh dulu ya."


"Iya Sweetheart.. Kamu juga jangan lupa makan siang ya!"


"Ok Honey.. Kamu juga jangan lupa sarapan pagi ya!"


"Siap Sweetheart.."


"Oh iya Honey.. Aku minta izin ya, nanti aku akan mengajak Shawn jalan-jalan ke mall. Ada banyak barang yang harus aku beli."


"Ok Sweetheart, tapi minta Leroy, babysitter dan beberapa  pengawal menemanimu ya.."


"Siap Honey.. Sekarang shalat dulu ya, nanti waktu shalatnya keburu habis. Kabari aku kalau sudah sarapan dan bersiap ke kantor ya."


"Baiklah Sweetheart.. Aku shalat dulu ya..Muaaach.. I love you Sweetheart."


"Muaaach.. I love you more, Honey."


Sall segera bergegas ke kamar mandi, setelah Sanchia mematikan panggilan videonya.


*********************************


Sanchia mengitari mall ditemani Leroy dan Amy, babysitter yang mendorong stroller Shawn di sebelahnya. Sedangkan beberapa pengawal sengaja berjaga dari kejauhan, karena Sanchia tidak ingin menarik perhatian banyak orang yang berada di mall terbesar di Kota Kembang itu.


Sanchia terlihat keluar masuk beberapa toko, yang beberapa diantaranya merupakan toko yang terkenal menjual barang-barang branded berharga fantastis. Namun kali ini Sanchia bukan berbelanja untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sang Putra yang terlihat nyaman di dalam strollernya.


Setelah memborong begitu banyak barang, Sanchia meminta Leroy dan para pengawalnya untuk membawa barang-barang belanjaannya ke mobil lebih dulu, sebelum mereka semua akan makan siang di salah satu restaurant yang terdapat di mall itu. Sanchia dan Amy memutuskan untuk menuju restaurant yang terletak di lantai 4 mall, sambil menunggu para pengawalnya kembali.


Shawn terlihat tertidur setelah meminum 1 botol susunya, saat Sanchia dan Amy masuk ke dalam sebuah lift yang akan membawa mereka ke lantai 4. Namun saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu lift agar tetap terbuka. Lalu masuklah 3 orang laki-laki berwajah sangar, yang lebih mirip preman jalanan.


Sanchia yang memiliki insting yang sangat tajam itu, sudah dapat mencium gelagat mencurigakan dari tiga orang laki-laki itu. Melalui kode matanya, Sanchia meminta Amy yang saat ini berada di tengah, untuk pindah merapat ke dinding lift, sedangkan Sanchia berpindah ke tengah. Tentu saja hal ini disadari oleh ketiga orang laki-laki itu yang menyeringai atas apa yang dilakukan Sanchia.


Sanchia begitu khawatir, ketiga orang itu menargetkan Shawn dan akan mengancam keselamatan nyawa Shawn. Sanchia masih belum bisa menebak apakah ketiga orang itu, ada hubungannya dengan Nick yang sudah membunuh orangtua Shawn, atau bukan. Tapi yang jelas, Sanchia bertekad melindungi Shawn sekuat tenaga, namun tanpa melupakan keselamatannya, terutama bayi dalam kandungannya.


Perut Sanchia memang masih belum terlihat besar, karena usia kandungannya baru akan menginjak 3 bulan. Sanchia berharap ketiga laki-laki itu tidak mengetahui kalau Sanchia sedang hamil. Karena Sanchia justru merasa takut, jika ketiga laki-laki itu menargetkan perutnya sebagai kelemahan Sanchia saat ini.


"Jangan bergerak, dan jangan coba-coba melawan!"


Salah satu dari ketiga laki-laki itu menodongkan sebilah belati di leher Sanchia, dan dua laki-laki lainnya berusaha mendekat ke arah stroller Shawn dan memaksa mengambil alih stroller yang dipegang Amy dengan paksa. Amy mencoba bertahan, tapi Sanchia meminta Amy melepaskan pegangan strollernya karena tidak ingin Amy terluka. Terlebih dua orang laki-laki itu juga, masing-masing memegang belati.


Dengan mencoba bersikap biasa, Sanchia menekan tombol remote mini di saku celananya yang berfungsi mengirimkan sinyal bahaya kepada Leroy. Tentu saja Leroy langsung melacak keberadaan Sanchia saat ini, dan berusaha menemukannya dengan beberapa anak buahnya.


Saat lift sudah sampai di lantai 4, dan pintunya akan terbuka, salah satu laki-laki itu menutup kembali pintu lift dan menekan tombol agar lift dapat turun menuju basement.


Setelah cukup bisa membaca situasi, Sanchia memegang tangan laki-laki yang menodongkan belati padanya, lalu Sanchia menghempaskannya sekuat tenaga sampai belati di tangan laki-laki itu terjatuh.


Bugh..


Laki-laki itu roboh seketika dan tidak sadarkan diri. Beruntung sekali, Shawn sama sekali tidak terganggu dengan suara berisik disekitarnya, bayi tampan itu masih lelap dalam tidurnya.


Tanpa disadari Sanchia, penjahat yang berada di tengah langsung menghunuskan belatinya ke arah leher Sanchia, yang seketika memundurkan tubuhnya. Namun belati itu berhasil mengiris sedikit leher sebelah kanan Sanchia sampai mengeluarkan darah.


"Aaaaa.."


Netra Sanchia menghunus tajam, seraya  mencengkeram tangan laki-laki itu, dan memelintirnya dengan begitu santai, sampai laki-laki itu berteriak kesakitan.


Bugh..Bugh..Bugh..


Tidak cukup itu saja, Sanchia meninju wajah laki-laki itu beberapa kali, sebelum menendang kuat perutnya sampai terhempas kuat menabrak dinding lift dan ikut tidak sadarkan diri seperti temannya.


Seringai puas terlihat di wajah cantik Sanchia yang terlihat menakutkan, pandangannya beralih pada satu laki-laki yang masih memegang stroller Shawn dengan raut yang mulai ketakutan, meskipun dengan sebelah tangan menodongkan belatinya pada Sanchia.


Amy yang sejak tadi ketakutan pada tiga laki-laki itu, ditambah terkejut melihat majikannya yang berubah menyeramkan, kini sudah bisa memahami situasi. Dengan segenap keberaniannya, Amy memukul kepala penjahat itu beberapa kali, dengan botol air mineral yang disimpannya di sisi stroller.


Bugh..Bugh..Bugh..


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Sanchia merebut belati itu, lalu menarik kerah baju laki-laki itu dan menendang kakinya sekuat tenaga sampai meringis kesakitan. Sanchia berbalik menodongkan belati itu pada pemiliknya, dengan tatapan dingin dan meremehkan.


"Dasar amatir, kalian bahkan hanya bermodalkan belati untuk mengganggu kami. Kamu beruntung, karena aku sedang tidak membawa pistolku saat ini. Tapi aku tetap akan memberi hadiah untukmu."


Seketika Sanchia menyabetkan belati ditangannya pada lengan laki-laki itu, sampai berteriak kesakitan. Bersamaan dengan terbukanya pintu lift di basement mall, tampaklah Leroy dan anak buahnya yang seketika membantu Sanchia, Shawn dan Amy keluar dari lift, juga mengamankan ketiga laki-laki yang sudah babak belur itu.


"Leroy, tolong hapus rekaman CCTV di lift tadi, cari tahu siapa ketiga orang ini. Apa ada hubungannya dengan Nick atau tidak. Selanjutnya kamu tahu pelajaran apa yang pantas untuk mereka." Sanchia berjalan menuju mobil seraya memberikan instruksi pada Leroy.


"Iya Sanchia..Tapi kamu harus ke Rumah Sakit untuk mengobati luka di lehermu."


Sanchia menyentuh lehernya yang dipenuhi darah, bahkan kerah bajunya yang berwarna putih pun sudah berubah merah karena darahnya. Sanchia mengeluarkan scarf dari tasnya, lalu membalutkannya ke leher yang penuh darah itu.


"Tidak, minta saja Dokter untuk datang ke mansion. Untuk sementara aku akan membalutnya di mobil. Kamu bawa saja orang-orang itu ke markas, jangan lupa hapus rekaman CCTV-nya."


"Ok.." Jawab Leroy singkat, lalu mengantar Sanchia masuk ke dalam mobil dengan Amy yang menggendong Shawn yang masih lelap tertidur.


Namun sebelum mobil yang ditumpangi Sanchia meluncur, Sanchia mengarahkan kepalanya keluar dan memanggil Leroy untuk mendekat.


"Jangan katakan pada Sall, kalau aku terluka."


"Aku tidak bisa melakukannya, karena Sall berhak tahu Sanchia."


"Biar aku yang memberitahunya."


"Baiklah, pastikan kamu memberitahunya. Jangan mengulang kesalahan dengan menyembunyikan apapun dari suamimu sendiri."


Sanchia merasa tertohok dengan perkataan Leroy, namun mengakui apa yang dikatakan Leroy sangatlah benar. Karena itulah, Sanchia berniat memberitahu Sall saat menghubunginya nanti. Tidak akan ada lagi hal sekecil apapun, yang akan disembunyikan Sanchia dari Sall, sekalipun hal itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Maaf banget, karena aku baru bisa up lagi..Banyak PR juga buat mampir ke novel Kakak Author yang udah pada mampir kesini. Aku pasti mampir Kakak2..🤗


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight