
JW HOSPITAL - JEJU ISLAND
Di ruang VVIP Rumah Sakit, Sanchia terbaring lemah setelah lebih dari 1 jam menangis terus-menerus. Sanchia berkali-kali menepis tangan Sall, setiap kali hendak memeluk atau sekedar merangkul bahu Sanchia untuk menenangkannya. Sanchia bahkan tidak ingin menatap Sall yang duduk di tepi tempat tidur dan jelas memancarkan kesedihan saat memandang Sanchia.
Penjelasan Dokter beberapa jam yang lalu tentang kondisi Sanchia yang hampir mengalami keguguran di saat usia kandungannya menginjak 4 minggu, tentu menjadi kejutan besar bagi Sanchia. Kabar yang seharusnya menjadi kabar bahagia, terdengar bagai hantaman yang dahsyat di hati Sanchia.
'Bagaimana bisa, aku tidak menyadari kalau aku sedang hamil? Betapa bodohnya aku, sampai-sampai aku hampir kehilangan janin yang aku kandung. Aku kira semua gejala yang aku rasakan beberapa minggu ini, hanyalah karena penyakit asam lambung, juga stres karena lama disekap Alrico. Kenapa aku bisa begitu bodoh?' Ratap Sanchia dalam hati.
Sebetulnya Mama Annesya, Papa Leonard, Nieva sedang berada di Rumah Sakit yang sama dengan Sall dan Sanchia, tapi Sall masih merahasiakan keadaan Sanchia dari mereka. Karena tidak ingin membuat keluarganya khawatir. Hanya Leon, Leroy dan beberapa anak buah Sall yang berjaga di luar ruangan. Untuk memastikan tidak ada hal buruk lainnya yang terjadi pada Sanchia maupun Sall.
"Sweetheart, tolong jangan menangis lagi! Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa tenang? Katakan Sweetheart!"
Sanchia membalikan badannya menghadap Sall, dengan menahan tangisnya yang terus saja menerobos keluar. Tatapan Sanchia berubah tajam, menghunus tepat di netra Sall yang memandang sendu.
"Sejak kapan kamu tahu kalau aku sedang hamil?"
Sall paham sekali, jika panggilan Honey sudah hilang dalam perkataan Sanchia, maka tandanya Sanchia benar-benar marah padanya.
"Sejak kita tiba di Hotel Sweetheart. Dokter yang memeriksamu memberitahuku, kalau kamu sedang hamil, Sweetheart."
"Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku?"
Tatapan Sanchia semakin mengintimidasi, membuat Sall menyadari bahwa keputusan yang diambilnya adalah suatu kesalahan.
"Aku ingin memberitahumu, tapi aku begitu bingung, saat kamu mengatakan kalau kamu ingin menunda kehamilan dan tidak ingin punya anak dalam waktu dekat."
"Karena itu? Sikap kamu membuatku hampir kehilangan janin dalam kandunganku. Dan aku hampir menjadi pembunuh anakku sendiri. Apa kamu ingin aku hidup dalam rasa bersalah seumur hidupku?"
Tangis Sanchia yang sempat berhenti, kini lepas kembali, bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Sall merengkuh tubuh Sanchia, dan mendekapnya dengan erat, tidak peduli Sanchia terus meronta dan minta dilepaskan.
"Maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya takut kamu kecewa, jika aku mengatakan kamu sedang hamil."
Sanchia seketika berhenti meronta dan mendongakkan kepalanya ke arah Sall, dan mencari jawaban dari mulut Sall.
"Kecewa? Apa maksudmu?"
Pelupuk mata Sall mulai digenangi air mata yang siap meluncur turun dari tempatnya. Pelukannya pun sedikit melonggar.
"Aku pikir, kamu tidak ingin mengandung anakku. Jadi aku takut kamu akan kecewa, jika aku mengatakannya."
Bagai diremas begitu kuat, hati Sanchia terasa begitu nyeri mendengar alasan Sall menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Sanchia menangkup wajah Sall dengan kedua tangannya, dan menatap netra Sall yang sudah mengalirkan air matanya.
"Aku tidak mungkin kecewa Honey, karena aku begitu mencintaimu. Justru aku begitu bahagia, Honey."
"Tapi kamu bilang kalau kamu belum siap punya anak?"
Sanchia menundukan kepalanya seraya melepas kedua tangannya dari pipi Sall.
"Aku takut.. Aku takut tidak bisa menjaga anak kita jika aku hamil. Aku pikir, aku harus meningkatkan kemampuanku sebelum kita memutuskan punya anak. Karena aku tidak mau gagal melindungi anak kita, jika sesuatu yang buruk terjadi padaku dan anak kita."
Giliran Sall yang menangkup wajah mungil Sanchia dengan kedua tangannya, lalu mengangkat wajah Sanchia agar memandang wajahnya yang masih menunjukan raut sendu dan merasa bersalah.
"Ssttt..Aku tidak akan membiarkan hal buruk menimpa kalian. Aku akan selalu melindungi kalian, aku janji Sweetheart."
"Maafkan aku yang sudah salah paham dan mengambil keputusan yang salah dengan tidak memberitahu kehamilanmu, sehingga membuat kita hampir kehilangan bayi kita. Maafkan aku, Sweetheart..”
"Maafkan aku juga Honey, karena aku sudah membuatmu salah paham. Aku sangat mencintaimu, aku tidak mungkin kecewa mengandung anak kita Honey. Justru aku sangat bahagia, karena akhirnya buah cinta kita sudah hadir melengkapi kebahagiaan kita."
"Aku lebih mencintaimu Sweetheart. Terima kasih karena mau mengandung anakku, aku akan selalu berusaha menjadi suami yang baik untukmu, dan Daddy yang baik untuk anak kita."
Sall mengecup kening Sanchia, beralih ke kedua pipi, berlanjut dengan ciuman lembut di bibir Sanchia yang ranum. Sanchia pun membalas ciuman Sall dengan sama lembutnya. Mereka mulai hanyut dalam pertautan bibir mereka, dalam waktu yang cukup lama.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, diikuti masuknya Kevin, Nieva, Papa Leonard dan Mama Annesya, yang terlihat terkejut dan menahan senyum melihat pemandangan di depan mereka. Sall dan Sanchia seketika melepas pertautan bibir mereka, dan memandang ke arah pintu masuk seraya menggelengkan kepala pada Kevin yang berdiri paling depan.
“Ups..Sorry.. Kami tidak sengaja.”
“Kenapa juga kamu tidak mengetuk pintu lebih dulu Kevin?”
“Maaf aku lupa, karena Papa, Mama juga Nieva begitu khawatir dengan keadaan Kakak Ipar.”
“Ah alasan.”
Kevin hanya terkekeh geli menanggapi kekesalan Sall. Beruntung Mama Annesya menengahi perdebatan kecil kedua menantunya itu.
“Sudah Sall, kami hanya terlalu khawatir saat mendengar kabar kalau Sanchia hampir keguguran. Tadi Leon dan Leroy memberitahu kami, saat menjenguk bayinya Brandon. Jadinya kami langsung kesini. Mama sekarang tenang, karena Sanchia dan cucu Mama baik-baik saja."
Sall beranjak menghampiri dan merangkul Mama Annesya dan Papa Leonard yang berdiri di sebelah kanan tempat tidur Sanchia. Sementara Kevin, Nieva, berdiri di sebelah kiri tempat tidur Sanchia. Sebenarnya saat ini sudah bukan jam besuk, karena waktu sudah menunjukan hampir tengah malam. Tapi mereka mendapat keistimewaan dan pengecualian, karena kebetulan pemilik Rumah Sakit ini adalah milik Jayden Wang, sepupu Brandon. Dan Brandon meminta langsung pada Jayden untuk mengizinkan keluarga Sanchia untuk menjenguk Sanchia di luar jam besuk.
(Kalau yang baca Star on A Dark Night, masih inget sama Jayden Wang, Dokter ganteng sepupu Brandon yang ternyata suka sama Vara, istrinya Bryllian)
"Kita semua sudah bisa tenang, karena Sanchia sudah baik-baik saja, tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi."
Perkataan Sall menarik senyuman di bibir semua orang, dan kehangatan suasana di ruangan VVIP Rumah Sakit itu berlanjut dengan obrolan dan canda tawa yang menyebarkan kebahagiaan di hati masing-masing.
*************************
Keesokan harinya, Papa Leonard, Mama Annesya, Kevin, dan Nieva memutuskan mengikuti permintaan Sanchia untuk pulang ke mansion. Mereka yang sebenarnya sudah cukup lelah menemani Brandon saat Sharon melahirkan, ditambah Sanchia yang hampir keguguran, kini bisa beristirahat di mansion. Karena orangtua Brandon sudah datang ke Jeju, begitu pula saudara sepupu Sharon yaitu Vara dan Bryllian suaminya juga sudah datang dari Indonesia. Tentunya bersama dengan kedua anak kembar mereka, Bradley dan juga Briley yang baru berusia 1 tahun lebih.
Sall mendorong Sanchia yang duduk di atas kursi roda menuju kamar rawat VVIP yang ditempati Sharon. Saat Brandon membukakan pintu untuk Sall dan Sanchia, terlihat disana sudah ada Vara, Bryllian juga kedua anak kembar mereka yang duduk di dalam stroller, sedang berkumpul memandangi box tempat tidur putra pertama Brandon & Sharon yang bernama yang bernama Zeroun Cedric Wang.
"Hai Sanchia.. Hai Sall.. Masuklah.."
"Terima kasih Brandon. Wah sudah ada Vara, Bry dan si kembar yang makin ganteng."
Sanchia melambaikan tangan ke arah Vara, Bry, Bradley dan Briley yang seketika membalas lambaian tangan Sanchia. Lalu Sanchia kembali beralih pada Brandon yang masih berdiri di sebelahnya.
"Selamat ya Bro.."
"Thanks Sall.. Sanchia.." Brandon tidak henti mengulas senyum bahagianya.
Sall kembali mendorong kursi roda yang diduduki Sanchia, menghampiri tempat tidur Sharon. Bryllian dan Vara ikut menghampiri Sall dan Sanchia sambil mendorong stroller si kembar, lalu menyalami dan memeluk mereka bergantian.
"Hai Sanchia.. Hai Sall, apa kabar kalian sekarang? Aku sudah dengar kabar buruk tentang kalian, maafkan aku karena tidak bisa membantu saat Sanchia diculik. Kami baru mengetahui ceritanya dari Brandon tadi, dan sebulan kami berada di Inggris, baru 3 hari yang lalu kembali ke Indonesia."
"It's okay Bry, aku tidak apa-apa. Kalian sedang mempersiapkan kepindahan kalian ke Inggris kan. Semoga lancar ya." Sanchia menenangkan sahabatnya, lalu membalas uluran tangan Vara yang kini memandang Sanchia dengan mata berkaca-kaca.
"Aku bahagia kamu sudah kembali, dan kandunganmu pun bisa diselamatkan. Tetaplah sehat, Sanchia." Sanchia menepuk lembut genggaman tangannya dan Vara.
"Aku baik-baik saja, Vara. Jangan khawatir lagi ya."
Bryllian merangkul bahu istrinya, menenangkan istrinya yang sedang berusaha menahan tangisnya.
"Semua sudah baik-baik saja sekarang. Terima kasih." Sall menyentuh lembut bahu Sanchia dengan kedua tangannya.
Sanchia dan Sall beralih menyalami Sharon yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Bagaimana kabarmu Sharon? Bagaimana rasanya melahirkan putramu yang sangat tampan itu?"
"Rasanya amazing Sanchia. Kamu pun akan merasakannya nanti. Aku bersyukur sekali, akhirnya kamu kembali dengan selamat, bahkan dengan membawa kabar bahagia untuk kami semua. Sehat-sehat ya Sanchia."
"Terima kasih ya Sharon. Aku juga ingin berterima kasih padamu Brandon. Karena sudah sangat membantu suamiku, untuk menyelamatkanku."
Brandon dan Sharon yang dipandangi bergantian oleh Sanchia, mengulas senyum tulusnya.
"Kalian kan sahabat kami. Jangan sungkan seperti itu, yang penting kalian bisa kembali bersama dan selalu bahagia bersama calon bayi kalian."
Perkataan Brandon memancing senyuman di wajah Sall dan Sanchia, juga semua orang yang ada di ruangan itu, tidak terkecuali Bradley dan Briley yang tiba-tiba mendekat ke arah Sanchia.
"Can..ciiik.."
Tiba-tiba semua orang terkejut mendengar apa yang dikatakan Bradley yang memandang lekat wajah Sanchia.
"Apa Bradley bilang Aunty cantik?"
"Iy..yaaa.."
Semua orang seketika tertawa dengan tingkah Bradley, putra Bryllian yang baru berusia 1 tahun lebih itu.
"Hmm, sepertinya dia meniru Daddy-nya yang selalu merayu Mommy-nya."
Brandon mulai berspekulasi, membuat Bryllian terkekeh geli, seakan mengiyakan perkataan Brandon.
"Untung saja yang merayu istriku masih anak-anak, kalau tidak.. Entah apa yang bis aku lakukan."
Semua orang tertawa lepas, hanya si kembar yang kini menatap tidak mengerti ke arah orang-orang dewasa di sekelilingnya.
"Bagaimana kalau yang Bradley rayu itu Putrimu, Sall? Jika kamu mempunyai anak perempuan tentunya."
Pertanyaan Bryllian yang hanya sekedar candaan ternyata berhasil menghentikan tawa Sall.
"Hmm, aku yakin kamu bisa menebak jawabanku."
"Ya.. Sepertinya aku bisa menebaknya." Jawab Bryllian.
Tawa Bryllian kembali lepas mendengar jawaban Sall, begitupun Sall yang kembali tertawa seraya memukul pelan bahu Bryllian, lalu memandang Bradley yang saat ini masih saja memandangi Sanchia dengan tatapan menggemaskannya.
**************************
Takutnya pada lupa nih sama pasangan Bryllian & Zivara 😄
Kalau ini Brandon & Sharon.. 😄
Image Source : Instagram (edited).
**************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Mampir juga yuk ke Novel pertamaku "Star on A Dark Night" kalau belum baca, hihi..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight