
VILLA SALL - JEJU ISLAND
Langit sudah berhenti menumpahkan air matanya sejak beberapa jam yang lalu, namun sang surya masih nyaman terlelap di singgasananya. Sanchia yang baru terjaga dari tidurnya yang tidak nyenyak, kini melirik jam di dinding kamar yang baru menunjukan angka 3 dini hari. Perlahan Sanchia melepas tangan kokoh yang melingkar di pinggang rampingnya, lalu dengan sedikit mengendap-endap, Sanchia menuruni tempat tidur dan masuk ke ruang walk in closet untuk mengambil mantel, sebelum akhirnya keluar dari kamarnya.
************************
RUANG BAWAH TANAH - VILLA SALL
Sanchia melipat kedua tangannya di dada, seraya menatap pemandangan di hadapannya dengan tatapan tidak terbaca. Melalui tinted glass yang hanya bisa melihat dari satu arah, Sanchia memandang Dhiany, yang kini meringkuk di atas tempat tidur berukuran kecil, dengan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut berwarna putih. Dhiany tidak tertidur, dia justru terlihat sangat ketakutan, dan sesekali melihat ke segala arah dengan menutup kedua telinganya.
Sanchia sedikit terkejut, saat tiba-tiba ada dua tangan kokoh melingkar di pinggangnya. Namun sang pelaku yang mengejutkan Sanchia, hanya terkekeh geli melihat ekspresi terkejut di wajah istrinya itu.
"Bisa tidak sih, kalau datang itu membuat suara? Kamu membuatku terkejut, aku pikir kamu hantu."
Lagi-lagi Sall terkekeh dengan reaksi Sanchia yang kesal dengan apa yang dilakukannya.
"Mana ada hantu ganteng begini, hehehe.. Maaf Sweetheart, aku tidak bermaksud mengejutkanmu, aku hanya ingin memelukmu saja. Karena kamu tiba-tiba menghilang dari kamar."
"Kamu kembali saja ke kamar, aku masih ingin disini."
"Sweetheart, apa kamu ingin bercerita padaku? Maaf karena aku meminta Leon mencari tahu tentang masa-masa SMA-mu dengan perempuan itu. Maafkan aku, aku sama sekali tidak mempercayai semua yang dikatakannya, tapi aku terlalu penasaran dengan apa yang dia lakukan padamu dulu."
Sanchia menolehkan wajahnya seraya menatap mata Sall begitu dalam.
"Hmm, baiklah aku akan menceritakan semuanya padamu. Tapi aku ingin tahu dulu, apa yang sudah kamu ketahui tentang masa SMA-ku dengan sahabat palsuku itu?"
"Tidak banyak, hanya kamu yang bersahabat dengan perempuan itu sejak masa orientasi. Kamu juga mempunyai 5 teman lain di sekitar kamu. Meskipun kamu berusaha menutupi kecantikanmu dengan penampilan yang sederhana dan sedikit culun, tapi banyak laki-laki yang mendekatimu. Itu juga yang membuat beberapa temanmu ingin dekat denganmu, termasuk perempuan itu. Meskipun mungkin ada beberapa yang tulus berteman denganmu. Leon juga menemukan beberapa nama laki-laki yang gencar mendekatimu. Ada yang bernama Fayz, Jackson, Ezra, Davis juga Shuga."
Saat mendengar nama terakhir, Sall menangkap gelagat aneh dari sikap istrinya yang tiba-tiba terlihat tidak nyaman. Sanchia seolah menghindari tatapan mata Sall yang mulai berubah mengintimidasi. Sall melonggarkan pelukannya, lalu memutar pelan tubuh Sanchia agar menghadap padanya. Kedua tangan Sall memegang lembut kedua lengan Sanchia, dengan tatapan netra Sall yang bergerak menyapu wajah Sanchia sekaligus gerak-gerik Sanchia yang aneh.
"Sweetheart, apa ada yang sedang kamu sembunyikan?"
Raut terkejut Sanchia, tidak luput dari tangkapan netra Sall. Tapi sesaat kemudian, Sanchia terlihat sangat berusaha mengulas senyumnya.
"Maafkan aku, Honey.. Ada satu hal yang aku sembunyikan darimu, tapi aku akan mengatakannya saat ini juga."
"Katakanlah.."
"Sebenarnya.. Dulu aku pernah dekat dengan Shuga, meskipun tidak sampai berpacaran."
"Ceritakan padaku semuanya Sweetheart, jangan pernah berani menutupi apapun dariku."
FLASHBACK ON
Sanchia sedang berkumpul dengan kelima sahabatnya seraya menikmati makanan di kantin sekolah. Hanya Dhiany yang tidak ikut berkumpul disana. Sesekali mereka bercanda sambil melihat suasana kantin yang sangat ramai.
"Nanti sepulang sekolah, kita kumpul di cafe depan sekolah ya. Tadi aku dengar anak-anak basket mau nongkrong disana. Sanchia kamu wajib ikut ya, karena kalau ada kamu, pasti mereka selalu ingin bergabung dengan kita, hehehe.."
Sanchia mengerutkan keningnya mendengar penuturan salah satu sahabatnya yang bernama Desita itu.
"Jadi kita ke cafe hanya karena ada anak-anak basket disana?"
"Ya tidak juga sih, tapi seru saja kalau sudah bergabung dengan genk mereka. Apalagi mereka ganteng semua."
Raras yang sejak tadi sibuk bercermin di sela-sela makannya, ikut menimpali. Sedangkan Flora, Nancy dan Fanya lebih memilih menikmati menu makan siang mereka, dibanding membahas anak-anak basket yang menjadi topik hangat bagi Desita dan Rara tadi.
Drrtt..Drrtt..Drrtt..
Sanchia mengambil ponsel dari saku celananya, lalu membuka pesan yang baru saja masuk. Terlihat nama Shuga, Sang Ketua OSIS yang selama beberapa minggu ini begitu gencar mendekatinya, baik secara langsung atau melalui telepon dan pesan-pesan yang dikirimkannya.
Shuga :
Sanchia, aku menitipkan sesuatu pada Dhiany, aku harap kamu menyukainya. Aku sedang dalam perjalanan menuju airport, maaf karena tidak berpamitan secara langsung. Tadi aku hanya mampir ke ruang OSIS dan kebetulan bertemu Dhiany disana. Selama seminggu ini, aku harus pergi ke Korea untuk menjenguk Eomma yang sedang sakit. Aku harap, kamu akan memberiku jawaban, saat aku kembali nanti. Tolong balas pesan-pesanku, karena aku akan sangat merindukanmu selama aku berada di Korea.
Sanchia berniat membalas pesan dari Shuga, saat Dhiany datang dan duduk disebelah kirinya. Tidak ada barang apapun yang dibawa oleh Dhiany, sedangkan jelas sekali kalau Shuga mengatakan menitipkan sesuatu kepada Dhiany untuk Sanchia. Sanchia memutuskan untuk tidak menanyakan apapun, dan akan menunggu Dhiany memberikan sendiri titipan Shuga padanya.
Tiba-tiba sekelompok siswa laki-laki terlihat mendekati Sanchia dan sahabat-sahabatnya, dengan satu orang yang seketika duduk di sebelah kanan Sanchia tanpa ragu. Ezra, sang Kapten Basket berbadan tinggi terlihat mengikis jarak untuk lebih mendekat pada Sanchia.
"Sanchia, kenapa kemarin kamu tidak datang? Aku menunggumu, bahkan sampai filmnya hampir mulai."
"Sanchia kemarin mengantar Mamanya berbelanja, aku lupa mengabarimu soal itu."
"Apa benar begitu Sanchia? Lalu kenapa kamu tidak membalas pesanku dan mengatakan alasanmu yang tidak bisa datang?"
Lagi-lagi, belum sempat Sanchia mengeluarkan suaranya, Desita sudah menyela sehingga membuat Sanchia sedikit kesal karena ulahnya.
"Ponsel Sanchia ketinggalan di rumah, aku juga menghubunginya, tapi tidak diangkat juga."
Sanchia mulai mengerti arah pembicaraan Desita dan juga Ezra, dimana Sanchia mulai menyimpulkan kalau Ezra mengajak Sanchia pergi menonton film melalui Desita. Namun Desita tidak menyampaikan pesan Ezra pada Sanchia.
Sejak saat itu Sanchia mulai berhati-hati pada beberapa sahabatnya, meskipun Sanchia tidak pernah menunjukan secara langsung kewaspadaannya itu.
Seminggu kemudian Shuga pulang dari Korea dengan sikap yang berubah drastis pada Sanchia. Memang selama 3 hari terakhir, Shuga tidak mengiriminya pesan, namun Sanchia tidak ambil pusing dengan hal itu. Ternyata bukan hanya Shuga yang sikapnya berubah, tapi juga Ezra, Davis, dan semua penggemar Sanchia berubah acuh tak acuh pada Sanchia. Sejujurnya hal itu membuat Sanchia lebih nyaman, namun tetap saja ada sedikit rasa heran di pikiran Sanchia dengan perubahan sikap mereka.
Sampai akhirnya di saat pulang sekolah, Shuga yang mengendarai motor sportnya keluar dari halaman sekolah, menghampiri Sanchia yang sedang menunggu dijemput oleh Papa Leonard.
Shuga membuka kaca helmnya, lalu dengan tatapan tajam berkilat disertai senyum terpaksa yang lebih mirip seringai itu, Shuga mencengkeram lengan Sanchia dengan keras.
"Aku benar-benar tidak menyangka, perempuan yang aku kira polos dan baik, ternyata bisa melakukan hal sekotor itu. Aku memang sangat menyukai kamu.. Aku bahkan sudah mencintai kamu. Tapi aku bukanlah laki-laki bodoh yang akan masuk ke dalam perangkapmu."
Sanchia membulatkan matanya karena terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Shuga padanya, tapi Sanchia hanya diam mematung sampai Shuga melepas cengkeraman tangannya yang meninggalkan bekas kemerahan yang cukup jelas. Sanchia baru tersadar dari keterkejutannya, setelah Shuga menjalankan motor sportnya dengan kecepatan tinggi.
FLASHBACK OFF
Sall mendengarkan cerita Sanchia sampai selesai, tanpa menyela sekalipun. Sepintas pun, Sall sudah dapat menebak, apa yang dilakukan beberapa orang sahabat palsu Sanchia pada istrinya. Sanchia pun menyadarinya, namun saat itu Sanchia tidak berniat mencari tahu, apalagi mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi. Karena Sanchia lebih fokus belajar beladiri dan mengumpulkan orang untuk membangun klannya dan menyelamatkan Nieva yang saat itu masih berada di Spanyol. Sanchia tidak ada waktu dengan kehidupan remajanya, yang menurutnya hanya akan membuatnya lemah dan lengah.
Sanchia memilih tetap dekat dengan sahabat-sahabatnya, seolah tidak tahu apa-apa. Sampai 3 bulan kemudian, Papa Leonard memindahkan sekolah Sanchia, agar lebih dekat dengan markas besar.
Kabar terakhir yang Sanchia dengar dari Fanya dan Flora, Dhiyani sudah menyatakan perasaannya pada Shuga, dan mereka akhirnya resmi berpacaran. Begitupun Ezra yang akhirnya berpacaran dengan Desita. Seolah tidak mau kalah, Raras pun mulai dekatΒ dengan Davis. Hal ini semakin menguatkan dugaan Sanchia terhadap sahabat-sahabat palsunya itu. Namun tidak ada kekecewaan di hati Sanchia, hanya saja sejak saat itu, Sanchia lebih memilih tidak mempunyai sahabat dekat lagi karena takut dikhianati.
Sall mendekap erat tubuh Sanchia dan membenamkannya di dadanya yang bidang. Sanchia sama sekali tidak mengeluarkan air mata, tapi Sall tahu, saat ini hati Sanchia sangatlah sakit dan sesak. Hanya saja Sanchia terlihat enggan mengungkapkannya. Selama ini memang Sall tidak pernah melihat Sanchia bersahabat dekat dengan seseorang. Dekat dengan Vara dan juga Sharon pun, lebih karena Sanchia lebih dulu mengenal suami mereka, yaitu Bryllian dan Brandon.
Sall dan Sanchia hendak kembali ke kamar mereka, namun saat melewati aula mansion, Leon terlihat berlari menghampiri mereka.
"Sall, klan pengganggu yang Kevin tangkap di Singapore ternyata hanya untuk mengalihkan perhatian kita saja. Memang benar klannya sudah jatuh, namun saat ini klan itu sudah bergabung dengan klan lain yang lebih kuat. Dan saat ini sebagian besar anggota klan mereka sedang berada di Korea."
"Apaaa? Tingkatkan pengamanan, aku tidak mau kita sampai lengah dan kalah. Minta bantuan anak buah Brandon dan Bryllian, jika kekuatan kita memang masih belum cukup. Cari tahu siapa ketua dari klan itu, dan cari tahu juga kelemahannya."
"Aku sudah menemukan nama Ketuanya, namun belum menemukan detail kelemahannya."
"Siapa namanya?"
"Shuga Kim. Teman SMA Sanchia."
Kali ini giliran Sanchia yang terkejut mendengar perkataan Leon, sedangkan Sall sedang mati-matian menahan emosinya yang sudah naik ke ubun-ubun, karena lagi-lagi mendengar nama yang sama, juga melihat ekspresi tidak biasa dari Sanchia.
************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean π
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok π
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung π
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. π #staysafe #stayhealthy
Love u all.. β€β€β€β€οΈβ€
IG : @zasnovia #staronadarknight