The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 105 Sumber Kebahagiaan



Suasana sarapan yang biasanya hangat, terasa sedikit dingin dan mencekam bagi yang melihatnya. Para pelayan yang menyiapkan menu sarapan, merasa sikap kedua majikannya begitu berbeda pagi ini. Tuan Muda mereka terlihat tidak lepas menatap sang istri yang duduk di seberang meja, namun yang ditatap justru seolah tidak peduli dan memilih fokus memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Sweetheart, sudah dong marahnya. Iya nanti siang kita ke Kew Garden ya. Aku bukannya menolak memakai baju berwarna pink, tapi aku memang tidak memiliki baju berwarna pink. Makanya aku menyuruh Leon untuk segera membelinya, mungkin sebentar lagi dia datang."


Sanchia menulikan telinganya, dan malah semakin terburu-buru berusaha menghabiskan makanan di hadapannya.


"Pelan-pelan makannya Sweetheart, takut kamu tersedak." Sanchia tidak menghiraukan perkataan Sall, dan segera menghabiskan makanannya sampai tidak bersisa.


"Aku sudah selesai makan, aku mau kembali ke kamar. Oh iya, nanti siang aku tidak jadi ke Kew Garden, aku berencana menonton drama Korea seharian." Tanpa menunggu jawaban Sall, Sanchia segera pergi menuju kamar.


Sall menghela nafas panjang,  berusaha memahami sikap istrinya yang kesal karena dirinya sempat menolak permintaan Sanchia tadi. Sall memilih menghabiskan makanannya terlebih dahulu, sebelum menyusul Sanchia ke kamar mereka.


Terlihat Sanchia merebahkan dirinya dengan posisi menyamping seraya memandang laptop menyala dihadapannya. Sall ikut merebahkan dirinya di belakang Sanchia, memeluk tubuh dan menciumi leher Sanchia dengan begitu posesif. Tidak ada penolakan dari Sanchia, meskipun sebenarnya  perasaannya masih begitu kesal karena Sall enggan menuruti keinginannya. Sanchia memilih fokus menonton drama Korea yang sudah lama ingin ditontonnya itu.


Karena tidak ada respon dari Sanchia, Sall ikut menonton drama Korea yang sedang ditonton Sanchia.


"Kamu menonton film tentang apa, Sweetheart?"


"Drama Korea Romantis." Jawab Sanchia datar.


"Memang ceritanya bagaimana Sweetheart?"


"Kenapa kamu malah bertanya terus sih, lebih baik kamu tonton saja." Sall malah terkekeh mendengar omelan Sanchia.


"Jadi marahnya mau berlanjut nih? Aku sudah bersedia lho, menemanimu jalan-jalan sambil memakai baju pink. Kenapa masih marah Sweetheart?"


Membalikkan tubuhnya dengan cepat, Sanchia memandang Sall dengan raut wajah kesal dan bibir yang mengerucut.


"Kamu terlihat tidak ikhlas mengabulkan permintaanku, padahal kan ini permintaan baby kita. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin memakai pakaian berwarna pink bersama kamu, hiks..hiks.."


Tangis Sanchia yang tiba-tiba pecah membuat Sall tidak tega. Direngkuhnya tubuh Sanchia selembut mungkin, mendekapnya dalam dada bidangnya yang hangat.


"Maaf ya Sweetheart, aku bukannya tidak mau mengabulkan permintaan kamu, tapi aku akui kalau aku terkejut mendengar permintaanmu yang terdengar aneh. Kamu juga tahu kan, warna bajuku dominan adalah warna-warna gelap, aku jelas tidak memiliki baju berwarna pink.Tapi demi kamu dan anak kita, aku akan mengabulkan semua keinginan kalian."


Tangis Sanchia perlahan berhenti, ditatapnya wajah Sall begitu dalam. Terselip rasa syukur karena Sall begitu mengerti keinginannya.


"Terima kasih Honey, kamu sudah mau mengabulkan keinginanku. Tapi aku tidak jadi jalan-jalan ke Kew Garden. Cukup pakai bajunya dihadapanku, tapi kamu harus bergaya seperti ini, dan aku akan mengambil photomu."


Sall membelalakkan matanya, saat fokusnya tertuju pada ibu jari dan telunjuk Sanchia yang menyilang, membentuk tanda hati di depan bibirnya.


'Ya ampun, cobaan apa lagi ini?' Keluh Sall dalam hati.


*************************


4 bulan kemudian..


Sehabis makan siang, Sanchia menemani Shawn bermain lari-larian dan rollerskate di aula mansion. Putra pertamanya itu tumbuh semakin aktif, tampan dan pintar. Bahkan bicaranya pun sudah boleh dikatakan sangat lancar, dengan menggunakan bahasa Inggris bercampur bahasa Indonesia yang seringkali didengarnya dari orang-orang disekitarnya. Shawn juga sesekali mendengar bahasa Korea, Perancis dan Spanyol saat kedua orangtuanya berkomunikasi dengan teman-temannya, namun Shawn baru bisa mengucapkan beberapa kalimat saja untuk ketiga bahasa itu.


Sesungguhnya Sall dan Sanchia belum ingin memaksa Shawn untuk mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan akademi, tapi Sall dan Sanchia cukup banyak memberikan mainan edukasi yang bisa merangsang otak Shawn agar berkembang sesuai dengan umurnya.


"Mommy, i wanna eat.. (Aku ingin makan)" Sanchia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Shawn, yang seketika memeluknya.


"What do you want to eat, Son? (Apa yang ingin kamu makan, Nak?)" Dielusnya pipi tembem Putranya dengan gemas.


"banana split trifle, Mom.. (Banana split trifle, Mom)"


"Okay.. i'll make it, special for you. (Aku akan membuatnya, special untukmu)"


"Special for my little brother too, thank you Mom. (Special untuk adik laki-lakiku juga, terima kasih Mom)" Senyum Sanchia mengembang diikuti gelengan kepala.


"Why are you so sure that the baby in Mommy's belly is a boy? What if a girl? (Kenapa kamu sangat yakin kalau bayi dalam perut Mommy adalah laki-laki? Bagaimana kalau perempuan?)"


"It's okay, i'll still love her, Mom. (Tidak apa-apa, aku akan tetap mencintainya, Mom)"


"Ah so sweet, you will be the best big brother. (Ah manisnya, kamu akan jadi Kakak terbaik)"


Sebuah ciuman dari bibir mungil Shawn mendarat di pipi Sanchia, yang langsung menguarkan rasa bahagia dan haru di hati Sanchia.


"I love you too, Son.. (Aku juga mencintaimu, Nak)"


Sanchia segera berkutat di dapur, membuatkan banana split trifle yang diminta oleh putranya, setelah menitipkan Shawn pada beberapa pengawal dan pelayan. Sanchia juga meminta untuk membawa Sall ke ruang keluarga begitu Shawn selesai bermain di aula.


Setelah banana split trifle buatannya selesai, Sanchia segera membawanya ke ruang keluarga untuk diberikan pada Shawn. Namun betapa terkejutnya Sanchia, saat dilihatnya Sall sedang berperan menjadi kuda yang ditunggangi oleh Shawn.


"Honey, kenapa sudah pulang?" Shawn segera turun dari punggung Daddy-nya, saat melihat makanan favoritnya di tangan sang Mommy.


"Aku sengaja pulang karena Shawn memintaku untuk pulang. Katanya kamu sedang membuat banana split trifle, dan Shawn memintaku untuk menemaninya makan." Diletakkannya banana split trifle di atas meja, lalu Sanchia duduk di atas sofa yang diikuti Sall.


"Ya ampun Honey, kamu tidak perlu selalu menuruti keinginan anak kita. Kamu pasti sedang sibuk di kantor.."


"Tidak masalah Sweetheart, aku malah senang Shawn memintaku pulang. Lagipula aku begitu merindukan kalian. Maaf ya kalau akhir-akhir ini aku begitu sibuk dan selalu pulang malam. Maaf ya baby." Sall mengelus dan mencium perut Sanchia yang sudah membesar di usia kandungan 22 weeks.


"It's okay Daddy.." Elusan tangan Sanchia di pipi Sall, terasa sangat menenangkan.


Di sela-sela obrolan kedua orangtuanya, Shawn ternyata sudah mendahului kedua orang tuanya, dengan menyendokkan suapan demi suapan banana split trifle ke dalam mulutnya, sampai membuat mulutnya begitu penuh dan belepotan cream.


Sanchia dan Sall yang baru menyadari tingkah Shawn, nampak tertawa namun tidak menginterupsi keasyikan putra mereka. Mommy dan Daddy Shawn itu malah mengabadikan moment menggemaskan itu melalu camera ponsel mereka.


"Putra kita sungguh menggemaskan ya, Sweetheart."


"Iya benar Honey, seminggu lagi umurnya sudah 1 tahun. Apa jadi merayakannya?"


"Tentu saja Sweetheart.. Aku sudah meminta Tim EO untuk mengurus persiapan pestanya di hotel kita. Aku berniat mengenalkan kalian semua kepada publik. Sekarang semua orang sudah tahu kalau aku sudah menikah, tapi aku masih belum lega, karena mereka belum mengetahui siapa istri dan anakku. Bahkan beberapa saudara dan partner bisnisku mengira, kalau aku berbohong hanya untuk menghindari dijodohkan dengan perempuan yang mereka kenalkan."


"Apa kamu yakin Honey? Aku masih takut kalau musuh-musuhmu akan menganggap aku dan Shawn sebagai kelemahan yang bisa dijadikan ancaman. Bisakah kita menundanya sampai bayi kita lahir? Cukup rayakan ulang tahun Shawn bersama orang terdekat saja."


"Hmm, kamu benar Sweetheart..Baiklah, kita tunda sampai bayi kita lahir ya. Maaf karena aku tidak berpikir panjang, aku begitu ingin menunjukkan sumber kebahagiaanku pada dunia, tapi lupa memikirkan lebih jauh akibatnya untuk kalian."


"Tidak apa-apa Honey, kami justru bahagia karena kamu begitu ingin menunjukkan kami pada dunia. Mungkin nanti saat waktunya tepat, kita semua akan muncul secara bersamaan."


Sall merangkul bahu Sanchia, yang langsung menyandarkan kepalanya di dada Sall. Tiba-tiba pandangan keduanya jatuh pada Shawn yang sudah merebahkan dirinya di atas sofa yang terletak di seberang sofa mereka. Mata Shawn terpejam sempurna, dengan tangan dan mulut masih belepotan cream.


"Ya ampun, Shawn tertidur karena kelelahan dan kekenyangan. Aku harus membersihkan tangan dan mulutnya dulu Honey." Sanchia segera menghampiri Shawn dengan membawa sekotak tissue kering dan tissue basah dari atas meja. Sall pun tidak berdiam diri melihat istrinya membersihkan tangan dan mulut Shawn, tapi Sall juga ikut membantu Sanchia sampai selesai.


"Aku akan menggendongnya ke kamar." Sanchia menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti langkah Sall yang menggendong Shawn menuju kamar.


*************************


Di sebuah pulau terpencil, seorang laki-laki dengan wajah dipenuhi kumis dan jenggot terlihat duduk di atas kursi roda seraya menatap ke arah laut melalui jendela kamar. Terulas senyum tipis namun terlihat sangat tulus mewakili rasa syukur yang memenuhi hatinya saat ini. Seseorang yang begitu dirindukannya, sudah memutuskan untuk memaafkannya, dan itu menjadi alasan baginya untuk bersyukur dan bahagia.


"Terima kasih Chia, karena sudah mencabut hukumanku. Suatu saat aku akan meminta maaf dengan cara yang benar. Aku akan menjauh sesuai keinginanmu, membiarkan kamu bahagia dengan orang-orang yang kamu cintai. Tapi aku tidak akan pernah menghapus rasa cintaku padamu. Aku akan selalu mencintaimu, selamanya.."


**************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight